NovelToon NovelToon
RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.

Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.

Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Pagi itu matahari masih malu-malu menembus jendela kaca yang buram. Di dapur sempit yang hanya cukup untuk dua orang bergerak, aroma roti gandum panggang dan teh hitam memenuhi udara. Sophia, gadis berusia dua puluh dua tahun itu masih sibuk menata piring-piring usang di meja makan kecil yang warnanya mulai pudar dimakan waktu.

Kemudian, sang ayah, Thomas Hill, sudah bersiap dengan seragam kerja seperti biasanya—rompi cokelat kusam dengan tambalan di siku. "Apakah sarapannya sudah siap?"

"Sebentar lagi," Ungkap Margaret dengan nada setengah meninggi, ia lalu memandang lurus suaminya sambil menata roti gandum di piring-piring yang telah Sophia tata. "Lagipula, kau itu hanya bekerja sebagai reparasi jam pinggir kota, mau terlambat sedikitpun tak jadi masalah untukmu!"

"Ya, aku mengerti." Angguk Thomas lalu menyeruput teh hitamnya. "Tapi kau tahu?" Ujarnya sambil meletakan cangkir yang hampir retak itu di atas meja kayu buatannya lalu melahap roti gandumnya. "Seperti yang selalu ku katakan... jam itu tak pernah berbohong, ia akan menjadi bumerang untuk kita. Bukankah begitu, Sophia?"

Sophia mengangguk, ia menarik kursi lalu duduk tepat di samping Ibunya. "Apa yang dikatakan Ayah benar, Bu."

Margaret mendesis. "Kalau kau setuju dengan pernyataan Ayah angkatmu ini, kenapa sampai sekarang kau masih membuang waktumu hanya untuk melukis, huh?!"

Sophia tertegun. Ia tertunduk kecil sambil melahap roti gandumnya lalu mengunyahnya secara perlahan. Seakan, ia tengah mengunyah dan menyesapi perkataan ibunya tersebut.

"Ibumu juga benar, Nak." Angguk Thomas.

"Tapi itu hob—"

"Hobi yang tidak sama sekali berarti!" Potong Margaret cepat.

"Ibu... Ayah," Sophia mengangkat wajah memandang Ibu dan Ayahnya lekat secara bergantian. "Aku mohon jangan larang aku untuk melukis. Melukis adalah salah satu media untukku menuangkan segala perasaan yang aku—"

"Lantas apa untungnya buat kita?" Potong Margaret lagi. "Kau ini memang anak yang tidak berguna!"

“Sudahlah,” Thomas beranjak dari kursi makannya. Terdengar decit kayu saat bebannya menekan kaki kursi tua itu. Lelaki paruh baya itu menghela napas pelan, menatap sisa roti di piring dengan pandangan kosong.

“Kita tidak perlu membicarakan hal itu lagi,” Ujarnya pelan, tapi suaranya mengandung nada letih yang dalam.

Margaret menunduk, jarinya meremas sapu tangan yang sudah lusuh di pangkuannya. Ia tahu betul, suaminya bukan marah—hanya terlalu lelah menanggung beban hidup yang terus menekan mereka tanpa jeda.

Sophia yang duduk di seberang meja terdiam. Ia menatap wajah kedua orang tuanya bergantian. Ada gurat sedih di sana, garis-garis kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang meski pagi baru dimulai. “Ayah…” Panggilnya lirih.

"Pikirkanlah bagaimana kau bisa membahagiakan kami, setidaknya masa depanmu sendiri!" Ungkap Thomas sesaat sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan ruang tamu. Ia lalu mengambil mantel lusuhnya yang tergantung di belakang pintu. Udara pagi masih lembap, dingin menempel di kulit.

"Kau dengar?!" Lanjut Margaret. "Melukis hanya membuang-buang waktumu saja, Sophia! Ayahmu hanya reparasi jam dan aku... hanya tukang jahit dan rajut baju panggilan. Itupun tidak setiap hari ada langganan yang berkunjung ke rumah, masih untung kau sarapan gandum setiap hari. Kalau tidak, kita pasti sudah mati kelaparan sejak kemarin-kemarin!"

Kata-kata itu menggema di ruangan kecil yang dindingnya sudah kusam dimakan waktu. Suara jam tua di ruang tamu berdetak pelan, seolah menghitung jeda di antara setiap kalimat yang menyakitkan itu.

Sophia menelan saliva. Tenggorokannya terasa kering, sementara matanya bergetar menahan perih. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Di dalam dadanya, sesuatu seperti batu besar menekan. Ia menunduk dan menatap roti gandum yang ia genggam.

“Melukis bukan hanya mimpi, Bu...” Suara Sophia nyaris tak terdengar. “Aku akan menjualnya lagi lalu—"

"Lalu kau membawa pulang lagi lukisanmu!" Potong Margaret, lagi dan lagi. Kali ini nadanya semakin meninggi. "Itu artinya, lukisanmu jelek!"

Kata “jelek” itu seperti pisau dingin yang menembus dada Sophia. Ia semakin menunduk, menatap jemarinya sendiri. Tidak! batinnya. Semua lukisan yang aku buat berharga, hanya saja aku belum menemukan calon pemilik yang tepat untuk lukisanku!

Sophia mengangguk pelan pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin membalaS kata-kata ibunya, tidak kali ini. Ia tahu, amarah Margaret lahir dari rasa lelah dan cemas, bukan dari kebencian.

Dengan gerakan perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap ke arah jendela yang membiaskan cahaya pagi ke dalam ruangan. Debu berterbangan di udara, menari di antara sinar matahari—seolah menggambarkan sisa-sisa harapannya yang belum sepenuhnya padam.

Sophia beranjak dari kursi, meletakkan sisa roti gandumnya di atas piring logam yang dingin. Ia menatap ibunya sejenak—ragu, namun tekad di matanya tak lagi bisa digoyahkan. “Maaf, Bu. Hari ini aku akan menjual lukisanku lagi. Aku pergi,” Ucapnya lirih, tapi tegas.

Tak ada jawaban. Hanya suara napas berat dan desis singkat yang keluar dari bibir Margaret. Perempuan itu tak menoleh. Margaret hanya duduk kaku di kursinya, wajahnya menegang menahan rasa yang tak bisa ia jelaskan—antara kecewa dan marah. “Terserah kau saja,” Gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Perlahan, Margaret lalu menarik piring ke arahnya. Ia melahap sisa roti gandum dengan kunyahan kasar, seolah ingin menelan amarahnya sendiri bersama setiap potongan yang masuk ke mulut. Namun di sela kunyahan itu, matanya berair—dan air mata yang jatuh ke piringnya itu sungguh tidak lagi bisa ia sembunyikan.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!