NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7: Janji Di Balik Badai

Kebahagiaan kecil di taman sore itu ternyata hanyalah ketenangan sebelum badai. Tak lama setelah tawa tipis Rubellite kembali terdengar di sela-sela kelopak bunga, seorang utusan istana datang membawa dekrit dengan segel emas Kaisar yang masih basah. Perang di perbatasan pecah; beast telah menjebol pertahanan utara, dan sang Kaisar memanggil ksatria terkuatnya untuk segera berangkat.

Raze terdiam menatap gulungan perkamen di tangannya. Ia melirik Rubellite yang masih menggenggam kelopak bunga, menyadari bahwa dunia kecil yang rapuh ini akan segera kehilangan tiang penyangganya.

"Nona," panggil Raze pelan. Ia berlutut di depan gadis kecil itu, bukan lagi sebagai bawahan yang patuh, melainkan sebagai pelindung yang sedang patah hati.

Rubellite menoleh, dan seketika senyumnya luntur saat mendapati sorot mata Raze yang berbeda. "Kau akan pergi, kan?" tanyanya lirih.

Raze tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh sesuatu dari balik jubahnya—sebuah kalung dengan permata biru jernih yang tampak seperti pecahan langit yang beku. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memakaikannya ke leher Rubellite, membiarkan permata itu jatuh tepat di atas dadanya.

"Ini adalah janjiku," ucap Raze, suaranya berat menahan emosi yang bergejolak. "Permata ini mengandung sedikit energi sihirku. Selama ia bersinar, artinya hamba masih bernapas dan terus bertarung untuk kembali pada Anda. Kaisar mungkin membutuhkan hamba di utara, tapi jiwa hamba akan tetap tinggal di sini, menjagamu dari jauh."

Rubellite menggenggam permata yang terasa hangat di kulitnya itu, sementara matanya mulai berkaca-kaca. "Berapa lama kau akan pergi?"

"Hamba akan segera kembali, Nona. Hamba bersumpah demi nyawa hamba." Raze mengecup punggung tangan Rubellite untuk terakhir kalinya. Ia kemudian berdiri dan berbalik tanpa berani menoleh lagi—takut jika ia melihat satu saja tetes air mata jatuh dari mata gadis itu, ia tidak akan pernah sanggup untuk melangkah pergi.

Seiring berjalannya waktu semenjak kepergian Raze, keberadaan Rubellite di istana seolah dihapus sepenuhnya dari ingatan orang-orang. Paviliunnya yang terletak jauh dari bangunan utama kini menjadi sunyi, menyisakan dirinya dalam kesepian yang mencekam. Tidak ada lagi buku-buku baru, tidak ada lagi kunjungan ke taman; hanya ada dinding batu dingin yang menjadi saksi bisu bagi hari-harinya yang malang.

Para pelayan yang seharusnya melayani justru menjadi sumber penderitaannya yang paling nyata. Mereka sengaja "lupa" mengantarkan makanan, membiarkan Rubellite mendekam dalam rasa lapar yang melilit perutnya, hingga ia terpaksa meminum air keruh dari jambangan bunga demi menyambung nyawa.

Bahkan, sering kali mereka melakukan kekejaman kecil demi hiburan semata. Saat Rubellite sedang duduk melamun di lantai, seorang pelayan akan lewat dan dengan sengaja menyiramkan air bekas pel ke tubuh kecilnya yang ringkih.

"Ops, tanganku terpeleset," ucap pelayan itu tanpa rasa bersalah, sementara yang lain tertawa mengejek di ambang pintu. "Lagipula, kau memang sudah bau seperti anak jalanan. Air ini setidaknya akan sedikit membersihkanmu."

Rubellite hanya bisa meringkuk, membiarkan pakaiannya yang tipis basah kuyup dan menempel dingin di kulitnya yang kian pucat. Ia tidak lagi punya energi untuk marah, tidak pula punya suara untuk berteriak. Mentalnya perlahan hancur; ia mulai terbiasa dengan rasa sakit dan mulai percaya bahwa dirinya memang pantas menerima semua perlakuan hina itu.

