Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan tentangmu
Tetasan demi tetasan terus berjatuhan di selang infus, mengalir menuju saluran darah seorang pria yang kini berbaring di atas brankar rumah sakit dengan wajah pucatnya.
Sesekali pria itu menghela napas panjang sembari melirik ke luar dinding kaca sebelah kirinya. Di sofa tidak jauh dari brankar ada sang mama juga sahabatnya sedang berbincang dan Liam tidak berniat untuk mendengarkan.
Dia baru saja mengucapkan fakta pada kedua orang itu tetapi tidak ada yang percaya padanya.
"Mas." Suara lemah lembut disertai elusan di rambutnya membuat Liam menoleh dengan wajah datar nan pucatnya.
"Setelah pulang dari rumah sakit mas tinggal sama mama dan papa ya. Kata dokter mas kurang istirahat dan anemia. Mas butuh istirahat yang cukup dan pola makan yang baik," ucap mamanya.
"Nggak Ma, mas akan tinggal di rumah sendiri untuk menemani Arumi. Jika mas pergi Arumi akan kesepian."
"Tapi Sayang, Arumi sudah ...."
"Mas tahu," gumam Liam meski fakta itu ditolak hati dan pikirannya. Namun, bagaimana pun ia tidak bisa melawan takdir bahwasanya Aruminya telah pergi.
Dia sadar akan semuanya setelah bertemu dengan polisi di studio Arumi.
"Mas akan tetap berada di rumah itu Ma."
Liam kembali menatap dinding kaca tidak ingin melihat air mata mamanya yang kembali terjatuh.
"Mas akan menghukum orang yang telah membuat Aruminya mas menderita."
"Nggak Nak." Liora mengeleng. "Mama yakin Arumi kecelakaan karena sebuah takdir bukan sabotase seperti yang kamu bicarakan. Arumi adalah perempuan yang baik, dia nggak memiliki musuh." Wanita paruh baya itu tidak setuju jika hati putranya diselimuti dendam karena kehilangan.
Liora senang putranya mau menerima fakta bahwa Arumi sudah tidak ada, akan tetapi ia tidak mau Liam balas dendam pada orang yang tidak tahu wujudnya seperti apa.
"Tante Lio benar, nggak mungkinlah kalau kecelakaan Arumi itu disengaja. Ban baut kendor biasa terjadi kalau mobil jarang diservis. Om Rocky juga bilang kalau mobil Arumi jarang diservis."
"Aku nggak butuh kepercayaan dan dukungan siapapun. Aku akan melakukannya sendiri," jawab Liam.
Liam bergerak cepat untuk melepas selang infus ditangannya, tetapi gerakan Seaven tidak kalah cepat demi mencegah aksi gila Liam.
"Oke-oke aku percaya padamu dan aku akan membantumu untuk mengungkap siapa pelakunya. Tapi setelah kamu benar-benar sembuh," ujar Seaven cepat, pria itu paling tahu seperti apa Liam jika sudah bertekad akan sesuatu.
Ucapannya berhasil membuat Liam tenang dan ingin menerima perawatan rumah sakit untuk beberapa hari kedepan.
....
Liam diperbolehkan pulang setelah dipastikan kondisinya jauh lebih baik dari beberapa hari lalu. Pria itu memulai aktivitasnya seperti biasa, dan sesekali menyibukkan diri dengan kasus calon istrinya agar mendapatkan keadilan.
Di waktu senggangnya, kadang Liam terus memandangi gambar pemberian Arumi yang terpasang di ruangan kerjanya. Dia masih bingung kenapa sang kekasih memberikan gambar tersebut dan menyuruh dia untuk menjaganya dengan baik.
Gambar sebuah langit yang di potret dari atas bukit. Angelnya sangat pas karena di ambil ketika matahari hampir tenggelam.
Liam tersenyum, hanya dengan melihat gambar itu dia bisa membayangkan bagaimana raut wajah kebahagian Arumi sebab mendapatkan gambar indah nan cantik.
"Tuan Liam."
"Hm."
"Meeting akan berlangsung 10 menit lagi."
Liam mengangguk dan segera meninggalkan ruangannya. Kali ini mereka akan membahas cabang perusahaan yang akan diresmikan beberapa minggu lagi. Cabang Alexander kali ini adalah kantor keamanan yang diusulkan oleh om Eril- pengawal pribadinya saat kecil dulu.
