NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 : Langkah Ini Belum Kepergian, Hanya Telinga yang Akhirnya Terbuka.

Malam itu, di tepi sawah, aku duduk sendiri.

Kaki telanjang menenggelamkan diri ke dalam dinginnya lumpur, merasakan setiap gurat lembap yang merayap di antara jemari.

Angin tidak datang, ia hanya ada, gerakan tanpa bentuk yang menyisir pucuk padi hingga bergemerisik seperti suara kertas usang dibalik.

Ia membawa serta aroma, tanah yang baru dibajak, kayu gubuk tua yang lembap, dan sesuatu yang lebih dalam, semacam napas bumi itu sendiri yang keluar perlahan di kegelapan.

Kenapa aku tetap di sini?

Suara itu keluar dari suatu tempat di bawah tulang dada, bukan dari kerongkongan. Sebuah getaran, bukan kata.

Kenapa aku membiarkan kaki ini berakar di tanah yang sudah hafal setiap lengkungan telapaknya?

Bayanganku terpotong oleh barisan padi, terfragmentasi, bergoyang-goyang di atas permukaan air yang menghitam. Seolah-olah ada banyak diriku yang terpecah, masing-masing bergerak dengan irama sendiri.

Aku menengadah. Langit bukan lagi kubah, melainkan jurang. Bintang-bintang tidak berkelap-kelip, mereka membeku di tempatnya, seperti tetesan air raksa di atas kaca hitam. Diam mereka menekan.

Apakah kalian menatap karena tahu? Atau karena kalian sendiri juga sedang ditatap oleh sesuatu yang lebih besar, dan kalian hanya bisa diam?

Dari kegelapan antara bintang, suaranya muncul. Bukan suara Pak Tua Chen, tetapi sisa-sisa getarannya, seperti gema yang memantul dari dinding sumur ingatan. Buaian bukan tempat untuk menghabiskan seluruh umur.

Kalimat itu tidak kudengar dengan telinga. Ia merambat melalui tulang kering yang menempel pada tanah, naik ke lutut, ke panggul, hingga menggema di rongga dada. Sebuah kebenaran yang datang bukan sebagai pencerahan, tetapi sebagai penyesalan yang terlambat.

Tapi … bukankah kehilangan buaian berarti kehilangan kehangatan? Kehilangan tempat untuk pulang?

Bayanganku di air diam saja. Ia tidak menjawab. Ia hanya ada, buram dan terdistorsi, lebih jujur daripada wajah yang kulihat di cermin pagi tadi. Ia adalah diriku yang belum belajar berbohong dengan kata-kata.

Keraguan ini … Apakah ia pengkhianat yang menyelinap diam-diam? Atau justru satu-satunya kawan yang berani berkata jujur?

Diamku di sini, di tepian sawah yang sunyi ini, tiba-tiba terasa bukan lagi kedamaian. Ia adalah kemacetan. Seperti menahan napas di dalam air, sementara di permukaan, dunia menarik dan menghembuskan napasnya dalam ritme yang liar dan bebas. Setiap tarikan napas dunia di luar sana adalah sebuah janji yang belum terbaca, sebuah ancaman yang belum dipahami, sebuah kemungkinan yang menggigil.

“Aku ingin mendengar,” bisikku, kali ini suara itu pecah, parau. “Aku ingin menyentuh yang asing. Aku ingin melihat wajah dunia selain dari balik jendela Jinglan.”

Aku memejamkan mata. Kegelapan di balik kelopak mata bukan lagi kosong. Ia dipenuhi oleh jejak cahaya bintang, oleh bayangan padi, dan oleh kata-kata yang kini berwujud seperti benang emas halus. Keraguan bukan pengkhianatan. Ia adalah benih. Dan benih membutuhkan tanah yang asing untuk tumbuh menjadi pohon pertanyaan.

Kemudian, ia datang.

Bukan angin.

Bukan suara serangga.

Sebuah lolongan.

Panjang, melengking, menyayat lapisan demi lapisan keheningan malam.

Ia berasal dari balik bukit, dari tempat di mana bentuk-bentuk hanya tebakan dalam gelap. Suara itu kesepian, liar, penuh peringatan. Ia adalah musik yang tidak ada dalam naskah Jinglan. Ia adalah suara dari sana. Suara perbatasan.

Aku membuka mata. Sawah yang sama tiba-tiba berubah geometri. Ia bukan lagi hamparan, tetapi sebuah cermin raksasa yang memantulkan langit, dan di dalam pantulan itu, bintang-bintang seolah condong, memiringkan kepala, menunggu.

Di dalam dada, sebuah sensasi baru lahir. Bukan desakan, bukan gelegak. Ia lebih halus dari itu, sebuah ketegangan, seperti senar yang dipetik pelan, bergetar dengan nada yang belum pernah ada.

“Jinglan,” ucapku pada angi., “Engkau akan tetap ada di sini. Tapi malam ini, aku belajar. Rumah bukan lokasi. Ia adalah suara. Dan aku harus pergi untuk belajar mendengar semua suara, agar suaramu bisa kupahami dalam simfoni yang lebih lengkap.”

