Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Katanya Mirip
Sarah yang mendengar kalau Ratih akan berangkat ke rumah sakit, berlari ke bagian samping rumah besar itu. Dia menuju ke lantai dua, dimana ada pintu samping ke rumah utama.
Tapi, sebenarnya tujuannya bukan untuk masuk ke rumah utama. Dia hanya ingin melihat Rafa dari balkon itu.
Dia sudah berharap begitu besar. Tapi, pada akhirnya dia harus kecewa. Karena bibi Asih menutupi Rafa dengan topi dan memeluk Rafa begitu dekat dengannya. Sampai meskipun Sarah sudah mendongak, memiringkan kepalanya, dan melakukan berbagai upaya. Dia tetap tidak bisa melihat Rafa.
"Agkhhh!" pekik Sarah kesal memukul pagar pembatas balkon yang terbuat dari besi itu.
Wajahnya merah, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Dia sungguh ingin melihat anaknya itu. Tapi tetap saja tidak bisa.
Dari dalam mobil, Ratih yang tahu usaha Sarah itu sia-sia. Hanya tersenyum sekilas. Hanya begitu saja wanita itu sudah terlihat kesal. Apalagi Ratih, yang selama lima tahun dulu bahkan mengurus anak Sarah melebihi merawat dirinya sendiri. Ternyata anak kandungnya malah sangat menderita karena ditukar oleh mereka. Rasa kecewa Sarah itu, belum seberapa. Daripada rasa kecewa dan penyesalan yang Ratih rasakan, saat dia mengetahui semua kenyataan yang di rancang dengan begitu baik oleh suaminya yang brengsekk itu.
"Buka topi Rafa, Bi!" kata Ratih begitu mobil itu sudah melaju cukup jauh dari rumahnya.
"Iya nyonya!"
"Sayang, sini mama gendong!" kata Ratih yang langsung meraih Rafa dari pangkuan bibi Asih, ke pangkuannya.
Wajah Rafa memang berbeda sekali dari Naufal. Mungkin hanya Ratih yang akan menyadarinya. Karena yang memiliki kesempatan kedua di kehidupan ini hanya Ratih.Tapi kalau diperhatikan dengan seksama, wajah Rafa juga tidak terlalu mirip dengan Ratih. Hanya dagu yang terlihat agak terbelah itu saja.
Meskipun begitu, Ratih merasa kalau wajah Rafa sangat familiar. Ratih menghela nafas panjang. Dia sungguh tidak ingin mencari tahu siapa ayah kandung Rafa. Dia akan membesarkan Rafa sendirian. Tidak masalah juga, bukankah Rafa sudah terdaftar menjadi anaknya Fandi. Dia pikir ke depannya, masalah status atau semacamnya tidak akan pernah menjadi masalah. Karena Fandi bahkan berpikir, Rafa adalah anaknya dan Sarah. Dia juga tidak akan pernah mempermasalahkan identitas Rafa atau menyakiti Rafa.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit. Ben sudah menunggu di lobby rumah sakit. Karena dia juga sudah lebih dulu mendaftarkan nama Rafa, supaya tidak terlalu lama menunggu.
Pintu mobil terbuka, tangan Ben terulur untuk membantu Ratih. Tapi Ratih tidak menanggapinya. Dia memilih berpegangan pada pegangan yang ada di mobil.
Ben menarik kembali tangannya.
"Nona..."
"Aku sudah punya anak Ben. Panggilan itu bisa di ganti!" sela Ratih.
"Nyonya, tuan muda sudah aku daftarkan. Kita bisa langsung ke poli anak!"
"Oke, bibi Asih bawa tasnya. Aku akan gendong Rafa. Ben, tolong turunkan stroller Rafa dari mobil!"
"Baik nyonya!"
Ben menurunkan stroller dari dalam mobil, lalu membantu Ratih menidurkan Rafa di dalam stroller itu.
"Aaa, oweekkk!"'
Rafa menangis, spontan saja Ben yang ada di depan stroller menggendong Rafa. Dan dalam sekejap bayi mungil menggemaskan itu berhenti menangis.
"Mungkin tuan Rafa tidak mau pakai stroller, aku akan menggendongnya, nyonya!" kata Ben.
Bibi Asih yang membawa tas Rafa cukup terkejut. Biasanya majikannya itu tidak memperbolehkan siapa pun menggendong anaknya kecuali dia, dan kedua orang tua Ratih.
Ratih yang melihat Rafa langsung diam, bahkan terus memperhatikan anaknya itu. Rafa terus melihat Ben, dengan kedua tangan memegang bahu Ben. Tak tega rasanya Ratih, kalau harus mengambil anaknya itu dari gendongan Ben.
"Bawa saja strollernya, nanti kalau dia lelah bisa berbaring di stroller itu!" kata Ben.
