"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 07
Deg! deg! deg!
Degup jantung Indira bertalu-talu seolah memukul dadanya sendiri. Bisa ia rasakan seluruh permukaan wajahnya yang memanas, darahnya berdesir hebat apalagi ketika merasakan cengkeraman namun tak keras dari tangan kekar itu merajai pinggangnya dengan posesif saat ini.
Tak ingin semakin lama di situasi canggung itu, Indira lantas segera menguasai dirinya, sedikit mendorong dada bidang lelaki itu untuk nya bisa menegakkan dirinya kembali.
Setelah menguasai keadaan, barulah Indira mengeluarkan pekikan yang tertahan. "A- apa yang kamu lakukan, kenapa masuk dengan bertelanjang dada seperti itu? "
Kedua bilah pipinya merona, yang membuat nya sedikit menyamping untuk menyembunyikan nya. Dan walaupun Indira sudah sepanik itu, sang pria masih bersikap biasa- biasa saja, seolah yang terjadi bukanlah hal yang besar.
"Tadi aku ingin mandi, dan ayah mu menyarankan kamar mandi di dekat dapur. Tapi aku lupa membawa baju ganti dan baju ku basah karena terjatuh di bak mandi, itu sebabnya aku datang kesini dengan bertelanjang dada. "
Setelah menjelaskan panjang lebar, Seno menghela napas gusar. Baru kali ia harus menjelaskan serinci itu pada orang yang bahkan di bencinya, benar- benar menyebalkan.
Indira masih sedikit gugup ketika akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, baju ganti mu ada di lemari bagian bawah. Itu baju yang baru di belikan ayah ku, maaf kalo tidak sesuai dengan selera mu."
Seno berjalan ke arah lemari yang di tunjuk Indira, seraya mengangguk kecil. "Karena kalian tahu aku datang kesini tanpa persiapan, yaaa... aku hargai itu. Tak apa yang penting masih layak di pakai, " ujarnya sambil membuka lemari, mengambil potongan baju dan celana pria yang di maksud gadis itu.
Gerakannya ketika ingin menutup pintu lemari tertahan ketika ia melihat bayangan Indira di cermin yang menempel di lemari itu. Tubuh Indira yang sintal dan hanya di balut handuk pendek terpampang jelas di sana. Tangannya yang secara protektif menutup dadanya, rambutnya yang basah, raut wajahnya yang malu- malu dan merona merah malah semakin menambah kesan yang entah-- membuat lelaki normal manapun yang melihat nya pasti menelan ludah.
Dan itulah yang terjadi pada Seno saat ini. Tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri beberapa kali, ada gelorakan yang tak bisa ia sembunyikan sebagai lelaki normal dan justru malah berdecak sebal ketika mengingat sosok kakak iparnya, Ryan.
Pantas lah si breng*sek itu sangat ngebet untuk menikahi gadis ini. Karena ternyata Indira memang mempunyai tubuh yang menggoda.
Menggeleng keras, Seno berusaha menyadarkan dirinya sendiri, menarik dirinya dari alam bawah sadarnya bahkan tak segan menampar pipinya sendiri.
"Sadarlah Senopati! kau tak mungkin tergoda padanya! "
Berulang kali Seno melakukan itu hingga Indira menyadari nya yang membuatnya mengkerut kan kening. Dan ketika ia menyadari bayangannya sendiri di depan kaca, barulah ia menyadari kenapa Seno melakukan itu dan segera berbalik memunggungi.
"Astaga Indira, kenapa kau tidak sadar?! " Ia merutuki kebodohannya sendiri, menutup mata karena malu.
Sementara Seno dengan gerakan yang berusaha ia buat sesantai mungkin, akhirnya menutup pintu lemari dan berjalan ke luar kamar, tak lupa ia juga menutup pintu kamar.
Dan Indira yang mendengar pintu kamar tertutup, barulah menghela napas lega.
Tapi sementara di luar, Seno malah berdecak kesal ketika melihat ke bawah, sesuatu menggelembung di balik celananya. Merotasi matanya, Seno berjalan santai tanpa menyadari hasratnya yang mulai tumbuh pada gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai yang diinginkan Seno, mereka sudah selesai bersiap- siap pukul lima dan akan segera berangkat saat itu. Mobil Porsche miliknya sudah terparkir di depan rumah plus dengan supir pribadi nya yang ia minta dari Raka-- asisten pribadinya.
