NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 7 - Syarat yang Tidak Tertulis

Ucapan Pak Hamdani itu terlalu singkat untuk membawa kabar sebaik apa pun, tapi nada suaranya puas, membuat jantung Maura mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang sudah terjadi dan firasatnya pasti sesuatu itu berkaitan langsung dengan pria yang sejak tadi pagi berusaha ia singkirkan dari pikirannya.

“Iya, Pak?” Maura mendekat.

Pak Hamdani tersenyum tipis. “Saya baru saja mendapat konfirmasi resmi dari pihak Pak Setya Pradana. Beliau bersedia hadir di acara amal kita bulan depan.”

Ruangan dosen yang semula hening mendadak terasa lebih sempit. Beberapa kepala menoleh dan terdengar letupan bahagia dari rekan dosennya.

Maura mengangguk kecil. “Syukurlah, Pak.”

Padahal di dalam kepalanya, ada satu detail yang sengaja ia tahan rapat-rapat. Syarat itu.

“Dan,” lanjut Pak Hamdani sambil menatap Maura lebih lama dari yang diperlukan, “beliau secara spesifik menyebut nama Anda sebagai liaison officer selama acara.”

Maura membeku sepersekian detik.

“Maaf, Pak?” ulangnya, hati-hati.

“Pendamping resmi beliau,” jelas Pak Hamdani. “Dari pihak universitas. Katanya, komunikasi awal dengan Anda berjalan baik dan efisien.”

Meski sudah mendengarnya langsung semalam, Maura tetap ingin menolak. Namun, sayangnya rasa kepuasan dari rektor dan juga seluruh jajaran dosen membuatnya enggan untuk menolak.

“Saya,” Maura menarik napas singkat, “apakah tidak lebih baik jika tim humas-”

“Sudah saya pertimbangkan,” potong Pak Hamdani lembut, namun tegas. “Justru karena ini acara besar, saya ingin orang yang sudah memahami karakter beliau sejak awal.”

Karakter.  Maura hampir tersenyum getir. Jika Pak Hamdani tahu bahwa “karakter” itu termasuk tatapan yang terlalu tajam dan percakapan yang selalu terasa seperti duel sunyi, mungkin ia akan berpikir ulang.

“Baik, Pak,” jawab Maura akhirnya. “Saya akan menjalankan tugas saya sebaik mungkin.”

Pak Hamdani mengangguk puas. “Saya yakin itu. beliau juga mengataka bahwa penerimaan ini juga berkat Bu Maura. Saya sangat berterima kasih kepada Bu Maura. Saya tidak tahu apa yang Ibu katakan, tapi saya tidak begitu peduli karena yang terpenting Pak Setya, orang paling penting itu bisa hadir di acara amal universitas kita.”

Berkat dirinya? Maura jadi bertanya-tanya apa yang dikatakan pria ke pihak universitas. Meski tidak ada hal buruk atau tidak senonoh, Maura tetap khawatir.

Maura memaksakan senyum kecil, senyum profesional yang sudah ia latih bertahun-tahun.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya, meski dadanya terasa mengeras oleh beban yang belum sepenuhnya ia pahami.

Pak Hamdani berlalu dengan langkah ringan, meninggalkan Maura di tengah ruangan yang kembali riuh oleh bisik-bisik. Beberapa rekan dosen menepuk pundaknya, yang lain tersenyum penuh arti—, eolah Maura baru saja memenangkan sesuatu yang patut dirayakan.

“Maura, kamu luar biasa,” ujar Bu Rina sambil mendekat.

“Maura, kamu hebat sekali,” bisik salah satu dosen perempuan.

“Pak Setya itu susah ditembus,” sahut yang lain.

“Yaampun Bu Maura memang hebat banget,” tambah suara lain, setengah kagum, setengah iri.

Maura hanya mengangguk, tidak membantah, tapi juga tidak membenarkan. Karena kata sulit tidak cukup menggambarkan pria itu. Yang ia hadapi bukan tembok, melainkan labirin yang tenang, rapi, dan selalu membuat orang lupa di mana pintu keluarnya.

Komputer menyala dengan bunyi pelan. Satu email baru masuk, pengirimnya dari yayasan yang sama. Judulnya formal, isinya singkat, nyaris tanpa emosi. Daftar agenda acara, protokol keamanan, dan satu baris terakhir yang membuat Maura menegakkan punggungnya.

Pendamping Acara: Ibu Maura Preswari.

Lalu, tidak lama muncul notifikasi lagi dari kotak masuk ‘Pradana Group’.

