NovelToon NovelToon
Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:952k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.

Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.

Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.

Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.

Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?

Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?

Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Sepasang netraku terkunci oleh netra milik Ryu. Entah apa yang ada dalam fikirannya, yang jelas aku sendiri sangat terkejut dengan apa yang barusan ku dengar.

Nggak habis fikir kalau bibik senekad itu demi untuk kepentingannya sendiri. Dan kemungkinan besar juga supaya hutang-hutangku lunas.

Benar-benar tega, mau menikahkan keponakannya dengan pria yang justru lebih cocok menikah dengan dirinya.

"Jadi kamu mau di nikahkan dengan pria tua itu?" Tanya Ryu spontan.

"A-aku nggak tahu" Aku tertunduk. Ada rasa malu sebenarnya.

"Nggak tahu?" Ulangnya. Entah ekspresi apa yang ada di wajah Ryu saat ini. "Kalau kamu nggak mau" Tambahnya membuatku mendongak, kemudian langsung menjatuhkan irisku di matanya "Ngomong aja, jangan menuruti apa yang nggak ingin kamu lakukan. Jadi wanita itu harus berani speak up, kasarannya berontak. Asal kita ada di pihak yang benar"

Hening... Aku nggak tahu harus merespon apa. Pikiraku jauh memikirkan takdirku yang sepertinya tak pernah bahagia semenjak ayah mengkhianati ibu dan memilih pergi.

Lelah, benar-benar lelah.

"Naina!" Panggilnya.

Karena sorot mataku kosong, aku sampai tersentak dengan panggilannya.

"I-iya!"

Pria itu mengangkat salah satu alisnya kemudian berucap.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa" Jawabku. "Mari masuk" Tambahku melangkah lebih dulu.

*****

Satu minggu sudah berlalu, tapi makin kesini hidupku kian berantakan, aku tertekan, tapi juga tidak bisa berbuat apapun. Bibi Siti terus memaksaku menikah dengan pria tua itu sementara jika ku tolak, pria itu akan mengambil sertifikat rumah bibi dan bibi mengancamku akan melaporkanku ke polisi.

Akhirnya dengan berat hati aku terpaksa menyetujui permintaan bibi, sebab aku nggak mau jika harus berada di balik jeruji. Aku tidak sekuat itu untuk menjadi penghuni penjara.

Menatap diri di balik cermin, aku mengasihani nasibku sendiri. Miris dan sangat memprihatinkan.

"Semua gara-gara ayah, karena pria laknat itu ibu sampai sakit-sakitan. Karena kamu hidupku terlunta-lunta"

"Ayah, aku harap hidupmu lebih miris dari pada aku. Aku berharap tidak akan pernah bertemu denganmu sampai hidupku berakhir"

Aku bermonolog sambil terus menatap wajahku di cermin.

Wajah cantik tapi penuh tekanan batin.

Untuk sesaat aku jadi berfikir kalau semua hal baik yang sudah aku lakukan, termasuk perintah menutup aurat itu sia-sia. Nggak ada hikmah yang ku dapat, yang ada cobaan dan cobaan yang terus menghampiriku silih berganti.

"Pakai ini" Entah dari mana datangnya, tiba-tiba bibi memberiku sebuah kebaya pengantin berwarna putih. "Pernikahan di laksanakan besok pagi, jangan menungguku memerintahkanmu, sebelum jam tujuh kamu harus sudah siap. Nanti Rosa akan membantumu mempersiapkan segalanya" Ucapnya tanpa jeda.

"Jangan hanya diam saja, harusnya kamu senang karena kamu akan menikah dengan pria kaya"

"Apa nggak ada cara lain selain menikah dengannya, bi?" Tanyaku mencoba bernegoisasi.

"Cara lain?" Desisnya dengan senyum miring, seakan mengejek. "Coba kamu berhasil pinjam uang ke teman ibumu, kamu boleh tidak menikah dengan pak Hamzah"

"Kami baru saja bertemu, mana mungkin aku pinjam uang sebanyak itu, bi"

"Nah, kalau gitu jangan salahkan aku dong. Kamu sendiri yang nggak bisa menolong diri kamu sindiri"

"Tapi bi, setidaknya beri aku waktu, ini belum dua bulan seperti yang di janjikan"

"Tapi pak Hamzah punya tawaran lain. Jadi jangan protes ke aku, protes tuh sama pak Hamzah" Ketusnya lalu beranjak pergi.

Aku menatap punggung bik Siti yang melangkah keluar dari kamarku.

Mendesah pelan, ku pejamkan mata berharap ini semua hanya mimpi dan aku segera bangun dari mimpi ini. Tapi bukan, ini nyata, ada di depan mata.

"Jangan menuruti apa yang nggak ingin kamu lakukan" Mendadak kalimat itu terlintas di kepalaku. "Jadi wanita itu harus berani speak up, kasarannya berontak. Asal kita ada di pihak yang benar"

Betul apa kata Ryu, aku harus berontak, bagaimanapun caranya.

Mengerutkan bibir, ku tatap pintu kamar yang tertutup rapat, mencari ide supaya bisa keluar dari rumah ini.

