NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Us

---

Pukul 06.30 pagi, Amora sudah bangun.

Bukan karena ia dipaksa, bukan karena ia mimpi buruk. Ia bangun karena sejak kecil, Jisoo mengajarinya untuk menyambut pagi dengan senyuman. "Setiap pagi adalah hadiah, Sayang," begitu kata Mama.

Amora turun dari tempat tidurnya yang penuh dengan boneka—koleksi pemberian para tetangga sejak ia masih bayi. Ada boneka beruang dari Tante Irene, boneka kelinci dari Tante Soo Young, boneka monyet dari Tante Jane, dan boneka koala yang baru dikirim Om Leon dari Australia minggu lalu.

Ia berjalan ke kamar mandi kecil, menggosok gigi dengan sikat bergambar Elsa, lalu mencuci muka. Masih dengan piyama bergambar putri-putri Disney, ia berlari ke dapur di mana Jisoo sedang sibuk memasak sarapan.

"Ma! Selamat pagi!" seru Amora, memeluk kaki Jisoo dari belakang.

Jisoo menoleh, tersenyum. "Selamat pagi, bintang kecil Mama. Udah mandi?"

"Udah cuci muka! Gosok gigi juga!"

"Wah, hebat. Sekarang duduk dulu, ya. Sarapannya sebentar lagi."

Amora naik ke kursi makannya yang tinggi—kursi khusus yang dibelikan Endy dan Soo Young saat ulang tahunnya yang keempat. Ia mengayun-ayunkan kaki sambil bersenandung lagu favoritnya, lagu dari film Frozen yang bisa ia nyanyikan hampir seluruhnya meski belum paham artinya.

"Ma, nanti Amora main sama Rafa?"

"Iya, nanti sore. Sekarang masih pagi. Rafa pasti masih tidur."

"Rafa males banget, sih. Amora udah bangun dari tadi."

Jisoo tertawa. "Iya, Amora anak rajin."

Mereka sarapan bersama—nasi goreng kesukaan Amora dengan telur mata sapi yang kuningnya masih utuh. Amora makan dengan lahap, sesekali bertanya tentang hal-hal random yang muncul di kepalanya.

"Ma, kenapa langit warnanya biru?"

"Ma, kucing tetangga bisa ngomong nggak?"

"Ma, kalau Amora besar nanti, Amora bisa jadi putri kayak Elsa?"

Jisoo menjawab dengan sabar, sesekali mengelus kepala Amora. Ini adalah bagian favoritnya dari hari—pagi yang tenang bersama putrinya, sebelum dunia ramai dengan pekerjaan dan rutinitas.

---

Pukul 09.00, setelah mandi dan berganti baju, Amora menarik tangan Jisoo. "Ma, ayo ke rumah Tante Jane! Amora mau liat perutnya yang besar!"

Jisoo tersenyum. "Iya, bentar. Mama ambil kue dulu."

Amora membantu Jisoo membawa kantung kecil berisi kue buatan sendiri. Mereka berjalan ke rumah nomor 7, melewati taman kecil di tengah kompleks. Amora berhenti sejenak untuk mengamati kupu-kupu yang terbang rendah di antara bunga-bunga.

"Ma, kupu-kupu! Cantik!"

"Iya, Sayang. Itu kupu-kupu kuning."

"Kupu-kupu punya Mama nggak?"

Jisoo tertawa. "Mama punya Amora. Itu lebih cantik dari kupu-kupu mana pun."

Amora tersenyum lebar, lalu berlari lagi menuju rumah Jane.

---

Jane sedang duduk di teras, membaca buku seperti biasa. Begitu melihat Amora, ia meletakkan bukunya dan membuka tangan lebar.

"Amora! Sini!"

Amora menghambur ke pelukan Jane, tapi berhenti tepat sebelum menubruk perutnya. Ia ingat pesan Mama: "Kalau dekat Tante Jane, pelan-pelan. Adik bayinya masih kecil."

"Tante Jane, perutnya tambah besar!" seru Amora, menatap kagum perut Jane yang semakin membuncit di usia kehamilan 5 bulan.

"Iya, Sayang. Adiknya tambah besar."

"Amora boleh pegang?"

"Boleh."

Amora mengulurkan tangan mungilnya, menempelkan telapak tangannya di perut Jane. Ia mengernyitkan dahi, konsentrasi. Lalu matanya membelalak.

"Tante! Ada yang gerak!"

Jane tertawa. "Iya, itu adiknya lagi gerak. Dia tahu Amora datang."

"Beneran? Adiknya tahu Amora?"