Maura mengerjap pelan saat notifikasi kedua muncul, seolah semesta sengaja memberinya jeda sepersekian detik sebelum menekan satu lapisan lagi. Ia membuka email itu dengan hati-hati.

Email: Pradana Group

“Sehubungan dengan kehadiran Bapak Setya Pradana dalam Gala Amal Universitas, bersama ini kami menyampaikan beberapa ketentuan pendampingan selama acara berlangsung.

Maura membaca perlahan, baris demi baris.

·       Pendamping resmi yang ditunjuk adalah Ibu Maura Preswari, sebagai liaison officer universitas.

·       Pendampingan dilakukan sejak kedatangan Bapak Setya Pradana hingga beliau meninggalkan lokasi acara.

·       Selama acara berlangsung, seluruh komunikasi antara pihak universitas dan Bapak Setya Pradana akan difasilitasi melalui pendamping yang ditunjuk.

·       Demi efisiensi dan keamanan, pendamping diharapkan berada dalam radius yang sama dengan Bapak Setya Pradana sepanjang acara.

Maura berhenti membaca, karena menangkap satu kalimat ‘radius yang sama’Pilihan katanya terlalu presisi untuk acara amal biasa.

Ketentuan ini bersifat prosedural dan ditujukan untuk menjaga kelancaran agenda serta kenyamanan seluruh pihak.

Atas kerja sama Ibu Maura Preswari, kami ucapkan terima kasih.”

Maura menyandarkan punggung ke kursi, menatap layar itu tanpa berkedip. Entah bagaimana nantinya saat akan menghadapi Setya Pradana.

Dan begitu saja waktu berlalu membuat Maura semakin tidak karuan akan acara amal. Semua persiapan sudah bagus, dan besok hari adalah waktunya untuk menemani si raja dingin untuk acara amal.

“Aduh, kenapa berlebihan banget sih,” gumam Maura sembari memilih baju untuk acara besok.

Keesokan paginya, Maura tiba di lokasi acara lebih awal dari jadwal. Aula hotel sudah dipenuhi staf, panitia, dan tim keamanan. Semuanya bergerak cepat, terkoordinasi, nyaris militeristik.

“Bu Maura.”

Maura menoleh. Seorang pria berjas abu-abu dengan pin kecil bertuliskan ‘Pradana Group’ mendekat dan mengangguk sopan.

“Saya Arief, dari tim Pak Setya. Saya akan menjadi penghubung selama acara berlangsung.”

Maura mengangguk. “Baik. Jadi semua koordinasi lewat Anda?”

“Ya. Dan,” Arief melirik tablet di tangannya, “Pak Setya akan tiba lima belas menit lagi. Sesuai protokol, beliau akan langsung menuju ruang VIP. Ibu Maura diminta untuk mendampingi sejak kedatangan.”

Diminta. Bukan berharap. Bukan jika berkenan.

Maura mengangguk lagi. “Saya mengerti.”

Pintu utama terbuka. Keramaian seolah meredam sendiri.  Setya Pradana masuk dengan langkah tenang, jas gelap rapi, tatapan lurus ke depan.

Tatapan mereka bertemu. Setya berhenti di hadapannya.

“Selamat pagi, Bu Maura. Terima kasih sudah datang lebih awal,” sapanya formal, jaraknya terjaga sempurna.

“Sama-sama, Pak. Saya akan mendampingi Bapak sesuai agenda,” jawab Maura.

Setya menatapnya sesaat lebih lama dari yang diperlukan sebagai seseorang yang sedang menilai apakah bidak yang ia pilih benar-benar berdiri di tempatnya.

“Baik,” katanya singkat.

Lalu melangkah, dan Maura mengikutinya. Dan di sanalah Maura akhirnya menyadari sesuatu yang luput ia perhitungkan sejak awal bahwa Setya tidak membutuhkan akses personal untuk mendekatinya.

Pria itu hanya perlu struktur dan Maura sudah berada di dalamnya.

“Apa saja yang harus saya lakukan di sini, Arief?” tanya Setya pada timnya.

Maura hanya mengikuti mereka di belakang sambil mendengarkan percakapan formal itu. maura baru menyadari bahwa pria itu begitu dingin dan datar pada semua orang, termasuk dirinya.

Well, Maura juga tidak berharap diperlakukan special.

“Hanya Bu Maura yang berada dalam ruangan bersama saya.”

Kalimat itu menyadarkan Maura dari lamunannya.

1
Laily Hayati
keren jalan ceritanyapenulisan kata2nya juga runtut dan mudah dipahami,gak lebay.,beda dengan alur novel lain. lbh manusiawi. sukses selalu outhor
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!