Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Mungkin ini adalah awal dari hari-hari sialnya. Diandra yang tak pernah melakukan pekerjaan berat selama ini, kini harus bekerja di bawah tekanan. Diandra yang tak pernah berpikir akan ada hari seperti ini, kini ia benar-benar harus menjalaninya.
Tiga bulan bukan waktu yang singkat. Entah apa yang akan terjadi pada perusahaan itu tiga bulan ke depannya. Bisa saja ia meminta ayahnya untuk membantunya. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa berhubungan dengan keluarganya dulu.
Menjadi Office Girl memang tak mudah baginya. Banyak yang belum ia ketahui. Ia harus siap sedia siapapun yang membutuhkan bantuannya. Untuk saat ini, ia hanya bisa bersabar dan berharap tiga bulan itu segera berakhir. Entah nantinya ia akan keluar setelahnya atau tetap bertahan di sana. Karena untuk saat ini ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.
Waktu istirahat siang hampir usai. Diandra bahkan tak menyentuh makan siangnya sama sekali. Ia hanya duduk diam di kursinya sambil memperhatikan para karyawan yang juga makan siang di kantin kantor itu. Diandra tak berselera untuk makan. Baru setengah hari ia bekerja di perusahaan itu, ia merasa tak kuat untuk menjalaninya. Diandra menopang dagunya dengan tangan kanannya. Menghela napasnya berkali-kali.
"Huft... Dasar pria menyebalkan!" gumam Diandra. Ia memanyunkan bibirnya.
"Diandra, kalau sudah selesai makan siang segera menyusul ya. Hari ini kita sibuk banget," ucap Kinara. Diandra mengangguk.
"Iya, kamu duluan saja," balas Diandra. Kinara tersenyum lalu pergi meninggalkan Diandra di sana. Tak lama setelah itu, Diandra menyusul Kinara.
Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap meja-meja yang kotor bahkan hingga membelikan beberapa makanan untuk karyawan telah Diandra lalui hari ini. Baru satu hari saja rasanya berat sekali. Lelah, namun Diandra tak mengeluh.
Tanpa terasa, pekerjaan hari ini telah selesai ia lalui. Setelah berganti pakaian, Diandra segera mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
"Di, kita duluan ya..." ucap teman-teman satu kerjaannya. Diandra mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Kamu kenapa? Kok pucat? Kamu sakit?" tanya Kinara.
"Nggak apa-apa. Aku hanya lelah saja. Baru pertama kali kerja, hehe," balas Diandra.
"Oh... Semangat ya.. Kamu pasti bisa kok," ujar Kinara menyemangati Diandra. Ia bersyukur, setidaknya ada yang peduli dengannya kali ini.
***
Kini, Diandra hampir sampai di apartemennya. Ia terlihat lemas karena tadi belum sempat makan siang. Dan saat perjalanan pulang, Diandra malas jika harus membeli makanan terlebih dahulu.
Langkahnya terhenti tepat di dekat pintu apartemennya. Ia melihat dua sosok wanita yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
"Bunda..." ucap Diandra. Ya, mereka adalah Jiana dan Jean. Yang tengah menunggu kedatangan Diandra.
Diandra langsung memeluk Jiana. Ia sangat-sangat merindukan wanita itu. Sejak kabur dari rumahnya, Diandra sama sekali tak kontak dengan ibunya.
"Diandra kangen sama Bunda..." gumam Diandra. Jiana pun merasakan hal yang sama. Baru kali ini ia benar-benar mendapat izin dari suaminya untuk menemui putrinya. Jean juga merasa senang dengan kedatangan Jiana.
Diandra membuka apartemennya dan menyuruh Jiana masuk ke dalam. Sedangkan Jean mengambil alih barang-barang yang dibawa Jiana.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Jiana. Saat ini mereka tengah duduk di ruang tamu sekaligus merangkap menjadi ruang keluarga.
"Diandra baik-baik saja Bun... Bunda jangan khawatir ya," balas Diandra.
"Kau tidak pulang dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana mungkin Bunda tidak khawatir padamu. Sayang, jangan mempersulit dirimu sendiri," ujar Jiana dengan sedih. Diandra tersenyum tipis. Tangannya tergerak menyentuh punggung tangan Jiana.
"Diandra pasti akan pulang Bun... Tapi tidak untuk sekarang," balas Diandra.
***
Selesai rapat, Kevin meminta Mark untuk menyiapkan tempat khusus untuknya makan malam bersama Kanaya. Ia tidak ingin terburu-buru kali ini. Kevin akan mengejar Kanaya dari awal lagi.
"Tuan muda, apa Anda menginginkan hal lainnya? Persiapannya sudah selesai," ucap Mark.
"Tidak Mark. Kau pulanglah! Kali ini aku akan menjemput Naya secara pribadi," ucap Kevin. Mark mengangguk patuh dan segera keluar dari mobil tersebut. Kevin mengambil alih kemudinya dan melajukannya menuju apartemen Kanaya.
Sesampainya di apartemen Kanaya, dengan langkah penuh percaya diri, Kevin menghampirinya. Meskipun nantinya Kanaya akan menolaknya lagi, ia tidak akan berhenti begitu saja. Baginya, tak ada wanita lain yang bisa meluluhkan hatinya selain Kanaya.
Saat Kevin ingin mengetuk pintunya, Kanaya lebih dulu membukanya. Kanaya terkejut dengan kedatangan Kevin malam itu. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Kamu... Mau ke mana?" tanya Kevin yang menatap Kanaya dari atas hingga bawah. Sangat rapi dan cantik.
"Kenapa kamu ada di sini?" Bukan menjawab justru Kanaya bertanya balik padanya.
"Aku mau..."
"Maaf, aku terlambat. Apa kamu sudah siap?" Sela Aldo yang berjalan menghampiri mereka. Kevin langsung menatap pria itu dengan tajam. Tangannya mengepal dengan kuat. Tatapannya begitu menyiratkan bahwa ia tidak suka dengan kehadiran Aldo. Kanaya menatap Kevin sekilas lalu menghampiri Aldo.
"Ayo kita pergi," ucap Kanaya. Kevin masih terdiam di tempatnya. Begitu marahnya dirinya karena Kanaya pergi dengan laki-laki lain.
"Kau boleh bermain dengan pria lain sesukamu Nay. Tapi, aku akan pastikan dia hidup menderita karena sudah berani menggodamu," gumam Kevin. Ia pergi dari sana dengan penuh amarah.
*
*
*
Sudah larut malam tapi Diandra masih enggan untuk pulang. Setelah kepergian Jiana tadi, Diandra langsung keluar untuk menenangkan dirinya. Menyegarkan pikirannya yang sedikit kacau. Apalagi, ia harus bekerja begitu beratnya dan itu sungguh menyulitkan baginya.
Setelah puas menikmati malam yang begitu sejuk itu, Diandra bergegas untuk kembali. Diandra meninggalkan kafe yang beberapa jam yang lalu ia tempati. Diandra sengaja berjalan kaki menuju apartemennya. Ingin menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya. Yang seolah membawa pergi beban dalam hidupnya.
"Damai sekali rasanya seperti ini. Seperti tak punya beban dalam hidup ini," gumam Diandra sambil memejamkan matanya sejenak. Ia merentangkan kedua tangannya dan berdiri di pinggir jalan raya. Sungguh, ia baru menyadari bahwa angin malam yang menerpa dirinya begitu menentramkan perasaannya.
Diandra kembali melangkah. Ia buru-buru pulang karena Jean sudah rewel dan mulai mengganggunya. Diandra mempercepat langkahnya agar segera sampai. Karena keadaan sekitarnya yang mulai sepi dan tak baik baginya juga.
Tiiiiiinnnn
"Aaahhhh" Pekik Diandra.
Braakkk
Diandra begitu terkejut saat sebuah mobil hampir menghantam dirinya yang sedang asik berjalan. Jantungnya berdegub kencang dan tubuhnya seketika lemas. Diandra mengusap dadanya dan berusaha menelan salivanya. Jika ia tidak cepat menghindar, entah apa yang terjadi padanya.
"Sialan! Bagaimana bisa orang itu mengendarai mobilnya dengan begitu sombongnya," gumam Diandra. Ia menatap mobil mewah berwarna hitam itu yang saat ini menabrak pohon. Diandra menghampiri orang yang mengemudikan mobil tersebut.
"Hei! Keluar kamu! Kalau ingin mati jangan ajak-ajak orang dong! Kau pikir nyawaku tidak berharga!" umpat Diandra dengan kesal. Ia mengetuk kaca mobil tersebut dengan keras.
"Apa kau tuli? Keluarlah jika kau berani!" Sekali lagi Diandra berteriak. Karena tak ada respon dari pemilik mobil itu.
Beberapa saat kemudian, kaca pintu mobil itu terbuka. Diandra tersenyum sinis. Ia tidak akan melepaskan orang yang hampir merenggut nyawanya tadi. Orang tersebut terlihat lemah. Bau alkohol yang pekat tak dapat Diandra hindarkan dari penciumannya. Pantas saja hampir menabrak dirinya. Pengemudi itu sedang mabuk berat dan kesadarannya kian berkurang.
Diandra memberanikan diri untuk melihat siapa pria itu. Perlahan, Diandra membalikkan tubuh pria itu. Agar ia dapat melihat dengan jelas siapa pengemudi itu.
"Pak Kevin," gumam Diandra lalu membungkam mulutnya serasa tak percaya. Diandra melihat darah bercucuran dari dahi Kevin. Diandra kini panik dan tak tahu harus berbuat apa. Lokasi yang sepi membuatnya bingung untuk meminta bantuan.
Akhirnya, Diandra menghubungi Jean agar menyusulnya. Diandra membuka pintu mobil tersebut dan berusaha mengeluarkan Kevin dari mobil tersebut. Susah payah, akhirnya berhasil mengeluarkan Kevin dari mobil.
"Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa dalam keadaan mabuk seperti ini masih mengendarai mobil sendiri? Untungnya tidak terlalu parah," gumam Diandra. Ia duduk di tepi jalan sambil menunggu Jean.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" Jean langsung memeriksa tubuh Diandra. Memastikan jika Diandra baik-baik saja.
"Jean, aku baik-baik saja. Tapi dia terluka. Bagaimanapun dia adalah bosku. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian seperti ini," ucap Diandra sambil menatap Kevin dengan iba.
"Kalau begitu saya akan menghubungi rumah sakit agar bisa segera merawatnya," ujar Jean. Ia mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi pihak rumah sakit.
"Tunggu! Bawa saja ke apartemen kita dulu. Kau bisa menghubungi dokter Zia untuk memeriksanya nanti," ucap Diandra. Jean mengangguk patuh.