Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kontak dan Getaran yang Tidak Terduga
Keheningan di dalam taksi yang membawa Marisa dan Dalend kembali ke apartemen jauh lebih berat daripada saat keberangkatan. Aroma parfum mahal, gaun merah anggur, dan gemerlap perhiasan milik Nyonya Elvira seakan memenuhi udara, kontras dengan suasana malam yang dingin di luar kaca jendela.
Marisa duduk tegak, kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia masih merasakan panas sisa dari napas Dalend di dekat bibirnya. Pura-pura ciuman itu, yang dilakukan di depan keluarga Dalend dan Tirtayasa, terasa begitu nyata hingga membuatnya bingung.
"Kita berhasil," Dalend memecah keheningan, nadanya dipenuhi kelegaan yang luar biasa. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi taksi, tubuhnya tampak kendor karena ketegangan yang mereda.
"Kita berhasil membuat mereka percaya," koreksi Marisa, suaranya dingin dan datar. Ia melepas kalung berlian biru safir milik Nyonya Elvira yang diberikan pada Dalend dan meletakkannya di telapak tangan Dalend. "Tahan. Jangan sampai hilang."
Dalend menerima kalung itu, tersenyum kecil. "Gue tahu Lo khawatir. Tapi seriously, Marisa, akting Lo malam ini luar biasa. Lo berhasil buat mama gue terdiam. Tidak ada pacar gue sebelumnya yang pernah melakukan itu."
"Gue tidak berakting untuk membuat nyokap Lo terdiam. Gue berakting untuk lima puluh juta," balas Marisa cepat, tatapannya menyiratkan peringatan. "Dan satu hal lagi, Dalend. Adegan di akhir tadi, proximity kita terlalu dekat."
"Proximity?" Dalend menegakkan duduk, menatap Marisa dengan mata sipitnya yang kembali memancarkan godaan ringan. "Itu namanya kebutuhan drama. Paman Bima ada di sana. Kita harus terlihat meyakinkan, Marisa. Kalau gue cium Lo di kening, mereka akan anggap itu friendzone. Kalau gue cium bibir Lo, itu baru namanya tunangan yang dimabuk asmara. "
"Gue enggak peduli namanya apa. Kontrak kita jelas: tidak ada sentuhan tanpa izin. Lo melanggar itu," Marisa menuntut.
"Technically, gue enggak menyentuh bibir Lo," Dalend membantah, nada suaranya berubah membela diri. "Ada jarak satu milimeter. Itu namanya air kiss yang gagal, bukan ciuman."
"Satu milimeter atau satu meter, itu tetap terlalu jauh untuk dua orang asing yang baru kenal kurang dari dua puluh empat jam," desis Marisa. "Gue tahu Lo panik, tapi jangan pernah ulangi itu. Kalau Lo melakukannya lagi, gue batalin kontrak, gue kembaliin sisa uang Lo, dan Lo bebas dijodohkan sama cewe kaku itu."
Dalend menghela napas panjang. Ekspresi santainya menghilang, digantikan oleh raut wajah yang lebih serius, sedikit menyesal.
"Oke, I'm sorry. Gue janji, itu enggak akan terjadi lagi. Itu tadi murni karena tekanan Papa dan Mama," katanya. "Tapi, please jangan batalin kontraknya, Marisa. Gue janji besok pagi setelah urusan selesai, lima puluh juta itu langsung gue transfer ke Lo. Lo bisa langsung pulang ke kampung."
Marisa menatap mata Dalend. Ia mencari kebohongan, tetapi yang ia temukan hanyalah keputusasaan seorang anak yang memberontak.
"Baik. Satu kesempatan lagi," Marisa memutuskan. "Sekarang, jelaskan rencana besok pagi. Kenapa Papa Lo minta kita datang ke rumah?"
Dalend kembali bersemangat. "Itu artinya Papa gue tertarik sama Lo. Papa gue itu anti drama. Kalau dia sudah minta kita datang ke rumah, berarti dia mu verifikasi keseriusan Lo, Dia mau tahu why Dalend memilih Marisa daripada London."
"Apa yang harus gue lakukan?"