Kedatangan mobil mewah itu sontak mengundang decak kagum para warga yang melihat nya, dan sukses membuat hidung Baskoro juga Rukmini semakin kembas kempis karena merasa bangga.
Rania juga ada di sana, memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak, karena menghindari keramaian ia memilih untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu. Dan Seno memaklumi itu.
Baskoro mendekati putri dan menantu nya, berlagak menjadi ayah yang baik dia mulai mengeluarkan air mata buayanya.
"Nak, ayah minta kamu di sana jaga diri baik-baik, hidup yang baik, jaga nama suami mu dan keluarga nya."
Rukmini pun tak kalah munafik nya, dan memeluk Indira dengan erat, mengusap punggung nya seolah mereka adalah sosok ibu dan anak yang saling menyayangi dengan tulus.
"Pesan ibu sama dengan pesan ayahmu. Jangan lupa untuk tetap kabari kami ya, dan jaga ibadah, nak. "
Di balik kacamata hitam nya, Seno memutar bola mata malas, muak melihat drama murahan keluarga itu. Sementara Indira? dia hanya bisa bersikap seperti payung yang di beri nyawa, walaupun dalam hatinya juga sudah muak dengan drama yang berusaha diciptakan oleh mereka.
Bayu, si bungsu tampak biasa- biasa saja. Sibuk bermain HP di kursi paling ujung, Indira juga tidak mempersalahkan dia, toh memang begitu sifat adiknya dan dia sudah hafal sejak dulu.
"Sudah? " cetus Seno pada akhirnya, ia melihat jam pergelangan tangan. Waktu mereka hampir tersita setengah jam disini.
Bu Rukmini berpura-pura mengusap ujung matanya yang basah, begitu pun dengan Baskoro yang seolah merasa sangat kehilangan padahal dalam hati mereka bersorak.
"Ya sudah hati- hati ya, nak, " ujar mereka berdua, lalu menoleh kepada Seno.
"Nak Seno tolong jaga Indira selalu ya... "
Seno hanya mengangguk saja, lalu melangkah lebih dulu ke mobil. Indira mengikuti nya dengan membawa kopernya, supir membantu nya untuk menaruh kopernya di bagasi.
Indira duduk di kursi belakang bersama Seno karena ternyata Rania duduk di depan bersama supir. Setelah siap, mobilnya pun mulai beranjak meninggalkan area kampung itu dan Indira bisa melihat ayah ibunya yang melambai pelan tanda perpisahan.
Di satu sisi ia merasa lega karena bisa pergi dari rumah yang membuat nya menderita perlahan itu, tapi disisi lain neraka lainnya justru sedang menanti nya.
Kaca spion mobil memperlihatkan wajah Rania yang membengkak. Indira tertegun saat tak sengaja melihat itu, dalam hatinya ia merasa bersalah untuk wanita itu.
Di tipu oleh branding yang di bawa Ryan membuat orang tuanya bahkan ia sendiri tak tahu jika pria itu sudah memiliki istri sebenarnya. Ryan benar-benar lihai memainkan perannya dan ayahnya yang mata duitan itu mendesaknya untuk menerima pinangan dari pria itu.
Awalnya Indira sudah tegas menolak karena dia masih mengejar karir sebagai seorang perawat di salah satu rumah sakit ternama, namun ayahnya selalu mengancam dengan ancaman yang akan membongkar dan memindahkan kuburan ibunya.
Terakhir kali ayahnya itu benar-benar melakukan niatnya, yang membuat Indira tak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya.
Namun kali ini, ia ingin menentukan hidup nya sendiri.
Di sampingnya, Seno meliriknya tajam. "Jangan kau senang karena bisa ikut tinggal denganku. "
Kali ini Indira tak akan diam setelah mendengar kata- kata tajamnya. "Aku tak pernah merasa senang, justru menderita. "
Kata yang diucapkan nya bernada ketus, membuat Seno kaget dengan perlawanan kecilnya itu.
Seno tersenyum miring. "Boleh juga perlawanan mu, itu. "
"Ya, aku terbebani dengan pernikahan ini dan kamu juga. " Indira menoleh ke arah pria itu. "lantas bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? "
Dahi Seno mengkerut. "Kesepakatan? "
Indira mengangguk. "Ya, pernikahan kontrak. "
Wajah Seno sontak berubah.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah