Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21- Mulai Terbuka Sedikit
Matahari Jakarta sedang terik-teriknya di luar sana, memantulkan cahaya menyilaukan pada aspal jalanan di depan toko buku. Namun di dalam, udara terasa sejuk berkat pendingin ruangan tua yang suaranya berderit pelan setiap beberapa menit sekali, seolah sedang mengeluh tentang usianya yang sudah uzur. Aroma kopi dari gelas kertas di meja kasir bercampur dengan bau khas kertas lama yang menenangkan, menciptakan suasana yang benar-benar kontras dengan hiruk-pikuk klakson dan polusi di luar.
Aksa duduk di kursi kayu biasanya, sebuah tempat yang kini seolah menjadi singgasananya setiap sore. Dia baru saja menutup laptopnya, lalu menyandarkan punggung sambil memperhatikan Alea yang sedang sibuk memindahkan tumpukan novel dari satu rak ke rak lain. Tatapannya tidak tajam seperti saat dia sedang menatap layar saham, tapi intens, seolah sedang membaca sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan namun menarik untuk diikuti.
“Kamu sudah memindahkan tumpukan itu tiga kali dalam satu jam terakhir,” komentar Aksa datar, suaranya memecah keheningan yang sejak tadi hanya diisi bunyi kipas angin.
“Apa rak itu punya masalah pribadi sama kamu, sampai harus diatur ulang terus?”
Alea tertawa kecil, menyeka keringat tipis di pelipisnya dengan punggung tangan. Dia menoleh ke arah Aksa sambil memeluk satu buku tebal bersampul kain yang terlihat cukup berat. “Bukan masalah pribadi, Aksa. Ini namanya strategi visual. Kalau buku ini diletakkan di rak paling bawah, nggak bakal ada yang lihat kecuali mereka mau jongkok sampai pegal. Tapi kalau aku taruh di sini, sejajar dengan mata, kemungkinan mereka bakal ambil dan baca sinopsisnya itu jauh lebih besar.”
Aksa menaikkan sebelah alisnya, tampak mulai tertarik. “Memangnya itu buku tentang apa? Sampai kamu seberusaha itu mempromosikannya?”
Alea berjalan mendekat, menyodorkan buku bersampul hijau tua itu kepada Aksa. “Tentang seorang kurir surat di sebuah desa kecil yang punya kebiasaan aneh, dia hobi membaca surat-surat yang salah alamat. Isinya indah banget, penuh rahasia orang-orang asing yang kesepian. Tapi karena penulisnya nggak terkenal, orang sering ngelewatin gitu aja. Sayang, kan?”
Aksa menerima buku itu, membolak-balik halamannya sejenak. “Dunia ini memang nggak selalu adil, ya? Kadang sesuatu yang berkualitas kalah hanya karena nggak punya nama besar atau biaya promosi yang gila-gilaan.”
“Persis!” sahut Alea semangat. Dia menarik kursi kecil dan duduk agak jauh di depan Aksa, merasa nyaman karena pria itu sepertinya sedang ingin mengobrol panjang.
”Sama kayak toko ini. Banyak orang lebih milih ke toko buku besar di mall yang interiornya modern dan punya kafe mahal. Padahal di sini, kalau mereka mau sabar mencari, koleksinya jauh lebih punya jiwa. Tapi ya itu tadi, aku kadang egois. Di satu sisi pengen ramai biar tokonya bertahan, di sisi lain aku suka ketenangan ini karena aku merasa toko ini dunia milikku sendiri.”
“Ketenangan itu kemewahan yang mahal, Alea,” sahut Aksa pelan, suaranya memberat. “Di kantorku, isinya cuma orang-orang yang saling kejar target sampai napas saja rasanya dihitung. Telepon nggak berhenti bunyi, dan setiap menit itu artinya angka. Kalau aku nggak bicara soal profit atau ekspansi, orang-orang di sana bakal anggap aku sedang membuang waktu secara sia-sia.”
Alea menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Aksa dengan empati yang tulus. “Capek ya jadi orang penting? Harus selalu punya jawaban buat semua pertanyaan dan nggak boleh kelihatan bingung?”
Aksa mendengus pelan, ekspresinya sedikit melunak, sebuah pemandangan langka yang hanya bisa dilihat oleh dinding-dinding buku di sini. “Capek itu bukan karena kerjanya, tapi karena harus pura-pura peduli sama obrolan basa-basi yang sebenarnya nggak ada isinya. Di kantorku, aku harus dengerin kolega pamer mobil atau jam tangan mewah cuma buat dapet validasi. Makanya aku lebih suka di sini. Di sini aku bisa bicara soal kurir surat tanpa harus dianggap kurang kerjaan atau aneh.”
