Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 7
Nina pamit untuk kembali bekerja, sedangkan Haris, Chessy dan juga Raynar masih di runganan tuan kastara, sedangkan Anin ikut dengan Nina, karena ia ingin melihat koleksi furniture untuk dapur barunya.
" Kakak pindah rumah?" tanya Nina saat sedang berjalan menuju ke area toko furnitre.
" enggak cuma rombak sedikit doang, banyak yang sudah minta ganti juga perabotannya" jawab Anin.
" Oh ya... kamu tadi bilang masih berkabar sama kak Malihah, kamu kenapa enggak ngasih kabar kakak? padahal kamu di Jakarta?" tanya Anin.
" awalnya aku enggak mau hubungin siapa- siapa kak, tapi Kak Wira dan Kak Malihah selalu mentransfer ku uang dalam jumlah besar, tapi aku enggak berdiri dengan kaki ku sendiri kak, walau memang awal- awal aku gunakan uang pemberian mereka"
" Tapi setelah ku punya kerjaan tetap, selalu ku kembalikan, walau mereka sampai sekarang sering kali mentransfer ku dengan jumlah yang lebih banyak, itu pun aku hanya menelepon Kak Malihah dan terkadang Kak Malihah yang telfon dengan Kenzie dan Eelena"
" aku enggak ngabarin kakak, karena aku takut bang Haris tau, ku rasa dia murka sama aku" lanjut Nina.
Anindya merangkul sang adik " Ya sudah gapapa, kalau boleh tau kamu tinggal dimana sekarang? " tanya Anin.
Saat ingin menjawab pertanyaan kakak iparnya,pintu lift terbuka menampilkan, wanita paruh baya, mengenakan setelan pakaian muslimah, nampak anggun dan berwibawa.
" Bunda" panggil Anin.
Nina langsung menundukan kepalanya, saat tau yang akan masuk adalah Bunda Arista, tau mantu tuan kastara, Istri dari Danu Kastara, pemilik perusahaan ternama, walau tak sebesar perusahaan Kastara grup.
" Hei Anin, sendiri aja? cucu Bunda mana?" Tanya Bunda Arista, kala melihat Anin.
" Sedekat itu kah Bang Haris dengan keluarga Kastara?" tanya Nina pada dirinya sendiri.
Bunda Arista belum menyadari keberadaan Nina, karena asyik mengobrol dengan Anin, Nina pun hanya diam hingga ponselnya berbunyi.
" Siapa dek?" tanya Anin menoleh ke adik iparnya.
" Kak Malihah kak" jawab Nina, bertepatan dengan pintu lift terbuka dan sampai di lantai yang mereka tuju.
" Kak aku duluan ya.. aku angkat telfon dulu, Mari bu" pamit Nina kemudian ia keluar dari lift.
Di ikuti Bunda Arista dan juga Anin, Bunda Arista tampak bingung kala Anin memanggil Nina dengan sebutan " dek" .
" Kamu kenal sama Nina?" tanya Bunda Arista berjalan dengan Anin.
" Bunda tau Nina? " tanya Anin balik.
" Tau lah, dia kan staf disini, kamu itu gimana sih?"
" bukan gitu, Bunda kan jarang hafal staf biasa kan? "
"Ya... karena dia Bunda yang masukin kesini, dia pernah nolong Bunda, waktu dompet Bunda jatuh di jalan, dia datang ke rumah buat ngembaliin, saat itu dia sedang nyari pekerjaan, jadi dech Bunda masukin kesini, dia juga akrab dengan Zeya" jelas Bunda Arista, menceritakan ia bertemu dengan Nina.
" Wahh dunia sempit yaa bun, Nina itu adik ipar Anin bun, adik kandungnya Mas Haris" jawab Anin.
Bunda Arista tampak belum percaya jika Nina adalah adik dari Haris, salah satu orang luar yang bisa dekat dengan keluarganya, tanpa kesengeajaan.