Ketertindasan itu tidak berlangsung hanya sehari atau dua hari, melainkan berbulan-bulan. Di tengah penderitaan yang tak berujung, Rubellite mulai kehilangan konsep tentang waktu. Baginya, pagi hanya berarti siraman air dingin dan ejekan, sementara malam adalah pertarungan melawan lapar dan gigil.

Satu-satunya teman bicara yang ia miliki adalah permata biru di lehernya. Namun, suatu malam yang sangat dingin, cahaya di dalam permata itu tiba-tiba meredup dan berkedip tidak stabil. Jantung Rubellite berdegup kencang; ketakutan terbesar menyerangnya melebihi rasa lapar mana pun.

"Raze... jangan mati..." bisiknya dengan bibir pecah-pecah.

Di saat ia berada di titik nadir, sebuah suara gesekan halus terdengar dari arah jendela paviliun yang sudah lama terkunci mati. Sesosok bayangan melompat masuk ke dalam kegelapan ruangan.

Rubellite tersentak, mencoba menarik tubuhnya yang lemah ke sudut tembok, mengira pelayan akan datang lagi untuk menyiksanya. Namun, orang itu tidak membawa ember air. Ia membawa aroma salju dan wangi khas bangsawan tinggi.

"Tempat ini... benar-benar menyerupai kandang daripada paviliun seorang Nona."

Suara itu rendah, tajam, dan penuh dengan nada penghinaan terhadap kondisi ruangan tersebut. Sosok itu melangkah mendekat, dan cahaya bulan yang pucat menyinari wajahnya. Itu adalah Valerius De Vermilion.

Valerius terpaku saat melihat kondisi Rubellite. Gadis kecil yang dulu ditemuinya di perpustakaan dengan gaun indah, kini tampak seperti kerangka hidup. Pakaiannya lusuh dan berbau amis air pel, rambutnya kusam, dan tatapan matanya kosong—seperti boneka rusak yang dibuang pemiliknya.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Valerius, suaranya bergetar karena amarah yang berusaha ia tahan.

Rubellite tidak menjawab. Ia hanya menatap Valerius dengan pandangan asing, seolah-olah ia sudah lupa bagaimana cara berinteraksi dengan manusia yang tidak bermaksud menyakitinya.

Valerius mendesah kasar, lalu ia membuka jubah bulunya yang mewah dan menyelimutkannya ke tubuh mungil Rubellite yang menggigil. Ia berlutut di depan gadis itu, mengeluarkan bungkusan berisi roti segar dan cokelat hangat yang masih mengeluarkan asap tipis.

"Makanlah," perintah Valerius. "Jangan mati di tempat kotor seperti ini, Rubellite. Jika kau mati sekarang, janji ksatria bodohmu itu akan menjadi sia-sia."

Mendengar nama Raze disebut, binar kehidupan yang sangat tipis kembali muncul di mata Rubellite. Ia meraih roti itu dengan tangan yang gemetar hebat, memakannya dengan rakus seolah itu adalah makanan terakhir di dunia.

Valerius memperhatikannya dengan tangan terkepal di atas lutut. "Aku tidak bisa membawamu keluar sekarang tanpa izin Kaisar, tapi aku akan mengirimkan orang-orangku secara rahasia untuk menjagamu dari bayang-bayang. Dan ingat satu hal..."

Valerius mencondongkan tubuh, menatap lurus ke mata Rubellite yang merah. "Jika mereka datang lagi untuk menyakitimu, jangan hanya diam. Kau adalah seorang bangsawan. Jika kau tidak bisa melawan dengan tangan, lawanlah dengan matamu. Tunjukkan pada mereka bahwa kau masih memiliki martabat yang tidak bisa dicuci oleh air pel mana pun."

Malam itu, di bawah perlindungan jubah Valerius yang hangat, Rubellite merasakan sesuatu yang sudah lama hilang kembali bersemi di dalam dadanya, Keinginan untuk membalas dendam.

Kehadiran Valerius malam itu seperti sebuah retakan pada cangkang kegelapan yang mengurung Rubellite. Setelah memberikan roti dan jubahnya, Valerius tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat jendela, mengawasi koridor luar yang sepi sebelum kembali menatap Rubellite yang tengah mengunyah dengan susah payah.

