NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 5 – ANAK-ANAK YANG TAK PULANG

Wilwatikta tidak pernah benar-benar tidur.

Pada siang hari, kota itu tampak seperti biasa—pedagang membuka lapak, asap dapur mengepul dari balik tembok bata, lonceng-lonceng kecil di gerbang pasar berdenting tertiup angin. Namun begitu matahari tenggelam dan langit berubah kelam, kota raja menjelma makhluk lain: diam, waspada, dan penuh mata yang tak terlihat.

Raka merasakannya sejak malam pertama ia bersembunyi di balik tumpukan kayu dekat rumah penyamak kulit. Bau anyir, lembap, bercampur kencing hewan, menusuk hidungnya. Ia meringkuk, memeluk lutut, mencoba menahan gemetar. Perutnya melilit—lapar yang tak lagi terasa sebagai rasa, melainkan nyeri tumpul yang menetap.

Di tempat-tempat seperti ini, anak-anak biasa berkumpul. Mereka berbagi sisa nasi, mencuri bersama, saling menjaga. Tapi malam itu, Raka sendirian.

Ia baru menyadari kejanggalan itu saat fajar menyingsing.

Tidak ada suara tawa. Tidak ada langkah kecil berlarian. Tidak ada bisik-bisik anak yang biasanya muncul begitu pagi merekah. Tempat itu kosong. Terlalu kosong.

Raka menunggu.

Satu hari berlalu. Dua hari. Anak-anak lain tidak kembali.

Sebagian orang dewasa tahu. Mereka hanya berpura-pura tidak melihat. Jika ditanya, mereka mengangkat bahu atau menggeleng cepat—gerakan kecil yang lebih jujur daripada seribu kata. Di Wilwatikta, terlalu banyak bertanya sama artinya dengan meminta petaka.

Raka belajar cepat. Ia menunduk. Ia menyamarkan wajahnya dengan kotoran dan abu. Rambutnya ia acak-acakan, pakaiannya ia sobek sedikit agar tampak seperti anak jalanan lain. Tapi tetap saja, perasaan itu tidak pergi.

Ia merasa… terlihat.

Bukan seperti sedang diburu. Lebih seperti sedang dipantau.

Beberapa kali ia melihat mereka—lelaki berwajah biasa, pakaian sederhana, berjalan tanpa senjata terbuka. Mereka bukan prajurit istana. Tidak berseragam. Tidak berteriak. Namun mata mereka dingin, cara mereka berhenti terlalu tepat, cara mereka berpaling terlalu terukur.

Telik sandi.

Raka tidak tahu istilah itu. Tapi tubuhnya tahu bahaya.

Malam ketiga, teror itu datang lebih dekat.

Ia bersembunyi di bawah lantai rumah kosong—ruang sempit, hanya cukup untuk satu tubuh kecil. Tanahnya dingin dan basah. Nafasnya tertahan. Dari celah papan, ia melihat bayangan kaki mendekat.

Ada tiga orang.

Mereka tidak tergesa. Salah satu dari mereka berjongkok, menyentuh tanah, mengendus udara seperti anjing pemburu.

“Bocah,” gumamnya pelan. “Masih anget.”

Raka menutup mulutnya dengan tangan. Jantungnya berdentam keras, terlalu keras. Ia yakin mereka bisa mendengarnya.

Sebuah tombak didorong masuk dari celah papan.

Ujung besinya menembus tanah—beberapa jari dari wajah Raka.

Ia tersentak, tubuhnya bergeser sedikit.

Kesalahan.

Tombak itu bergerak lagi. Kali ini lebih dekat. Terlalu dekat.

Raka menjerit tanpa suara saat ujung besi itu menggores pahanya. Panas menyambar. Nyeri tajam memaksa air mata keluar. Ia menggigit lengannya sendiri agar tidak bersuara.

Darah.

Ia mencium bau besi. Melihat cairan gelap menetes ke tanah.

Ketahuan.

Itu satu-satunya pikiran di kepalanya.

Namun tombak itu tidak berhenti di situ. Dorongan berikutnya lebih kuat—menembus ke sisi lain, menghantam sesuatu.

Tiba-tiba ada gerakan liar. Suara mencicit keras. Seekor tikus besar meronta, darahnya muncrat saat tertusuk.

“Ah,” kata salah satu telik sandi datar. “Kewan.”

Tombak ditarik.

Raka membeku.

Langkah kaki mundur. Mereka berbisik sebentar—kata-kata yang tidak bisa Raka tangkap, kecuali satu kalimat yang menghantui:

“Yen bocah kuwi ana, mesthi wis metu.”

Jika anak itu ada, pasti sudah keluar.

Mereka pergi.

Raka tetap diam lama setelah suara langkah itu menghilang. Tubuhnya gemetar hebat. Luka di pahanya berdenyut. Darah masih mengalir, hangat dan lengket.

Ia menekan lukanya dengan kain kotor, menahan isak.

Ia selamat.

Atau begitulah yang ia kira.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama. Teror kecil yang datang dan pergi. Bayangan yang lewat terlalu dekat. Sentuhan yang hampir menangkap. Raka selalu lolos—terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Ia mulai bertanya dalam hati, meski tak berani mengucapkannya:

Kenapa aku belum mati?

Di sudut-sudut kota, orang-orang menghilang. Bukan hanya anak-anak. Seorang pengemis tua yang terlalu banyak bicara. Seorang pemuda yang mengaku melihat sesuatu di malam pembakaran. Mereka tidak ditemukan. Nama mereka tidak disebut lagi.

Wilwatikta menelan mereka dalam diam.

Suatu malam, Raka melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.

Di balik pagar bambu, dua lelaki berbincang dengan suara rendah. Salah satunya menyerahkan sekantung kecil—bunyi logam beradu terdengar samar. Lelaki lain mengangguk cepat.

“Jenenge ora cocog,” bisiknya. “Salah.”

“Banjur?”

“Dilebur wae.”

Raka tidak tahu apa artinya dilebur. Tapi cara kata itu diucapkan membuat tengkuknya dingin.

Keesokan harinya, lelaki pemberi laporan itu tidak pernah terlihat lagi.

Raka semakin yakin: ada sesuatu yang tidak ia pahami.

Ia merasa terlalu sering lolos. Terlalu sering berada di jarak yang seharusnya mematikan, namun tetap bernapas.

Perasaan itu tidak memberinya jawaban—hanya kegelisahan yang makin dalam.

Namun Raka tidak tahu itu. Yang ia tahu hanyalah rasa takut yang tak pernah benar-benar pergi. Setiap malam ia tidur dengan satu mata terbuka. Setiap suara kecil membuat tubuhnya menegang.

Ketika telik sandi kembali suatu malam dan menusuk tempat persembunyiannya lagi—kali ini hanya sejengkal dari wajahnya—Raka hampir menyerah.

Namun sekali lagi, tusukan itu berbelok. Sekali lagi, hewan lain menjadi korban. Sekali lagi, mereka pergi.

Raka menangis tanpa suara.

Ia hidup.

Dan itu justru membuatnya semakin takut.

Di Wilwatikta, malam itu, seseorang—entah siapa—masih dibiarkan bernapas.

Bukan karena aman.

Melainkan karena waktunya belum tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!