NovelToon NovelToon
SAUH (HTS Kandung)

SAUH (HTS Kandung)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asry Ulfa

Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
​Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
​Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
​"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diet

​Senin pagi biasanya menjadi hari yang paling dibenci anak SMK karena upacara bendera yang panasnya minta ampun. Tapi bagi Kenan, Senin kali ini adalah "Hari Kebangkitan". Di atas meja belajarnya, sudah tertempel kertas besar bertuliskan: MISI GLOW UP: MISKIN LEMAK, KAYA SUARA.

​"Nan, kau serius tak mau sarapan? Mak sudah goreng telur dadar pakai cabai iris, lho," teriak emaknya dari dapur.

​Kenan yang sedang berjuang memakai kaus dalam yang ketat—yang katanya bisa membakar lemak—menelan ludah dengan susah payah. Bau telur dadar itu seolah-olah punya tangan yang menarik-narik hidungnya. "Tak, Mak! Kenan cuma mau minum air putih sama makan pisang satu biji saja!"

​"Oalah, kesambet setan mana pula budak ini," gumam emaknya heran.

*******

​Sesampainya di sekolah, Kenan langsung disambut Jovan yang sedang asyik mengunyah martabak telur. "Pagi, raksasa jerawatan. Eh, kok muka kau pucat? Kurang darah atau kurang asupan?"

​Kenan memalingkan wajah, berusaha tidak melihat martabak berminyak itu. "Aku lagi diet, Van. Jangan kau pancing aku. Hari ini misi dimulai. Aku mau kurus, mau bersih, mau bikin Revan itu kelihatan macam remah-remah rempeyek di depan Kala."

​Jovan tertawa sampai tersedak. "Bagus, bagus. Tapi ingat, Nan, niat kau itu biasanya bertahan cuma sampai jam istirahat pertama. Kita tengok saja nanti."

*******

​Jam istirahat pertama adalah ujian sesungguhnya bagi iman seorang Kenan. Kantin SMK sedang berada dalam puncak kejayaannya. Aroma bakwan goreng, kuah bakso yang gurih, dan es teh manis yang segar memenuhi udara.

​Kenan duduk di pojok kantin, jauh dari gerobak gorengan. Di depannya ada kotak bekal berisi potongan melon dan air mineral. Dia mencoba membaca buku Akuntansi dengan serius, padahal telinganya sangat peka mendengar suara kriuk dari arah meja sebelah.

​"Eh, Kenan! Tumben di sini sendirian? Kok nggak makan?"

​Kenan mendongak. Jantungnya langsung melakukan maraton. Itu Kala, ditemani Maura. Kala tampak segar dengan jilbabnya yang rapi, sementara tangannya membawa segelas es jeruk—minuman favorit Kenan.

​"Eh, Kala. Iya nih, lagi... lagi pengin makan yang segar-segar saja," jawab Kenan sambil menunjuk melonnya yang tampak menyedihkan.

​Maura mengintip bekal Kenan. "Hah? Kau makan melon saja, Nan? Mana kenyang? Badan besar kau itu perlu nasi, nanti kau pingsan pas latihan band, siapa yang mau gotong?"

​Kala tersenyum kecil, tapi ada nada khawatir di matanya. "Iya, Nan. Jangan terlalu dipaksa kalau diet. Yang penting sehat saja. Kamu nggak apa-apa kan?"

​Dengar kata "khawatir" dari Kala, Kenan merasa energinya pulih seribu persen. "Nggak apa-apa kok, Kal. Aku cuma mau hidup lebih sehat saja. Biar nanti pas magang, staminaku kuat buat... ya, buat kerja."

​"Wah, semangat ya! Oh iya, nanti pulang sekolah ada rapat singkat buat pembagian kelompok magang di aula. Jangan lupa ya," pesan Kala sebelum pergi bersama Maura.

​Begitu Kala hilang dari pandangan, Jovan langsung datang membawa sepiring mie instan pakai telur setengah matang dan tumpukan kerupuk. Dia duduk tepat di depan Kenan.

​"Aduh, Nan... ini mie kuahnya kental betul. Telurnya masih lumer. Wangi bawang gorengnya... hmm, sedap!" Jovan mulai beraksi dengan jahatnya.

​"Van, kau memang sahabat paling durjana yang pernah aku kenal," gumam Kenan sambil menggigit melonnya dengan penuh dendam. "Kau sengaja kan makan itu di depanku?"

​"Eh, aku cuma mau mengetes mental kau. Kalau kau tahan godaan mie instan ini, berarti kau memang layak jadi vokalis band paling keren se-SMK Riau," ujar Jovan sambil menyeruput kuahnya dengan suara slurrp yang sangat provokatif.

