NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong di Bawah Kabut

Lorong itu sempit, basah, dan berkelok-kelok seperti usus batu raksasa. Dindingnya dipenuhi lumut yang memancarkan cahaya kehijauan samar, menambah suasana surealis pada perjalanan mereka ke dalam perut bumi. Suara tetesan air yang berirama dari langit-langit menjadi soundtrack yang monoton. Aroma tanah basah, logam, dan sesuatu yang lebih tua, lebih astringen, memenuhi udara.

Tetua Hong berjalan di depan, lampu batu di tangannya menerangi jalan yang hanya cukup untuk dua orang berdampingan. Langkahnya mantap, mengenal setiap belokan, setiap anak tangga yang tiba-tiba turun. Xu Hao mengikuti dengan tenang, indranya yang telah mencapai Dao Awakening menyapu lorong jauh ke depan dan ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti atau menjebak.

Mereka berjalan dalam keheningan selama mungkin setengah jam, hanya terganggu oleh suara napas dan derai air. Jarak yang mereka tempuh sudah cukup jauh, mungkin sudah jauh melampaui dasar gunung, menuju ke kedalaman yang bahkan formasi pelindung sekte di atas tidak menjangkaunya.

Akhirnya, Tetua Hong berhenti di depan sebuah dinding batu yang tampak polos. Ia menempelkan telapak tangannya pada sebuah titik tertentu, mengalirkan energinya dengan pola tertentu. Dinding itu bergetar halus, lalu bergeser ke samping dengan suara gemerisik batu, membuka jalan ke sebuah ruangan yang lebih luas.

Ruangan itu berbentuk gua alam, tetapi telah dibentuk dengan tangan. Langit-langitnya tinggi, ditopang oleh pilar-pilar batu alam. Di tengah ruangan, sebuah kolam kecil air jernih memancarkan uap hangat yang penuh energi spiritual. Di sekeliling dinding, terdapat beberapa ceruk yang berfungsi sebagai ruang tidur dan meditasi, dilengkapi dengan bantalan rumput kering dan meja batu. Suasananya sederhana, bersih, dan damai. Udara di sini lebih padat energinya daripada di atas, seolah mereka berada di dalam inti spiritual gunung.

Beberapa orang sudah menunggu di sana. Sekitar lima belas orang. Xu Hao mengenali beberapa wajah: ada dua tetua senior lainnya yang pernah ia lihat di pertemuan, beberapa murid inti yang paling berbakat dengan aura Core Formation puncak atau bahkan baru mencapai Nascent Soul, dan beberapa pelayan tua yang setia. Mereka semua terlihat tegang, tapi ada kilasan harapan di mata mereka saat melihat Tetua Hong.

"Kita semua sudah lengkap," ucap salah satu tetua senior, seorang wanita dengan ramban perak bernama Tetua Lan. "Formasi ilusi di atas telah aktif penuh. Klan Xu akan berkeliaran seperti kebutaan selama beberapa jam."

"Bagus," kata Tetua Hong, mengangguk. "Semua persediaan sudah diturunkan?"

"Sudah. Makanan, air, ramuan, naskah inti, dan sebagian besar Kristal Hukum kita aman di ruang penyimpanan belakang," jawab Tetua Lan. Matanya lalu tertuju pada Xu Hao, menyipit penuh pertanyaan. "Dan ini?"

"Haosu. Dia akan tinggal bersama kita," jawab Tetua Hong singkat. "Dia memiliki alasan sendiri, dan kemampuannya bisa berguna."

Tetua Lan tidak menanyakan lebih lanjut, hanya mengangguk. Disiplin dalam situasi seperti ini ketat. Jika Tetua Hong mempercayainya, itu cukup.

Tetua Hong menunjuk sebuah ceruk kosong di sudut untuk Xu Hao. "Itu tempatmu. Istirahatlah. Kita akan mengadakan pertemuan nanti setelah kita yakin aman."

Xu Hao mengangguk, berjalan menuju ceruknya. Ia meletakkan tas kecilnya, lalu duduk di atas bantalan rumput kering. Matanya menyapu ruangan, menghafal setiap wajah, setiap detail. Ini adalah tempat persembunyian mereka untuk waktu yang tidak diketahui. Bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, sampai ancaman Klan Xu mereda atau mereka menemukan cara untuk melawan.

Beberapa jam kemudian, setelah semua orang cukup beristirahat dan menenangkan diri, Tetua Hong memanggil semua orang ke tengah ruangan, di dekat kolam. Mereka duduk dalam lingkaran.

"Sekarang, kita aman untuk sementara," mulainya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan gua. "Tapi ini hanya awal. Klan Xu tidak akan begitu saja melupakan kita. Mereka akan menyisir gunung, dan meskipun formasi ilusi kita kuat, tidak ada jaminan mereka tidak akan menemukan lorong rahasia ini suatu hari nanti. Karena itu, kita harus bersiap untuk dua hal: bertahan lama, dan jika perlu, melarikan diri melalui jalan darurat."

"Jalan darurat?" tanya salah satu murid inti, seorang pemuda bernama Feng Li.

"Ya. Ada sebuah terowongan alami di kedalaman gua ini, konon menuju ke sistem sungai bawah tanah yang bermuara jauh di lembah sebelah. Tapi jalannya berbahaya, penuh dengan makhluk bawah tanah dan medan yang tidak stabil. Itu adalah pilihan terakhir." Tetua Hong memandang sekeliling. "Untuk saat ini, tugas kita adalah bertahan. Kita harus mengatur persediaan dengan ketat, berlatih dalam diam, dan terus mengawasi aktivitas di atas melalui cermin pengintai yang terhubung dengan formasi."

Rapat berlanjut dengan pembagian tugas. Xu Hao, sebagai pendatang baru dan "murid luar", diberi tugas yang paling sederhana: membantu mengatur persediaan ramuan dan menjaga kebersihan area umum. Ia menerimanya tanpa protes.

Setelah rapat bubar, Tetua Hong menghampiri Xu Hao. "Ikuti aku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Ia membawa Xu Hao melewati ruangan utama, menuju sebuah lorong sempit di belakang kolam. Lorong itu berakhir pada sebuah pintu batu kecil yang hampir tersamar oleh formasi ilusi. Tetua Hong membukanya.

Di dalamnya adalah sebuah ruangan kecil, lebih mirip sel. Hanya ada sebuah meja batu dan sebuah bangku. Di atas meja, terdapat beberapa gulungan naskah dan sebuah kotak kayu sederhana.

"Ini adalah ruang meditasi pribadi pendiri sekte kita," kata Tetua Hong. "Dan juga, tempat di mana Xu Tianmu pernah tinggal selama beberapa bulan, saat dia membantu sekte kita pulih dari krisis sebelumnya."

Xu Hao merasa dadanya berdebar. Ia mendekati meja. Naskah-naskah itu adalah catatan pribadi pendiri dan beberapa teknik dasar. Tapi matanya tertuju pada kotak kayu. Kotak itu tidak terkunci.

"Buka," bisik Tetua Hong.

Xu Hao membuka tutup kotak. Di dalamnya, tidak ada harta karun. Hanya beberapa benda sederhana: sebatang kuas tulis yang sudah usang, sebuah batu pipih dengan ukiran garis-garis tak beraturan, dan selembar kertas yang sudah menguning, dilipat rapi.

Ia mengambil kertas itu dengan hati-hati, membukanya. Tulisan di atasnya anggun namun tegas, ditulis dengan tinta yang sudah memudar.

"Untuk Hong, sahabatku. Jika kau membaca ini, berarti aku sudah pergi, mungkin tidak akan kembali. Jaga dirimu dan sekte kecilmu. Jangan biarkan keserakahan dunia luar mengikis kejernihan hatimu. Dan jika suatu hari nanti, seseorang dengan darah yang sama denganku datang membawa slip giok itu, tolong lindungi dia. Dia akan membawa perubahan, atau kehancuran. Pilihannya ada padamu. - Tianmu."

Xu Hao membaca berulang kali. Tangannya sedikit gemetar. Ini adalah pesan langsung dari pamannya, yang ditujukan pada Tetua Hong. Pesan yang menunjukkan bahwa Xu Tianmu telah memperhitungkan kemungkinan keponakannya suatu hari akan datang. Meskipun ia tidak mencurigai jika Xu Hao juga telah mati bersama orang tuanya.

"Sejak menerima slip giok itu darimu," kata Tetua Hong, suaranya penuh kenangan, "aku tahu suatu hari ini akan terjadi. Tianmu sering bercerita tentang adiknya, tentang bagaimana dia dikhianati. Dia penuh penyesalan karena tidak bisa berbuat lebih. Aku rasa, dengan melindungimu, aku sedikit meringankan penyesalan sahabatku itu."

"Ada sesuatu yang lain," ucap Xu Hao, meletakkan kertas itu dan mengambil batu pipih. Batu itu terasa hangat, dan ukiran garis-garisnya tampak acak, tapi jika dilihat lebih dekat, mereka membentuk sebuah pola yang sangat samar... seperti peta.

"Ini adalah Batu Ingatan yang ditinggalkan Tianmu," jelas Tetua Hong. "Dia bilang, itu berisi sebuah petunjuk untuk keturunannya, tapi hanya bisa dibuka dengan darah yang sesuai dan pemahaman hukum ruang tingkat tertentu. Aku sudah mencoba selama bertahun-tahun, tapi tidak berhasil. Mungkin... kau bisa."

Xu Hao memegang batu itu erat. Darahnya bergejolak. Ini adalah petunjuk dari pamannya. Mungkin tentang lokasi penjaranya, atau tentang cara melawan Klan Xu, atau tentang warisan lainnya. Tapi untuk membukanya, ia perlu menggunakan darah aslinya dan hukum ruang, yang berarti berisiko merusak penyamarannya, bahkan di dalam ruang tertutup ini.

"Tidak sekarang," katanya, meletakkan batu itu kembali ke dalam kotak. "Bukan di sini, bukan saat ini. Aura pembukaannya bisa terdeteksi. Kita harus menunggu waktu yang tepat."

Tetua Hong menganggak, menghargai kehati-hatiannya. "Bijaksana. Batu itu sudah menunggu puluhan tahun. Bisa menunggu lebih lama lagi." Ia memandang Xu Hao. "Sekarang, kita fokus pada bertahan hidup. Dan mungkin... mempelajari satu sama lain. Katakan padaku, Nak, selain dendammu, apa yang kau cari di Dataran Tengah ini?"

Xu Hao duduk di bangku, memandangi kotak kayu. "Kekuatan. Kekuatan yang cukup untuk membalaskan dendam orang tuaku, membebaskan pamanku jika dia masih hidup, dan melindungi orang-orang yang kutinggalkan di dunia luar. Dan... memahami mengapa semua ini harus terjadi. Mengapa keserakahan segelintir orang bisa menghancurkan begitu banyak kehidupan."

"Pertanyaan yang dalam," gumam Tetua Hong. "Di Dataran Tengah, jawabannya sering kali sederhana dan kejam: karena mereka bisa. Kekuatan memberi hak, bagi yang bermoral, untuk melindungi. Bagi yang tidak, untuk mengambil. Klan Xu adalah yang terakhir. Mereka melihat sesuatu yang mereka inginkan, dan mereka mengambilnya, tanpa peduli pada siapa yang diinjak."

"Dan kita? Sekte Gunung Jati? Apa yang kita cari, selain bertahan hidup?" tanya Xu Hao, menatap tetua tua itu.

"Kita mencari tempat di bawah langit," jawab Tetua Hong dengan suara lirih. "Tempat untuk berlatih, untuk memahami Dao, untuk mewariskan pengetahuan, tanpa terus-menerus diintimidasi oleh yang lebih kuat. Itu mungkin mimpi naif. Tapi mimpi itulah yang membuat kita tetap manusia, dan bukan hanya binatang yang haus kekuatan."

Percakapan mereka terputus oleh suara langkah kaki terburu-buru dari luar. Tetua Lan masuk, wajahnya pucat.

"Tuan Hong! Cermin pengintai... ada yang tidak beres."

Mereka bergegas kembali ke ruangan utama. Di sana, di sebuah dinding yang halus, sebuah gambar kabur diproyeksikan dari sebuah cermin perunggu besar yang tertanam di batu. Gambar itu menunjukkan pemandangan dari atas, melalui mata formasi ilusi. Kabut kehijauan masih menyelimuti kompleks sekte, tapi di dalam kabut, bayangan-bayangan manusia bergerak. Bukan hanya sepuluh orang tadi. Lebih banyak. Jauh lebih banyak.

"Ada lebih dari lima puluh orang di sana sekarang," bisik Tetua Lan. "Mereka membawa peralatan... peralatan pendeteksi formasi. Dan... lihat."

Seorang pria dengan jubah merah-hitam lebih mewah, dengan aura yang bahkan melalui gambar terasa berat dan angkuh, berdiri di tengah pelataran. Wajahnya tampan tapi dingin, mata seperti elang. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kristal yang memancarkan sinar ungu.

"Xu Zhan," desis Tetua Hong, suaranya penuh kebencian dan... ketakutan. "Dia sendiri yang datang."

Xu Hao menatap gambar pria itu, musuh cabang lokal yang mengancam sekte ini. Void Fusion tahap menengah. Kekuatan yang, dalam keadaan normal, bisa menghancurkan Sekte Gunung Jati sendirian. Dan di tangan Xu Zhan, tongkat kristal itu jelas adalah artefak pelacak formasi tingkat tinggi.

"Formasi ilusi kita... apakah bisa menahan pemindaian artefak seperti itu?" tanya salah satu murid, suaranya gemetar.

"Tidak untuk selamanya," jawab Tetua Hong, wajahnya suram. "Formasi kita kuat, tapi dibuat untuk menipu indra dan kesadaran spiritual. Artefak pelacak murni, terutama yang dipegang oleh seorang Void Fusion... bisa menemukan anomali. Dia mungkin belum bisa menemukan pintu masuk, tapi dia akan tahu ada sesuatu yang tersembunyi di sini."

Di layar, Xu Zhan mengangkat tongkat kristalnya. Sinar ungu menyapu kabut, perlahan-lahan membukanya seperti tirai. Gambar menjadi lebih jelas. Wajah Xu Zhan yang dingin terlihat sedang tersenyum tipis, penuh keyakinan.

Kemudian, mulutnya bergerak. Suaranya tidak terdengar melalui cermin, tapi gerak bibirnya jelas. Dua kata yang membuat darah semua orang di gua menjadi dingin.

"Aku tahu kau di sini."

Lalu, pandangannya, melalui cermin, seolah-olah menatap langsung ke arah mereka, tepat ke lokasi lensa pengintai tersembunyi. Sebuah kebetulan yang mengerikan, atau... ia benar-benar tahu?

"Bersiap," kata Tetua Hong, suaranya sekarang keras dan berwibawa, memotong kepanikan yang mulai menyebar. "Mereka mungkin tidak bisa masuk dengan cepat, tapi kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Periksa jalan darurat. Kemasi ulang persediaan penting. Dan..." Ia menoleh pada Xu Hao. "Haosu. Kau dan aku akan pergi ke ruang penyimpanan terdalam. Ada sesuatu di sana yang mungkin bisa membantu, atau... yang harus kita hancurkan sebelum jatuh ke tangan mereka."

Xu Hao mengangguk. Ketegangan di gua mencapai puncaknya. Kedamaian sementara mereka telah berakhir.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!