Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan
Sementara Ana yang melihat wajah Dewa yang tersiksa melihat makanan hanya menghela nafas sabar.
“Aku gak suka sayur dan ikan.” ucap Dewa langsung mendorong sendok itu menjauh, membuat Ana melongo, berpikir masih ada orang yang sangat pemilih dan tidak tahu cara makan ikan dan sayur, membuat Ana kini frustasi, mengambil nasi dan rendang, tidak menyerah kembali menyodorkan kehadapan Dewa. Bik Sum yang meletakkan segelas susu tersenyum melihat Ana yang pantang menyerah dengan ke keras kepalaan Dewa. Akhirnya dengan perjuangan yang penuh drama sendok itu masuk kedalam mulut Dewa.
“Dikunyah mas, jangan diem aja, kapan itu makanan masuk ke perut.” perintah Ana yang harus menahan sabar, karena mengunyah aja juga harus disuruh.
“Cerewet.” balas Dewa yang kesal, niat hati ingin menindas si pendek malah dia yang kena omel panjang, karena tidak mau makan, apa tidak kesal Dewa jadinya, dengan wajah kesal ia makan hingga satu piring habis tanpa terasa, Dewa pun meminum susunya separo, tidak bisa menghabiskan susunya karena kekenyangan.
“Habiskan susunya, awas kalau gak.” perintah Dewa galak dan berjalan pergi menuju kamarnya kembali dengan mengelus perutnya, karena ia tidak pernah makan sebanyak itu. Sedangkan bik Sum dan yang lainya langsung mengangkat kedua jempolnya.
“Non Ana hebat uey, ayo cepat non tambah makannya, kalau perlu habis kan semua.” ucap Wati dengan wajah senang karena baru kali ini melihat tuan mudanya makan banyak, sedangkan Ana mengerucutkan bibirnya.
“Ana tahu Ana makannya banyak bik, tapi ya gak habisin semua juga, bisa meleduk perut Ana.” sahut Ana memasang wajah cemberut, membuat ketiga wanita itu tertawa.
“Sudah non Ana cepat makan, keburu nak Dewa memanggil nanti.” ucap bik Sum tersenyum lebar, Ana mengangguk, dan langsung memakan makanan yang sangat lezat itu dengan lahap, bisa tambah gendut kalau seperti ini tiap hari, pikirnya tertawa dalam hati. Setelah menyelesaikan makannya ia pun bergegas menuju kamar Dewa dengan membawa air putih dalam botol, mengetuk pintu itu, setelah mendengar suara Dewa yang menyuruhnya masuk ia membuka pintu lebar, melihat Dewa yang asik bermain game dalam ponselnya sembari berbaring di ranjang king size nya.
“Pendek tolong masukkan minuman itu kedalam kulkas.” perintah Dewa tanpa melihat kearah Ana sama sekali, Ana melihat minuman bersoda yang tak jauh dari kulkas kecil yang ada disudut ruangan dekat dengan sofa dan meja, Ana membuka kulkas itu dan tercengang melihat isi didalamnya yang hanya minuman bersoda aja. Ana mendengus kesal, memasukkan botol yang ia bawa kedalam kulkas, dan mengangkat minuman bersoda yang masih utuh satu kerdus membawanya keluar kamar menaruhnya didapur dan membawa beberapa botol air mineral ditangannya, Dewa melirik sekilas kearah Ana yang kembali masuk ke kamarnya matanya memicing melihat air mineral yang Ana bawa.
“Hey, pendek, ngapain kamu bawa air mineral itu kesini, bukannya ke kamarmu.” tanya Dewa heran.
“Mas Dewa bisa gak manggil yang bener, pendek-pendek, pendek-pendek begini aku sehat Lo, gak kayak mas Dewa yang cungkring kurang gizi, pantas aja kurus, minum yang bersoda terus, tau gak mas, itu gak sehat makanya aku bawa in air putih, mas Dewa harus minum.” ucap Ana sembari memasukkan botol air mineral kedalam kulkas, Dewa yang mendengar itu sontak langsung loncat dari ranjang dan berjalan tergesa kearah Ana.
