Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eryndor Vale
Di luar, Elara berhenti sejenak, memandang taman yang mulai diselimuti senja. Angin sore mengibaskan rambutnya pelan.
Dalam hati, ia berbisik lirih—
“Aku membencinya...”
Namun belum sempat napasnya teratur kembali,seorang anak laki-laki tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
“Kalimat yang cukup berat untuk diucapkan oleh seorang gadis semuda dirimu.”
Elara tersentak, berbalik cepat. Seorang anak laki-laki.Rambutnya hitam legam, sedikit berantakan tertiup angin. Sorot matanya tajam namun tak berbahaya, justru terasa hangat dan cerdas.
Laki-laki itu tersenyum tipis, langkahnya ringan mendekati Elara.
“Hey, namaku Eryndor Vale, tapi... orang-orang memanggilku Eryn saja.”
Elara menatapnya ragu, jantungnya berdegup cepat karena terkejut.
“A-aku tidak tahu ada orang lain di taman ini.”
Eryndor tertawa kecil. “Memang tidak banyak yang ke sini. Biasanya hanya orang yang sedang butuh tenang... seperti kau.”
Elara menunduk, pipinya memanas. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi hanya mengangguk kecil sambil tersenyum sopan.
Eryndor menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan nada ringan,
“Kau tidak mau mengenalkan dirimu? Aku sudah cukup sopan menyebutkan namaku, bukan?”
Elara tersentak pelan, lalu menjawab terbata,
“E-Elara. Elara Wyhther.”
“Elara Wyhther?” ulang Eryndor pelan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya.
“Nama yang indah. Tidak umum, tapi lembut.”
Elara tersenyum singkat. “Terima kasih, tuan..”
“Jadi, Nona Elara Wyhther,” lanjut Eryndor sambil menautkan kedua tangan di belakang punggungnya,
"Boleh aku tahu apa yang membuatmu mengucapkan kata ‘membenci’ dengan begitu dalam tadi?”
Elara membeku sejenak, tak menyangka bahwa seseorang mendengar bisikannya. Ia menatap tanah, lalu menjawab pelan,
“Tidak penting, Tuan Muda. Aku hanya... kecewa pada seseorang.”
“Ah, jadi memang seseorang, bukan sesuatu,”Ujar Eryndor cepat, seolah menebak dengan mudah.
“Dan melihat dari raut wajahmu, aku bisa menebak siapa.”
Elara mendongak, terkejut. “Kau tahu?”
Eryndor mengangkat bahu.
“Sulit untuk tidak tahu, jika yang kau benci adalah orang yang baru saja membuat seluruh pelayan di rumah ini kewalahan. Tuan Muda Kaelmont bukan.. dia memang punya caranya sendiri untuk menyingung seseorang .”
Nada suaranya terdengar ringan, tapi di baliknya ada sindiran halus.
Elara menatapnya, heran. “Kau... tidak takut mengatakan itu?”
Eryndor tersenyum samar.
“Takut? Tidak juga. Aku bukan pelayan, tapi juga bukan bangsawan tinggi. Ayahku adalah penasihat keuangan keluarga Marquis. Aku hanya... orang yang kebetulan sering datang ke sini.”
“Jadi kau... bukan bagian dari keluarga Marquis?”
“Tidak, tapi aku tumbuh di sekitar mereka."
Eryndor melirik ke arahnya, lalu tersenyum kecil.
“Kau tampak berbeda dari pelayan lain, Elara. Kau cantik dan matamu sangat jernih.”
Elara menunduk lagi. “Aku tidak tahu apakah itu pujian atau bukan tapi, terimakasih. Tuan Eryn.”
“Panggil saja aku Eryn,” sahutnya cepat.
Elara menggeleng cepat.
“Aku tak berani, Tuan. Akan terdengar tidak pantas jika aku menyebut nama Tuan begitu saja.”
“Tidak pantas?...Apakah menyebut nama seseorang berarti menyalahi aturan kesopanan?”
“Dalam kalangan bangsawan, ya,” jawab Elara hati-hati.
“Dan aku hanyalah pelayan. Maka, biarlah tetap demikian.”
Eryn menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum lembut.
“Baiklah. Jika itu membuatmu nyaman, panggillah aku dengan sebutan ‘Tuan’ untuk saat ini. Tapi bila suatu hari nanti kau telah terbiasa denganku…Panggil saja aku Eryn.”
“Aku akan mengingatnya, Tuan.”
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara seorang perempuan memecah ketenangan taman.
“Eryndor!”
Eryn segera menoleh. Seorang wanita berdiri di sana—anggun dengan gaun biru tua berbordir emas, rambutnya tersanggul rapi, sorot matanya tajam namun berwibawa.
Ia tampak jauh lebih muda dari usianya.
“Ibu,” Ucap Eryn cepat, sedikit gugup. “Apa yang membawamu kemari?”
Wanita itu menatapnya singkat, lalu mengalihkan pandangannya pada Elara. Tatapan itu membuat Elara tanpa sadar menunduk.
“Kau seharusnya berada di rumah utama, Eryndor. Dan bukan begini caranya seorang putra keluarga Vale menghabiskan waktu — bermain di taman bersama seorang pelayan.”
“Ibu…” Eryn mencoba tersenyum, menahan nada tegang yang mulai terasa.
“Kami hanya berbincang ringan.”
Lady Mirelle menatapnya datar. “Bahkan perbincangan ringan pun bisa menimbulkan kesalahpahaman jika dilakukan dengan orang yang tidak sepadan.”
Kata-kata itu terasa dingin menusuk, Elara.
Eryn menatap ibunya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah, Ibu. Aku mengerti.”
Lady Mirelle hanya menoleh sekilas pada Elara. “Pastikan kau tahu batasmu, gadis.”
“Iya, Nyonya,” jawab Elara lirih.
Tanpa sepatah kata lagi, Lady Mirelle berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh pelayannya yang membawa payung renda.