Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peristirahatan di Tepi Garda
Suara mesin perahu motor itu akhirnya mati, menyisakan kesunyian yang begitu pekat hingga suara riak air yang menghantam dermaga kayu terdengar seperti dentuman keras. Di depan mereka, Danau Garda membentang luas, permukaannya hitam kelam mencerminkan langit malam tanpa bintang. Di tepi danau yang tersembunyi oleh rimbunnya pohon pinus dan cemara, berdiri sebuah pondok batu tua yang tampak terbengkalai.
Matteo melompat ke dermaga, mengikat tali perahu dengan gerakan cepat dan efisien. Pria itu kemudian mengulurkan tangan kepada Elena. Kali ini, tidak ada paksaan. Hanya sebuah tawaran diam di tengah kegelapan yang dingin.
Elena menyambut tangan itu. Telapak tangan Matteo terasa kasar dan hangat, sangat kontras dengan kulit Elena yang sudah membiru karena kedinginan. Saat kaki sang wanita menyentuh kayu dermaga yang basah, tubuhnya sedikit goyah. Kelelahan fisik dan guncangan mental selama beberapa jam terakhir akhirnya mulai menagih janji.
"Luca, tetaplah di luar. Pantau frekuensi radio polisi dan pastikan tidak ada kendaraan yang mendekati jalur setapak ini," perintah Matteo tanpa menoleh.
"Baik, Tuan." Luca menghilang ke dalam kegelapan pepohonan, menyatu dengan bayang-bayang seolah-olah ia memang diciptakan dari sana.
Matteo membimbing Elena menuju pintu pondok. Saat pintu kayu yang berat itu terbuka, bau debu, kayu kering, dan aroma lavender tua menyeruak keluar. Matteo menyalakan beberapa lilin yang tersebar di ruangan utama. Cahaya remang-remang mulai menyingkap interior pondok yang sederhana namun fungsional: sebuah perapian batu besar, furnitur kayu ek yang berat, dan tumpukan peta di atas meja.
"Ini adalah tempat persembunyian darurat milik ayahku," ucap Matteo sambil berjalan menuju perapian. Ia mulai menyusun potongan kayu dan menyulut api. "Bahkan ibuku tidak tahu tempat ini ada. Di sini, kita aman... untuk sementara."
Elena duduk di kursi kayu di depan perapian, membiarkan panas api mulai mencairkan kekakuan di jemarinya. Ia masih memeluk sapu tangan ibunya erat-erat. "Kau membawaku ke sini bukan hanya untuk bersembunyi, bukan? Kau ingin aku mulai membaca buku itu."
Matteo berdiri, sosoknya tampak raksasa dalam bayangan yang dipantulkan api di dinding. Ia mengeluarkan buku kulit Gema Verona dan meletakkannya di atas meja di antara mereka. Buku itu tampak seperti artefak kuno yang mematikan, membawa beban dosa dari dua generasi.
"Halaman pertama tadi hanyalah permulaan," Matteo membuka buku itu perlahan. "Ayahmu menggunakan sistem sandi yang unik. Beberapa bagian ditulis dalam dialek Italia kuno yang hanya dipahami oleh keluarga bangsawan tua Verona, dan bagian lainnya... tampaknya membutuhkan pengetahuan tentang peta bintang."
Elena mendekat, matanya menyisir barisan angka dan simbol yang tertera di halaman-halaman berikutnya. Sebagai seorang Moretti, ia pernah diajari oleh ayahnya tentang astronomi dasar dan kriptografi sederhana sebagai bentuk permainan masa kecil. Ia tidak pernah menyangka bahwa permainan itu adalah persiapan untuk hari ini.
"Lihat pola ini," telunjuk Elena menunjuk pada rangkaian koordinat yang diatur menyerupai konstelasi Cygnus. "Ini bukan sekadar daftar nama. Ini adalah jadwal pengiriman. Ayahku dan ayahmu... mereka tidak hanya memeras. Mereka mengendalikan jalur penyelundupan artefak kuno keluar dari Italia melalui pelabuhan Venesia."
Matteo tertegun. Ia mengambil buku itu dan membacanya lebih teliti. "Pantas saja keluarga D’Angelo begitu panik. Mereka bukan hanya takut rahasianya terbongkar, mereka takut kehilangan sumber kekayaan utama mereka yang selama ini dikelola oleh perusahaan depan keluarga Valenti."
Ketegangan di antara mereka mulai mencair, digantikan oleh rasa urgensi yang sama. Namun, di tengah diskusi itu, mata Elena tertuju pada luka goresan di lengan Matteo—mungkin akibat pecahan guci porselen saat Isabella menembaknya tadi. Darah kering menempel di kain kemeja hitamnya yang sobek.
"Kau terluka," bisik Elena.
Matteo melirik lengannya seolah baru menyadari keberadaan luka itu. "Ini bukan apa-apa."
Tanpa bicara, Elena berdiri dan mencari kotak P3K yang ia temukan di bawah meja kecil. Ia kembali duduk di samping Matteo, menarik lengan pria itu dengan lembut. Matteo sempat menegang, namun ia membiarkan Elena mulai membersihkan luka tersebut dengan alkohol.
"Kenapa kau menyelamatkanku, Matteo? Setelah semua yang kau tahu tentang ayahku... dan ibumu," tanya Elena tanpa mendongak, fokus pada tugasnya membalut luka.