" Serius?" tanya Bunda Arista memastikan.
Anin kemudian mengeluarkan ponselnya dn menunjukan deketannya dengan Nina, dan anggota keluarga lainnya.
" kenapa dia enggak bilang kalau adiknya Haris?" tanya Bunda Arista.
"Yah ... bun mana tau dia, kalau Mas Haris dekat dengan keluarga Kastara, dia sedang ada salah faham dengan ibu dan bapak, makanya dia kabur kesini, kita saja baru ketemu Nina tadi bun..., "jawab Anin.
" jadi maksudnya dia kabur dari rumah?" tanya Bunda Arista.
" Yahh... gitulah bun.., maaf Anin tidak bisa menjelaskan lebih detail" sahut Anin.
"Yahh gapapa, Bunda tau, terus sekarang gimana?"
Sedangkan Nina baru saja mengakhiri panggilan dari kakak Ipar yang kedua, istri dari kak Wira,yang memberi kabar jika mereka akan ke jakarta Lusa, untuk mengantarkan kedua orang tuanya naik haji.
Nina tampak membunga nafas kasar, seharusnya ia senang bisa berkumpul kembali, namun dalam hatinya ia merasa biasa saja atau hampa.
" empat puluh hari itu waktu yang lumayan lama, apa aku ijin pulang ke solo untuk beberapa hari ya? " tanya Nina pada dirinya sendiri.
" Pasti Kak Wira dan Kak Malihah disini sekitar seminggu, aku bisa pulang bareng mereka dan balik ke sini naik bus, semoga saja uang ku cukup untuk bayar tiket bus" gumam Nina.
Saat membalikan badannya dan ingin kembali bekerja, ia terkejut di belakangnya sudah berdiri Icha dengan satu cowok, berbadan tinggi dan besar.
" Tangkap dia" pinta Icha pada cowok tersebut.
Cowok tersebut, langsung memegang tangan Nina dan menguncinya, Nina terus membrontak namun tenaganya kalah jauh dengan lelaki tersebut.
" Lepaskan" pekik Nina.
" apa mau Mb icha?" tanya Nina.
Icha kemudian mendekat ke arah Nina, dan kemudian mencengkram kedua pipi Nina,yang kini tampak tirus.
"Loe udah hancurin karir gue, gara- gara loe gue jadi di taruh di bagian gudang" ujar Icha sambil memcengkrak kuat pipi Nina.
" Ta- Tapi itu keputusan Tuan Kastara mb, kenapa mb jadi salahkan saya?"
" Karena loe, selalu caper di depan mereka , apalagi loe sok paling karyawan teladan" sahut Icha melepaskan cengkramnnya dengan kasar.
" Tapi saya hanya kerja mbak" jawab Nina.
"kalau kerja yaa kerja aja, enggak usah caper sama keluarga Kastara, sampai - sampai jual tubuh loe, ke pak Haris, agar bilang loe itu adiknya kan? supaya loe bisa naik jabatan " teriak Icha.
" Tapi Pak Haris memang abang saya " ujar Nina.
Plakkk
Satu tamparan mendarat di pipi Nina, Kulit putihnya tampak merah akibat tampran dari Icha yang begitu keras.
" Enggak usah bohong loe,loe jual tubuh loe buat Pak Haris kan? supaya loe di akui adiknya, dan Tuan Kastara tau,.dan jabatan loe naik" ujar Icha.
" gue akan adui kelakuan loe, ke Bu Anin" ujar Icha menarik rambut Nina yang tertutup hijab.
Belum sempat melawan Nina sudah di dorong, oleh cowok yang bersama Icha tadi dan icha ke tangga, hingga Nina tergelinding hingga di bawah.
Icha tertawa puas melihat Nina tergelinding hingga ke bawah, darah segar keluar dari kening Nina.
