Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian yang Sia-sia
Tekad Arlan untuk memisahkan Keira dari pengaruh Gisel sudah bulat. Ia merasa bahwa kedekatan putrinya dengan gadis dari Jalan Bunga itu adalah sebuah anomali yang harus segera dihentikan sebelum akar keterikatannya tumbuh terlalu dalam. Dengan terburu-buru, Arlan mengajukan cuti darurat, mengepak koper, dan membawa Keira kembali ke Kota Flora—tanah kelahirannya.
Arlan beranggapan bahwa dengan mengembalikan Keira ke suasana rumah yang akrab, dikelilingi mainan lama dan kasih sayang neneknya, gadis kecil itu akan segera melupakan Gisel. Baginya, Gisel hanyalah "gangguan" sesaat, seseorang yang kebetulan lewat di saat Keira sedang rapuh.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau mau pulang, Nak?" tanya Bu Ratna, ibu Arlan, saat melihat mobil anaknya memasuki halaman rumah sore itu. Wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus kegembiraan yang tertahan.
"Tidak sempat, Bu. Keputusannya mendadak," jawab Arlan singkat sambil menurunkan koper.
Bu Ratna menatap lekat mata putranya. Sebagai ibu, ia bisa mencium ada sesuatu yang tidak beres. "Apa ada masalah di kantor? Atau... Keira?"
Arlan tidak langsung menjawab. Ia hanya menggendong Keira yang tampak lesu ke dalam rumah. Bu Ratna tidak memaksa. Ia tahu Arlan butuh waktu untuk bicara. Ia membiarkan putranya masuk ke kamarnya, memberikan ruang bagi pria itu untuk bernapas.
Di dalam kamar yang tenang, Arlan menidurkan Keira dengan gerakan sangat perlahan. Sepanjang perjalanan tujuh jam tadi, Keira terus merengek, memanggil "Mama" dengan suara serak yang memilukan. Setiap kali kata itu terucap, dada Arlan seperti dihantam batu besar. Ia tahu panggilan itu bukan untuk ibunya yang sudah tiada, melainkan untuk Gisel.
Setelah memastikan Keira tertidur pulas, mata Arlan beralih pada nakas kayu di samping tempat tidur. Tangannya bergerak ragu, lalu membuka laci paling atas. Ia mengeluarkan sebuah pigura perak yang sudah sedikit kusam. Di dalamnya, wajah cantik mendiang istrinya tersenyum abadi.
"Andaikan kamu ada di sini, apakah Keira akan tetap mencari sosok lain?" gumam Arlan lirih. Ia mengusap permukaan kaca pigura itu, membayangkan kehadiran perempuan itu di tengah-tengah kekacauan ini.
Meski tak pernah terlintas bayangan masa tua yang sempurna bersama istrinya dan Keira, setidaknya kehadirannya mungkin akan memberikan cerita lain bagi mereka. Sebagai orang tua tunggal, Arlan terus-menerus merasa gagal. Cukup lama ia menatap senyuman dalam gambar itu, seolah mencari petunjuk atau sekadar kekuatan untuk menghadapi hari esok.
Arlan menyimpan kembali pigura itu saat menyadari Keira sedikit menggeliat. Ia mengusap pipi putrinya yang masih menyisakan bekas air mata, lalu keluar untuk menemui ibunya yang sudah menunggu di ruang tamu dengan dua cangkir teh hangat.
"Apa ini karena gadis yang disukai Keira?" tebak Bu Ratna saat Arlan duduk di hadapannya.
Arlan tidak merespons, ia hanya menyesap tehnya yang mulai mendingin.
"Jika benar, kenapa tidak kamu lakukan apa yang Ibu katakan tempo hari? Kamu bisa menawarkan gaji yang setara dengan tenaga profesional jika gadis itu merasa ragu," lanjut Bu Ratna.
"Ini bukan masalah uang, Bu," sela Arlan dengan nada frustrasi.
"Lalu apa?"
Arlan mengangkat kepalanya. Ia sadar tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya. Dengan suara rendah, ia mulai menceritakan siapa Gisel sebenarnya. Ia menceritakan tentang Jalan Bunga, tentang Om Arman yang protektif dan berbahaya, serta latar belakang lingkungan yang sangat jauh dari nilai-nilai keluarga mereka.
Bu Ratna membekap mulutnya, tak percaya. Sebagai wanita dari keluarga terpandang, ia tentu tahu reputasi tempat-tempat seperti Jalan Bunga. Meskipun beliau tidak memandang rendah manusia secara personal, namun fakta bahwa cucu kesayangannya memiliki keterikatan batin dengan lingkungan seperti itu membuat bulu kuduknya merinding.