Usai menghadiri meeting yang menghabiskan beberapa jam, Liam meninggalkan kantornya dan menemui Seaven yang ternyata ada dirumah barunya.
"Aku sudah bilang jangan masuk ke rumah ini tanpa kehadiranku, Ven!" ucap Liam menghempaskan tubuhnya di kursi santai pinggir kolam. "Bisa saja kamu membuat Arumiku nggak nyaman."
"Liam?"
"Aku tahu Ven, tapi bukan berarti dia pergi sepenuhnya dalam hidupku. Dia pasti selalu ada di sampingku."
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Seaven sembari memandangi air kolam yang tenang di bagian tengahnya.
"Mungkin membunuh orang yang telah membuat Arumiku pergi dengan cara tragis!" Rahang Liam langsung mengeras tangannya terkepal seolah pembunuh Arumi ada di hadapannya.
Bagaimana tidak amarah menguasai Liam melihat tubuh calon istrinya mendapatkan luka bakar yang sangat parah.
Seaven yang melihat reaksi berlebihan Liam sampai terkejut. Ternyata seseorang yang jatuh cinta jika kehilangan sangat menyeramkan.
"Jangan bodoh kamu! Balas dendam boleh tapi hilang akal jangan. Kita balas dendam dengan cara sehat bukan obsesi seperti ini. Itu akan merugikan dirimu sendiri."
"Lalu aku harus apa Ven? Membiarkannya hidup di penjara sementara Arumiku tiada?"
Seaven tertawa. "Apa dengan membunuh pelakunya Arumi akan kembali?"
Hening, Liam tidak menyahut. Pria itu larut dalam pikirannya dengan tatapan kosong ke depan. Terlebih ketika Seaven meletakkan undangan pernikahan di pangkuannya. Ia menatap sahabatnya dengan wajah terkejut.
"Kamu akan menikah?" tanya Liam.
"Hm, mau bagaimana lagi. Papa aku nggak seperti om Cakra yang menuruti keinginan putranya."
"Dijodohkan?"
"Hm, mungkin aku akan sibuk beberapa hari kedepan untuk menyambut pernikahanku, tapi tenang saja kalau kamu butuh bantuan aku akan datang kapanpun itu." Seaven menepuk pundak Liam
Kedatangannya ke rumah baru Liam untuk mengantarkan undangan dan melihat isi rumah. Dan yah tidak ada yang berubah, semuanya masih diisi tentang Arumi.
"Hati-hati," gumam Liam tanpa mengantar kepergian sahabatnya.
Pria itu memejamkan matanya, merasai sejuknya air kolam seorang diri. Saat membuka mata ia malah melihat sekelebat bayangan sepasang kekasih yang sedang tertawa di pinggir kolam. Bercanda bersama dan berlarian layaknya anak remaja.
"Aku merindukanmu Arumiku," gumam Liam saat bayangan kebersamaanya menghilang begitu saja.
"Apakah jika aku nggak memutuskan untuk menikahimu kecelakaan ini nggak akan terjadi?" tanya Liam. "Seharusnya aku nggak terburu-buru seperti ini," lirihnya di akhir kalimat.
Pria itu beranjak dan menuju kamarnya. Kamar yang seolah dihuni oleh dua orang sebab banyaknya barang di dalam sana. Skincare dan make up yang masi tersegel ada di rak yang seharusnya, begitu pun tas dan pakaian.
Liam kembali meletakkan bunga mawar merah di atas meja rias dan membuang yang telah mengering. Kali ini pria itu meletakkan empat tangkai untuk membayar hari-hari yang telah berlalu saat ia berada di rumah sakit.
Aku nggak mau tahu nanti setelah kita menikah aku harus menemukan setangkai mawar merah di meja riasku sebelum berangkat kerja
Ucapan Arumi kala itu kembali terdengar lirih di indera pendengaran Liam membuat ia tersenyum.
"Aku sudah memenuhi keinginanmu, jadi jangan bersedih cintaku."
"Siapapun itu, bahkan orang terdekatku sekalipun jika dia yang membuatmu pergi aku akan menghukumnya."
Mas Liam jangan pergi lagi, aku nggak yakin akan setia kali ini.
"Kamu yang pergi Arumi, bukan aku." Menatap wajahnya pada pantulan cermin.
....
jijik