NovelToon NovelToon
Bukan Simpanan Biasa

Bukan Simpanan Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tunangan Kanaya

Sudah dua bulan lebih semenjak sang Ayah datang bersama Kanaya untuk mengacau di restorannya. Dan, semenjak hari itu pula, mereka tak pernah lagi terlihat di depan Starla.

Kehidupan Starla perlahan mulai berjalan dengan normal tanpa gangguan apapun. Ia fokus mengembangkan restoran miliknya sambil menyusun rencana untuk melanjutkan S2-nya di universitas impiannya.

"Starla!" panggil seorang pemuda yang satu tahun lebih muda darinya.

Nama pemuda itu adalah Kevin Sanchez. Memiliki warna kulit tan, tinggi 185 cm, alis tebal, serta memiliki bentuk tubuh yang sangat atletis.

"Hai, Kev! Kenapa kamu malah datang kemari? Bukannya, kita sudah janjian untuk bertemu di perpustakaan kota?" tanya Starla dengan nada yang begitu ramah.

Dia baru saja selesai mengantarkan pesanan ke meja pelanggan kemudian berjalan cepat menuju ke arah Kevin.

"Tadi, aku ada keperluan di dekat sini. Jadi, aku pikir, tidak ada salahnya untuk sekalian menjemput mu," jawab Kevin beralasan.

Padahal, dia jelas-jelas berbohong. Dia hanya tak sabar menunggu kedatangan Starla makanya dia nekat menjemput langsung ke restoran perempuan cantik itu.

"Kalau begitu, bisa tunggu sebentar? Aku mau ganti baju dulu."

"Oke. Tidak masalah," angguk Kevin setuju.

"Kalau begitu, silakan duduk di tempat mana pun yang kamu suka," tukas Starla mempersilahkan. "Ini buku menunya," ucapnya sambil memberikan buku menu kepada Kevin. "Pesan apapun yang kamu inginkan."

"Siapa yang akan bayar?" tanya Kevin bercanda.

"Tentu saja Kakak-mu yang cantik ini," jawab Starla sambil menepuk dadanya, pamer.

"Ka-kak?" lirih Kevin sedikit kecewa.

"Sudah, ya! Tunggu sebentar di sini. Awas kalau berani kabur," kata Starla yang berpura-pura tidak tahu apapun.

Di luar restoran, seorang pria berdiri dengan ekspresi penuh amarah dari kejauhan. Interaksi antara Starla dan Kevin sudah ia lihat dengan begitu jelas.

Sepertinya, Starla dan pemuda itu memiliki hubungan yang sangat istimewa. Dada Nino langsung terasa panas karena terbakar api cemburu.

"Sialan!"umpat Nino kesal. "Disaat aku tersiksa sendirian karena rasa rinduku padamu, kamu justru malah asyik-asyikan pacaran dengan laki-laki lain, Starla?"

Nino menyeringai sinis. Rokok yang belum sempat ia hisap dan masih berada dalam jepitan jemari tangan, kini ia patahkan jadi dua lalu membuangnya begitu saja.

"Kamu mau main-main?"gumam Nino dengan wajah memerah. "Oke. Aku akan temani kamu bermain."

****

Beberapa minggu kemudian, sebuah kabar yang sangat menghebohkan tiba-tiba berembus kencang.

Putri keluarga Alexander akan bertunangan dengan sosok pria misterius yang kabarnya berasal dari negara sebelah. Gosipnya, pria itu sangat kaya dan tampan. Namun, belum ada informasi valid, mengenai identitas asli pria itu.

Ponsel Starla tiba-tiba berdering saat dia sedang sibuk mencoba membuat resep baru. Celemek yang ia kenakan langsung dilepas. Sambil menyeka keringat di ujung pelipisnya, dia pun terpaksa mengangkat panggilan itu.

"Ada apa?" tanya Starla dingin begitu panggilan terhubung.

"Kalau ada waktu, datanglah untuk makan malam di rumah."

"Wah, tumben sekali?!" sahut Starla seraya tersenyum sinis. "Sejak kapan nada suara Papa jadi lembut begini? Kali ini... Apa lagi yang Papa inginkan dari aku, hah?"

Terdengar helaan napas berat dari seberang sana.

"Papa tidak akan meminta hal yang aneh-aneh lagi, Starla. Papa hanya ingin mengundang kamu nanti malam karena calon tunangan Kanaya ingin mengenal semua anggota keluarga kita tanpa terkecuali. Kalau tidak, nanti acara pernikahan mereka bisa ditunda."

"Bagaimana, ya? Aku tidak yakin, apa aku bisa hadir atau tidak," gumam Starla berpura-pura bimbang.

"Starla, sekali ini saja! Tolong bekerjasamalah dan jangan membuat ulah!" pinta Arlo memohon.

"Kalau Papa bersedia membayarku, aku pasti akan bekerjasama dengan baik."

Hening sejenak. Sepertinya, Arlo sedang memikirkan sesuatu. Atau, bisa jadi, ada seseorang yang diam-diam Arlo ajak untuk berdiskusi di seberang sana.

"Seratus juta," tukas sang Ayah. "Bagaimana?"

Starla tersenyum sinis. Seratus juta? Apakah sang Ayah benar-benar ingin memperlakukan dia layaknya pengemis?

"Lima ratus juta," timpal Starla.

"Apa kamu masih waras, hah?" pekik sang Ayah murka. "Lima ratus juta terlalu banyak, Starla."

"Mau atau tidak!?" tanya Starla ketus.

Terdengar perdebatan kecil yang begitu samar di rungu Starla. Dari suaranya, orang yang berdebat dengan sang Ayah itu adalah Grace, Ibu tiri Starla.

"350 juta," tawar Arlo lagi.

Starla menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan kasar.

"Lima ratus juta atau tidak sama sekali."

Klik.

Starla sengaja mematikan ponselnya secara sepihak. Tak berselang lama, ponsel keluaran lama itu kembali berdering.

"Bagaimana?" tanya Starla.

"Baiklah! Papa setuju," angguk Arlo pada akhirnya.

"Kalau begitu, cepat transfer uangnya!" titah Starla sekali lagi.

"Tapi, Papa juga punya syarat untukmu," kata Arlo.

"Ehm, katakan saja!" titah Starla.

"Sepanjang acara makan malam nanti, jangan pernah mengatakan apapun. Kamu cukup jadi patung pemanis saja, Starla! Dan, ingat satu hal! Jangan berpakaian terlalu menonjol! Berusahalah terlihat lebih jelek dibanding Kanaya."

"Soal diam, aku setuju," angguk Starla. "Tapi, kalau soal penampilan, aku tidak yakin kalau Kanaya mampu menyaingi kecantikan ku."

Klik. Panggilan diputus lagi secara sepihak oleh Starla. Selang dua menit kemudian, transferan uang senilai 500 juta akhirnya mendarat juga di rekening Starla.

"Setidaknya, aku bisa mengeruk uang Papa meski tidak seberapa," gumam Starla seraya tersenyum sinis.

Malam harinya, Starla berangkat ke rumah sang Ayah dengan mengenakan sebuah gaun malam berwarna hitam. Sepasang pundaknya terekspos dengan indah. Kulit putihnya benar-benar magnet yang membuat banyak perempuan jadi iri.

Dan, begitu ia sampai dirumah, Kanaya langsung ngambek dan memaksa Arlo untuk membuat Starla mengganti bajunya.

"Sudah Papa bilang, jangan dandan terlalu berlebihan, Starla!" kata Arlo putus asa.

"Siapa juga yang dandan berlebihan? Aku bahkan tidak memakai riasan tebal," celetuk Starla membela diri. "Aku memang sudah cantik dari sananya. Jadi, kalau anak tiri Papa merasa tersaingi, itu bukan salahku."

"Kau...." Grace merasa gemas sekali. Jika tak ada Arlo, mungkin tangannya sudah mendarat di pipi Starla.

"Pokoknya, cepat ganti baju sebelum calon tunangan kakakmu datang!" paksa Arlo sambil mendorong bahu putrinya secara paksa.

"Papa, Mama..." panggil Kanaya dengan ceria.

Dia masuk ke dalam rumah dengan menggandeng seorang pria tampan bertubuh tinggi dengan paras yang sangat menawan.

"Nino sudah datang," lanjutnya yang seketika membuat dunia di sekitar Starla jadi berguncang.

Degh!

"Dia?" lirih Starla tak percaya.

Siapa yang menyangka, jika lelaki yang pernah menjadi sugar daddy-nya, sekarang malah akan menjadi kakak iparnya?

"Nino... perkenalkan! Papa, Mama, dan..." tatapan Kanaya terlihat sinis saat menunjuk kearah Starla.

"...adikku, Starla."

Tatapan Nino tertuju ke arah Starla. Sementara, Starla sendiri masih sangat syok. Kepalanya seperti baru saja disiram dengan es batu yang sangat banyak.

"Halo, Starla! Apa kabar!?" Nino tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Starla.

1
Naya En-lish
/Rose/
Yulia Dhanty
bagus n menarik
mery harwati
Bagus Starla 👍
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
mery harwati
Nino sama tolol & bodohnya dengan Arlo bila cara berpikirnya Starla akan datang & minta pertolongan sama dia, padahal Starla jelas² sudah bilang tak mau barang bekas Kanaya (termasuk Nino)
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪
Wiwit Manies
mana ini lanjutan nya /Pooh-pooh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!