"Statusmu sebagai kepala cabang bank bisa menjadi sasaran fitnah yang kejam, Arlan. Hubungan ini... bisa menghancurkan reputasimu," bisik Bu Ratna khawatir. "Lalu bagaimana dengan tenaga yang dikenalkan Nancy?"
"Mimpi buruk," jawab Arlan singkat sambil menyandarkan kepala di sofa. "Keira semakin trauma."
"Ibu akan menghubungi Intan, pengasuh Keira yang dulu. Siapa tahu ada temannya yang ahli dan mau mengasuh Keira bersamamu di sana," kata Bu Ratna sambil mengembuskan napas berat.
"Terserah," gumam Arlan. Ia sudah tidak punya energi lagi untuk berdebat.
Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan fisik dan emosinya mengambil alih.
Sore harinya, rumah Bu Ratna didatangi beberapa pengasuh kenalan Intan. Mereka datang dengan antusias, tertarik oleh tawaran gaji yang fantastis. Bagi mereka, bekerja untuk keluarga mapan seperti Arlan adalah peluang emas.
Namun, Keira punya kendali atas dunianya sendiri. Gadis kecil itu seolah-olah telah membangun benteng yang sangat tinggi di sekeliling hatinya. Setiap kali seorang pengasuh mendekat, Keira akan menjerit atau bersembunyi di pojok ruangan. Bahkan Intan, yang dulu sangat disukai Keira, kini mendapatkan penolakan. Keira yang sudah terlanjur "menemukan" sosok Gisel, tidak bisa lagi menerima substitusi apa pun.
Arlan dan ibunya hanya bisa berdiri di ambang pintu, menggelengkan kepala melihat kekacauan itu. Keira benar-benar tidak bisa dibujuk. Di mata anak itu, hanya ada satu orang yang memiliki "bau" dan "sentuhan" yang tepat.
Tujuh hari berlalu di kota kelahiran, namun kondisi Keira tidak membaik. Memang, kehadiran neneknya bisa meredam tantrum untuk sementara, tapi sorot mata Keira tetap kosong. Ia sering ditemukan duduk diam di depan jendela, seolah menanti bus yang membawa Gisel pulang sekolah.
Malam itu, di hari kedelapan, Bu Ratna mengajak Arlan berbicara empat mata di teras rumah.
"Apa kamu tidak berpikir untuk mencarikannya ibu baru?" tanya Bu Ratna hati-hati.
"Jangan bercanda, Bu! Mencari pengasuh saja susahnya setengah mati, apalagi mencarikan ibu?" jawab Arlan ketus.
"Berbeda, Nak. Mencari pengasuh itu menyesuaikan kebutuhan Keira, tapi mencari istri itu menyesuaikan kebutuhanmu. Jika kamu menemukan pendamping yang tepat, Keira akan mendapatkan sosok pelindung secara alami."
"Katakanlah itu benar, Bu. Tapi apakah ada jaminan perempuan itu mau mengasuh Keira? Apa ada perempuan waras yang mau menikahi duda dengan anak berkebutuhan khusus dan benar-benar mencintai anak itu seperti darah dagingnya sendiri?"
Pertanyaan Arlan menghantam kenyataan pahit di wajah Bu Ratna. Beliau tahu suaminya yang lumpuh membutuhkan perhatian penuhnya, sehingga ia tidak bisa ikut ke Kota Fauna. Beliau juga sadar, menyerahkan Keira pada pengasuh yang hanya bekerja demi uang adalah sebuah risiko besar.
Setelah keheningan yang panjang, Bu Ratna akhirnya mengalah pada logika yang menyakitkan.
"Arlan... jemputlah Gisel," ucap Bu Ratna lirih.
"Bukan sebagai pengasuh, tapi ajaklah dia sebagai teman untuk Keira. Bicaralah pada pamannya baik-baik. Tawarkan jaminan pendidikan, biaya hidup, atau apa pun agar gadis itu mau menemani Keira. Setidaknya, sampai Keira tumbuh sedikit lebih besar dan bisa mengerti."
Arlan terdiam menatap gelapnya langit malam. Pikirannya melayang kembali ke Jalan Bunga, ke wajah Gisel yang tersenyum di bawah lampu jalan yang temaram. Apakah benar hanya Gisel pilihan terakhir mereka? Ataukah ini justru awal dari kerumitan yang lebih besar?
"Aku akan mencobanya, Bu," bisik Arlan akhirnya.
Sebuah janji yang terasa seperti kekalahan, namun sekaligus satu-satunya harapan yang tersisa bagi putrinya.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