NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Panggilan yang Tidak Terjawab

Semua retakan besar selalu dimulai dari hal kecil.

Dan malam itu, retakannya cuma satu pesan.

Alya baru saja selesai makan malam bersama klien dan tim regional. Presentasi proyek Asia Tenggara berhasil. Atasannya tersenyum puas. Beberapa kolega menepuk bahunya.

Ia pulang ke apartemen hampir tengah malam.

Ponselnya lowbat sejak sore.

Saat charger terpasang dan layar menyala kembali—

13 missed calls.

Semua dari Arka.

Jantungnya langsung jatuh.

Ia langsung menekan call.

Tidak diangkat.

Dering kedua.

Masuk voicemail.

Alya mulai panik.

Ia mengetik cepat:

Ka? Kenapa?

Tak ada balasan.

Detik terasa lebih panjang dari biasanya.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lalu ponselnya bergetar.

Arka menelepon balik.

Alya langsung angkat.

“Ka?!”

Hening sepersekian detik.

“Alya.”

Suaranya berbeda.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Lebih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.

“Ada apa? Kamu kenapa telepon banyak banget?”

Arka menghembuskan napas berat.

“Kenapa kamu nggak bisa dihubungi?”

“Aku dinner sama klien, tadi lowbat. Kenapa?”

Hening lagi.

“Aku ke rumah sakit.”

Dunia Alya seperti berhenti.

“APA?”

“Nyokap.”

Darahnya terasa dingin.

“Kenapa? Sakit apa? Kamu kenapa nggak bilang dari tadi?!”

“Aku bilang. Kamu nggak angkat.”

Kalimat itu tidak keras.

Tapi menusuk.

“Aku nggak tahu, Ka! Aku benar-benar nggak tahu!”

“Dia pingsan tadi sore.”

Alya terduduk di lantai apartemennya.

“Sekarang gimana?”

“Udah stabil.”

Napas Alya sedikit kembali.

“Tapi aku sendirian di sini.”

Kalimat itu yang membuat semuanya runtuh.

Bukan soal rumah sakitnya.

Bukan soal paniknya.

Tapi soal ia tidak ada di sana.

Alya menutup mata.

“Maaf…”

“Bukan salah kamu.”

“Tapi aku nggak ada.”

Arka terdiam.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia pergi—

Jarak terasa seperti kesalahan.

“Aku butuh kamu tadi,” suara Arka lebih pelan sekarang. “Dan kamu lagi… entah di mana.”

Alya merasa bersalah sampai ke tulang.

“Aku lagi kerja, Ka. Aku di sini buat kerja.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu ngomongnya kayak aku pilih yang lain.”

“Aku nggak bilang kamu pilih yang lain.”

“Tapi kamu bikin aku merasa begitu.”

Sunyi.

Tegang.

Rapuh.

Arka akhirnya berkata pelan, “Aku cuma ngerasa sendirian.”

Kalimat sederhana.

Tapi berat.

Alya berdiri, berjalan mondar-mandir di apartemen.

“Aku bisa pulang.”

Hening.

“Kamu gila?” Arka langsung menjawab.

“Aku bisa ambil flight besok pagi.”

“Alya, jangan.”

“Aku nggak peduli proyek—”

“Alya!”

Suara Arka akhirnya meninggi.

Dan itu jarang terjadi.

“Kamu pikir aku mau kamu ninggalin semua yang udah kamu bangun cuma karena satu malam panik?”

“Aku nggak mau kamu sendirian!”

“Dan aku nggak mau kamu mengorbankan mimpi kamu setiap kali ada masalah!”

Sunyi.

Kata-kata itu menggantung di udara.

Alya terdiam.

Ia sadar sesuatu.

Ini bukan cuma tentang rumah sakit.

Ini tentang ketakutan.

Tentang rasa tidak aman.

Tentang jarak yang membuat setiap kejadian terasa dua kali lebih besar.

“Aku takut,” bisik Arka akhirnya.

“Apa?”

“Aku takut ini baru awal. Nanti kalau ada hal besar lagi, kamu nggak ada. Aku nggak ada. Kita cuma bisa denger suara satu sama lain.”

Alya merasakan air mata jatuh.

“Kamu pikir aku nggak takut?” suaranya bergetar. “Aku takut kehilangan kamu lagi. Aku takut jadi egois. Aku takut karierku bikin aku jauh.”

Hening panjang.

Bukan marah lagi.

Tapi lelah.

Dua orang yang sama-sama kuat, sama-sama rapuh.

“Aku nggak minta kamu pulang,” kata Arka pelan.

“Tapi aku nggak mau kamu merasa sendirian.”

“Kalau kamu pulang sekarang, aku justru bakal merasa jadi alasan kamu gagal.”

Kalimat itu membuat Alya menahan napas.

Jadi ini rasa sebenarnya.

Arka tidak takut kehilangan cinta.

Ia takut menjadi penghalang.

Alya duduk kembali, suaranya lebih tenang sekarang.

“Kita lagi diuji, ya?”

Arka terkekeh kecil, pahit. “Kayaknya.”

Alya menarik napas panjang.

“Oke. Dengar aku.”

“Iya.”

“Aku nggak pulang besok. Tapi aku akan cuti akhir minggu ini. Aku datang. Bukan karena panik. Tapi karena aku mau ada.”

Sunyi.

“Dan kalau nanti ada apa-apa lagi, kamu telepon aku sekali. Kalau nggak bisa, kirim satu pesan titik. Aku akan tahu itu darurat.”

Arka terdiam beberapa detik.

“Maaf aku tadi hampir bikin kamu merasa bersalah.”

“Maaf aku nggak ada saat kamu butuh.”

Hening.

Lalu Arka berkata pelan,

“Aku nggak mau kita jadi dua orang yang saling menyalahkan keadaan.”

“Aku juga nggak mau.”

“Jangan kabur kalau berat.”

“Kamu juga.”

Beberapa detik mereka hanya mendengar napas masing-masing.

Detak yang mulai stabil.

“Alya.”

“Iya?”

“Terima kasih nggak langsung menyerah tadi.”

Alya tersenyum kecil di tengah air mata.

“Kamu pikir aku sejauh itu?”

Arka tertawa pelan.

“Enggak. Tapi jarak kadang bikin pikiran jadi liar.”

“Aku masih di sini, Ka.”

“Dan aku masih milih kamu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi malam itu—

Itu cukup.

Telepon ditutup.

Alya duduk sendirian di apartemen yang terasa lebih sunyi dari biasanya.

Ia menatap pantulan dirinya di jendela.

Inilah konsekuensi dari mimpi.

Bukan kehilangan.

Tapi belajar menyeimbangkan.

Dan di kota lain, Arka duduk di kursi rumah sakit, menatap ibunya yang sudah tertidur stabil.

Ia membuka ponsel.

Pesan dari Alya masuk.

Aku tetap di sini. Tapi aku juga tetap di sana.

Arka tersenyum kecil.

Namun di balik senyum itu—

Ia sadar sesuatu.

Hubungan jarak jauh bukan soal kuat atau tidak.

Tapi soal—

Seberapa sering mereka memilih untuk tidak menyerah ketika rasanya ingin menyerah.

Dan satu pertanyaan kecil mulai muncul di kepalanya:

Kalau suatu hari nanti bukan orang tua yang sakit…

Tapi mereka sendiri yang lelah—

Apakah cinta ini masih cukup?

.....

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!