Nina merasa pusing, ia sekuat tenaga untuk kembali berdiri, ia menoleh ke atas dimana Icha berdiri, ia melihat Icha tampak puas melihat dirinya terjatuh.
Terdengar suara derap kaki yang menuruni anak tangga, Icha yang panik langsung pergi lewati pintu, karena Nina tadi menerima telfon di tangga darurat.
Nina berusaha untuk berdiri walau kepalanya begitu pusing, Nina perlahan merambat untuk berdiri, tak lama ia mendengar seseorang turun dari atas.
" Nina" teriak seseorang dari atas.
Nina melihat ke atas, ia melihat Raynar yang tampak panik menghampiri dirinya.
" Kamu kenapa?" tanya Raynar membantu Nina berdiri.
Nina tampak memegangi kepalanya, sekuat tenaga dia untuk bangkit, ia tidak boleh tumbang.
" Saya gapapa pak, tadi saya ceroboh jadinya terjatuh" jawab Nina.
"kening kamu berdarah, ayo saya antar ke ruang p3k" ujar Raynar.
" Ahh tidak sah pak, saya bisa sendiri kok" jawab Nina yang berusaha untuk jalan sendiri walau masih berpenganan tembok.
Raynar tampak diam sejenak melihat Nina yang bersusah payah menahan pusing di kepalanya, Raynar kemudian berjalan ke arah Nina dan menggendongnya dari arah belakang ala Bridal style, " Maaf, saya tidak bisa melihat kamu terluka seperti ini" ujar Raynar kala menggendong Nina.
"Pak tolong turunin saya pak, saya bisa sendiri" Nina dengan sisa tenaganya memberontak meminta turun.
Namun Raynar seakan tak mendengar perkataan Nina, ia terus membawa Nina kerungan p3k, banyak orang yang melihat Raynar yang menggendong Nina, banyak bisikan dari karyawan kala melihat Raynar menggendong seorang wanita, karena Nina menenggelamkan wajahnya ketika mereka memasuki gedung.
"kayak kenal sama yang di gendong pak Raynar?"
" itu siapa yang di gendong pak Raynar, ?"
" wahhh.. gosip Hot nih"
Saat ingin memasuki lift karena rungan p3k ada di lantai 6, Raynar berpapasan dengan Anin dan juga Bunda Arista, yang berada di dalam lift.
" Loh Nina, kamu kenapa dek?" tanya Anin kala mengenali orang yang di gendong oleh Raynar.
" Kamu apakah Nina, Raynar ?" tanya Bunda Arista.
" Raynar enggak ngapa- ngapain bun, tadi Raynar nemuin dia jatuh di tangga darurat" Jawab Raynar.
"Dek kamu gapapa?" tanya Anin.
" aku gapapa kak, pak bisa turunin saya gak?" ujar Nina.
namun lift keburu terbuka, Raynar langsung berlari ke rungan p3k, di susul oleh Anin dan juga Bunda Arista.
Anin langsung menghubungi suaminya, memberitahu keadaan sang adik.
" Dok, tolong obati luka di keningnya dok" pinta Raynar pada Dokter yang berjaga, saat memasuki rungan p3k.
Raynar membaringkan Nina di brankar, setelah itu ia sedikit menjauh memberikan kepada Bunda Arista dan Anin mendekat.
Raut wajahnya tampak Khawatir dengan keadaan Nina, walau Nina terlihat tidak parah.
" Pipinya seperti ada bekas tamparan, setau ku tadi Bang Haris enggak, menamparnya pasti ada orang lain yang menamparnya, Tapi siapa?" gumam Raynar kala melihat Pipi Nina ada bekas tamparan.
Nina sedang di bersihkan lukanya di temani Anin dan juga Bunda Arissta di sampingnya, Raynar sedang meminta rekaman cctv di tangga darurat,tiba - tiba saja pintu di buka paksa oleh seseorang.
" Brakkkk"