“Eh pendek, kok loe jadi ngatur gue, gak ada ya keluarin air yang loe bawa, gue gak bisa ya minum itu.” ucap Dewa dengan nada kesal.
“Gak akan ya mas, tau gak kalau mas Dewa itu minum yang bersoda terus, nanti ginjal mas Dewa bisa rusak, kalau sudah rusak, paru-paru juga ikut, kalau paru-paru sudah kena, hati juga kena, emang mas Dewa mau mati muda!” sambar Ana malah lebih galak.
“Ya gak mau, aku kan belum nikah, dan belum jadiin loe babu gue, masa iya sudah mau mati aja.” jawab Dewa ngegas.
“Ya makanya nurut, mulai sekarang minum air putih, kalau gak mau mati muda, heran, gitu aja gak tahu pantes aja badan sudah kayak tiang listrik, cungkring , udah makan susah, minum juga gak sehat, gimana mau berisi coba tubuh, kaya, tapi kok seperti orang susah.” Omel Ana panjang lebar sembari memunguti buku Dewa dan juga baju yang sembarangan ditaruh, sementara Dewa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Perasaan aku yang ingin bully dia kok malah galakan dia dari pada aku, ini gimana konsepnya.” gumam Dewa yang melihat Ana masih ngomel kayak tawon didalam kamarnya ia pun kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan kembali bermain game, sembari sesekali melirik kearah Ana yang sedang menyusun buku-bukunya.
“Mas Dewa?” panggil Ana.
“Hem..” jawab Dewa singkat.
“Aku sudah selesai, mau balik kamar dulu, jangan lupa diminum airnya.” ucap Ana menaruh satu botol dimeja dekat ranjang tidur.
“Hem..” cuma itu jawaban Dewa, membuat Ana mendengus kesal dan keluar dari kamar, sementara Dewa bermain game dengan serius, namun entah kenapa kali ini ia mengantuk sekali, padahal waktu masih mengarah kejam sembilan biasanya ia tidur bisa sampai jam tiga malam, ia menguap sekali lagi, mungkin efek karena ia makan banyak karena ulah Ana, matanya pun terpejam dengan rapat dan ia pun masuk kedalam mimpi.
***
Kumpulan Genk somplak terlihat berkumpul dan bercanda sampai terlihat seorang gadis lewat bersama kedua temannya, Aldi menyenggol lengan Dewa membuat pemuda itu menatap tajam kearah Aldi, sedangkan salah satu cewek yang tidak lain adalah Oliv langsung membuang muka begitu melihat Dewa, sang mantan yang beberapa hari lalu diputuskannya. Aldi, Cristian dan Aldo tertawa ngakak tidak tahan melihat adegan itu, bahkan Aldo sudah jatuh dari duduknya karena Aldi menendangnya.
“Kampret, gak peke nendang juga kali.” sewot Aldo mengusap pinggang nya.
“Mantan cuy, dicuekin sekarang padahal dulu merepet terus.” ucap Aldo si tukang provokasi.
“HoOh, Cuma gara-gara gak bawa mobil baru, gak menyala tuh harga diri.” sahut Aldi bukannya prihatin temannya diputusin malah meledek sang teman.
“Kalau aku sudah nyebur sungai, kok ya ngenes, dengar-dengar malah sih Oliv udah dekat sama Presma si Lucas, apa tambah gak menyala tuh hati.” tambah Cristian sembari tertawa ngakak.
“Udah puas kalian ngeledek nya ha!” ucap Dewa garang sembari menggeplak kepala temannya satu persatu, membuat mereka meringis memegangi kepala mereka masing-masing namun setelahnya mereka kembali tertawa ngakak, membuat Dewa mendengus kesal dan beranjak pergi, kalau dipikir-pikir emang ngenes hidupnya, punya pacar cantik anak pak Dewan, kok ya teganya mutusin hanya gara-gara tidak bawa mobil baru, mau tidak percaya tapi kok ya nyata. Dewa kembali menghela nafas panjang mengusap rambutnya kesal, sementara ketiga temannya sudah berjalan dibelakangnya menatap punggung tinggi Dewa, merasa bersalah, namun hanya sesaat karena mereka adalah tim Blangsak, dimana ada teman menderita disitulah mereka bahagia, agak lain memang.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