Ratih mengangguk perlahan.
"Oke"
Ketiganya berjalan bersama menuju ke lift.
"Halo, ya ampun manis sekali. Mirip sekali sama papanya. Takut gak diakui ya?" seorang wanita paruh baya yang ikut masuk bersama mereka ke dalam lift membuat Ratih terkejut.
"Memangnya mereka mirip?" tanya Ratih.
"Nak, lihat saja alisnya. Sama persis, belum lagi bibir dan hidungnya. Bukankah mereka seperti pinang di belah dua!"
Ben sendiri juga terkejut. Tapi dia kemudian memerhatikan wajah Rafa dengan baik. Dia ingat pernah melihat rupa Rafa itu. Tapi dimana dia lupa.
"Dia bukan papanya, dia pamannya!" kata Ratih dengan cepat membuat semua kecanggungan berakhir.
"Oh, begitu ya. Tapi mirip sekali! Mungkin waktu hamil, ibumu sangat suka pada pamanmu ya, nak?"
Ratih mengernyitkan keningnya lagi. Dia merasa wanita paruh baya yang berada satu lift bersama dengan mereka itu terlalu sok tahu.
Ting
Pintu lift terbuka, wanita itu pun keluar. Pintu lift kembali tertutup, karena mereka masih harus naik satu lantai lagi.
"Kamu tidak akan mendengarkan ucapan wanita tua tadi itu kan, Ben?" tanya Ratih.
Ben tidak langsung menjawab, tapi begitu dia melihat wajah Ratih tidak senang. Ben segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak nyonya!"
Ting
Pintu lift kembali terbuka, ketiganya keluar bersama dengan Rafa juga. Lalu mereka menuju ke poli anak. Ada beberapa orang juga yang sedang menunggu. Ben yang memang sudah mendaftar sebelumnya bergegas menuju ke resepsionis.
"Selamat siang, atas nama Rafa, apa sudah di panggil?" tanya Ben.
"Selamat siang, sebentar saya periksa!"
Petugas itu segera memeriksa antrian.
"Setelah ini ya tuan. Ini yang namanya Rafa ya? lucu sekali. Mirip sekali dengan anda, tuan!"
Ratih yang berada di belakang Ben. Segera meminta Rafa dari gendongan Ben.
"Ben, biar aku saja yang menggendong Rafa!"
"Iya"
Meski enggan, Ben memberikan Rafa pada Ratih.
Setelah di imunisasi, Rafa menangis cukup lama. Dan lagi-lagi, ketika Ratih berusaha menenangkannya, Rafa tak kunjung berhenti menangis. Apalagi bibi Asih. Hingga saat Ben yang menggendongnya. Rafa baru menjadi tenang.
Ratih akhirnya meminta bibi Asih yang pergi mengantri obat untuk Rafa.
"Botol ketiga baru siap besok, nyonya!"
Ratih mengangguk.
"Iya, tidak masalah. Kalau sudah siap, antarkan saja ke rumah! oh ya Ben, apa bisa kita menyingkirkan pengacara Markus?"
"Kenapa? bukannya nyonya yang merekomendasikannya. Dia bahkan memiliki kontrak tanpa batas waktu!"
Ratih menyentuh keningnya. Itulah kesalahannya dulu. Kenapa juga dia mengikuti semua ucapan Fandi. Sampai memberikan kontrak seperti itu pada pengacara Markus.
"Itu salahku, tapi sekarang aku mau kita menyingkirkannya! kamu punya cara kan?" tanya Ratih.
***
Bersambung...
Memberikan ide pada Fandi untuk menjual Sarah pada lelaki buaya..
Yakin cuma jadi teman minum & cium² saja..?
Sepertinya tidak, pasti Sarah di suruh melayani nya juga.. 🤭
Kira² apa yang terjadi di bab selanjutnya yaa..?
Yukk ahh., Kita lanjutkan baca bab berikutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Mereka harus banyak mengalah..
Harus minta maaf, walaupun pada wanita nya tak ada salah..
Agar amarah wanita tak makin parah..
Sebab ego wanita tak bisa di balas dengan amarah..
Cukup dengar omelan nya, minta maaf, peluk dia dan jangan kembali kamu berbuat ulah.. 😁
Udah lah lu mokondo.. Hidup sudah nyaman, justru main perempuan..
Itu kan Wong Edyan namanya..
Sekarang jadi penyesalan.. Terlambat.. ! 😏
Orang seperti mu pun tak layak untuk di pertahankan Ratih..
Karena selain gak becus dalam pekerjaan, lu juga gak tipe lelaki yg gak bisa di andalkan.. Jadi, sudah sepantasnya kau di campakkan..🤣🤣
Rafa anak Ratih bukan anakmu 🤭
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