Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan orang tua
Perlita melanjutkan langkah kakinya menuju rumahnya. Saat Perlita akan menutup gerbang rumahnya, sebuah mobil yang dikenalinya berhenti tepat di depan gerbang rumah Perlita.
"Mama, Papa." Gumam Perlita begitu mama dan papanya turun dari mobil.
Perlita menyalami tangan mama dan papanya seperti biasa, karena walau bagaimanapun mereka tetap orang tua kandungnya.
"Silahkan masuk dulu Ma, Pa!"
Perlita sebenarnya ingin mengusir mereka, tapi dia juga tidak sampai hati melakukannya. Sehingga Perlita memilih untuk membawa masuk mama dan papanya ke dalam rumah.
"Duduk dulu Ma, Pa!"
Diana dan Roby mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang tamu rumah Perlita. Interior rumah Perlita memang terlihat mewah dan membuat siapa saja yang bertamu akan merasa betah di sana.
"Aku ambilkan minum dulu Ma, Pa."
"Nggak usah, kamu duduk aja!"
"Mama langsung to the point aja. Tujuan kami datang ke sini itu untuk meminta rumah ini untuk diberikan kepada Ariana."
"Apa Ma? Apa mama sadar dengan ucapan mama itu?"
"Sadar dan sangat sadar malahan. Lagian kamu juga kan belum menikah, lebih baik kamu tinggal bersama kami saja di rumah kami. Daripada rumah sebesar dan semewah ini kamu huni sendiri. Lagian kamu nggak pantes juga tinggal di sini Perl. Lebih pantas Ariana dan Vito yang tinggal di sini. Lagian mereka kan dua-duanya dokter jadi akan lebih baik mereka tinggal di sini. Apalagi rumah sakit tempat mereka bekerja juga dekat dari sini. Semua akses juga dekat dari sini. Nanti kalau teman-temannya pada main ke rumah mereka kan nggak malu-maluin dengan mereka punya rumah di sini. Lagian teman-teman kamu kan cuma seorang pedagang, ngapain juga kan mereka masuk perumahan ini. Nggak pantas saja gitu."
"Oh ternyata anak kesayangan Mama dan Papa mau tinggal di perumahan ini? Mau lebih dipandang orang-orang begitu? Dengan profesi sebagai dokter keduanya memang pantas sih punya rumah di sini."
Senyum mama dan papa Perlita langsung terbit begitu mendengar ucapan Perlita. Pasti Ariana putri kesayangan mereka akan sangat senang begitu tahu Perlita memberikan rumahnya.
"Iya Perl, itu kamu paham kan. Berarti kamu mau kan memberikan rumah ini buat Ariana? Lalu kamu pindah ke rumah mama dan papa."
"Kata siapa ma? Aku nggak ada bilang begitu. Kalau mereka mau punya rumah di perumahan ini yah silakan aja Ma. Aku nggak ngelarang kok."
"Maksud kamu apa Perl? Kok mama jadi bingung."
"Di perumahan ini masih ada beberapa unit yang kosong dan juga baru selesai dibangun yang berarti rumah tersebut masih baru Ma. Mereka bisa membeli rumah tersebut. Katanya dua-duanya dokter kan. Pasti gaji mereka sangat banyak. Masa beli rumah aja nggak mampu sih. Malah ingin mengambil rumah orang, nggak malu apa. Aku aja yang cuma pedagang mampu beli rumah di sini, masih single lagi. Masa mereka berdua yang berprofesi sebagai dokter gak mampu sih. Nggak mungkin juga kan lebih kaya aku dibandingkan mereka berdua?"
"Kata siapa mereka nggak mampu? Mereka mampu kok. Hanya saja sayang uangnya, mereka itu juga akan memiliki anak yang banyak jadi lebih baik uangnya buat calon anak mereka. Lagian ada rumah ini yang bisa mereka tempati kok. Kamu jangan egois yah, Perlita. Sebagai adik yang baik dan anak yang berbakti kamu harus mengalah lah untuk kakak kamu. Kamu tenang saja, kamu masih bisa kok tinggal di rumah mama dan papa." Terangnya.
"Ogah aku kembali ke rumah kalian, mending aku tinggal di sini, di kamar yang luas dan mewah di banding di rumah mama dan papa yang kamarnya kecil itu. Kamar buat asisten rumah tangga malah diberikan ke aku. Kalian juga aneh, rumah ini aku beli dengan uangku tapi malah ingin di berikan pada anak kesayangan kalian itu. Ingin terlihat hidup mewah tapi dari hasil merebut barang orang lain, memalukan. Aku heran deh sama kalian, aku ini anak kalian apa nggak sih? Sebegitu teganya kalian memperlakukan aku. Aku ini anak kalian juga loh. Apa mama yang seorang ibu bisa dengan teganya memperlakukan aku layaknya seorang pembantu. Sekarang udah cukup buat aku tidur di kamar kecil itu."
"Kalau kamu nggak suka kamarnya kamu bisa pilih kamar yang lain kok Perl. Kan masih banyak kamar yang lainnya. Yang luas dan nyaman juga kok."
"Aku nggak bakalan memberikan rumahku apapun yang terjadi. Enak banget hidup kalian, pingin rumah bukannya berusaha membeli sendiri tapi malah ingin mengambil rumah orang lain. Silahkan kalian pergi dari sini, karena aku bukan lagi anak kalian. Mana ada orang tua yang sampai hati memperlakukan putri kandungnya dengan buruk. Aku juga bisa hidup kok tanpa kalian. Malahan hidup aku bahkan bisa lebih bahagia lagi tanpa adanya kalian di sisi aku."
Perlita tidak peduli lagi dirinya durhaka kepada kedua orang tuanya. Dia sudah muak diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya.
"Dasar anak durhaka kamu Perlita. Hidup kamu tidak akan bahagia dengan kamu memberlakukan orang tua kamu seperti ini. Kami ini orang tua kamu Perlita, tanpa kami kamu nggak bakalan ada di dunia ini."
"Pergi, pergi kalian dari sini! Atau aku bakalan panggilkan satpam kalau kalian nggak juga pergi dari sini."
"Dasar anak kurang ajar kamu, nggak tahu berterima kasih kamu yah," teriak Diana dengan wajah memerah.
"Seharusnya kalian semua yang harus berterima kasih kepada aku. Karena selama ini hidup kalian itu bergantung ke aku. Semua kebutuhan kalian aku yang menanggungnya. Sekarang aku nggak bakalan mau jadi ATM berjalan kalian lagi. Silahkan kalian hidup dengan uang kalian sendiri."
"Kamu nggak bisa seperti itu sama kami Perlita. Pokoknya setiap bulan kamu harus mengirimkan uang untuk kebutuhan kami termasuk bayar asisten rumah tangga. Enak saja kamu mau lari dari kewajiban kamu itu," kata Diana semakin marah.
"Kewajiban mama bilang? Kalian juga nggak inget dengan kewajiban kalian sebagai orang tua. Dari dulu semua kebutuhanku aku beli sendiri. Sekolah juga dengan uangku sendiri. Kalian tidak pernah peduli padaku, yang ada di pikiran kalian hanyalah Ariana. Anak kalian juga tidak hanya aku saja kan. Lagian aku itu miskin dan cuma seorang pedagang kecil saja. Berbeda dengan putri kesayangan kalian yang berseragam yang uangnya banyak. Kalian minta saja sama dia."
Perlita tidak mau lagi menanggung hidup keluarganya, karena akan percuma saja. Dirinya tetap tidak dianggap oleh kedua orang tuanya. Lebih baik Perlita tidak berurusan lagi dengan keluarganya.
Diana semakin marah mendengar perkataan Perlita. Dia heran kenapa putrinya sekarang semakin berani padanya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu