Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Lisa berusaha konsentrasi dengan pekerjaannya, dia tak ingin mendengar Tari membicarakan suaminya lagi, suami kulkas sepuluh pintunya itu memang sangat menyebalkan, dia sama sekali tak patut ada. Tunggu saja di rumah nanti, dia akan kembali mengajukan perpisahan.
Di saat Lisa mulai larut dalam pekerjaannya, mendadak suara ricuh terdengar dari dalam ruangan Angga, Lisa berhenti melakukan aktivitasnya sejenak, menatap tari yang juga ikut mendengarkan pertengkaran dua orang yang ada di dalam ruangan.
"Tuh denger kan Lis, Pak Angga mah tidak ada suka-sukanya sama sekali dengan Bu Gina, baru sebentar aja di dalam Pak Angga sudah marah-marah"
Lisa tak perduli dengan itu, mau suka atau tidak, apa hubungannya dengan dirinya?
"Bukan urusan gue" sahut Lisa cepat.
Dia ingin melanjutkan kerjaannya, namun suara bising di dalam makin mengganggu, entah kenapa Angga bisa semarah itu.
Harusnya kan dia senang karena bisa berduaan dengan kekasih masa kecilnya itu? Harusnya desahan yang terdengar dari dalam sana _Eh?
Lisa langsung memukul kepalanya, karena sudah berfikir buruk tentang suaminya sendiri, harusnya Lisa senang mereka tidak selingkuh, tapi entah kenapa Lisa justru mengharapkan mereka selingkuh saja, dia bisa lebih mudah mengajukan perceraian jika keduanya benar-benar ada hubungan. Sungguh Lisa sudah lelah hidup dengan manusia patung itu.
Setelah bertengkar hebat, Gina keluar dari ruangan itu, dia melirik tak suka ke arah Lisa, Lisa jadi ngeri sendiri melihat tatapan itu, seperti tatapan kebencian yang begitu mendalam. Bu Gina bahkan menggebrak meja kerjanya begitu keras, tatapannya bak Mak Lampir yang sedang murka, Lisa hanya tersenyum meringis, dia tak tahu kenapa Bu Gina marah, perasaan tadi masih baik-baik saja.
"Apa kamu pantas? kamu bahkan tak lebih cantik dari aku!" kesal Bu Gina di depan Lisa.
"maksud Bu Gina apa ya? Saya memang tak secantik Bu Gina, tapi tidak perlu memukul meja kerja saya Bu, saya tidak merasa punya masalah dengan ibu"
"Tidak punya masalah? kamu masalah terbesar ku! Tunggu saja nanti!"
Begitu mengatakan itu, Gina langsung pergi. Lisa mengelus dadanya pelan.
Gina mulai berfikir keras, kenapa Bu Gina bisa semarah itu padanya? perasaan tadi masih baik-baik saja.
"Bu Gina kenapa tuh? Marah banget sama kamu?"
"Mana ku tahu" Jawab Lisa sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mana mungkin tidak tahu, dia tadi marah banget, kamu pasti merahasiakan sesuatu kan?jujur Lis, apa yang kamu sembunyikan dari aku? Kenapa Bu Gina semarah itu sama kamu?"
Lisa jadi tak bisa konsentrasi, selain karena rengekan Tari, ponselnya juga terus berdering sedari tadi.
"Kamu kemana kamu?" Tanya Tari saat Lisa akan bangkit dari kursinya.
"Ngasih map ini ke Boss, lihat dia sudah menelfon sejak tadi"
Lisa pun masuk ke ruangan itu, Tari yang penasaran dengan hubungan mereka, diam-diam mengintip Lisa.
Di dalam, Lisa menatap ruangan Angga yang berantakan, pantas saja Angga sejak tadi terus menelfon.
Tari berjalan ke arah tempat Angga, sambil menghembuskan nafas berat. Perempuan itu memberikan laporan yang dia bawa ke Angga.
"Ini map yang bapak minta"
"Hem"
'Kan kan kan, selalu saja irit bicara, Lisa sudah terbiasa dengan sikap dingin ini, jadi dia hanya sedikit menunjukkan wajah masamnya, namun hanya sebentar. Lisa langsung berbalik ingin kembali mengerjakan tugasnya. Dia harus segera memanggil OB ke ruangan Pak Angga. Jika tidak dia akan terus di teror dengan panggilan-panggilan tidak jelas dari boss nya ini. Biasa seorang boss yang irit bicara seperti Angga itu tidak mau memerintah, kita yang harus inisiatif lebih dulu.
"Saya akan panggilkan Office Boy untuk bapak"
Seperti biasa tak ada sahutan, Angga hanya menatap laptop di depannya saja. Lisa benar-benar ingin sekali membuka lebar-lebar mulut Angga, agar lelaki itu sedikit punya koss kata.
Lisa berjalan ke luar,membuat Tari kecewa karena dia tidak mendengar adegan apapun, padahal dia sudah membayangkan jika Pak Angga akan mengurung tubuh Lisa, mengatakan hal yang romantis pada sahabatnya itu. Dan berakhir di kiss secara diam-diam di dalam sana.
Tapi ternyata tidak ada adegan apapun, itu membuat Tari berjalan dengan lemas ke tempat kerjanya.
"Lu kenapa?" Tanya Lisa melihat Tari yang nampak begitu lemas.
"Nggak apa-apa"
" gue cuma gagal lihat Dra cin romantis di dunia nyata" Gumam Tari begitu pelan.
"ha?"
Lisa tentu masih bisa mendengar perkataan Tari, maksudnya apa Dra cin roman di dunia nyata? Aneh-aneh saja.
Lisa mengambil ponselnya, dia ingin menelfon bagian kebersihan agar segera membersihkan ruangan Angga. Namun Angga tiba-tiba menelfon lagi.
"CK dia kenapa sih?" kesal Lisa.
Mau tak mau Lisa mengangkat telfon itu.
"Jangan panggil OB, Kamu saja yang bersihkan ruangan saya"
"Baik pak"
Lisa kembali berdiri, dia kembali masuk ke dalam ruangan itu. Namun baru saja masuk, tangan Lisa langsung di tarik dengan begitu posesif, Angga menutup dan mengunci pintu dari dalam. Setelah itu mengungkung Lisa hingga tubuh Lisa menempel sempurna di pintu.
"Pak? Anda mau apa?"
Angga tak menjawab,dia langsung melumat bibir Lisa dengan begitu kasar. Lisa tentu syok bukan main, dia segera mendorong tubuh mantan kakak iparnya ini agar segera melepas ciumannya.
"Woy ini kantor!" Teriak Lisa dalam hati
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