Apa jadinya jika dua orang sahabat memiliki perasaan yang sama, tapi sama-sama memilih untuk memendam perasaan itu daripada harus mengorbankan persahabatan mereka? Itulah yang saat ini dirasakan oleh dua orang sahabat, Bulan dan Bintang.
Bulan, sahabat sejak kecil seorang Bintang, menyukai pemuda itu sejak lama tapi perasaan itu tak pernah terungkap. Sementara Bintang, baru menyadari perasaannya terhadap gadis cantik itu setelah dirinya mengalami kecelakaan.
Keduanya terjebak dalam perasaan yang tak terungkap. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Keduanya hanya tahu bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tapi, akankah persahabatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih?
---------------------------------------------------------------------------
"Lo keras kepala banget! Lo gak tau apa gue khawatir, gue sayang sama lo." gumam gadis itu lirih, bahkan hampir tak terdengar.
"Lo ngomong apa tadi?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Desas-desus di sekolah
Pagi ini, Bulan dan Bintang sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Setelah sarapan, keduanya pun berangkat ke sekolah dan bersiap menghadapi hari ini.
Seperti biasa, Bulan mendorong kursi roda Bintang menuju ke sekolah. Angin yang berhembus membuat dedaunan jatuh dan mengenai mereka. Suasana pagi itu sangat segar dan nyaman bagi mereka untuk memulai aktivitas.
"Bintang, pulang sekolah mau ke rumah Bibi gue dulu gak? Semalam udah gue telpon, tapi nomornya gak aktif." Ujar Bulan di sela-sela keheningan.
"Oh, boleh-boleh. Thanks ya, dan sekali lagi maaf karena gue terus repotin lo." Ujar Bintang sembari menoleh sejenak ke arah Bulan.
"Gapapa kali, lo kan sahabat gue," ujar Bulan dengan senyuman manisnya.
Bintang tersenyum dengan anggukan singkat, ia pun kembali menoleh ke arah depan. Mereka pun berbincang-bincang santai sepanjang perjalanan, membahas tentang pelajaran mereka.
"Hmm Bintang, bentar ya? Gue beli roti dulu buat di sekolah nanti, kalo belinya pulang sekolah entar gak kebagian lagi kayak sebelumnya." Ujar Bulan tiba-tiba ketika berhenti di tepi jalan, tepatnya di sebuah kedai roti kecil.
"Iyaudah, gue ikut." Ujar Bintang.
"Lo mau beli roti juga?" Tanya Bulan.
Bintang hanya menanggapinya dengan anggukan singkat. Bulan pun tersenyum dan membelokkan kursi roda Bintang ke arah kedai itu. Mereka pun memesan roti yang mereka inginkan, setelahnya mereka pun membayarnya.
"Udah, pake uang gue aja." Ujar Bintang sembari menepis tangan Bulan yang hendak memberikan selembar uang kepada sang penjual.
"Ini uangnya, Pak. Kembaliannya ambil aja," ujar Bintang sebelum Bulan bisa berkata-kata.
"Alhamdulillah, rezeki pagi... Makasih ya nak," ujar pria paruh baya itu sembari mengucapkan syukur.
"Sama-sama, Pak." Ujar Bintang dengan seutas senyum sambil melajukan kursi rodanya menjauh dari kedai itu.
Bulan tersenyum melihat Bintang yang mulai kembali peduli kepada orang lain. Bulan merindukan sifat itu dari seorang Bintang, dan sekarang sifat itu perlahan kembali lagi pada diri sahabatnya itu.
"Thanks ya, pagi-pagi gue udah dapat traktiran." Ujar Bulan yang kini memegang pegangan kursi roda Bintang.
"Your welcome, sama-sama." Ujar Bintang lembut.
"Btw, lo kenapa pengen kerja? Bukannya uang di ATM lo itu udah lebih dari cukup?" Tanya Bulan penasaran.
"Ya, yang namanya uang bisa habis seiring penggunaan. Daripada uangnya habis gitu aja, lebih baik cari kerja sampingan." Jelas Bintang.
Bulan merasa takjub dengan pola pikir Bintang. Memang apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu sangat benar adanya. Tanpa kata lagi, mereka pun kembali melangkah menuju ke sekolah mereka.
Tibalah keduanya di depan gerbang sekolah, mereka pun langsung memasuki gedung sekolah itu. Terlihat jelas bahwa sekolah itu sudah mulai ramai dengan siswa-siswi yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Kalian tau gak sih? Katanya Reva sekarang pacaran sama Farhan lho. Bukannya kemarin sama Bintang?"
"Reva juga gadis normal kali. Dia pasti milih yang sempurna lah, lagian nih ya sekarang si Bintang itu udah lumpuh. Gue juga kalo jadi Reva bakal milih Farhan, udahlah ganteng kaya lagi."
"Haha, matre lo!"
Baru saja berbelok di koridor, Bulan dan Bintang bisa mendengar jelas tentang perbincangan tiga orang siswi membicarakan tentang hubungan Reva dan Farhan. Bukan hanya itu, mereka mendengar jelas bahwa tiga orang siswi itu membicarakan keadaan Bintang saat ini.
Bintang langsung mengepalkan tangannya, ia merasa kesal. Ia kesal bukan karena tiga siswi itu membicarakan dirinya, tapi ia kesal karena mengingat pengkhianatan Reva dengan temannya sendiri.
Sementara Bulan, ia langsung menatap tajam ke arah gadis-gadis itu. Ia sangat tidak suka mendengar perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut mereka.
"Heh! Mulut kalian itu dijaga! Gak punya hati banget!" Celetuk Bulan yang sedikit meninggi.
"Liat guys, ada pahlawan kesiangan yang selalu belain Bintang!" Ujar salah satu dari mereka sembari menyilangkan tangannya di atas dada.
"Haha, biarin lah. Mereka cocok kok. Yang satunya sok jagoan, yang satunya gak berguna!" Ujar gadis yang lain dengan nada menyindir.
Mereka pun tertawa bersama setelah mengeluarkan perkataan yang menyakitkan itu, jelas saja membuat tensi Bulan meningkat.
"Heh, kalian itu bener-bener ya!" Ujar Bulan meninggi dan melangkah maju, ia benar-benar kesal dengan mulut ketiganya yang berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Baru selangkah berjalan, Bintang langsung menangkap pergelangan tangan Bulan. Bulan yang terkejut langsung menoleh ke arahnya, terlihat jelas bahwa Bintang menggelengkan kepalanya, seakan melarang Bulan untuk menghadapi mereka.
"Gak usah ditanggepin, biarin aja. Emangnya lo mau masuk BK?" Ujar Bintang berusaha menenangkan.
"Tapi mereka bener-bener kelewatan, Bintang!" Ujar Bulan yang masih emosi.
"Gue tau lo kesal, gue tau lo marah. Gue cuma gak mau lo masuk BK, gak enak banget sumpah." Ujar Bintang yang belajar dari pengalamannya.
Bulan menghela nafas kasar, apa yang dikatakan oleh Bintang ada benarnya juga. Terlebih ini masih pagi hari, Bulan merasa tidak perlu menguras energinya untuk hal yang tidak perlu.
"Lo bener Bintang, thanks ya." Ujar Bulan yang hanya diangguki singkat oleh Bintang.
Tanpa kata lagi, mereka pun meninggalkan ketiga gadis itu di sana. Tak lupa, Bulan melontarkan tatapan tajam ke arah mereka sebelum berlalu pergi.
Mereka pun menyusuri koridor yang terasa panjang, tanpa perbincangan apapun, mengingat rasa kesalnya masing-masing. Hingga tibalah keduanya di dalam ruangan kelas. Tak banyak pasang mata yang tertuju pada mereka, setidaknya gosip itu belum menyebar kepada teman-teman sekelasnya. Mereka pun duduk di posisinya masing-masing.
"Gue tau perasaan lo saat ini, Bintang. Pastinya ini sakit banget buat lo. Terlebih lo baru aja putus sama Reva." Ujar Bulan peduli, meskipun ia merasa cemburu ketika menyebutkan nama gadis itu.
"Gapapa, setidaknya gue udah tau sifat asli mereka." Ujar Bintang dengan nada santainya.
Bulan tidak mengatakan apa-apa lagi, karena guru sudah memasuki kelas mereka dan siap untuk memulai mengajar hari ini.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Saat jam istirahat, Bulan dan Bintang memutuskan untuk duduk di taman sekolah dan menikmati waktu istirahat mereka. Mereka berhenti di sebuah pohon rindang yang menghadap langsung ke arah lapangan basket sekolah. Terlihat jelas bahwa ada beberapa murid yang menghabiskan waktu istirahat mereka untuk bermain basket di sana.
"Liat mereka main basket, gue jadi pengen main lagi. Tapi mau gimana, keadaan gue udah berbanding terbalik sekarang." Ujar Bintang sambil memperhatikan murid-murid di lapangan basket itu.
"Gue ngerti Bintang. Semangat ya, lo gak boleh nyerah dengan keadaan lo sekarang." Ujar Bulan yang juga memperhatikan ke arah lapangan basket.
Mendengar perkataan Bulan, Bintang pun langsung menoleh ke arahnya. Ia merasa tenang dengan perkataan sahabatnya itu. Ia merasa bahwa Bulan seperti pemandangan yang menyejukkan hatinya. Tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di bibirnya.
"Iya, thanks Bulan. Lo gak tau betapa berharganya kata-kata itu buat gue." Ujar Bintang pada akhirnya.
Bulan pun menoleh dengan seutas senyum. Ia baru menyadari bahwa ternyata Bintang sedari tadi menoleh ke arahnya. Manik mata mereka bertemu, membuat keduanya langsung mengalihkan pandangannya.
Bulan menoleh karena gugup, sementara Bintang ia merasa aneh dengan tatapan itu. Ia merasa tidak nyaman, tapi ia belum yakin karena apa. Suasana pun menjadi hening, karena tidak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya.
"Emang bener ya, Bintang sama Reva udah putus? Soalnya gue denger Reva sama Farhan sekarang."
"Manalah ku tau, aku mah gak kepoin urusan mereka."
Saat itu, tiba-tiba saja dua orang murid dari kelas lain berjalan di depan mereka. Mereka dengan santainya membicarakan hal itu, sepertinya mereka tidak menyadari bahwa Bulan dan Bintang sedang duduk di bawah pohon itu.
Mendengar hal itu, Bulan dan Bintang pun langsung menoleh ke arah keduanya. Gosip itu menyebar dengan cepatnya dan kini sudah menjadi topik utama di kalangan remaja di sekolah itu.
Wajar saja ketika desas-desus itu menyebar dengan cepat, pasalnya yang menjadi pusat perbincangan adalah si bintang sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan Reva.
Baru saja Bintang merasa sedikit lega, kini rasa kesal itu kembali menyeruak dalam hatinya. Bagaimana tidak? Orang yang disukainya dulu, kini justru berpaling dengan temannya sendiri.
Bintang merasa kesal, marah bahkan kecewa ketika mengingat pengkhianatan keduanya. Terlebih Bintang menyaksikan dan mendengarnya langsung dari mata dan telinganya sendiri.
"Untung aja gue tau sebelum gue melangkah lebih jauh," ujar Bintang tiba-tiba setelah dua murid itu menghilang dari pandangan.
"Begitulah hidup, Bintang. Yang namanya manusia, bisa saja mengecewakan kapan aja. Bukan karena jahat, tapi karena ia manusia." Ujar Bulan sambil meletakkan tangannya di atas pundak Bintang.
"Ya, ya... Gue gak kepikiran kesitu malah. Mana yang lo bilang bener banget lagi." Ujar Bintang dengan tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Haha, ambil sisi positif dan hikmahnya aja." Ujar Bulan kemudian.
Bintang tertawa kecil menanggapinya, berkat Bulan ia bisa memandang dengan sudut pandang yang berbeda. Semua yang terjadi pasti ada sebabnya, dan Bintang yakin bahwa fakta yang ia dapatkan ini karena Tuhan tidak ingin Bintang terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.
Saat itu, bel masuk pun berbunyi menandakan bahwa jam istirahat sudah berakhir. Bulan langsung berdiri dan langsung memegang pegangan kursi roda sahabatnya itu.
"Udah bel, yuk ke kelas!" Ajak Bulan yang diangguki singkat oleh pemuda itu.
"Ayo, pelajaran berikutnya menanti." Ujar Bintang dengan seutas senyum.
Bulan pun mendorong kursi roda itu kembali ke dalam kelas, ia merasa senang karena Bintang mulai ceria lagi. Meskipun masih sedikit, setidaknya Bintang yang ia kenal sudah kembali seperti dulu lagi.
^^^Bersambung...^^^
Hai bang/kak, aku lumayan suka sama Cerita Abang/kakak, karena penggunakan Kalimat Deskriptif yang baik serta Rasa Cinta yang Mulai Tumbuh Antara Bulan Dan Bintang
SARAN/PERBAIKAN:
novelnya Lumayan Bagus, Saya Suka, Tapi Alangkah Baiknya kakak/Abang tambahkan konflik eksternal pada karakter Bulan/bentang
REKOMENDASI :
Aku Punya Rekomendasi buat Kakak/Abang buat ngembangin Cerita ini, mungkin Kamu bisa bikin Konflik eksternal yang dihadapi Bulan/bintang, kayak misal-kan ada orang yg suka sama bulan/bintang dan dia gak suka kalau mereka berdua-duaan dan membuat Rencana untuk melakukan tindakan eksterem terhadap bulan/bintang atau mungkin orang itu terus bikin rencana supaya Bulan Dan Bintang Saling Benci untuk Eps selanjutnya...
PESAN :
Ingat ya! Jangan pernah menyerah Dalam Berkarya! aku tau karya ada yang rame dan ada yang tidak, tapi tetap pertahankan karyamu! jangan karena Ceritanya tidak populer, kamu berpikir bahwa kamu harus menyerah! TETAP SEMANGAT, DAN JANGAN MENYERAH, WALAU BADAI MENYERANG!