Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - Fitnah Pertama
Siang itu awalnya berjalan seperti biasa bagi Alyssa, tanpa tanda-tanda bahwa sesuatu akan berubah menjadi lebih buruk. Ia sudah terbiasa mengisi waktunya di dapur, membantu para pelayan menyiapkan makan siang sambil mencoba mengusir rasa sepi yang selalu mengikuti setiap langkahnya di rumah itu.
Tangannya bergerak lebih terlatih dibanding beberapa hari sebelumnya, meskipun masih belum secepat mereka yang sudah lama bekerja di sana. Setidaknya, di tempat itu ia tidak merasa benar-benar tidak terlihat, karena ada hal yang bisa ia lakukan dan ada orang-orang yang meski tidak dekat, tetap berbicara padanya.
Suasana dapur cukup ramai, dipenuhi suara pisau yang mengenai talenan dan percakapan ringan yang sesekali muncul di antara pekerjaan. Alyssa berdiri di dekat lemari kaca, memperhatikan susunan piring yang tertata rapi sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk mengambil salah satunya.
“Nona, hati-hati, itu mahal.”
Alyssa langsung menghentikan gerakannya, tangannya menggantung sesaat sebelum ia menariknya kembali dengan cepat. Ia menoleh pada pelayan yang baru saja bicara, wajahnya menunjukkan rasa tidak enak.
“Oh, maaf. Aku tidak tahu.”
Pelayan itu mengangguk, lalu mendekat sedikit untuk memastikan tidak ada yang tersentuh. “Itu set porselen impor, Nona. Biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting atau acara keluarga tertentu.”
Alyssa mengangguk pelan, mencoba menyimpan informasi itu dengan baik. “Baik, aku tidak akan menyentuhnya lagi.”
Ia mundur satu langkah, lalu kembali ke meja kerja dengan perasaan sedikit canggung. Hal-hal seperti itu terus mengingatkannya bahwa ia masih orang luar di rumah ini, seseorang yang bahkan tidak tahu aturan-aturan kecil yang sudah menjadi kebiasaan bagi orang lain.
Beberapa menit berlalu dengan tenang, hingga tiba-tiba seorang pelayan lain masuk dengan langkah cepat dan wajah yang terlihat tegang. Nada suaranya tidak setenang biasanya ketika ia berbicara.
“Ibu memanggil semua orang ke ruang tamu.”
Suasana dapur langsung berubah, seolah udara di dalam ruangan ikut menegang mengikuti kabar itu. Beberapa pelayan saling berpandangan, mencoba menebak apa yang terjadi.
“Ada apa?” tanya salah satu dari mereka.
“Tidak tahu. Tapi sepertinya serius.”
Alyssa mengernyit sedikit, merasakan firasat yang tidak menyenangkan muncul tanpa alasan yang jelas. Ia segera mencuci tangannya, lalu mengikuti yang lain berjalan menuju ruang tamu dengan langkah yang tanpa sadar menjadi lebih pelan.
Begitu sampai di sana, perasaan tidak nyaman itu semakin kuat. Ia bisa merasakan bahwa suasana di ruangan itu berbeda, lebih dingin dan penuh tekanan dibanding biasanya.
Ibu Daren berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang kaku, sorot matanya tajam seolah sedang menahan amarah. Beberapa pelayan sudah berdiri berbaris di samping, kepala mereka sedikit menunduk, menunggu tanpa berani mengangkat pandangan.
Di atas meja depan, sebuah kotak perhiasan terbuka.
Kosong.
Pemandangan itu langsung membuat Alyssa memahami bahwa sesuatu yang serius memang telah terjadi. Ia berdiri di bagian belakang, berusaha tidak menarik perhatian sambil mencoba mengerti situasi yang sedang berlangsung.
“Ada yang tahu di mana kalung itu?” tanya ibu Daren dengan suara tegas yang tidak memberi ruang untuk bercanda.
Tidak ada yang menjawab, hanya keheningan yang semakin menekan.
“Kalung berlian dari koleksi keluarga hilang pagi ini,” lanjutnya.
Alyssa sedikit terkejut, matanya melebar tanpa sadar. Ia menoleh ke arah pelayan di sampingnya dan berbisik pelan.
“Apa yang terjadi?”
Pelayan itu hanya menggeleng, wajahnya sama bingungnya. “Tidak tahu. Tadi masih ada.”
Kalimat itu membuat suasana terasa semakin berat, karena berarti kehilangan itu terjadi dalam waktu yang tidak lama. Ibu Daren kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih dingin.
