DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB7
Ada hal-hal yang tidak berubah bentuknya jadi pertengkaran. Ia hanya menjadi jarak. Dan jarak sering kali lebih menyakitkan, karena ia tidak bisa dituding siapa salahnya.
Pagi itu, Aira datang paling awal ke kampus.
Ia duduk di bangku taman dekat gedung fakultas, membuka laptop, mencoba fokus pada revisi laporan proyek. Tapi pikirannya melompat-lompat. Ke Naya yang masih jarang mengirim pesan. Ke Raka yang tetap ramah, tapi terasa menahan sesuatu. Ke Langit, yang entah kenapa akhir-akhir ini lebih sering muncul di kepalanya dibanding siapa pun.
“Kamu kelihatan kayak orang yang lagi maksa tenang,” suara itu muncul tiba-tiba.
Aira mendongak. Langit berdiri di depannya, membawa dua gelas kopi.
“Kelihatan banget, ya?” Aira tersenyum kecil.
“Iya,” Langit duduk di sampingnya. “Biasanya orang tenang nggak segugup itu buka tutup laptop.”
Aira tertawa pelan. “Aku lagi nyoba jadi versi dewasa dari diriku.”
“Versi dewasa itu yang tetap datang walau capek?” tanya Langit.
“Yang nggak kabur,” jawab Aira jujur.
Langit menyerahkan satu kopi. “Gula dikit, kayak biasa.”
Aira menatap gelas itu sebentar. “Kamu kok tau”
“Aku pendengar yang baik,” kata Langit santai.
Dan Aira tidak membantah. Karena Langit memang begitu, tidak banyak bicara, tapi selalu tepat sasaran.
Mereka duduk berdampingan tanpa perlu banyak kata. Aira mengetik, Langit membaca buku. Tidak ada percakapan besar, tapi ada rasa aman yang tidak menuntut.
“Aira,” panggil Langit pelan.
“Hm?”
“Kamu nggak harus selalu kuat sendirian.”
Jari Aira berhenti di keyboard. Ia menarik napas. “Aku takut kalau aku bersandar, orang-orang malah jatuh bersamaku.”
Langit menoleh. “Kalau orang jatuh karena kamu jujur, berarti mereka memang capek juga. Bukan salah kamu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dada Aira terasa menghangat dengan cara yang asing.
Dari kejauhan, Raka melihat mereka. Bukan karena ia sengaja mengintip. Tapi karena Aira dan Langit terlihat… terlalu selaras. Cara Aira tersenyum kecil tanpa canggung. Cara Langit tidak mencoba mencuri perhatian, tapi tetap ada.
Dan Raka sadar satu hal yang membuat tenggorokannya kering: Langit tidak berusaha memiliki Aira. Ia hanya hadir. Dan itu sesuatu yang tidak pernah Raka lakukan, karena terlalu sibuk menunggu waktu yang tepat.
####
Rapat proyek siang itu berjalan canggung.
Naya datang, tapi duduk agak jauh dari Aira. Bima sibuk dengan laptop, mencoba mencairkan suasana dengan candaan setengah hati.
“Oke,” kata Bima akhirnya. “Kita fokus ke presentasi akhir. Deadline sponsor minggu depan.”
Aira mengangguk. “Aku sudah siapin revisi terakhir. Aku kirim malam ini.”
Naya menoleh. “Jam berapa?”
“Jam tujuh,” jawab Aira tanpa ragu.
Naya mengangguk pelan. Tidak tersenyum, tapi juga tidak dingin. Itu kemajuan kecil. Dan Aira tahu, kemajuan kecil harus dirawat.
Setelah rapat selesai, Naya membereskan tasnya cepat-cepat.
“Nay,” panggil Aira pelan.
Naya berhenti. “Iya?”
“Aku… makasih karena masih mau datang.”
Naya menatapnya. Lama. “Aku datang bukan karena kamu,” katanya jujur. “Tapi karena mimpiku sendiri.”
Aira mengangguk. “Aku ngerti.”
“Tapi,” Naya menarik napas, “aku hargai kamu nggak kabur.” Itu bukan maaf. Tapi itu pintu yang belum ditutup.
####
Sore itu, hujan turun lagi. Aira berdiri di halte, menunggu bus. Ia memeriksa ponsel. Tidak ada pesan dari Raka, udah hampir kurang lebih 2 bulan ini Raka berbeda tak seperti biasanya.
“Kamu ke sini ya.”
Aira menoleh ke langit.
“Aku enggak Bawak motor jadinya nunggu bus di sini” jawab Aira. “ DanTempat nunggu yang nggak nanya macam-macam.”
Langit tersenyum. “Aku suka tempat yang nggak maksa orang cerita.”
Mereka berdiri berdampingan. Hujan membasahi aspal, suara air menutup keheningan yang anehnya terasa nyaman.
“Aira,” kata Langit tiba-tiba. “Kalau suatu hari kamu capek sama semuanya… kamu bakal ke mana?”
Aira terdiam. “Aku nggak tahu. Selama ini aku cuma bertahan.”
Langit mengangguk. “Kalau suatu hari kamu mau berhenti sebentar, kamu nggak sendirian.”
Aira menatapnya. “Kamu selalu bilang itu dengan nada yang tenang.”
“Karena aku nggak mau kamu merasa dikejar,” jawab Langit.
Bus datang. Mereka naik. Di kursi terpisah, Aira duduk menatap jendela. Pantulan wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.
Ia belum jatuh cinta. Tapi ia mulai merasa aman untuk tidak selalu waspada.
####
Di tempat lain, Raka duduk di kamarnya, menatap ponsel. Chat terakhir Aira
Aman. Makasih ya.
Raka menghela napas. Ia akhirnya menulis.
Raka:
Ra, kamu besok ada waktu nggak? Aku pengen ngobrol.
Pesan terkirim. Beberapa menit terasa panjang.
Aira:
Besok habis kelas siang. Kenapa?
Raka menatap layar. Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Raka:
Nggak apa-apa. Pengen ketemu aja.
Aira:
Oke.
Satu kata itu membuat dada Raka sesak.
Karena ia tahu, setelah ini, diam tidak lagi cukup. Dan apa pun yang akan ia katakan, akan mengubah sesuatu.
...####...
Sementara itu, di kamarnya, Aira menutup laptop setelah mengirim revisi tepat pukul tujuh.
Ia menarik napas panjang. Di kepalanya, tiga wajah muncul bergantian: Naya, dengan luka yang belum sembuh. Raka, dengan keheningan yang semakin berat. Langit, dengan ketenangan yang tidak meminta apa pun.
...####...
Keesokan harinya, langit kampus mendung tapi tidak hujan. Seperti sengaja menahan diri.
Aira datang lebih dulu ke kafe kecil dekat gerbang belakang. Tempat yang biasa, tidak istimewa, tapi cukup sepi untuk bicara tanpa banyak telinga. Ia duduk menghadap jendela, memutar sendok di cangkir teh yang sudah setengah dingin.
Raka datang lima menit kemudian. Langkahnya pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang biasanya selalu berisik.
“Maaf telat,” katanya.
“Baru lima menit,” jawab Aira. “Duduk aja.”
Mereka duduk berhadapan. Ada jeda. Panjang. Canggung. Tapi bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, justru karena terlalu banyak.
Raka menarik napas. Menghembuskannya perlahan, seolah sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan sesuatu.
“Aku nggak tahu mulai dari mana,” katanya akhirnya, suara sedikit serak.
“Mulai aja,” jawab Aira lembut. “Aku dengerin.”
Raka tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip pamit.
“Ra… aku capek.”
Aira mengernyit. “Capek gimana?”
“Capek berharap,” jawabnya jujur. “Capek nunggu waktu yang katanya tepat, tapi nggak pernah benar-benar datang.”
Aira terdiam. ia bingung arah pembicaraan Raka ke mana.
“Aku selalu bilang ke diri sendiri, ‘sedikit lagi’. Sedikit lagi dia bakal lihat aku. Sedikit lagi situasinya bakal lebih baik. Sedikit lagi…”
Raka tertawa pendek, pahit. “Tapi ternyata sedikit lagi itu nggak pernah habis.” Raka menatap meja. Lalu menarik napas panjang, seolah sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang sudah lama tertahan.
“Ra… aku mungkin bakal ngomong agak berantakan,” katanya lirih. “Kalau nanti kedengeran aneh, tolong sabar ya.”
Aira tersenyum kecil. “Kamu nggak pernah aneh.”
Kalimat itu seperti pisau yang halus. Raka tersenyum, tapi matanya basah.
“Kamu inget nggak,” katanya pelan, “ aku pernah cerita tentang seseorang. Tentang perempuan yang bikin aku pengen jadi lebih baik, tapi juga bikin aku takut sendiri.”
Aira mengangguk. “Iya. Kamu bilang… dia kuat, tapi selalu ngerasa harus sendirian.”
Raka tertawa kecil, pahit. “Kamu inget detailnya.”
“Iya,” jawab Aira jujur. “Aku selalu dengerin.”
Raka menatapnya. Kali ini lebih lama.
“Seseorang itu… Aira…ada... Di hadapan ku.”
Udara seperti berhenti bergerak.
“Aaku?” suara Aira hampir tidak terdengar.
“Iya,” kata Raka, cepat tapi gemetar. “Orang yang selama ini aku ceritain. Yang aku jaga dari jauh. Yang bikin aku bertahan waktu semuanya berantakan. Itu kamu.”
Aira menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena bahagia, tapi karena kaget dan karena ada sesuatu yang runtuh di dadanya.
“Rak… aku nggak tahu,” katanya lirih. “Aku beneran nggak tahu.”
“Aku tahu,” jawab Raka cepat. “Dan itu bukan salah kamu. Aku nggak pernah mau kamu tahu… karena aku takut, begitu aku bilang, semuanya berubah.” Ia menunduk. Suaranya pecah.
“Aku udah lama berjuang, Ra. Tapi bukan berjuang buat kamu punya aku. Aku berjuang buat tetap ada tanpa bikin kamu terbebani.”
“Apakah aku membuat kamu seakan menunggu Ra? maaf tapi aku enggak bermaksudd” suara Aira hampir berbisik.
“Aku tahu,” Raka mengangguk cepat. “Dan itu justru yang bikin aku makin sadar… ini bukan salah kamu.”
Ia menatap Aira lama. Terlalu lama untuk sekadar teman, terlalu pasrah untuk orang yang ingin memiliki.
“Aku sayang kamu, Ra,” katanya pelan. “Bukan sayang yang ribut, bukan yang posesif. Tapi sayang yang bikin aku pengen kamu baik-baik aja, bahkan kalau itu bukan sama aku.”
Mata Aira berkaca-kaca.
“Raka…”
“Tunggu,” potongnya lembut. “Biar aku selesai.”
Ia mengusap wajahnya sebentar, seperti menahan sesuatu agar tidak jatuh.
“Aku berhenti berjuang.” Kalimat itu jatuh di antara mereka. Berat. Sunyi.
“Bukan karena aku nggak sayang,” lanjut Raka. “Tapi karena terlalu banyak rintangan yang bikin aku sadar… mungkin kita memang nggak ditakdirkan buat bersatu.”
Aira menunduk. Air matanya jatuh membasahi meja kayu.
“Aku takut,” kata Raka lirih, “kalau aku terus maksa, yang rusak bukan cuma perasaanku. Tapi persahabatan kita.” Ia tersenyum lagi, kali ini lebih rapuh.
“Aku lebih takut kehilangan kamu sepenuhnya.”
Aira mengangkat wajahnya. “Aku juga.”
Raka mengangguk. “Makanya… kalau boleh, maksudnya aku pengen tetap ada. Sebagai teman terbaikmu. Atau… sebagai abang yang cerewet. Atau apa pun yang bikin kamu tetap nyaman.” Suara Raka bergetar.
“Aku bakal belajar. Pelan-pelan. Ngubah rasa cinta ini jadi rasa sayang. Sayang ke sahabat. Sayang ke adik perempuan yang pengen aku jaga, bukan aku tuntut.”
Aira menutup mulutnya dengan tangan. Tangisnya pecah, tanpa suara, tapi jelas terasa.
“Kamu nggak egois,” katanya terbata. “Kamu justru terlalu baik.”
Raka menggeleng. “Aku cuma nggak mau jadi orang yang kamu jauhi.” Ia berdiri, lalu ragu sejenak.
“Boleh aku peluk? Terakhir… sebagai orang yang pernah berharap lebih.”
Aira berdiri dan mengangguk. Pelukan itu singkat. Tidak erat. Tapi penuh haru.
Saat mereka berpisah, mata Raka merah, tapi senyumnya lebih tenang.
“Kita nggak hancur, kan?” tanyanya.
Aira menggeleng. “Enggak. Kita… cuma berubah.”
Raka mengangguk. “Kalau gitu, aku bisa nerima”
Mereka berjalan keluar kafe bersama, lalu
"Ai"
"kamu masih ada kelas kan? Kita pisa di sini aja"
"Nanti kalau udah sampai rumah Chet aku ya, mulai sekarang kamu harus ngabarin aku terus"
"Lo kok tau-tau posesif sih" ujar Aira sambil menaikan Alis nya, menggoda Raka
"aku kan sekarang Abang kamu, jadi aku akan jagain kamu seperti adikku sendiri"
Aira terharu, kata orang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya lalu kakak nya, Aira tak memiliki itu, tapi sekarang ia punya Raka "iya Abang"
Raka tersenyum haru, Raka merasa beban di pundaknya seakan hilang, ternyata menjadi kakak Aira lebih baik
Mereka berpisah di persimpangan kecil.
Tidak ada janji baru. Tidak ada harapan palsu.
Hanya keikhlasan yang perih tapi jujur.
Raka dan Aira membiarkan air mata nya jatuh, sambil belajar satu hal yang paling mengharukan
Bahwa tidak semua cinta gagal.
Sebagian hanya memilih bentuk lain agar tetap hidup.
Bersambung