NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:969.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 7 - Penantian di Masjid

“Hape lo gue kunci, polanya gue samain kayak temen gue ya.” kata Ilham pada Gus Faiz.

“Apa saja tidak masalah.” kata Gus Faiz.

“Gue perhatiin kok lo ngomong, temen lo, temen lo mulu si, Ham? Emang lo punya temen selain kita?” tanya Akbar dengan nada mengejek.

“Punyalah, gue kan gak kuper-kuper amat.” kata Ilham

“Siapa emang, anak mana?” tanya Akbar.

Seperti biasa Gus Faiz lebih suka diam. Dia tak banyak menanggapi.

Meski Ilham sedang memasangkan kartu baru di ponsel Gus Faiz, namun, konsentrasinya tidak terpecahkan untuk menjawab pertanyaan Akbar.

“Yang pengen gue kenalin ke elo. Namanya Nindy.” kata Ilham.

“Cantik gak?” tanya Akbar.

“Cantiklah. Gue pengen banget kenalin dia ke kalian.” kata Ilham.

“Coba liat fotonya!” kata Akbar antusias.

Ilham mengeluarkan ponselnya lalu memberikan ponsel itu pada Ilham.

“Yang mana?” tanya Akbar.

Ilham mengambil ponselnya dengan paksa, lalu mencari foto Nindy di galerinya.

“Nih,” kata Ilham menyodorkan ponselnya pada Akbar.

Mendengar nama Nindy, Gus Faiz semakin tidak tertarik pada teman Ilham. Dia tak mau dijodoh-jodohkan ilhan dan dia tak mau menjalani hubungan dengan gadis manapun. Selain merasa masih muda dan belum bisa meminang seseorang, Gus Faiz tidak mau mengotori janjinya pada Umi.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Umi berpesan untuk tidak pacaran dan tidak berbuat macam-macam yang negatif selama di pesantren atau di Jakarta. Apalagi kehidupan di Jakarta pasti berbeda dengan di Jawa. Lebih banyak jalan godaan untuk menjadi pribadi buruk di kota ini.

Untunglah Gus Faiz bisa menjaga diri.

“Wih, cantik banget asli. Masih SMP ya? Beda berapa tahun sama kita?” tanya Akbar.

“Lo giliran cewek cakep aja dah langsung.” kata Ilham.

Akbar terkikik mendengar jawaban Ilham.

“Beda tiga tahun sama kita. Tapi dia sedikit istimewa.” kata Ilham.

“Istimewa gimana maksud lu? Dia ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)?” tanya Akbar.

“Bukan, dia cuma lagi di masa-masa sulitnya dia. Gue kadang takut dia bisa depresi.” kata Ilham.

“Lho, kenapa?” tanya Akbar.

“Gue gak bisa cerita, karena gue gak mau buka aib dia. Kapan-kapan ketemu yak sama dia.” kata Ilham.

“Tapi kayaknya di foto happy-happy aja, Ham.” kata Akbar.

“Lo mau liat fotonya, Is?” tanya Akbar

“Tidak.” kata Gus Faiz.

Akbar tahu, sekali Gus Faiz mengatakan tidak, dia akan percuma kalau masih berusaha meembujuknya.

“Tapi bener, Ham. Kayaknya ni anak ceria-ceria aja.” kata Akbar lagi.

“Yang diperlihatkan foto itu hanya gambar bukan hati.” celetuk Gus Faiz.

Mendengar cerita Ilham, Gus Faiz kembali memikirkan Gadis Tirai. Gus Faiz mencoba menghilangkan pikirannya tentang Gadis Tirai namun sepertinya tidak bisa, dia terus beristighfar dalam hati.

“Hahahahaha boleh juga kata-kata lo. Ngutip di mana, Is?” tanya Ilham.

Gus Faiz mengangkat bahu.

“Yeu, dia mah emang pinter. Emang elo, ngomong aja kudu ngutip kata-kata orang.” kata Akbar.

“Kita memang hidup dalam ruang kutipan, Bar.” kata Gus Faiz.

“Maksudnya?” tanya Akbar.

“Iya, sebetulnya apapun yang kita katakan itu sudah pernah di katakan oleh orang terdahulu. Jadi, kita memang hidup di dalam ruang kutipan, hanya mengulang kata atau kalimat yang sudah pernah ada sebelumnya.” kata Gus Faiz.

“Bener juga kata lo, Is.” kata Ilham.

“Berat-berat.” kata Akbar.

“Nih, Is. Gue udah save nomor kita. Gue udah download-in juga WA biar lo lebih gampang ngechat kita.” kata Ilham.

“Boleh saya minta tolong satu hal lagi?” tanya Gus Faiz.

“Apa?” tanya Ilham.

“Tolong unduh aplikasi untuk membaca novel.” kata Gus Faiz.

“Hahahahaha.” Akbar dan Ilham tertawa. Mereka memandang permintaan Gus Faiz sesuatu yang sangat lucu.

Gus Faiz menatap mereka berdua bergantian. Tiba-tiba Akbar berhenti tertawa.

“Eh, ada cewek yang rambutnya kayak tirai tuh, Is!” seru Akbar.

Akbar tidak bohong. Dia melihat seorang gadis berambut seperti tirai. Dengan cepat Gus Faiz menghampiri gadis itu, dia melupakan permintaannya untuk mengunduh aplikasi novel online pada teman-temannya.

“Permisi.” panggil Gus Faiz.

Gadis itu menoleh. Seketika saat melihat wajah Gus Faiz, gadis itu tersenyum memuja. Gus Faiz sangat tidak nyaman.

Gus Faiz belum bisa mngeidetifikasi gadis ini karena Gus Faiz tidak pernah melihat wajah gadis itu, dan dia hanya bisa mengenali suara. Gus Faiz memutar otak agar gadis di depannya ini bisa mengeluarkan suara. Namun, dia kebingungan harus berkata apa.

Gus Faiz tidak pernah mengobrol dengan perempuan selain Umi, Ibunya.

“Mbak, lo ke sini gak tadi?” Akbar yang mengerti situasi langsung membantu Gus Faiz.

“Saya baru ke sini, ada apa ya?” tanya gadis itu.

Akbar dan Ilham menoleh pada Gus Faiz, lewat tatapan mereka, mereka bertanya, “Gimana?”

“Bukan.” kata Gus Faiz.

“Sorry, Mbak. Salah orang.” kata Ilham.

Mereka bertiga kembali lagi. Gus Faiz sedikit merasa sedih. Dia merasa dilema, di satu sisi dia harus menemukan gadis itu namun di sisi lain dia harus segera ke pondok. Bagaimana kalau sampai sore gadis itu tidak juga datang?

Azan Asarpun berkumandang, mereka bergegas masuk ke dalam Masjid, mengambil air wudu dan menunggu melaksanakan salat berjamaah.

“Duh, Imamnya mana ya?” tanya seorang bapak-bapak.

“Bapak aja, Pak. Yang jadi Imam.” kata Ilham.

“Waduh, saya nggak berani.” kata Sang Bapak.

“Ini, temen saya aja, Pak. Dari pesantren.” kata Akbar.

Akhirnya semua orang meminta Gus Faiz untuk menjadi imam. Gue Faizpun setuju. Laki-laki di samping Ilham berikamah. Merekapun melaksanakan salat dengan khusyuk.

Gue yakin cuma lo yang bisa bawa temen gue ke jalan yang bener, Is. – batin Ilham

Setelah selesai berdoa, mereka kembali keluar Masjid.

“Bagus juga suara lo, Is.” kata Ilham.

“Iyalah bagus emang kayak elo.” kata Akbar.

“Ah, lo juga gak bisa.” kata Ilham.

Gus Faiz masih meluruskan pandangan. Mencari si gadis yang diam-diam tanpa disadari sudah mencuri perhatiannya.

“Lo balik ke pesantren jam berapa, Is?” tanya Akbar.

“Harusnya jam 4 saya harus sudah jalan. Agar sampai pesantren tidak lebih dari jam 5.” kata Gus Faiz.

“Lo nggak bisa apa, izin sehari apa dua hari lagi gitu buat keluar?” tanya Akbar.

“Kagalah kocak. Lo kira tuh pesantren punya nenek-moyang lo.” kata Ilham.

Gus Faiz tertawa. “Banyak kegiatan yang tidak bisa saya tinggal di pesantren.” katanya.

“Kata temen gue kalo masuk pesantren udah kayak masuk penjara, Is. Bener gak?” tanya Akbar.

Ilham terlihat antusias dengan pertanyaan Akbar, memikirkan Linda yang akan masuk pesantren membuat dia ingin mengerti sedikit banyak mengetahui tentang pesantren. Diapun memasang terlinga mendengarkan jawaban Gus Faiz.

“Teman kamu belum pernah masuk pesantren bukan?” tanya Gus Faiz.

Akbar mengangguk mantap.

“Sebetulnya, pesantren itu bukan tempat menyeramkan. Justru pesantren itu tempat paling menyenangkan untuk belajar. Karena di pesantren kita bisa fokus belajar. Dan untuk kata penjara yang dimaksud teman kamu, mungkin tingkat kedisiplinannya, di pesantren kami harus disiplin dan harus menaati peraturan. Tapi, bukankah di manapun kita berada akan selalu ada peraturan?” kata Gus Faiz menjelaskan.

“Katanya ada hukuman-hukumannya ya? Ngeri dah gue.” kata Ilham.

“Di sekolah, saat kamu tidak menaati peraturan seperti terlambat datang, kamu akan dapat hukuman bukan?” tanya Gus Faiz.

“Iya, Is.” kata Ilham.

“Di pesantrenpun sama. Kami juga punya peraturan sendiri. Jadi, selama kita tidak melanggar peraturan kita tidak akan dapat hukuman. Jujur, saya tidak setuju saat ada yang menyamakan antara penjara dengan pesantren. Dua hal ini jelas berbeda, penjara tempat menjalani hukuman setelah berbuat kejahatan sedangkan pesantren tempat mencari ilmu.” Kata Gus Faiz.

Ilham dan Akbar mengangguk setuju dan mengerti.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!