“Semua orang akan diperiksa. Tidak ada yang keluar sebelum masalah ini selesai.”
Perintah itu langsung membuat suasana menjadi semakin tegang. Satu per satu pelayan mulai diperiksa, barang-barang mereka dikeluarkan, tas dibuka, bahkan saku pakaian tidak luput dari perhatian.
Alyssa berdiri diam, mencoba menjaga dirinya tetap tenang. Ia tidak melakukan apa pun, dan seharusnya tidak ada alasan baginya untuk takut. Namun entah kenapa, jantungnya tetap berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ketika pemeriksaan hampir selesai, suara lain terdengar dari arah pintu, memecah ketegangan yang mulai menumpuk.
“Tante.”
Semua orang menoleh bersamaan, dan di ambang pintu berdiri Cassandra dengan penampilan yang tetap rapi dan anggun. Gaun yang ia kenakan sederhana, tetapi tetap memancarkan kesan elegan yang sulit diabaikan.
“Aku tidak ingin ikut campur,” katanya pelan, langkahnya masuk ke dalam ruangan terasa ringan namun penuh percaya diri. “Tapi aku melihat sesuatu tadi pagi.”
Ibu Daren langsung menoleh padanya, ekspresinya berubah sedikit lebih serius. “Apa?”
Cassandra berhenti beberapa langkah dari tengah ruangan, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.
“Aku melihat seseorang berada di dekat lemari penyimpanan perhiasan. Aku tidak terlalu memperhatikan saat itu, tapi sekarang rasanya penting untuk disampaikan.”
Ruangan menjadi lebih hening dari sebelumnya. Semua orang menunggu kelanjutan kata-katanya dengan napas yang seolah tertahan.
“Siapa?” tanya ibu Daren.
Cassandra tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya perlahan, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.
Ke arah Alyssa.
Hanya sebentar, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang langsung saling bertukar pandang.
Alyssa merasakan tubuhnya menegang, sesuatu yang dingin merayap di dalam dadanya.
“Maksudmu…” suara ibu Daren terdengar lebih rendah.
“Aku tidak yakin,” potong Cassandra dengan halus. “Aku hanya melihat dari jauh. Tapi sepertinya Alyssa.”
Nama itu diucapkan dengan begitu ringan, seolah tidak ada beban di dalamnya. Namun efeknya langsung terasa di seluruh ruangan.
Alyssa menggeleng cepat, langkahnya sedikit maju tanpa sadar. “Saya tidak—”
“Kamu memang ke dapur tadi pagi, kan?” tanya ibu Daren, memotong dengan nada yang tidak memberi ruang untuk penjelasan panjang.
“Iya, tapi saya tidak—”
“Kamu juga sempat lewat ruang tengah,” tambah Cassandra.
Alyssa terdiam sejenak, mencoba mengingat apa yang ia lakukan sejak pagi. “Iya, tapi saya tidak masuk ke ruang penyimpanan.”
Cassandra mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu. “Mungkin aku salah lihat.”
Kalimat itu terdengar seperti membela, tetapi justru membuat semua orang semakin yakin untuk curiga. Kini tatapan yang mengarah pada Alyssa berubah, tidak lagi sekadar melihat, tetapi mulai menilai.
Ibu Daren menatapnya dengan tajam, tanpa sedikit pun keraguan.
“Periksa dia.”
Alyssa membeku di tempat, kata-kata itu terasa seperti vonis yang dijatuhkan tanpa kesempatan untuk membela diri. Ia menatap wanita itu dengan mata yang mulai bergetar.
“Bu, saya benar-benar tidak mengambil apa pun,” katanya, suaranya tidak lagi setenang sebelumnya.
“Tetap periksa.”
Dua pelayan mendekat dengan langkah ragu, seolah mereka sendiri tidak sepenuhnya nyaman melakukan hal itu. Alyssa mundur satu langkah, tangannya tanpa sadar menggenggam ujung bajunya.
“Tolong… saya tidak melakukan ini.”
“Tolong bekerja sama, Nona,” kata salah satu pelayan dengan suara pelan.
Alyssa menunduk, menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain. Dengan gerakan perlahan, ia membuka tas kecil yang ia bawa, menyerahkannya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Pelayan itu mulai mengeluarkan isi tas satu per satu. Ponsel, dompet, beberapa barang kecil yang tidak berarti.
Dan kemudian, sebuah kotak kecil berwarna hitam muncul dari dalam tas.
Alyssa langsung mengernyit, napasnya tertahan. “Itu bukan punyaku.”