"Raze akan kembali, Rubellite. Tapi dia akan kembali ke sebuah reruntuhan jika kau membiarkan dirimu hancur seperti ini," ucap Valerius dingin, namun ada nada kekhawatiran yang terselip di sana.

Rubellite berhenti mengunyah. Ia menatap jubah bulu yang menyelimuti tubuhnya, lalu beralih ke permata biru di lehernya. "Kenapa kau membantuku, Valerius? Aku... aku hanyalah kutukan bagi semua orang."

Valerius mendengus, sebuah senyum miring muncul di wajahnya yang masih muda namun angkuh. "Karena ksatria bodohmu itu sempat memintaku untuk 'mengawasimu' sebelum dia pergi. Dan karena aku benci melihat sesuatu yang berharga diinjak-injak oleh tikus-tikus selokan seperti pelayan-pelayan itu."

Sebelum fajar menyingsing, Valerius harus pergi. Namun, ia meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada makanan: sebuah tujuan.

Keesokan paginya, pintu paviliun ditendang terbuka seperti biasa. Hana, pelayan muda yang paling sering menyiksanya, masuk dengan ember berisi air kotor. Ia menyeringai, bersiap melakukan rutinitas "pembersihan" pagi yang keji itu.

"Bangun, anak pemalas! Waktunya kerja!" teriak Hana sambil melemparkan seonggok pakaian kotor ke arahnya.

Rubellite tidak meringkuk. Ia telah menggulung jubah Valerius dan menyembunyikannya di bawah kasur sebelum fajar. Saat pakaian kotor itu mengenai tubuhnya, Rubellite tetap duduk tegak. Ia mendongak, menatap Hana langsung ke matanya.

Tidak ada lagi ketakutan di sana. Tatapan Rubellite begitu dingin, tajam, dan penuh dengan kebencian yang murni hingga Hana terhenti di tempatnya. Senyum mengejek pelayan itu perlahan luntur, digantikan oleh rasa ngeri yang tidak bisa ia jelaskan.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" teriak Hana, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Kau ingin aku memukulmu lagi, hah?"

Rubellite tetap diam, namun sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah seringai tipis yang mengerikan bagi anak seusianya. "Pukullah aku lagi, Hana. Karena setiap pukulan yang kau berikan hari ini, akan menjadi luka yang kau dapatkan saat Raze kembali nanti."

Hana mundur selangkah, tumpukan pakaian kotor di tangannya terjatuh dan berserakan di lantai batu. Keberanian pelayan itu menguap seketika. Ia melihat sosok di depannya bukan lagi sebagai mangsa yang lemah, melainkan sebagai seekor predator kecil yang sedang menunggu waktu untuk menerkam.

Di perbatasan utara yang jauh, di bawah langit yang merah karena api perang, Raze tiba-tiba terbangun dari tidurnya di tenda medis. Dadanya terasa panas. Ia menyentuh dadanya, tempat ia menanamkan sihir yang terhubung dengan Permata Biru milik Rubellite.

"Nona..." bisiknya parau. Ia mencengkeram gagang pedangnya yang retak. "Tunggu hamba sedikit lagi. Hamba akan meratakan siapa pun yang berani menyentuh Anda."

Hari demi hari berlalu, dan paviliun yang dulunya terasa seperti kuburan itu perlahan-lahan berubah menjadi medan perang dingin bagi Rubellite. Berkat bantuan rahasia dari Valerius De Vermilion, Rubellite tidak lagi benar-benar sendirian.

Setiap tiga malam, bungkusan makanan bergizi, ramuan penyembuh luka, dan pesan-pesan singkat dari Valerius terselip di celah jendela. Tubuh Rubellite yang tadinya sangat ringkih perlahan mulai mendapatkan kekuatannya kembali. Meskipun kulitnya masih pucat dan tatapan matanya tetap dingin, ada bara api yang menyala di balik manik merahnya.

Para pelayan mulai merasa ada yang aneh. Meskipun mereka terus menyiramkan air dingin atau memberikan roti berjamur, Rubellite tidak pernah lagi menangis atau memohon. Ia akan memakan roti busuk itu di depan mereka dengan wajah datar, sementara di malam hari ia memakan makanan mewah yang dikirimkan Valerius untuk menjaga energinya.

