Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Bertiga
Pagi harinya,
"Nduk Lea, sudah segar ya? Ayo sini sarapan dulu. Keburu dingin nanti," panggil Bu RT Azalea yang sudah rapi habis mandi.
Azalea tersenyum tipis seraya mengangguk patuh. Ia mengekor di belakang Bu RT menuju meja makan. Di sana Pak RT dan Suci sudah duduk tenang menunggu. Pandangan Azalea langsung tertuju pada hamparan hidangan di atas meja. Alih-alih nasi putih bersih yang biasa ia temui di Jakarta, sebuah bakul kayu berisi butiran-butiran kecokelatan yang menggumpal menyambutnya.
Ini apa ya? Batin Azalea.
Melihat ekspresi bingung tamu kotanya, Bu RT lantas bersuara.
"Ini namanya Nasi Tiwul, Nduk. Terbuat dari singkong yang dikeringkan terus ditumbuk. Terus ini ada Urap sayur, juga bothok kering."
"Iya, Nduk. Dicoba dulu ya," timpal Pak RT sambil menyodorkan piring beralaskan daun pisang.
Azalea manggut-manggut paham meski otaknya masih berusaha mencerna bentuk makanan-makanan asing itu. Ia memperhatikan Pak RT dan Bu RT yang mulai makan. Tidak ada bunyi denting sendok dan garpu. Mereka langsung menggunakan tangan, menyatukan nasi tiwul dengan sayuran dan sambal, lalu menyuapnya dengan begitu lahap.
Ada sedikit culture shock yang dirasakan Azalea. Terbiasa dengan tata krama meja makan yang kaku menggunakan alat makan lengkap, melihat cara makan lesehan dan muluk (makan dengan tangan) ini terasa sangat baru baginya. Penasaran, ia pun mencuci tangannya di kobokan, mengikuti gerakan Pak RT.
Nikmat juga ternyata. Batinnya.
Bermenit-menit berlalu, sarapan pun selesai setelah dalam suasana sarapan yang hening karena tak boleh sambil bicara. Tak lama selesai sarapan, benar sesuai dialog semalam, Adi datang lagi dengan wajah tanpa dosa. Kali ini Azalea sendiri yang menemui di beranda rumah.
"Mau apa lagi? Ada kepentingan apa?" tanya Azalea ketus, tangannya bersedekap di dada.
Adi menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke arah Azalea. "Ini, Dek, aku mau gantiin uang belanjaan yang kemarin. Aku merasa tidak enak sebagai laki-laki tidak bisa membiayai calon istrinya."
"Nggak usah, buat lo aja. Sekarang silakan pergi. Gue sibuk."
"Lho, jangan galak-galak toh, Dek. Mamas ke sini kan niatnya baik--"
Idih!
"Pergi atau..." Azalea meraih sesuatu dari balik pintu. Raket nyamuk semalam. Dia menekan tombol power hingga lampu indikatornya menyala merah terang. "...atau lo mau main raket sama gue?" kalimat Azalea mengajak main raket, tapi yang ditangannya adalah raket listrik yang sedang ia uji coba dengan melempar sebuah benda, dan bunyi pretek pretek, seakan-akan menegaskan kalau Adi bisa bernasib sama seperti itu.
Adi mundur selangkah, "Duh, galak tenan bidadari ini," gumamnya.
Baru saja bunyi petek-pretek dari raket nyamuk itu mereda, sebuah motor sport berhenti tepat di depan pagar. Sosok pemuda turun dari sana. Itu Hagia.
Melihat itu, seketika keberingasan Azalea menguap dalam hitungan detik. Raket nyamuk yang tadi diacung-acungkan bak pedang perang, langsung disembunyikan di balik punggungnya. Bahunya yang tegang merosot rileks, dan ekspresi judesnya berganti menjadi full senyum.
"Eh, Kakak?" sapa Azalea.
Adi yang berdiri di depannya mengernyitkan dahi dalam-dalam. Ia menoleh ke arah Hagia, lalu kembali ke Azalea dengan tatapan bingung. Bidadari ini kok tiba-tiba jadi kalem tenan? Kesamben opo? batinnya heran.
"Pagi, Lea, Assalamu'alaikum." balas Hagia ramah.
"Wa'alaikumsalam."
Hagia berjalan mendekat ke arah teras. "Maaf ganggu sebentar. Pak RT ada? Saya mau ada perlu titip berkas."
"Oh, Pak RT ada di dalam, kok. Masuk aja, Kak Eh, m-maksudnya tunggu dulu bentar, nanti aku panggilkan." Azalea mendadak salah tingkah, tangannya yang memegang raket di balik punggung sibuk mencari sandaran agar benda itu tidak jatuh.
"Tumben pagi-pagi ke sini, Kak?" Tanya Azalea mengalihkan.
"Iya, sekalian mau berangkat kerja tadi," jawab Hagia sambil tersenyum tipis.
"Kakak udah sarapan?" tanya Azalea.
"Sudah, Lea. Tadi sempat sarapan di rumah," jawab Hagia kalem. "Lea sendiri sudah sarapan?"
"Aku juga sudah sarapan, Kak. Tadi kebetulan sarapan sama nasi kiwul."
Dahi Hagia berkerut halus. "Kiwul? Maksudnya Tiwul mungkin ya."
"Eh, iya! Itu maksudnya. Tiwul. Duh, kok bisa jadi kiwul ya," ucapnya sambil tertawa kecil yang dibuat-buat untuk menutupi rasa malunya. Tak habis pikir, kenapa pula dirinya harus menjelaskan sarapan pakai apa.
Melihat ada celah untuk ikut dalam percakapan, Adi berdehem keras dan menyela dengan percaya diri. "Wah, sama dong. Aku juga sudah sarapan tadi pakai--"
"Siapa?" tanya Azalea ke Adi, menyelak kalimat laki-laki itu.
"Aku..." jawab Adi agak keder.
"Yang nanya?" sambar Azalea cepat dan pelan, lalu kembali menatap Hagia dengan senyum paling manis seolah tidak terjadi apa-apa.
Adi hanya bisa melongo, sementara Hagia hanya tersenyum lalu tidak lama Pak RT yang dicari-cari Hagia pun keluar. Hagia dipersilahkan masuk ke dalam rumah, dan tersisalah dua manusia yang belum kelar urusannya di pagi ini.
"Pergi gak lo!"
Azalea tidak main-main kali ini. Azalea mode galaknya keluar lagi mumpung Hagia ke dalam rumah. Mumpung laki-laki itu tidak melihat aksinya. Akhirnya dengan segenap usaha Azalea mengusir Adi, laki-laki itu pun pergi dari sana. Kacungnya Adi pun melihat Azalea yang bringas tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Azalea tahu, Hagia telah menyaksikan dari dalam. Hagia penasaran, sebenarnya ada apa antara Azalea dan Adi? Kenapa mereka bisa bersinggungan?
...***...
"Pak RT, saya mau nanya. Kok bisa Adi tahu saya ada di sini? Saya kan nggak pernah kasih tahu alamat atau rumah siapa yang saya tumpangi." Tanya Azalea ke Pak RT di suatu kesempatan.
"Lho, Bapak kira Nduk Azalea sendiri yang kasih tahu."
"Maksudnya gimana, Pak?"
"Kemarin waktu dia ke sini, dia bawa paket belanjaan atas nama kamu, Nduk. Katanya belanjaan itu ketinggalan atau salah bawa, Bapak lupa. Terus pas bapak nanya konfirmasi, Apakah benar ini milik kamu? Terus kamu bilang benar, Nduk." Jelas Pak RT panjang lebar.
Azalea menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun jadi karena paket itu?"
Azalea terdiam. Dia tidak bisa terus-menerus diganggu oleh Adi kalau persembunyiannya sudah diketahui.
Azalea berpikir keras, memutar otak untuk menanggulangi situasi yang semakin kacau ini. Dia harus mencari tahu siapa sebenarnya Adipati yang dimaksud Ayah, dan bagaimana caranya menyingkirkan Adi yang sekarang tanpa menimbulkan keributan lebih lanjut. Dia harus menguraikan akar dari masalahnya.
Sesaat kemudian, sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya.
Jika Ayah menyuruhnya bertanya pada Pak Lurah, maka ke sanalah dia akan pergi. Tapi kali ini dia tidak akan bertanya secara sembarangan seperti kemarin. Dan terbesit juga untuk tinggal sementara disana demi menghindari Adi sruntul.
.
.
Bersambung.