​Kenan memejamkan mata. Dia membayangkan wajah Revan yang meremehkannya kemarin di taman. Dia ingat kata-kata "raksasa jerawatan". Seketika, rasa lapar itu kalah oleh rasa harga diri.

​"Makanlah kau sampai puas, Van. Biar kau saja yang melebar. Aku tetap pada jalanku!" Kenan berdiri dan berjalan keluar kantin dengan langkah tegak, meskipun perutnya berbunyi keruyukan seirama dengan langkah kakinya.

*******

​Sore harinya, aula sekolah sudah penuh sesak. Pak Rahmad, guru pembimbing magang, mulai membacakan daftar nama dan tempat instansi. Inilah momen yang paling mendebarkan bagi semua siswa kelas dua.

​Kenan dan Jovan berdiri di barisan belakang. Kenan terus berdoa dalam hati. Ya Tuhan, kalau memang jodoh, dekatkanlah tempat magangku dengan Kala. Kalau tidak jodoh, ya tolong jodohkan saja.

​"Kenan Abimanyu, jurusan Akuntansi..." suara Pak Rahmad menggema. "Kamu ditempatkan di Dinas Pendapatan Daerah."

​Kenan menghela napas. Oke, tempat yang lumayan formal. Lalu dia menunggu nama Kala disebut. Karena Kala jurusan TKJ, biasanya ditempatkan di bagian teknisi atau admin IT.

​"Kala Kirana, jurusan TKJ... kamu juga ditempatkan di Dinas Pendapatan Daerah, bagian entri data dan jaringan."

​Mata Kenan membelalak. Dia menoleh ke arah Jovan yang juga kaget. "Van! Kau dengar tak?! Satu tempat, Van! Satu atap!"

​"Wah, gila! Berhasil doa kau, Nan! Itu namanya kesempatan emas!" seru Jovan ikut senang.

​Kenan melihat ke arah barisan anak TKJ. Di sana, Kala juga menoleh ke belakang, mencari sosok Kenan. Saat mata mereka bertemu, Kala melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Dia tampak senang karena ada orang yang dia kenal di tempat magang nanti.

​Namun, di tengah kegembiraan itu, Kenan melihat sesuatu yang mengganjal. Kala sedang memegang HP-nya, dan ada sebuah gantungan kunci kecil berbentuk hati dengan inisial 'R' yang tergantung di sana. Pemberian Revan, pasti.

​Semangat Kenan sedikit meredup, tapi dia cepat-cepat bangkit lagi. "Tiga bulan, Nan. Tiga bulan kau bakal satu kantor sama dia. Kalau dalam tiga bulan kau tak bisa bikin dia nyaman, berarti kau memang cuma ditakdirkan jadi tukang fotokopi pribadinya saja," batin Kenan menyemangati diri.

*******

​Malam itu, Kenan tidak hanya latihan gitar. Dia mulai melakukan push-up di kamarnya.

"Satu... dua... aduh, beratnya..."

"Tiga... demi Kala..."

"Empat... demi mengalahkan si panggung Korea itu..."

​Sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal, Kenan menyalakan radionya. Kebetulan lagu dari Sheila on 7 sedang diputar, judulnya "Hari Bersamanya".

"Mohon Tuhan... Untuk kali ini saja,

Lancarkanlah hariku... Hariku bersamanya,

Hariku bersamanya"

​Kenan tersenyum tipis. Dia mengambil HP-nya, membuka galeri, dan menatap foto stolen-shot Kala yang dia ambil diam-diam saat Kala sedang tertawa di bawah pohon ketapang.

​"Tunggu aku di kantor magang nanti ya, Kal. Aku bakal datang dengan versi Kenan yang baru," bisiknya pada layar HP.

​Dia tidak tahu bahwa di saat yang sama, di kota sebelah, Revan sedang asyik membalas pesan dari seorang cewek bernama Fitri. Revan tersenyum licik, merasa dirinya begitu hebat karena bisa memiliki banyak "cadangan" tanpa ketahuan Kala.

​Perjalanan Kenan masih panjang, tapi pintu kesempatan sudah terbuka lebar di Dinas Pendapatan Daerah. Dan di sanalah, melodi rahasia mereka akan benar-benar mulai tercipta.

1
Erni Fitriana
mampirrrr...mampirrrr
Jumi Saddah
moga cerita ini banyak peminat nya,,seperti nya kisah ini asyik deh,,
Riry AU: aamiin, terimakasih sudah mampir kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!