"Anak ini... dia sudah gila," bisik Hana kepada pelayan lainnya saat mereka melihat Rubellite duduk tegak di tengah ruangan yang basah kuyup, menatap mereka satu per satu seolah-olah ia sedang menghitung sisa hari hidup mereka.

Rubellite kini memiliki rutinitas baru. Setiap kali rasa sakit fisik menghantamnya, ia akan menggenggam permata biru pemberian Raze di satu tangan, dan menyentuh belati perak pemberian Valerius di tangan lainnya. Ia belajar untuk menyimpan dendamnya di tempat terdalam, mengasahnya seperti pisau yang siap digunakan kapan saja.

Suatu sore, saat badai salju di luar mulai mereda, cahaya di dalam permata biru di lehernya tiba-tiba berdenyut sangat kencang. Warna birunya yang tadi redup kini bersinar terang benderang, memancarkan gelombang hangat yang membuat seluruh ruangan paviliun yang dingin itu terasa panas.

Jantung Rubellite berdegup kencang. Ia tahu apa artinya ini. Di perbatasan utara, peperangan telah usai.

"Kau akan kembali," bisik Rubellite dengan suara yang kini lebih dalam dan penuh keyakinan. "Dan saat kau sampai di sini, Raze... kau akan melihat apa yang telah mereka lakukan pada duniamu."

Di luar paviliun, suara terompet kemenangan mulai terdengar di kejauhan, menandakan bahwa pasukan kekaisaran telah memasuki gerbang ibu kota. Badai besar yang sesungguhnya baru saja akan dimulai bagi mereka yang pernah menyentuh sang Nona.

Malam itu, Valerius kembali muncul di jendela paviliun. Namun kali ini, ia tidak membawakan makanan. Ia membawa sebuah kabar yang akan mengubah segalanya.

"Raze sudah sampai di gerbang kota. Dalam satu jam, dia akan menyadari apa yang terjadi di sini," ucap Valerius sambil berdiri di tengah ruangan, menatap Rubellite yang kini terlihat jauh lebih tegak dari sebelumnya.

Rubellite tidak lagi meringkuk. Ia berdiri menghadap Valerius, jubah bulu pemberian pemuda itu tersampir di bahunya seperti jubah seorang ratu. "Kau membantuku lebih banyak daripada yang seharusnya, Valerius. Kenapa? Seorang pewaris Duke tidak akan melakukan hal berisiko seperti ini tanpa alasan."

Valerius terdiam sejenak, menatap mata merah Rubellite yang kini tidak lagi polos, melainkan penuh dengan kalkulasi. "Karena kaisar tua itu buta, Rubellite. Dia mengabaikan berlian hanya karena debu yang menempel. Aku tidak bertaruh pada ksatria yang sedang berperang, aku bertaruh padamu."

Rubellite melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. "Maka kau bertaruh pada orang yang tepat. Tapi kau tahu, kan? Begitu Raze sampai, dia akan menghancurkan tempat ini. Dan Ayahku—Sang Kaisar—pasti akan murka karena aib ini terbongkar."

"Biarkan dia murka," sahut Valerius dengan senyum tipis yang dingin. "Saat itu terjadi, aku ingin kau tidak hanya diam. Jangan biarkan Raze yang bicara untukmu. Bicaralah sendiri di depan Kaisar. Tunjukkan padanya bahwa anak yang dia buang ini memiliki taring yang lebih tajam dari ksatria mana pun."

Rubellite menggenggam belati perak pemberian Valerius yang terselip di pinggangnya. "Aku akan melakukannya. Aku akan menatap matanya dan menunjukkan bahwa paviliun ini bukan tempat aku mati, melainkan tempat aku lahir kembali."

Valerius mengangguk puas. "Bagus. Aku akan menunggumu di aula utama besok. Jangan buat investasiku sia-sia, Rubellite."

Dengan satu lompatan gesit, Valerius menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Rubellite dalam kesunyian. Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda yang sangat cepat terdengar memecah keheningan istana. Itu bukan suara kuda biasa, itu adalah suara kemarahan yang dipacu dengan kecepatan penuh.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!