"Besok, Lo harus tampil lebih sederhana, tapi tetap elegan. Tunjukkan sisi domestik Lo-meski itu akting. Jawan semua pertanyaan Mama gue dengan santai, jangan emosi, dan jangan menyerah pada argumen London mereka. Lo adalah jangkar gue, Marisa Lo harus terlihat stabil dan dewasa, berlawanan dengan citra kekanakan gue selama ini," jelas Dalend.
Marisa mengangguk, memproses strategi itu. Ia sudah lama menjadi dewasa tanpa diminta-sejak ayahnya meninggal dan ia harus bekerja keras di kota untuk biaya ibunya. Berpura-pura dewasa adalah hal yang paling mudah ia lakukan.
Mereka tiba di apartemen. Begitu pintu tertutup, Marisa segera melepaskan high heels-nya dan menjatuhkan diri di sofa mewah. Ia merasa seluruh energinya terkuras, bukan karena lelah fisik, tapi lelah emosi.
Dalend duduk di seberangnya, menatap Marisa yang kini tampak kecil dan rapuh lagi dalam balutan gaun besarnya.
"Lo lapar?" Tanya Dalend.
"Sangat," Marisa mengakui. Mereka tidak menyentuh makanan di Le Mirage karena terlalu sibuk berakting.
"Steak beku yang kita beli tadi. Lo mau gue masakin?"
Marisa terkejut. "Lo bisa masak?"
"Sedikit. Gue enggak mau mati kelaparan kalau kartu gue diblokir," Dalend tersenyum, lalu bangkit. "Lo istirahat saja disini. Gue masakin."
Marisa hanya mengangguk lemas. Ia melepas wig kecil yang ia gunakan untuk menambah volume rambutnya dan meletakkannya di meja. Ia menyaksikan Dalend, ,sang pewaris Angkasa Raya, sibuk di dapur, mengolah steak beku dengan mahir. Suara gesekan pisau dan aroma panggangan perlahan mengisi apartemen uang tadinya sepi.
Tak lama kemudian, Dalend menyajikan dua piring steak di meja makan marmer. Ia menyuguhkan wine non-alkohol yang mereka beli.
"Maaf, ini bukan Le Mirage, tapi setidaknya ini buatan pewaris Angkasa Raya, " Dalend berkata, mencoba bercanda.
Marisa tersenyum kecil, senyum tulus pertamanya hari itu. "Terima kasih. "
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Perut yang kenyang membuat Marisa merasa sedikit lebih baik. Setelah selesai, Dalend mencuci piring.
"Lo tahu," kata Dalend sambil mengelap tangannya.
"Meskipun kita pura-pura, gue suka saat Lo bilang enggak akan meninggalkan ibu Lo demi gue. That's a real commitment."
"Itu bukan akting. Itu kenyataan. Prioritas gue adalah ibu gue," tegas Marisa.
"Gue tahu. Dan itu uang membuat Lo berbeda dari cewek-cewek yang biasa gue temui. Mereka semua selalu bilang iya, lalu menghabiskan uang gue. "
Marisa bangkit dari kursi. "Gue mau tidur. Besok pagi kita harus tampil maksimal. Di mana gue tidur?"
Dalend menunjuk ke arah koridor. "Ada tiga kamar tidur di sini. Lo pilih kamar utama. Gue tidur di kamar tamu."
"Kamar utama? Kenapa nggak kamar tamu aja?"
"Karena Lo tunangan gue. Kalau Bima pasang kamera tersembunyi, dia harus melihat Lo keluar dari kamar utama," Dalend menjelaskan, kembali memasang wajah strategis. "Lagipula, itu kamar paling nyaman. Lo layak dapat yang nyaman, setelah hari yang menyebalkan kemarin."
Marisa menatap Dalend, curiga. "Lo nggak akan macam-macam, kan?"
"Janji," Dalend mengangkat tangan kanannya. "Gue akan tidur di kamar yang paling jauh dari Lo, dan gue enggak akan berani melewati batas. Lo adalah kontrak termahal gue, Marisa. Gue harus menjaganya."
Marisa mengangguk. Ia berjalan menuju kamar utama. Sebelum menutup pintu, ia menoleh ke belakang, di mana Dalend sudah duduk di sofa, memegang ponselnya yang mati.
"Dalend," panggil Marisa.
Dalend menoleh.
"Terima kasih, untuk steak-nya. Itu enak," kata Marisa tulus.
