Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Lidia meruntuki kebodohannya yang masih saja tak bisa menolak sentuhan lelaki itu. Sekeras apapun ia berusaha menghindari pesona Panca, tapi dengan satu sentuhan saja mampu menjatuhkan pendiriannya.
Lidia duduk termenung di meja kerjanya dengan layar komputer masih menyala. Ia masih memikirkan bagaimana bisa terlepas dari jeratan Panca. Lamunan Lidia terputus karan bunyi dering ponselnya. Dengan malas - malasan wanita itu mengambil ponselnya dan melihat siapa gerangan yang mengganggu lamunannya.
"Wulan." nama yang tertera di layar adalah nama sahabatnya, rasa bersalah itu kembali menghantui dirinya. Rasanya ia begitu berat untuk menjawab panggilannya Wulan. Tapi karna terus berbunyi akhirnya wanita itu mengangkatnya juga.
"Ya, Wulan. Ada apa?" tanya Lidia berusah setenagh mungkin meski jantungnya berpacu lebih cepat karna gugup.
"Aku ganggu ya?" tanya Wulan dari sebrang sana.
"Ga, kok. Ada apa, tumben telpon?" Lidia merubah duduknya supaya ia merasa lebih nyaman ngobrol dengan Wulan.
"Aku mau curhat."
"Curhat apa?"
"Ini mengenai mas Panca."
"Kenapa dengan suamimu?" tanya Lidia dengan wajah memucat karna takut ketahuan. Untung Wulan tidka ada disana dan melihat perubahan wajah Lidia.
"Aku kok merasa mas Panca semakin menjauhi aku ya, apa mas Panca ada dekat dengan seseorang dikantor atau diluar sana?" tanya Wulan mengungkapkan kekawatirannya.
"Masa sih, mungkin itu perasaan kamu aja. Pak Panca itu sekarang lagi sibuk, banyak proyek yang harus di selesaikan." Lidia berusah tetap tenang meski dadanya sudah sesak.
"Ooh pantes aku lihat belakangan ini sering lelah, tolong kamu awasi mas Panca untuk aku ya, Lid. Kalau ada hal yang mencurigakan tolong kasih tau aku."
"Iya, kamu tenang aja. Aku pasti jagain kok." komunikasi pun terputus. Lidia mengurut dadanya yang sesak, rasanya ia perang bathin saat berbicara dengan Wulan karna rasa bersalah. Bagaiman jika ia bertemu langsung dengan Wulan ya?"
Rasa bersalah makin besar di hati Lidia, wanita itu memejamkan matanya sesaat mencoba menetralkan hatinya.
Sore itu hujan turun dengan sangat derasnya. Lidia duduk termenung sambil menatap tetes air hujan melalui kaca di ruanganya. Pikiranya jadi buntu karna di penuhi rasa bersalah. Hari - hari yang di jalannya terasa jauh lebih berat.
Panca selalu punya cara untuk membawanya kembali jatuh dan masuk lebih dalam. Sekeras apapun ia berusaha menghindar tapi selalu kalah dengan sentuhan lembut lelaki itu.
Panca sering curi - curi kesempatan entah untuk sekedar ciuman sekilas, pelukan, bisikan lembut di telinganya, dan sentuhan di bahu membuat Lidia selalu goyah. Semakin ia berusaha menghindar semakin kuat Panca menarik dirinya masuk.
"Lidia keruangan saya sekarang?" terdengar suara panca memanggil diirnya dari telpon kantor.
"Baik pak." Langkah kaki terasa berat, seakan ada batu yang diikat di sana. Tapi ia tetap harus menemui atasnya itu, meski ada ketakutan di sana. Karna setiap menemui atasnya itu selalu berakhir dengan yang akan ia sesali.
Mengakhirinya terhenti di pintu masuk. Beberapa kalinya mencoba menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia tak boleh lemah harus kuat dan bisa melawan agar dirinya tak lagi di hantu oleh rasa bersalah yang makin dalam.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?