Sekian menit berlalu, tanpa pikir panjang aku bergegas meraih koper kemudian membuka lemari pakaian.

"Aku nggak mau melakukan apa yang bukan menjadi keinginanku" Dengan gerakan cepat aku memasukkan baju-bajuku ke dalam koper kecil berwarna ungu. "Aku harus pergi dari sini. Dan besok pagi aku harus bisa keluar dari rumah ini" Aku melirik ke arah daun pintu sambil terus bergumam lirih.

"Jangan sampai bibi dan Rosa tahu kalau aku berniat pergi"

"Maaf paman Haryo, karena aku, istri dan anak paman kesulitan"

Paman Haryo adalah adik ibuku, dan bik Siti adalah istrinya, sementara Rosa adalah putri satu-satunya. Beliau sudah meninggal karena kecelakaan.

Selesai memasukkan semua bajuku, aku menyembunyikan koper di dalam lemari.

"Semoga saja bibi nggak ke kamar malam ini" Ku usap keringat di kening menggunakan punggung tanganku sebelum kemudian berkacak pinggang.

Entah kemana kaki ini akan melangkah besok, aku benar-benar tidak memiliki tujuan___

***

Tepat pukul empat pagi aku mengendap-endap keluar dari rumah supaya bibi dan Rosa tak mendengar langkahku.

Mereka biasanya bangun setelah pukul lima, tapi kemungkinan besar hari ini akan bangun lebih awal karena ada pernikahan.

Setelah berhasil keluar dari rumah, ku lebarkan langkahku menuju jalan raya.

Sambil menunggu mendapatkan tumpangan, aku terus berjalan ke arah terminal. Dari terminal aku akan langsung ke stasiun kereta.

Aku sudah memutuskan akan ke Surabaya, tapi bukan rumah bu Arimbi tujuanku. Jelas aku tak enak hati jika harus menumpang di rumahnya, apalagi ada suami serta anak laki-laki bu Arimbi yang tingkat kepercayaan dirinya melampaui batas.

Tidak..

Sekitar lima menit kemudian, aku menghentikan sebuah mobil pick up,

Memang di jam seperti ini banyak pedagang sayuran yang hendak pergi ke pasar.

"Boleh saya ikut sampai ke terminal, pak?" Ucapku penuh harap. Setelah mobil berhenti tentunya.

"Lah mbaknya ajeng pundi ta?"

"Saya mau ke stasiun, pak"

"Kebetulan saya juga mau kesana antar barang. Tapi maaf yo, duduknya di belakang"

"Nggeh, pak. Nggak apa-apa"

***

Matahari semakin naik sementara cahayanya mampu menyinari belahan bumi. Aku yakin saat ini bibik dan Rosa sedang kelimpungan mencariku karena sekarang aku sudah berada di kota Surabaya.

Jika ponselku menyala, sudah pasti aku menerima banyak panggilan. Tapi aku sengaja mematikannya supaya mereka tidak bisa menghubungiku.

GPS juga sudah ku non aktifkan agar keberadaanku tidak bisa terlacak.

"Maaf bi, aku pasti akan datang jika uangku sudah cukup untuk bayar hutang"

Mendengkus lirih, aku kembali bergumam. "Kamu memang nggak tahu diri Naina. Kamu meninggalkan pernikahan yang sudah kamu sepakati"

Dan tiba-tiba saja ada sosok yang menghampiriku.

"Naina!"

Dia tidak sendiri, ada seorang pria yang menemaninya dengan menenteng barang belanjaan. Aku yakin kalau itu pak Bima, suaminya.

"Bu Arimbi" Dari raut wajahnya tampak sekali kalau beliau tengah keheranan, apalagi setelah sepasang matanya melirik ke arah koper yang ada di sisi kiriku.

"Kamu mau kemana bawa koper?"

Bersambung

1
Mira Rista
🤣🤣😍😍😍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Omah Tien
kalau aku g mau ks galain jg
sherly
ya ampun gemessssnya Ama pasangan inilah...
sherly
hahahhaha bisa pula si bibik jd kambing hitam
sherly
sukurin, kapok kan ditinggal naina...
sherly
kesel, malu tp pengen ya pak...
sherly
mumettt
sherly
lah kabur aja naina...
Mumun Munawwaroh
KLO gak salah adiknya Arimbi namanya Yunus ya?
Si Memeh
Luar biasa
ovi Putriminang
GK bosan Thor
ovi Putriminang
Muter muter
Anne: jangan di baca lagi, nanti pusing
total 1 replies
ovi Putriminang
kabur aja lah naina tinggalkan,cari kehidupan sendiri
Maharani Rania
bilang ok terus datangkan ayah Bima
Ninik Hartariningsih
maaf mau ralat
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi
Rika
bagus
Lala Trisulawati
♥️👍
martina melati
bukan sarang buaya???
martina melati
hati2 muncul penyakit kanker lho... bermula dari kecewa, terus jd sakit ati dan lama klamaan jd kanker
Nursina
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!