Dalend tersenyum lagi. Senyum itu menghilangkan ketegangan dan godaan, hanya menyisakan kehangatan. "Sama-sama, Marisa. Tidur nyenyak."
Marisa menutup pintu. Ia segera mandi lagi, mencuci bersih semua sisa make-up dan bau parfum mahal. Ia mengenakan hoodie dan celana Dalend lagi, lalu berbaring di ranjang king size yang lembut.
...
Marisa seharusnya merasa takut dan cemas, tetapi ia merasa aman. Apartemen itu tinggi, terpisah dari kekacauan kota, dan Dalend, si pewaris yang memberontak, ternyata adalah seorang gentleman yang menjaga batas (setelah sedikit pelanggaran tadi.)
Ia memejamkan mata, memikirkan Bara dan Anya. Anehnya, wajah mereka sudah tidak lagi memicu air mata atau kemarahan. Yang muncul adalah wajah Dalend-saat dia tersenyum geli di halte, daat ia memasak steak, dan yang paling mengganggu, saat ia menahan napas satu milimeter dari bibirnya.
Itu hanya akting, Marisa mengingatkan dirinya sendiri. Pagi menjelang. Marisa terbangun sebelum alarm. Ia melihat jam, pukul 07.00. Ia harus bersiao untuk pertempuran final di rumah Dalend.
Marisa keluar dari kamar, sudah berpakaian dress sederhana tapi rapi yang ia beli di mall. Ia menemukan Dalend sudah duduk di meja makan, membaca bukh tebal berbahasa inggris.
"Pagi, Tunangan. Sudah siap?" Sapa Dalend, tanpa melihat ke atas.
"Pagi. Lo sudah sarapan?"
"Belum. Gue nunggu Lo. Kita harus sarapan bersama. Tunjukkan kesan pasangan harmonis, ingat?"
Dalend menutup bukunya dan bangkit. Ia sudah mengenakan setelah kasual yang elegan, membuatnya terlihat seperti mahasiswa cerdas yang siap mengambil alih dunia.
"Ada telur dan roti. Gue cuma bisa bikin itu, " kata Dalend. Mereka sarapan bersama di bawah sinar matahari pagi yang memasuki apartemen. Marisa menyadari, ini adalah sarapan paling normal dan tenang yang ia rasakan sejak perpisahan dengan Bara.
Saat sedang minum kopi, Dalend menatap Marisa lekat-lekat.
"Kenapa?" Tanya Marisa, menyeka sudut bibirnya.
"Lo cantik hari ini, Marisa. Jauh lebih cantik daripada saat Lo pakai merah anggur semalam," kata Dalend.
"Ini cuma dress katun," Marisa membalas.
"Bukan dress-nya. Aura Lo. Lo enggak lagi bawa beban kekalahan. Lo bawa aura kemenangan," Dalend tersenyum. "Gue serius. Kalau Lo bukan tunangan palsu gue, gue mungkin akan beneran jatuh cinta sama Lo."
Marisa merasakan getaran aneh di dadanya. Ia segera mengalihkan pandangan.
"Stop it, Dalend. Ingat kontraknya. Gue cuma mau pulang," ujar Marisa.
Dalend tertawa ringan. "Relax. Itu cuma ucapan selamat pagi."
Namun, Marisa tahu. Kata-kata Dalend tidak lagi terasa murni akting. Getaran aneh yang mereka rasakan saat pura-pura ciuman itu kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang tak terduga di tengah kontrak bisnis mereka.
"Jam 08.00 kita harus sampai di rumah. Kita harus bersiap, Marisa. Pertemuan terakhir sebelum Lo dapat fee Lo," kata Dalend, berdiri dan mengambil kunci.
Marisa bangkit. Ia mengambil tasnya, yang berisi semua uang dan tiket emasnya untuk kembali ke kampung. Ketika Dalend membuka pintu, ia menoleh ke arah Marisa, matanya serius.
"Marisa, apa pun yang terjadi hari ini, tetap pegang janji gue. Lo akan pulang dengan lima puluh juta, dan gue akan benas dari perjodohan, " janji Dalend.
"Gue pegang janji Lo, Dalend," balas Marisa.
Mereka keluar dari apartemen, siap menghadapi keluarga Angkasa Raya dan menentukan nasib kontrak konyol ini.
...