"Beneran. Dia pasti seneng ada kakak sepupu yang baik kayak Amora."

Amora tersenyum bangga. Ia mencium perut Jane pelan. "Halo, adik. Aku Amora. Nanti aku temenin main, ya. Aku punya banyak boneka. Boleh pinjem."

Jisoo dan Jane bertukar pandang, tersenyum. Hangat melihat Amora yang begitu antusias menyambut calon anggota baru keluarga.

---

Dari rumah sebelah, Irene keluar bersama Rafa. Rafa langsung berlari ke arah mereka.

"Amora! Main!" teriak Rafa.

Amora melambai. "Iya! Tunggu!"

Mereka berdua berlarian di halaman depan, kadang kejar-kejaran, kadang berhenti untuk mengamati serangga atau bunga. Irene duduk di samping Jane dan Jisoo, mengawasi anak-anak bermain.

"Rafa kok udah bangun?" tanya Jane. "Biasanya tidur sampai siang."

"Katanya mau main sama Amora. Dari semalam udah nanya terus, 'Ma, Amora jadi main nggak?'" Irene tertawa. "Dia tuh udah kayak punya gebetan."

Jisoo terkekeh. "Amora juga gitu. Tadi pagi udah tanya kapan main sama Rafa."

Mereka mengamati kedua anak itu. Rafa mengambil bola plastiknya, mengajak Amora bermain lempar tangkap. Amora kadang berhasil menangkap, kadang meleset, tapi mereka tertawa setiap kali.

"Jis, Amora tumbuh jadi anak yang hebat," ucap Irene pelan. "Kamu hebat."

Jisoo tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku cuma lakukan yang terbaik. Tanya Allah terus biar diberi kekuatan."

"Dan Allah jawab dengan ngirim kita," tambah Jane merangkul bahu Jisoo. "Kita di sini buat bantu."

Jisoo mengangguk, terharu. "Makasih, Jan. Makasih, Ren."

---

Pukul 11.00, matahari mulai terik. Irene mengajak Rafa pulang untuk mandi dan makan siang. Amora ikut pamit, tapi sebelum pergi, ia berlari ke arah Jane lagi.

"Tante Jane, Amora mau titip ini buat adik." Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah gelang dari manik-manik warna-warni, buatannya sendiri. "Ini gelang keberuntungan Amora. Biar adiknya sehat."

Jane menerima gelang kecil itu, hancur hatinya. "Amora... ini gelang kesayangan kamu, kan?"

"Iya. Tapi buat adik aja. Amora ikhlas." Amora tersenyum polos.

Jane menangis. Ia memeluk Amora erat. "Makasih, Sayang. Makasih banyak. Tante janji, gelang ini akan selalu buat adik."

Amora mengelus pipi Jane. "Jangan nangis, Tante. Nanti adiknya nangis juga."

Semua tertawa. Jane mengusap air matanya. "Iya, iya. Tante berhenti nangis."

Amora melambai, lalu berlari bergandengan dengan Jisoo pulang ke rumah nomor 3. Jane menatap gelang kecil di tangannya, lalu menempelkannya di perut.

"Dengar, Nak? Kakak Amora baik banget, ya. Kasih gelang keberuntungan buat kamu."

Dari dalam perut, terasa satu tendangan kecil. Seperti jawaban.

---

Sore harinya, Amora ikut Jisoo ke rumah Soo Young. Tante Soo Young sedang berkebun di halaman belakang, dan Amora suka sekali membantu—meskipun bantuannya sering bikin tanaman jadi tercabut.

"Tante Soo Young!" sapa Amora, berlari ke halaman belakang.

Soo Young menoleh, tersenyum. "Amora! Sini bantu Tante."

Amora mengambil sekop kecil—khusus disiapkan Soo Young untuknya—dan mulai menggali tanah di samping Soo Young.

"Tante, tanam apa hari ini?"

"Bunga matahari. Nanti kalau besar, bunganya tinggi sekali, lebih tinggi dari Amora."

"Wah, Amora mau lihat!"

"Iya, nanti Amora rawat bareng Tante, ya."

Amora mengangguk semangat. Ia menggali dengan serius, lidahnya menjulur sedikit seperti biasa kalau sedang konsentrasi.

"Maa... Tante Soo Young, kenapa Om Endy panggil Tante 'Sayang' terus?" tiba-tiba Amora bertanya.

Soo Young terkekeh. "Karena Om Endy sayang sama Tante."

"Oh. Papa dulu panggil Mama 'Sayang' juga nggak?"

Soo Young terdiam. Jisoo yang sedang menyiram tanaman di dekat sana juga ikut terdiam.

