persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Tentang Balap Karung dan Cara Tertawa di Atas Penderitaan
Sabtu pagi di sekolah seharusnya menjadi waktu untuk ekstrakurikuler yang membosankan, tapi Bangka punya rencana lain. Dia mencegat saya di depan gerbang dengan wajah yang sangat cerah, seolah-olah dia baru saja menemukan harta karun di bawah tumpukan sampah gudang olahraga.
"Bumi! Hari ini jangan pulang cepat. Kita mau ada perayaan kecil-kecilan di belakang sekolah," kata Bangka sambil merangkul bahu saya.
"Perayaan apa? Ulang tahun Si Kumbang?" tanya saya sambil berusaha menyeimbangkan tas yang terasa lebih berat hari ini.
"Bukan, perayaan kebebasan! Kita mau bikin lomba balap karung antar penghuni belakang sekolah. Hadiahnya gorengan Mang Dadang sepuasnya," Bangka tertawa lebar, memperlihatkan giginya yang sedikit tidak rapi tapi sangat tulus.
Saya awalnya ingin menolak, tapi melihat Senja yang tiba-tiba muncul di belakang Bangka sambil membawa kamera analog tuanya, saya jadi tidak tega. Senja tersenyum kecil, matanya seolah berkata bahwa saya memang butuh sedikit kegilaan untuk mengusir sisa-sisa aroma karet ban yang terbakar di kepala saya.
Maka, di sinilah kami sekarang. Di area belakang sekolah yang berdebu, di antara gudang olahraga dan tembok pembatas yang penuh coretan. Bangka sudah menyiapkan tiga buah karung goni yang baunya sangat khas—bau keringat dan debu bertahun-tahun.
"Aturannya simpel, Mi. Siapa yang sampai duluan ke tiang jemputan itu tanpa jatuh, dia pemenangnya. Kalau jatuh, harus mulai lagi dari garis start sambil bilang: Saya sayang Bangka!" teriak Bangka yang langsung disambut sorakan oleh anak-anak lain.
Saya ikut serta. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya tidak peduli pada citra saya sebagai "Bumi yang puitis dan tenang". Saya masuk ke dalam karung, memegang ujungnya erat-erat, dan bersiap melompat.
Saat aba-aba dimulai, saya melompat sekuat tenaga. Saya melihat Bangka terjatuh di lompatan ketiga dan dia benar-benar berteriak mengakui cintanya pada dirinya sendiri, membuat kami semua tertawa sampai perut sakit. Saya terus melompat, debu beterbangan di sekitar kaki saya, dan untuk beberapa saat, saya lupa bahwa saya tidak punya motor, lupa bahwa saya sedang dimusuhi Arkan, dan lupa bahwa Kayla mungkin sedang menangis di suatu tempat.
Senja sibuk mengabadikan momen itu. Klik. Klik. Suara kameranya terdengar di sela-sela tawa kami. Dia tidak ikut lomba, tapi dia terlihat sangat bahagia menjadi saksi kegembiraan kami yang sederhana ini.
Namun, di tengah keriuhan itu, saya melihat sebuah sosok berdiri di lantai dua gedung sekolah, tepat di koridor depan ruang OSIS. Itu Kayla. Dia berdiri sendirian, memegang pagar pembatas, menatap ke bawah ke arah kami. Wajahnya tidak terlihat jelas dari jarak ini, tapi saya bisa merasakan aura kesepian yang memancar darinya. Dia melihat saya tertawa lepas bersama Bangka dan Senja, sesuatu yang mungkin sudah jarang dia lihat saat saya masih bersamanya dulu.
Kayla tidak melambai. Dia tidak memanggil. Dia hanya berdiri di sana beberapa menit, lalu berbalik dan masuk ke dalam ruangan.
"Bumi! Lo menang, Mi! Buruan klaim gorengannya!" teriak Bangka sambil memukul punggung saya.
Saya keluar dari karung dengan napas tersengal-sengal dan wajah penuh debu. Saya memenangi lomba balap karung itu, tapi saat melihat ke arah lantai dua tadi, ada bagian dari diri saya yang merasa aneh. Bukan rasa sedih, tapi rasa syukur karena saya sudah tidak lagi berada di posisi yang harus menjaga perasaannya di atas perasaan saya sendiri.
Kami makan gorengan di bawah pohon beringin tua. Senja duduk di samping saya, menyerahkan selembar tisu basah untuk mengelap debu di wajah saya.
"Terima kasih, Senja," kata saya.
"Kamu terlihat beda kalau tertawa seperti itu, Bumi. Lebih hidup," gumam Senja pelan.
"Hidup itu memang harus dirayakan, Senja. Meskipun cuma pakai karung goni dan gorengan dingin," jawab saya sambil menggigit bakwan yang sangat renyah.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa kebahagiaan itu tidak butuh biaya mahal atau motor sport yang mengkilap. Kebahagiaan itu cuma butuh teman-teman yang tidak keberatan terlihat bodoh bersama kita. Arkan mungkin sedang sibuk dengan rapat-rapat mewahnya, tapi di sini, di balik gudang yang berdebu, saya merasa lebih kaya dari siapapun.