Pelayan itu membuka kotak tersebut tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut. Di dalamnya, sebuah kalung berlian berkilau di bawah cahaya lampu, memantulkan kilau yang mencolok di tengah keheningan ruangan.
Semua orang terdiam.
Alyssa merasa dunia di sekitarnya seakan berhenti bergerak, pikirannya kosong seketika.
“Itu tidak mungkin,” bisiknya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Ibu Daren melangkah mendekat, wajahnya berubah semakin dingin. “Jadi ini hasilnya.”
“Bukan saya,” Alyssa menggeleng cepat. “Saya tidak tahu bagaimana itu bisa ada di tas saya.”
Cassandra berdiri di samping, menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kadang orang memang tidak sadar apa yang mereka lakukan.”
Kalimat itu membuat suasana semakin berat, seolah menutup kemungkinan bagi Alyssa untuk menjelaskan apa pun.
Alyssa menoleh ke arahnya, kali ini dengan tatapan yang lebih tegas. “Kamu tahu aku tidak melakukan ini.”
Cassandra mengangkat alis sedikit, seolah tidak tersentuh oleh tuduhan itu. “Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.”
Tidak ada yang benar-benar mendengarkan pembelaan Alyssa. Semua mata tertuju padanya dengan pandangan yang sama, penuh kecurigaan dan penilaian yang tidak bisa ia hindari.
“Cukup,” kata ibu Daren. “Barangnya ditemukan di tasmu. Itu sudah cukup jelas.”
“Tidak, ini jebakan,” kata Alyssa dengan napas yang mulai tidak teratur.
“Kamu menuduh orang lain?” tanya wanita itu tajam.
Alyssa terdiam, karena ia tahu tidak ada bukti yang bisa ia berikan. Di ruangan ini, semua orang sudah memiliki kesimpulan mereka sendiri.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu, membuat semua orang menoleh.
Daren masuk dengan wajah serius, pandangannya langsung tertuju pada situasi di tengah ruangan.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
“Bagus kamu datang,” jawab ibu Daren. “Istrimu baru saja ketahuan mencuri.”
Kalimat itu diucapkan dengan begitu mudah, tanpa keraguan sedikit pun.
Alyssa langsung menatap Daren, matanya penuh harap yang hampir putus. “Tidak, aku tidak—”
“Kalung keluarga ditemukan di tasnya,” lanjut ibu Daren.
Daren menoleh ke arah Alyssa, tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Alyssa mencoba mencari sesuatu di sana, sedikit saja tanda bahwa ia tidak sendirian.
“Daren, aku tidak melakukan ini,” katanya cepat. “Aku tidak tahu bagaimana itu bisa ada di tas—”
“Buktinya ada.”
Suaranya dingin, tanpa emosi.
Alyssa terdiam, kata-katanya seolah kehilangan arti di hadapan kalimat itu. Ia menatap pria itu lebih lama, mencoba menemukan keraguan atau kepercayaan yang mungkin tersisa.
“Kamu percaya aku melakukan ini?” tanyanya pelan.
Daren tidak langsung menjawab, tetapi keheningan itu justru terasa lebih menyakitkan.
“Aku percaya pada apa yang terlihat.”
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk menghancurkan sisa harapan yang ia miliki.
Alyssa menunduk, napasnya terasa berat. Ia ingin berbicara, ingin menjelaskan, tetapi semua terasa sia-sia.
“Di rumah ini, kami tidak mentolerir hal seperti ini,” kata ibu Daren. “Mulai sekarang, kamu tidak diizinkan menyentuh apa pun yang berharga. Dan kamu akan diawasi.”
Alyssa mengangkat wajahnya perlahan, matanya mulai kehilangan cahaya yang tadi masih tersisa.
“Bu, saya tidak bersalah,” katanya lagi, kali ini lebih pelan.
Namun tidak ada yang berubah.
“Cukup. Kesalahanmu sudah jelas.”
Cassandra tetap berdiri di sana, diam, tetapi sorot matanya menyimpan kepuasan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya. Daren berbalik, seolah semuanya sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dibahas.
Alyssa tetap berdiri di tengah ruangan, dikelilingi banyak orang tetapi terasa sepenuhnya sendirian. Ia tidak melakukan apa pun, tetapi tetap harus menerima semua tuduhan yang dijatuhkan tanpa kesempatan untuk dibela.
Di dalam hatinya, satu hal menjadi semakin jelas, bahwa di tempat ini kebenaran bukanlah sesuatu yang dicari, melainkan sesuatu yang ditentukan oleh siapa yang lebih dipercaya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