Amora jarang bertanya tentang ayahnya. Tapi kadang, pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini muncul tiba-tiba.

"Papa dulu pasti panggil Mama 'Sayang'," jawab Soo Young hati-hati. "Karena Papa sayang banget sama Mama dan Amora."

"Oh." Amora diam sebentar, terus menggali. "Amora kangen Papa."

Jisoo mendekat, berlutut di samping Amora. "Mama juga kangen, Sayang."

"Tapi Papa di surga, kan, Ma? Kata Tante Jane, orang baik matinya masuk surga."

"Iya, Papa di surga. Dan Papa pasti lihat Amora dari sana. Papa pasti bangga lihat Amora jadi anak baik."

Amora tersenyum. "Amora mau Papa bangga."

"Papa pasti bangga, Sayang. Bangga banget."

Mereka bertiga melanjutkan berkebun dalam keheningan yang hangat. Soo Young sesekali mengelus kepala Amora. Jisoo tersenyum, bersyukur punya tetangga yang bisa menjadi pengganti keluarga—yang bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari anaknya.

---

Saat matahari mulai condong, Endy pulang dari toko tanaman. Ia membawa bibit baru untuk Soo Young, dan juga sesuatu untuk Amora: sebuah boneka matahari kecil.

"Ini buat Amora," kata Endy. "Biar inget terus sama bunga matahari yang kita tanam."

Amora menerima boneka itu dengan mata berbinar. "Makasih, Om Endy! Amora sayang Om Endy!" Ia memeluk kaki Endy erat.

Endy tertawa, mengelus kepala Amora. "Sama-sama, Sayang."

Mereka dijamu minum teh hangat dan kue buatan Soo Young sebelum pulang. Amora duduk manis di kursi, mengayun-ayunkan kaki sambil memegang boneka mataharinya.

"Mama," bisik Amora.

"Iya, Sayang?"

"Amora seneng tinggal di sini. Banyak tante dan om yang baik."

Jisoo tersenyum. "Mama juga seneng, Sayang."

"Amora boleh tinggal di sini selamanya?"

"Tentu saja. Ini rumah kita."

Amora tersenyum lebar, lalu kembali asyik dengan bonekanya. Jisoo menatapnya, hatinya penuh rasa syukur. Dua tahun lalu, ia datang ke kompleks ini dengan hati hancur, takut tidak bisa membesarkan Amora sendirian. Sekarang, Amora tumbuh ceria, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.

Mungkin Dika tidak bisa melihat langsung bagaimana putrinya tumbuh. Tapi Jisoo yakin, dari surga, Dika tersenyum. Bangga.

---

Malam harinya, setelah mandi dan sikat gigi, Amora berdoa sebelum tidur. Jisoo duduk di sampingnya, ikut mendengarkan.

"Ya Allah, terima kasih buat hari ini. Terima kasih buat Mama, buat Tante Jane, Tante Irene, Tante Soo Young, Tante Chaeyoung. Buat Om Mario, Om Elgi, Om Endy, Om Leon. Buat Rafa. Buat adik bayi di perut Tante Jane." Amora berhenti sejenak. "Sama buat Papa di surga. Tolong sampaikan ke Papa kalau Amora sayang Papa. Amin."

Jisoo mencium kening Amora. "Amina, Sayang."

"Ma, Papa denger doa Amora nggak?"

"Papa denger, Sayang. Papa pasti denger."

Amora tersenyum, lalu memeluk boneka beruang pemberian Irene. Matanya mulai berat.

"Ma... besok Amora main lagi sama Rafa, ya?"

"Iya, Sayang. Besok main lagi."

"Ma... Amora sayang Mama."

Jisoo menahan tangis haru. "Mama juga sayang Amora. Lebih dari apa pun di dunia."

Amora tersenyum sekali lagi, lalu tertidur. Napasnya teratur, wajahnya damai.

Jisoo menatapnya lama. Bintang kecilnya. Cahayanya. Alasan ia bangun setiap pagi dan tersenyum meski kadang hati lelah.

Di luar, bulan bersinar terang. Di kamar kecil ini, seorang ibu berjanji pada diri sendiri: ia akan selalu menjaga bintang kecil ini. Sampai kapan pun.

Karena Amora bukan hanya anaknya. Amora adalah bintang yang menerangi setiap rumah di Griya Asri. Bintang kecil yang menyatukan mereka semua dengan caranya yang sederhana—dengan senyum, dengan tawa, dengan pertanyaan-pertanyaan polos, dan dengan hati yang murni.

Bintang kecil di antara rumah-rumah.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!