Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Assalamualaikum Readers semuanya, novel Kekasih Halal mohon dukungannya yah dengan cara like (tekan tombol icon jempol di bawah, jangan lupa icon love juga biar selalu tahu jadwal updatenya), komen (kritik, saran, kesan boleh banget😘), dan Vote. Terimakasih ya😘😘
☘️Selamat membaca☘️
Aku sedikit lega mendengar tentang kebaikan Mas Gagah, aku segera ke kamarnya untuk menyiapkan baju kerjanya dan keperluan lainnya.
Saat aku memasuki kamarnya, aku tidak melihat Mas Gagah tidur di ranjangnya, tapi terdengar percikan air di kamar mandinya, aku tetap fokus memilihkan kemeja dan jas yang cocok untuk Mas Gagah berikut dengan dasi juga sepatunya, aku sudah di beritahu sebelumnya oleh Bi Asih dimana semua letak perlengkapan Mas Gagah.
Setelah aku mendapatkan semua yang cocok, aku meletakannya di atas kasur. Berbarengan dengan pintu kamar mandi terbuka, aku tidak sengaja langsung melihat kearah pintu kamar mandi, Mas Gagah berdiri menggunakan handuk kimononya dengan rambutnya yang terlihat masih basah. Aku segera mengalihkan pandanganku.
“Sudah saya siapkan semua ini Mas, saya permisi keluar dulu,” ucapku menggunakan bahasa yang cukup formal. Aku terburu-buru hendak keluar kamar.
“ Tunggu.” Seketika aku menghentikan langkahku.
“Kamu anaknya Bi Fatimah ya?” terdengar suara langkah kaki menghampiriku. Aku hanya mengangguk sambil terus menunduk.
“Siapa namamu?” Mas Gagah kini sudah ada disebelahku, aku tiba-tiba tergugup karena penampilan Mas Gagah yang hanya menggunakan handuk kimono.
“ Inayah,” jawabku singkat.
“Terimakasih ya Nay.” Aku bingung kenapa Mas Gagah mengucapkan terimakasih padaku, menyiapkan bajunya bukankah ini sudah pekerjaanku. Aku kembali menjawabnya dengan anggukan.
“ Terimakasih sudah menolong Mas semalam, Mas bisa tertidur saat mendengar suaramu mengaji.”
Aku baru faham ucapan terimakasih itu untuk kejadian dini hari tadi. Mas Gagah lalu menanyakan tentang berapa umurku, aku sekolah dimana, dan menanyakan juga kenapa aku mau bekerja menggantikan Ibuku, akupun menjawab seadanya dan sebenar-benarnya.
Mas Gagah juga memberitahuku agar aku jangan takut padanya, baginya aku adalah anak di bawah umur, Mas Gagah tidak akan macam-macam denganku.
Aku berdecak kesal, enak saja aku sudah mempunyai KTP, sudah beranjak dewasa malah dikatai anak di bawah umur, apa karena badan mungilku ini.
Tapi benar kata Bi Asih, Mas Gagah ramah namun cukup menyebalkan. Mas Gagah juga memberitahuku agar aku menggunakan bahasa biasa saja jangan terlalu formal.
Aku keluar dari kamar Mas Gagah lalu menyiapkan sarapan untuknya yang sudah dimasak oleh Bi Asih. Aku berfikir dengan memperkerjakanku disini sebenarnya sangatlah rugi untuk Mas Gagah, kenapa Mas Gagah tidak menikah saja, semua bisa di lakukan tanpa membayar begitu banyak asisten rumah tangga, ah orang kaya mah bebas.
Aku mendengar langkah kaki mendekati meja makan, Mas Gagah duduk di salah satu kursi, aku meliriknya sebentar, MasyaAllah benar-benar Gagah batinku, tapi segera aku tepis dari fikiranku. Selesai menyiapkan semua sarapan dimeja makan aku yang hendak pergi dicegah oleh Mas Gagah.
“Temani Mas makan, Mas tidak suka makan sendirian.”
Aku langsung ikut duduk disalah satu kursi.
“Apa Ibuku juga setiap pagi menemani makan di sini?” tanyaku penasaran.
“Tentu saja,” jawabnya dibarengi dengan anggukan.
“Makanlah,” Sambungnya lagi. Aku langung menggeleng walaupun sebenarnya perutku sudah kerocongan dari sejak subuh tadi.
“Tidak usah malu-malu.” Mas Gagah menyunggingkan senyumnya, senyuman yang membuatnya semakin gagah di mataku.
“Baiklah.” Tanpa malu aku langsung menyendokan nasi dan lauk pauk lalu ikut sarapan dengan Mas Gagah. Mas Gagah bercerita sedikit jika Ibuku juga selalu menemaninya makan. Mas Gagah sudah menganggap Ibuku seperti Ibunya sendiri.
“Mas jika baju yang ku pilihkan tidak sesuai dengan keinginanmu katakan saja ya!” ini hari pertamaku bekerja aku takut jika Mas Gagah kurang suka dengan pilihanku.
“Hemm …” Mas Gagah melihat sekilas penampilannnya.
“Ini sudah oke.”
Aku lega karena Mas Gagah cocok dengan baju yang aku pilihkan.
Selesai sarapan aku membawa piring dan gelas kotor ke westafel dan merapikan kembali meja makan.
Sebelum berangkat ke kantor Mas Gagah berpesan agar nanti aku mengantarkan makan siangnya ke kantornya. Mas Gagah memberitahuku bahwa ia jarang makan diluar, ia lebih senang makan makanan rumahan.
Mas Gagah menuliskan alamat kantornya, ia menyuruhku menggunakan ojek online untuk pergi ke kantornya. Aku hanya mengiyakan, Mas Gagah lalu pergi ke kantor tanpa memberi salam, aku mengerucutkan bibirku, aku penasaran sebenarnya Mas Gagah ini muslim bukan sih, kenapa tidak memberi salam saat keluar rumah.
Aku pergi ke kamar Mas Gagah merapikan tempat tidurnya, mengganti spreinya, selimut serta sarung bantalnya, mengganti sprei harus dilakukan setiap hari, tugasku juga merapikan yang berantakan dikamarnya.
Aku membersihkan meja kerjanya menggunakan kemoceng, aku melihat ada foto Mas Gagah dengan seorang wanita yang sedang dirangkulnya, aku menebak kemungkinan besar itu pacarnya, menurutku sangat cantik dan sexy.
***
Waktu sudah mendekati Dzuhur, aku dan Bi Asih segera menyiapkan makan siang untuk Mas Gagah, dan seperti perintahnya aku mengantarkannya menggunakan ojek online yang sudah dipesan oleh Bi Asih dengan dibekali uang oleh Bi Asih juga.
Aku baru melihat Ibukota saat siang hari, ternyata macet dan penuh polusi. Walaupun pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi terasa sangat bagus bagiku, tapi jika melihat keramaian, kemacetan dan polusinya aku memilih kampung halamanku yang udaranya masih bersih dan tidak macet seperti ini.
Akhirnya aku sampai juga dikantor Mas Gagah, aku hanya menitipkan makanan itu pada resepsionis lalu aku kembali lagi menaiki ojek online yang sama.
Begitulah pekerjaanku sampai malam, menyiapkan makan malam, menyiapkan piyama tidur di atas kasur Mas Gagah, persis seperti seorang istri yang menyiapkan semua keperluan suaminya. Aku berharap Mas Gagah cepat menikah agar ada yang menyiapkan semuanya dan aku bisa secepatnya juga pulang kampung.
menurut ku ya thor 🤭✌