Aku berdiri. Kaki yang terlepas dari cengkeraman lumpur terasa ringan, aneh. Setiap butir tanah yang lepas, setiap akar padi yang tersentuh, mengirimkan getaran terakhirnya, sebuah pesan perpisahan dalam kode taktil.

Tanganku, tanpa kusadari, telah meraih setangkai padi. Batangnya basah, kuat. Di ujung daun, sebiji embun menggantung, memantulkan cahaya bintang yang redup. Bukan keindahan yang kulihat, tetapi sebuah bahasa. Air yang bersiap jatuh, daun yang menahannya, gravitasi yang menunggu, semuanya adalah kalimat dalam dialog sunyi yang selama ini tak kuperhatikan.

Pandanganku terbang melintasi lembah, menembus selimut kabut tipis yang mulai merayap. Di baliknya, terbentang ruang. Bukan pemandangan, tetapi kemungkinan. Kegelapan di sana tidak menakutkan. Ia ramah, karena ia jujur. Ia tidak berjanji apa-apa, sehingga segalanya mungkin.

Setiap tarikan napasku kini terasa seperti mengisap langsung dari nadi bumi. Aroma tanah, kayu, dan tanaman basah bukan lagi sekadar bau. Mereka adalah huruf-hidup, membentuk kata-kata yang bisa dirasakan lidah jiwa. Mereka membangkitkan sesuatu yang lama tertidur, sebuah rasa ingin tahu yang polos, liar, dan lapar.

Langit diam di atas. Diamnya bukan ketidaktahuan. Diamnya adalah kesabaran aktif. Ia memberi ruang, tidak memaksa, menunggu telinga dan mata ini menemukan frekuensinya sendiri untuk menangkap cerita yang tak terucap.

Aku mengerti sekarang. Meninggalkan buaian bukan pengurangan. Ia adalah ekspansi. Jinglan tidak hilang. Ia hanya menjadi titik awal dalam peta yang tiba-tiba membesar hingga tak terlihat batasnya.

Ruang di dalam diriku, yang dulu hanya cukup untuk menampung kenangan dan kebiasaan, kini retak. Dan melalui retakan itulah dunia yang lebih besar mulai mengintip, menawarkan pertanyaan-pertanyaan barunya.

Embun di sawah berkilauan di bawah bintang, masing-masing butirnya seperti mata yang baru terbuka. Keheningan malam meresap bukan sebagai kekosongan, tetapi sebagai zat baru yang mengisi setiap pori, memberatkan sekaligus menguatkan.

Malam ini bukan tentang memutuskan untuk pergi.

Ini tentang memutuskan untuk membiarkan diri didatangi.

Memberi dunia izin untuk menyapaku dengan bahasanya yang beragam. Memberi pertanyaan-pertanyaan dalam diriku ruang untuk bernapas, bahkan jika napas itu akan membawaku ke tempat yang tak dikenal.

Aku melepaskan tangkai padi. Butiran embunnya jatuh, menghilang ke dalam kegelapan tanah. Beberapa hal memang harus kembali, agar siklus yang baru bisa dimulai.

Di tepi sawah ini, sebuah pemahaman merayap pelan, langkah pertama bukan garis start sebuah lomba. Ia adalah pembukaan sebuah indra. Ia adalah telinga yang menyongsong, tangan yang terbuka, mata yang menyerap, bukan untuk dimiliki, tetapi untuk diajak bicara.

Lalu, dari arah yang sama dengan lolongan serigala tadi, di punggung bukit yang gelap, sebuah titik cahaya menganga.

Kuning, berkedip.

Lalu disusul yang kedua.

Obor.

Mereka bergerak, pelan dan pasti, seperti darah yang mengalir melalui urat nadi bukit, mengikuti jalur purba menuju persimpangan Sungai Kelindang.

Rombongan itu. Atau, sesuatu yang lain yang telah sampai lebih dulu.

Aku menatap api-api kecil itu. Segumpal keraguan terakhir di dadaku padam. Bukan hilang, tetapi berubah wujud. Ia membeku, mengkristal, menjadi sebuah kepastian yang padat, dingin, dan jernih seperti es pertama di puncak gunung.

Besok bukan lagi sebuah kata di udara.

Besok adalah cahaya yang sudah menyala di atas bukit, menunggu untuk dipenuhi.

Aku berpaling dari bayanganku di air, dari sawah, dari Jinglan yang terlelap. Langkahku menuju pulang terasa aneh, bukan beban yang dilepaskan, tetapi beban yang diterima dengan sukarela. Karena kini aku tahu.

Aku tidak berjalan menuju kepergian.

Aku berjalan menuju pertemuan.

Dan dunia, rupanya, sudah mulai mengirimkan utusannya, dalam lolongan kesepian, dalam titik api yang bergerak di gelap, menyambut langkah pertama seorang pendengar yang baru saja belajar caranya mendengar.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Yuri-Sensei: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!