"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk rumah besar
Mak Puah menggeleng pelan, mengisyaratkan Saga agar tak membahasnya.
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulihkan tubuhmu. Nanti, setelah sembuh kamu bekerja di luar saja. Kebetulan nanti Dewi juga akan tinggal di sini, bekerja di hotel milikku, bersama kamu."
Tubuh yang nyeri mendadak sembuh seketika mendengar kabar gembira yang di sampaikan Saga. Tentu dia tak akan merasa asing lagi di sini, dia tak perlu takut, tak perlu bergantung dengan Alang seorang.
Mak Puah ikut tersenyum, meninggalkan pembicaraan dua orang itu.
"Senang?" tanya Saga, mengangkat alisnya, sambil tersenyum tipis.
Niken mengangguk, senyum di bibir mungilnya masih tercetak meskipun di tahan-tahan.
Ternyata selain cantik, Niken itu sangat menyenangkan. Wajarlah Alang menyembunyikannya begitu dalam.
"Apakah Arya sudah baik-baik saja?" tanya Niken.
Tuan Saga kembali kebingungan, ingin menjelaskan tapi Mak Puah berkata jangan.
"Apakah benar, istri Tuan sendiri yang...._" Niken berkata dengan ragu. Takut si tuan kaya itu marah.
"Iya." jawab Saga, membuat Niken kembali membuka mulutnya tak percaya.
"Niken!" Mak Puah menegurnya.
"Tidak apa-apa Mak." ucap tuan Saga, di pagi hari ini dia terlihat tampan dan segar, meskipun usianya sudah 32 tahun.
"Terkadang, orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling niat menghancurkan kita, sehancur-hancurnya hingga tak bisa bangkit lagi."
Di balik ucapan tuan Saga, ada makna yang dalam, Niken merasa kata-kata itu bukanlah untuk tuan Saga sendiri.
"Niken! Niken!"
Belum lagi Saga keluar dari pintu, Alang tiba dengan wajah khawatir.
"Niken, kamu tidak apa-apa?" tanya Alang, masuk menghampiri Niken, memegang tangannya.
"Tidak apa-apa Mas." jawab Niken, melepaskan genggaman tangan Alang, malu.
"Kita akan pergi ke kantor." ucap Tuan Saga, kemudian pergi meninggalkan kamar Niken.
Alang mengangguk, tapi tatapannya benar-benar tak mau meninggalkan Niken yang seperti ini.
"Niken, pikirkan lagi tentang pembicaraan kita kemarin." ucap Alang, pelan.
Niken mendesah, memikirkan situasinya memang lebih nyaman di kampung. Tapi ia merasa masa depannya ada di sini.
"Jangan sekarang Mas, Niken mau cari uang dulu." kata Niken.
"Cari uang buat apa? Biar aku yang mencari uang, kamu diam di rumah, di kampung yang aman." kata Alang.
"Kalau aku pulang, apa Mas Alang juga akan pulang?" tanya Niken.
Alang terdiam, menelan ludahnya yang sulit. "Ya. Tapi mungkin Mas akan menuntaskan pekerjaan di sini dulu. Sementara kamu pulang, nanti kalau sudah selesai, kita tinggal di kampung bersama-sama, sambil menabung agar kamu tidak kesusahan." kata Alang.
Niken tersenyum, kecut.
"Mas akan sering pulang, nengokin kamu." kata Alang, merayu.
"Niken belum ingin pulang Mas, mau di sini."
Alang berdiri menjauh, menatap wajah Niken yang pucat, ia mengepalkan tangannya. Kesal karena ucapannya tak lagi di dengar.
"Niken!" Kesal Alang.
Ponsel Alang berdering, ia merogoh celananya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Mau tak mau Alang pergi mengantar Tuan Saga berangkat bekerja. Meskipun hatinya bengkak menatap wajah tampan pria kaya di belakangnya, tapi membantah tentu tak bisa.
"Tuan Saga, kalau anda ingin memiliki anak, sebaiknya segera lakukan. Jangan membuang waktu untuk mempengaruhi Niken." kata Alang.
Saga menatap spion depan, dimana Alang juga menatap dirinya.
"Mengapa kau tidak mau menikahinya?"
Pertanyaan tuan Saga itu membuat Alang terkejut. "Belum waktunya." jawab Alang.
"Belum waktunya, atau memang tak kan pernah kau nikahi?" kata Saga.
"Dia itu adikku, aku lebih berhak dibandingkan Tuan Saga. Mau menikah atau tidak, dia tetap akan bersamaku. Kalau aku membawanya pulang, tuan bisa apa?" kesal Alang.
Tuan Saga membuang puntung rokok ke luar jendela.
"Berani kau bawa pulang, aku akan membunuhmu!" jawabnya.
Alang terdiam. Niken semakin susah diatur, Saga semakin ingin memiliki. Keduanya sudah tak mungkin mendengarkan kata Alang.
Sementara itu, di kamar niken, ia beranjak dari kasur, menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Ia mulai mengusapkan air dingin di seluruh wajah hingga ke anak rambut.
"Awh!" Niken menjerit pelan. Meraba bagian atas telinganya terasa sakit. Sebuah benjolan berada di bawah rambutnya yang hitam.
Ia mengingat kejadian semalam, selain hantu yang menyeramkan, sepertinya ada manusia yang ingin mencelakai.
"Ya, pukulan ini tentu bukan perbuatan setan." gumam Niken.
Mengapa ia merasa rumah besar itu menyimpan banyak rahasia.
"Sudahlah, bukan urusan ku." gumam Niken lagi, ia harus segera sembuh, lalu bekerja.
Keesokan harinya, gadis bernama Dewi itupun akhirnya datang ke kota. Tapi, kedatanganya malah membuat Niken semakin merasa dalam bahaya. Lantaran Dewi ingin Niken menemaninya.
"Mbak, aku tinggal di sini saja. Aku tidak pantas tinggal di dalam bersama Mbak Dewi. Lagian, mbak Dewi keponakannya, lha aku?" tolak Niken.
"Ya, kamu nemenin aku Ken! Tinggal didalam rumah sebesar ini, di kamar yang luas, aku ngeri." kata Dewi.
"Mbak aja ngeri, apalagi aku." tolak Niken lagi.
"Pokoknya kamu temani aku Ken. Besok, aku tidur di kamar kamu. Kalau baru sampai begini, tidak enak di tolak." kata Dewi.
"Niken, kamu temani Dewi." titah Tuan Saga, pria itu baru saja pulang dari bekerja, langsung mendengar rengekan keponakannya.
"Siapa dia?"
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan mereka bertiga, dialah Gendis. Istri tuan Saga yang cantik, si paranormal kondang, kaya raya.
Gendis menelisik penampilan Niken yang sederhana, tapi auranya tidak biasa, enak di pandang, menyejukkan perasaan. Tapi, bertolak belakang dengan energinya. Gendis sampai tak berkedip menatap Niken.
"Ini Niken, temannya Dewi di kampung. Dia juga anak haji Ibrahim, pemasok sayur dan bumbu di hotel dan restoran kita, lima tahun lalu." jelas Saga.
Tentu saja Niken dan Dewi tercengang mendengarnya. Bagaiman bisa Saga mengenal Haji Ibrahim, Dewi saja tidak tahu.
"Oh, ya?" Gendis menelisik lagi penampilan Niken, seperti ada aura menggiurkan, tapi juga mengancam, sulit di temukan.
"Ya! Tapi dua tahun terakhir beliau menghentikan pasokan sayur, bumbu dan bahan-bahan lainnya. Ternyata, orangtuanya sudah meningal." jelas Saga, menoleh Niken yang benar-benar bingung.
Gendis mengangguk, tak mau beramah tamah dengan dua orang yanga akan tinggal di rumahnya. Dia naik ke lantai dua lebih dulu, acuh.
"Jangan seperti itu!" tegur Saga, ikut naik dan masuk ke kamar mereka.
"Jangan seperti itu, bagaimana? Mereka itu perempuan, masih muda. Meskipun tidak sebanding dengan aku, tidak menutup kemunginan kamu akan tergoda?" kata Gendis. Melempar tasnya diatas ranjang.
Saga tersenyum sinis, "Dewi itu keponakan ku, anak orang yang telah menyekolahkan aku dulu. Bisa seperti ini, karena kebaikan hati ibunya."
"Heh, kebaikan ibunya tak perlu kamu balas dengan anak perempuannya. Kamu cuma alasan!" kesal Gendis.
"Aku bukan kamu! Keponakan ya keponakan, bukan selingkuhan yang kamu bayar agar bisa hamil!" marah Saga.
"Mas Sagara!" bentak Gendis.
"Suka atau tidak, mereka akan tinggal di sini!"
"Mas! Mereka itu perempuan?" teriaknya.
"Ya! Kalau mereka laki-laki, yang senang adalah kamu."
Saga keluar meninggalkan kamar Gendis, sudah sejak beberapa bulan ia tak lagi tidur sekamar.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis