Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Love You, Miss!!!
Tak lama, mobil Disa sudah berhenti di depan SMA Bina Bangsa. Dawai yang turun dari mobil Disa menyita perhatian beberapa siswa yang sedang berjalan memasuki gerbang sekolah. Dawai merasa canggung menjadi pusat perhatian.
"Ntar chat aja jemput jam berapa," kata Disa yang ternyata juga ikut turun dari mobil.
"Eh? Oh, iya. Gampang. Udah buruan sana! Ngapain ikut turun?" kata Dawai dengan nada cemas.
"Mau cuci mata," kata Disa sambil nyengir.
"Disa!" pekik Dawai gemas.
"Bwahahaha... Canda. Ya udah, gue cabut. Ati-ati diserang berondong!" kata Disa sambil mengelus ujung kepala Dawai lalu masuk kembali ke mobilnya.
Dawai dengan kikuk membenahi rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Disa. Beberapa murid yang melihat adegan itu tersenyum sambil berkasak-kusuk. Dawai segera berjalan memasuki gerbang sekolah dengan wajah malu yang tak bisa lagi dia sembunyikan.
"Morning, Miss!" sapa Rendra, yang entah sejak kapan sudah berada di pintu gerbang sekolah, pada Dawai yang masih sibuk membenahi rambutnya.
"Eh? Oh, morning," jawab Dawai sambil berlalu.
"Baru jadian ya, Miss?" tanya Rendra sambil mengekor di belakang Dawai.
"Eh? Oh... Udah lama," jawab Dawai singkat.
"Udah berapa lama?" tanya Rendra santai.
Dawai menghentikan langkahnya. Dia menoleh menatap Rendra. Rendra ikut menghentikan langkahnya. Kini keduanya berdiri berhadapan di lobi sekolah.
"Sepertinya kamu punya bakat jadi jurnalis. Bisa dicoba. You're good at asking questions," kata Dawai lalu berlalu meninggalkan Rendra. Rendra tersenyum kecut.
"Miss Dawai!" teriak Rendra. Semua yang ada di lobi melihat ke arah Rendra dan Dawai. Dawai menghentikan langkahnya. Menoleh.
"I LOVE YOU, MISS!" teriak Rendra lagi. Kali ini, seisi lobi yang mendengar pernyataan dari Rendra riuh. Tak sedikit siswi yang berharap berada di posisi Dawai.
Mata Dawai membulat. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sedetik kemudian, Dawai berbalik, meninggalkan Rendra di tengah lobi yang masih riuh.
Dawai mencoba melangkahkan kaki dengan biasa, meskipun dia sangat ingin berlari. Sesekali dia memejamkan mata, menahan amarah dan rasa malu.
'Gila! Bocah itu benar-benar gila!'
***
"Anda mengambil sikap yang tepat, Miss," kata Adit pada Dawai saat di ruang guru. Dawai menaikkan kedua alisnya.
"Saya melihatnya. Di lobi. Pernyataan cinta. Kalau bisa dibilang begitu," lanjut Adit sambil duduk di mejanya yang kebetulan berada di sebelah meja Dawai. Dawai menghela nafas panjang.
"Anak jaman sekarang," komentar Dawai sambil tersenyum kecut. Adit tersenyum mendengar komentar Dawai.
"Akan jadi big news. Pasti," kata Adit yakin. Dawai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hot news!" kata Dawai sambil terkekeh. Adit ikut terkekeh.
"Rumornya, Rendra memang sering pacaran dengan banyak cewek," kata Adit. Dawai menaikkan kedua alisnya, cukup terkejut Adit mengetahui rumor seperti itu.
"Para siswi sering membicarakannya," lanjut Adit, seperti tahu pikiran Dawai. Dawai manggut-manggut.
"Anehnya, para cewek itu mau-mau saja dipermainkan sama dia," kata Adit heran.
"Hmmm... Mungkin karena cakep? Menurut mereka," kata Dawai menanggapi perkataan Adit.
"Kalau menurut Miss Dawai sendiri?" tanya Adit.
"Eh?"
"Bagaimana perasaan Miss Dawai soal pernyataan cinta tadi?" Adit lanjut bertanya. Dawai mengerutkan kedua alisnya. Bingung.
"Perasaan saya? Soal tadi? Hhh... Lebih ke marah sih. Tidak tahu tempat dan posisi," jawab Dawai akhirnya. Adit manggut-manggut sambil tersenyum.
"Jadi, kalau tidak di sekolah?" tanya Adit lagi. Dawai, lagi-lagi, mengerutkan kedua alisnya.
"Hhhh... Yang jelas saya tidak tertarik, Pak Adit. Permisi, saya mau ke toilet," kata Dawai, kali ini dengan nada ketus. Adit menaikkan kedua alisnya, cukup terkejut dengan reaksi Dawai.
Dawai memasuki toilet dengan sebal. Diambilnya ponsel di saku roknya. Lalu menelepon.
"Sekarang?" kata Disa diseberang.
"Apaan?" jawab Dawai bingung.
"Jemput,"
"Masuk juga belum," kata Dawai kesal.
"Trus?"
"Sebel,"
"Kenapa? Bocil? Gasik amat. Diapain?"
"Ditembak,"
"HAH?! SERIUS?!" Disa terdengar sangat terkejut.
"Iyaaa..."
"Trus? Lu jawab apa?"
"Menurut kamu?"
Disa diam sesaat.
"Nggak lu jawab," jawab Disa setelah cukup berpikir.
"Nah tu tau,"
"Gila tu bocah,"
"Kan?"
"Sebel?"
"Banget,"
"Cup cup... Peluk mau?"
"Ogah,"
"Aaaww... Kacian... Sabar ya. Ntar gue traktir es krim,"
"Emang aku bocil?"
"Emang bukan?"
"Disa!" pekik Dawai, menahan agar tidak berteriak.
"Iya... Iya... Trus apa lagi yang bikin lu sebel?" tanya Disa, seolah tahu kalau sahabatnya tidak akan sekesal itu hanya karena pernyataan cinta dari muridnya.
"Hhh... Udahlah. Ntar aja aku cerita pas kamu traktir es krim," kata Dawai, tenang.
"Oke, Beb,"
"Makasih ya,"
"Sama-sama,"
Dawai mengakhiri panggilan teleponnya. Dia merasa lebih lega setelah menelepon Disa. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali dia merasa kesal dia akan menelepon atau bicara pada Disa.
Dawai kembali ke mejanya. Sudah jam 06.54. Dawai menyiapkan buku dan bahan ajar yang akan dia gunakan untuk mengajar. Hari ini, Dawai mengajar jam pertama di kelas X-9. Adit menatap Dawai yang sedang bersiap-siap.
"Maaf, Miss Dawai," kata Adit. Dawai menoleh. Tersenyum.
"Saya hanya ingin tau..."
"Dan setelah Pak Adit tau?" tanya Dawai sambil menumpuk buku-buku yang akan dia bawa ke kelas. Adit terdiam.
Adit menyadari dirinya sudah keterlaluan. Mungkin dia tidak bermaksud seperti itu. Dia memang bukan orang yang bisa menyusun kalimat dengan baik, sehingga sering kali membuat salah paham lawan bicaranya.
"Maksud saya..."
"Baik. Jadi, entah itu di sekolah atau dimanapun hal tadi dilakukan, saya akan tetap memberi reaksi yang sama padanya. Karena apa? Karena saya guru yang paham kode etik. Saya wanita dewasa yang tidak akan mudah digetarkan dengan pernyataan seperti itu dari seorang bocah. Jadi, apa Pak Adit puas dengan jawaban saya?" jawab Dawai dengan nada setenang mungkin.
Adit tertegun. Dia tidak menyangka teman satu angkatannya itu benar-benar menjalani perannya sebagai guru. Jujur saja, Adit sempat memandang Dawai sebelah mata karena penampilannya yang sama sekali tak terlihat seperti guru.
"Saya minta maaf," kata Adit akhirnya. Lagi-lagi, Dawai tersenyum.
"Mungkin Pak Adit mencemaskan saya, mengira saya tidak serius melakukan pekerjaan ini," kata Dawai dengan nada yang kembali bersahabat.
"Teman-teman kuliah saya dulu sering meledek saya. Katanya saya ngga pantes jadi guru. Selain karena penampilan saya yang kurang meyakinkan, saya sering kali cepat akrab dengan murid-murid waktu saya praktek ngajar. Sudah seperti teman mereka katanya," lanjut Dawai.
"Tapi, saya suka pekerjaan ini. Jadi, saya tidak akan melakukannya setengah hati," tutupnya.
Lagi-lagi Adit tertegun. Dawai seperti membaca pikirannya. Mereka memang duduk bersebelahan, tapi baru kali ini mereka benar-benar mengobrol.
'Dia bukan sembarang wanita,'
***
semngaatt ya thorrr