NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Luciano

"Baik, tahan mereka, saya segera pulang." Luciano menarik jas yang tadi ia lampirkan diatas meja lalu meraih kunci mobil pribadi yang memang ia sediakan di kantor.

"Jadwalkan ulang semua meeting hari ini, saya harus pulang sekarang," ucap Luciano kepada sekretaris nya yang saat itu sedang berdiri di depan pintu ruangan Luciano.

"Tapi, pak-"

"Urusan saya jauh lebih penting dari pada meeting hari ini."

setelah mengatakan itu, Luciano langsung bergegas pergi, meninggalkan sekretaris tersebut dalam keadaan cengoh.

***

Luciano baru saja sampai di rumahnya, namun pemandangan yang pertama kali ia lihat dan ia cari adalah Alana, gadis cantik yang mampu membuat seorang Luciano begitu terobsesi.

"Alana," panggil Luciano, ia pun langsung berlari menghampiri sang gadis.

"Luciano, kau pulang?" tanya Alana, keheranan. Karena Luciano kembali disaat yang begitu kebetulan sekali.

"Apa mereka menyakiti mu?" Luciano memeriksa lengan Alana, memastikan jika sang gadis tidak terluka sedikitpun.

"Apa yang kau lakukan, Luciano?" Alana menepis tangan Luciano darinya dan kemudian menjauh beberapa langkah.

"Memastikan jika mereka berdua tidak menyakiti kamu, apa lagi?"

"Aku bukan anak kecil, Luciano. Aku bisa menjaga diriku sendiri, apa lagi dari mereka berdua, itu kecil untukku!" Alana me jatuhkan tubuhnya diatas sofa dan satu tangannya memijit pelan keningnya.

"Apa kamu demam?" Luciano kembali memastikan.

"Astaga, aku hanya memijit pelan keningku, bukan berarti aku demam." Alana mulai kesal, lalu ia pun memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya.

"Kau mau kemana?"

"Kembali ke kamar. Disini terlalu banyak drama. Aku nggak suka," jawabnya dengan ketus.

Luciano menunjuk dirinya sendiri. "Aku, maksudnya aku?"

"Tuan, mereka sudah kami masukkan kedalam kandang kobra." Bodyguard itu memberi tahu, dan Luciano hanya mengangguk saja.

"Bereskan mereka, jika mereka mati, lakukan seperti biasa."

Bodyguard itu mengangguk paham, Luciano pun pergi untuk menghampiri Alana ke lantai atas.

Sementara itu di kamar, Alana berdiri sambil ber sidekap dada sambil menatap kesal foto kebanggan Luciano yang terpampang jelas di kamar tersebut.

"Kau, mafia jahannam. Berani sekali kau mengurung kakak dan Bibi ku di kandang cobra. Kau pikir mereka itu apa? Nggak punya hati nurani," dumel Alana pada foto Luciano.

sayangnya, Alana tidak menyadari satu hal jika saat ini Luciano sedang berdiri sambil bersandar di pintu kamar sambil tersenyum menatap Alana yang sedang meluapkan emosinya tersebut.

"Axel Luciano, i hate you so much. Semoga kamu hari ini kena sial," umpat Alana lagi, kali ini Alana menunjuk-nunjuk pada wajah Luciano yang terbingkai kayu mahoni.

"Apa kau yakin, Alana?" tanya Luciano dengan nada pelan. Ia berjalan menghampiri Alana.

Alana langsung kehabisan kata-kata saat itu. Yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana caranya untuk kabur dari hadapan Luciano yang auranya begitu mendominasi.

Alana mundur satu langkah. Dua. Hingga punggungnya menabrak lemari kayu di belakangnya.

“Se-sejak kapan kau di situ?” suaranya tercekat, tangannya refleks menggenggam sisi lemari.

Luciano berhenti hanya selangkah di hadapannya. Tatapannya turun, memperhatikan jari Alana yang gemetar, hal kecil yang selalu gagal disembunyikan gadis itu saat panik.

“Sejak sebelum kau mendoakanku kena sial,” jawabnya santai, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum yang sama sekali tidak menenangkan.

Alana mendengus, berusaha menegakkan bahunya. “Kalau kau dengar, kenapa masih tanya? Pergi sana. Aku nggak mau bicara sama mafia nggak punya hati.”

Luciano mengangkat alis. “Mafia, ya?” Ia meraih foto berbingkai mahoni itu dari dinding, menatapnya sekilas lalu meletakkannya di meja.

“Setidaknya mafia ini pulang begitu dengar kau terancam.”

“Terancam?” Alana tertawa pendek, getir. “Yang mengancam hidup mereka itu kau, Luciano. Kakakku dan Bibiku—mereka cuma orang biasa!”

Langkah Luciano terhenti. Suasananya berubah. Udara di kamar seakan menegang.

“Mereka masuk ke wilayahku tanpa izin,” ucapnya dingin. “Itu bukan kesalahan kecil.”

Alana menatapnya tajam. “Wilayah mu? Dunia ini bukan papan catur mu!”

Luciano mendekat lagi. Terlalu dekat. Alana bisa mencium aroma maskulin jasnya, bisa melihat garis tegas rahangnya yang mengeras.

“Dengarkan aku baik-baik,” katanya rendah.

“Mereka selamat. Selama kau di sini.”

Alana tercekat. “Selama aku di sini?”

“Ya.” Luciano mengangkat tangan, tapi berhenti di udara, tak menyentuhnya. “Kau adalah satu-satunya alasan mereka masih bernapas.”

Amarah Alana meledak. “Jadi aku sandera sekarang?”

“Tidak,” Luciano menatapnya lurus. “Kau pengecualian.”

Jawaban itu justru membuat dada Alana makin sesak. Ia memalingkan wajah, menahan air mata yang tak mau jatuh di depan pria ini.

“Kau selalu begitu,” gumamnya. “Mengurung, mengatur, lalu menyebutnya perlindungan.”

Luciano terdiam. Untuk sesaat, ia terlihat ragu.

“Aku tidak tahu cara lain menjaga sesuatu yang berharga,” ucapnya pelan.

Alana menoleh cepat. “Aku bukan barang, Luciano.”

Ia menatap mata Alana—mata yang selalu membuatnya kehilangan kendali.

“Aku tahu,” katanya lirih. “Itulah masalahnya.”

Keheningan menyelimuti mereka. Tegang. Rapuh.

Alana menarik napas dalam. “Lepaskan mereka. Sekarang.”

Luciano menimbang. Lama. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.

“Satu perintah,” katanya. “Dan mereka keluar dari kandang itu.”

Harapan menyala di mata Alana.

“Tapi,” lanjut Luciano, menatapnya penuh arti, “kau tidak boleh pergi dariku. Tidak hari ini.”

Alana membeku.

“Pilih,” ucap Luciano pelan, namun penuh tekanan.

Alana mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak, menahan gemetar yang mulai naik ke tenggorokan.

“Kau membuat pilihan terdengar seperti jebakan,” katanya lirih, tapi tegas.

Luciano menghela napas pendek. “Karena dunia tempatku hidup memang jebakan, Alana. Dan aku tidak mau kau terseret ke dalamnya tanpa aku.”

“Luciano,” Alana menatapnya, matanya berkaca-kaca tapi dagunya terangkat, “kalau kau benar peduli lepaskan mereka tanpa syarat.”

Hening.

Detik berlalu seperti pisau yang digeser perlahan.

Luciano menurunkan ponselnya. Rahangnya mengeras, lalu ia memalingkan wajah sejenak seolah sedang bertarung dengan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Akhirnya, ia menekan satu nomor.

“Buka kandang itu,” ucapnya singkat. “Pastikan mereka dikawal sampai keluar area. Tidak ada yang menyentuh mereka.”

“Siap, Tuan.”

Panggilan terputus.

Alana menutup mata. Napasnya bergetar, lalu ia membuka lagi matanya, menatap Luciano dengan campuran lega dan marah.

“Terima kasih,” katanya. “Tapi itu tidak membuat semua ini benar.”

“Aku tidak minta kau menganggapku benar,” jawab Luciano. “Aku hanya ingin kau tetap di sini.”

Alana menggeleng. “Kau tidak bisa menahanku seperti ini.”

Luciano melangkah mendekat, suaranya rendah. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini izinkan aku egois.”

Alana mendengus kecil. “Luciano, ini bukan film romantis. Ini hidupku.”

“Dan hidupmu,” Luciano menatapnya dalam, “adalah satu-satunya hal yang membuatku lupa bahwa aku monster.”

Kata itu membuat Alana terdiam.

Ia berjalan menuju jendela.

“Kalau kau ingin aku bertahan,” katanya tanpa menoleh, “berhenti membuatku takut padamu.”

Luciano terdiam lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ia mundur selangkah.

“Aku akan mencoba,” ucapnya pelan. “Demi kau.”

Alana menoleh. “Mencoba saja tidak cukup.”

“Aku tahu.” Luciano tersenyum tipis bukan senyum penguasa, tapi senyum lelaki yang sedang belajar kehilangan kendali.

“Tapi itu satu-satunya janji jujur yang bisa kuberi.”

Di luar kamar, langkah kaki para bodyguard terdengar menjauh. Hari itu, untuk pertama kalinya, ketegangan di antara mereka tidak sepenuhnya mencekik, melainkan menggantung, rapuh, menunggu satu kesalahan kecil atau satu keberanian besar.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!