Matteo terdiam cukup lama. Hanya suara kayu yang berderak di perapian yang mengisi keheningan. "Karena Verona membutuhkan kebenaran, seberapa pahit pun itu. Dan karena..." Pria itu berhenti sejenak, menatap puncak kepala Elena. "Karena aku tidak ingin menjadi seperti orang tua kita. Aku ingin gema ini berhenti di kita, Elena."
Elena mendongak, matanya bertemu dengan mata kelam Matteo. Di dalam pondok tersembunyi di tepi Danau Garda ini, mereka bukan lagi musuh atau tawanan. Mereka adalah dua jiwa yang tersesat dalam labirin yang dibuat oleh leluhur mereka, mencoba mencari jalan keluar menuju cahaya.
Namun, di luar sana, dalam kegelapan hutan, sebuah kilatan lensa kamera mengintai dari balik pepohonan. Seseorang telah berhasil melacak mereka, dan kedamaian singkat ini akan segera hancur.
Api di perapian meletup pelan, mengirimkan bunga api kecil yang terbang ke udara sebelum padam di atas lantai batu. Di luar, angin Danau Garda mulai melolong, mengguncang dahan-dahan pohon pinus yang mengelilingi pondok tua itu. Namun, di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin yang menari, suasana terasa jauh lebih panas dan menyesakkan bagi Elena.
Tangan Elena masih memegang perban bersih, namun gerakannya terhenti saat ia menyadari betapa dekat posisi mereka saat ini. Matteo duduk di tepi meja, sementara Elena berdiri di antara kedua kaki pria itu untuk menjangkau luka di lengannya. Dalam jarak sedekat ini, sang wanita bisa mencium aroma maskulin yang khas—campuran antara tembakau mahal, hujan malam, dan sesuatu yang primitif yang memicu getaran di perutnya.
Matteo tidak bergerak. Pria itu menatap Elena dengan intensitas yang seolah bisa menembus kulit. Tatapannya turun ke bibir Elena yang sedikit terbuka, lalu kembali ke mata cokelat yang tampak berkaca-kaca karena pantulan api.
"Kau gemetar, Elena," bisik Matteo. Suaranya rendah dan serak, bergema di ruangan yang sunyi itu.
"Ini dingin," dalih Elena, meski ia tahu itu bohong. Panas yang menjalar dari telapak tangan Matteo yang kini mendarat di pinggangnya mengatakan hal yang sebaliknya.
Jemari besar Matteo merayap naik, menyentuh sisa robekan gaun beludru di bahu Elena. Sentuhan itu ringan, nyaris seperti belaian angin, namun dampaknya terasa seperti aliran listrik yang menyengat saraf Elena. Wanita itu menahan napas saat Matteo menariknya sedikit lebih dekat, hingga napas mereka saling beradu.
"Kau membenciku karena apa yang dilakukan keluargaku," Matteo bergumam, suaranya kini tepat di depan wajah Elena. "Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Gema di antara kita... itu lebih kuat daripada dendam apa pun yang kita simpan."
Elena ingin membantah. Ia ingin menarik diri dan mengingatkan pria ini bahwa ibunya masih membusuk di bawah tanah karena ulah keluarga Valenti. Namun, saat Matteo menangkup wajahnya dengan satu tangan, semua kata-kata itu seolah menguap. Ibu jari Matteo mengusap bibir bawah Elena dengan perlahan, sebuah gerakan yang begitu intim dan menuntut.
"Katakan padaku untuk berhenti, Elena," tantang Matteo, matanya menggelap oleh gairah yang selama ini ia tekan di balik topeng kedinginannya. "Katakan sekarang, atau aku tidak akan bisa melepaskanmu lagi."
Elena menatap mata kelam itu. Di sana, ia melihat luka yang sama dengan yang ia miliki—kesepian, pengkhianatan, dan beban nama besar yang menghancurkan. Bukannya menjauh, Elena justru memiringkan wajahnya, menyandarkan pipinya pada telapak tangan Matteo yang hangat.
"Jangan berhenti," bisik Elena nyaris tak terdengar.
Matteo tidak menunggu lebih lama. Pria itu menarik Elena ke dalam pelukannya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang penuh dengan rasa lapar, amarah, dan kerinduan yang telah terpendam selama sepuluh tahun. Itu bukan ciuman yang lembut; itu adalah peperangan untuk mendapatkan dominasi, sebuah pelepasan dari segala ketegangan yang mereka lalui sepanjang malam.
Punggung Elena membentur meja kayu yang keras saat Matteo mendesaknya, namun rasa sakit itu justru membuat gairahnya semakin membara. Tangan Elena merayap masuk ke dalam rambut hitam Matteo yang berantakan, menarik pria itu lebih dekat seolah takut ia akan menghilang seperti asap. Di dalam pondok terpencil itu, di tengah hutan Danau Garda, mereka melupakan sejenak tentang daftar hitam, tentang polisi, dan tentang pengkhianatan orang tua mereka.
Namun, tepat saat Matteo mulai mencium garis leher Elena, suara retakan ranting di luar pondok terdengar tajam.
Matteo segera melepaskan Elena, insting predatornya kembali dalam sekejap. Ia meraih pistolnya yang tergeletak di meja, matanya kembali dingin dan waspada. Elena terengah-engah, merapikan gaunnya yang berantakan dengan jantung yang masih berpacu liar.
"Tetap di belakangku," desis Matteo.
Cahaya lilin tiba-tiba padam ditiup angin yang masuk melalui jendela yang pecah. Seseorang baru saja menembakkan peluru peredam suara. Kedamaian singkat mereka telah berakhir, dan kini, malam yang penuh gairah itu berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.