Alea tersenyum lebar. Ini adalah percakapan terlama dan paling santai yang pernah mereka lalui. Tidak ada tembok kecanggungan yang menghimpit. Alea merasa dihargai bukan sebagai korban yang perlu dilindungi, tapi sebagai teman bicara yang setara.
“Kamu tahu, Aksa?” Alea memulai lagi, suaranya lebih lembut, nyaris seperti bisikan. “Dulu aku sering takut kalau orang mulai banyak tanya tentang hidup aku. Pertanyaan seperti ‘Kenapa kamu kerjanya cuma begini?’ atau ‘Lulusan mana kok cuma jaga toko?’ Itu bikin aku merasa kecil. Tapi sama kamu, aku nggak merasa sedang diinterogasi. Kamu nggak pernah tanya soal masa lalu aku yang berantakan.”
Aksa mengangguk pelan. Dia menatap Alea lurus-urus ke dalam matanya, sebuah tatapan yang membuat Alea merasa seluruh dunia di luar sana menghilang. “Aku nggak punya kepentingan buat menghakimi pilihan hidup orang lain, Alea. Setiap orang punya alasan kenapa mereka mencari pintu keluar dari dunia yang berisik. Bertanya 'kenapa' terus-menerus kepada seseorang yang sedang mencari ketenangan itu menurutku tindakan yang kurang ajar.’
“Makanya aku merasa nyaman, berbicara sama kamu itu nggak melelahkan batin. Aku nggak perlu mikir keras buat nyari jawaban yang kelihatan pintar atau defensif agar tidak diserang,” ucap Alea jujur.
Aksa tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Alea cukup lama, seolah sedang membaca setiap baris emosi di wajah perempuan itu. “Bagus kalau begitu. Karena aku juga sudah cukup lelah mendengar jawaban-jawaban yang dipalsukan di dunia luar.”
Aksa mengalihkan pandangannya ke jendela toko, tepat ke arah kerumunan orang yang mulai memadati halte di seberang jalan. Sorot matanya mendadak berubah, menjadi lebih tajam dan dingin, seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
“Tapi Alea,” Aksa kembali bersuara, suaranya kini terdengar seperti peringatan yang terselubung. “Adakalanya kejujuran itu punya waktu yang tepat. Ada hal-hal yang lebih baik tetap tersembunyi bukan karena ada niat bohong, tapi karena kenyataannya mungkin terlalu berat untuk diterima saat ini.”
Alea mengernyit, merasa ada sesuatu yang janggal dalam nada suara Aksa. “Maksud kamu apa? Kamu lagi nyembunyiin sesuatu?”
Aksa hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. “Bukan apa-apa. Sudah jam enam. Waktunya tutup.”
Alea membereskan barang-barangnya dengan pikiran yang mulai berkecamuk. Saat mereka berjalan menuju mobil, Alea melihat Aksa sekilas merogoh ponselnya dan mengetik sesuatu dengan sangat cepat. Ekspresinya kembali kaku, tipe wajah penguasa bisnis yang tak tersentuh.
Saat mobil mulai melaju tenang menembus kemacetan, sebuah notifikasi muncul di layar dashboard mobil Aksa yang secara otomatis terhubung dengan ponselnya. Aksa biasanya sangat teliti, tapi kali ini dia tampaknya melewatkan satu hal kecil. Alea tidak sengaja melihat satu baris kalimat dari nomor tanpa nama yang muncul di layar lebar tersebut:
“Data karyawan regional atas nama Hanif sudah diamankan. Audit berjalan sesuai rencana Anda, Pak.”
Jantung Alea berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Tangannya mendadak dingin. Dia tahu nama itu. Sangat tahu. Dan dia tahu perusahaan logistik yang dimaksud adalah tempat Hanif bekerja.
Alea menoleh ke arah Aksa yang tetap tenang menyetir dengan satu tangan, seolah-olah tidak ada hal besar yang terjadi. Alea ingin berteriak dan bertanya, tapi lidahnya terasa kelu. Ketenangan yang ia rasakan sepanjang siang tadi mendadak runtuh, digantikan oleh rasa ngeri yang perlahan merayap.
Apakah Aksa benar-benar sekadar ‘pelanggan toko buku’ yang baik hati? Ataukah selama ini dia sedang menenun jaring yang sangat besar, dan Alea hanyalah bagian kecil dari rencana yang jauh lebih gelap?
Kabin mobil yang tadinya hangat dan penuh obrolan, kini terasa seperti ruang hampa yang menyesakkan. Alea memejamkan mata, menyadari bahwa ketenangan yang dia dambakan mungkin hanyalah sebuah awal dari badai yang sesungguhnya.