Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Paling Polos
“Kalau dia memang benar seorang bos geng, justru bagus,” ujar Kael santai sambil sedikit menyandarkan tubuh ke belakang, satu tangannya masuk ke saku celana. “Cocok buat aku, juga cocok buat keluarga Blackwood.”
“Benar juga.” Farel menyilangkan tangan di depan dada, lalu menghela napas pendek sambil menggeleng pelan. “Di keluarga Blackwood, persaingannya gila. Kalau bukan diracuni, besoknya sudah disusun rencana kecelakaan.” ujarnya dengan senyum miring.
“Kalau mau jadi istri Tuan Kaelion, tapi nggak punya kemampuan apa-apa,” lanjut Farel sambil mengangkat alis, nada suaranya dingin dan meremehkan, “mungkin sudah mati duluan sebelum sempat duduk sebagai nyonya keluarga Blackwood.”
Di sisi lain, Boris masih menatap dengan mulut sedikit menganga, sampai Adela menyadarkannya dengan mengayunkan tangan tepat di depan wajahnya.
“Hei, sadar!” tegurnya.
Sontak Boris tersentak, berkedip beberapa kali seolah baru kembali ke dunia nyata.
“Kalian para cowok memang nggak punya selera, nggak mikir dulu,” ujar Rosse ketus sambil melipat tangan di dada. “Cewek miskin dari panti asuhan mana mungkin bisa seanggun dan seelegan itu,” lanjutnya merendahkan, jelas mengejek latar belakang Mirea.
Adela mendengus kecil, lalu berkata seolah baru teringat sesuatu. “Rosse, kamu tahu kan ada kelas pelatihan sosialita?”
Rosse tersenyum sinis. “Ya. Memang ada beberapa cewek yang nggak mau seumur hidup, hidup miskin. Dan akhirnya mereka belajar sosialita, agar bisa bersikap manis, berpura-pura polos, untuk menggoda cowok-cowok kaya… tentu saja, biar suatu hari bisa naik kelas,” ujarnya mencibir.
Ucapan itu terdengar jelas oleh Boris. Ia langsung mengangguk kecil sambil tersenyum tipis, seolah setuju dengan dugaan mereka.
Sementara itu, Kael dan Farel yang ikut mendengar hanya saling melirik singkat, lalu kembali meneguk minuman mereka dengan ekspresi tenang.
Adela yang berdiri di sebelahnya mendengus pelan dengan nada merendahkan.
“Pantas saja tadi aku lihat ekspresi sedihnya seperti dibuat-buat,” ujarnya sinis menanggapi.
Tanpa mereka sadari, Mirea sebenarnya belum pergi terlalu jauh. Semua cemohan itu terdengar jelas olehnya. Ia berhenti melangkah, lalu bersilang dada.
“Orang jelek memang suka bikin ribut,” ujar Mirea santai, suaranya cukup keras untuk terdengar.
Kael yang melihat itu justru tersenyum tipis, sorot matanya tampak semakin tertarik.
Ucapan Mirea tentu saja sampai ke telinga Rosse.
“Heh! Kamu lagi ngatain siapa?!” bentaknya langsung.
“Yang merasa tersindir, itulah orangnya,” jawab Mirea tenang sambil melangkah mendekat, ekspresinya sama sekali tidak terganggu.
“Tuh kan! Apa yang aku bilang? Kamu memang cuma berakting!” Adela ikut maju selangkah, melipat tangan di depan dada dengan sikap menantang.
Mirea menatap mereka datar.
“Kalian mau ngapain?”
Tepat saat itu, Aren datang mendekat dari belakang. Melihat kehadiran kakaknya, Mirea langsung menurunkan kepala, ekspresinya berubah drastis, kembali menjadi gadis polos yang tampak lemah dan ketakutan.
“Adik manismu ini yang mengatai kami,” ujar Rosse mengadu dengan nada dibuat-buat.
Sontak ketiga kakak menoleh bersamaan ke arah Mirea. Mirea langsung menunduk, bahunya sedikit gemetar seperti gadis lemah yang ketakutan.
“Kamu bilang dia mengatai kamu?” tanya Noel tajam.
“Mana mungkin? Adikku saja kata-kata kasar pun dia tidak mengerti,” sahut Theo membela.
“Lalu? Apa yang kami dengar tadi itu suara hantu?” Rosse membalas sinis.
Noel langsung mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Rosse dan Adela secara bergantian.
“Lihat saja tampang galak kalian itu! Jelas kalian duluan yang mengatai adikku, sekarang malah nuduh dia!” bentak Noel.
“Hari ini, kalau kalian tidak minta maaf pada adikku, masalah ini tidak akan selesai!” tegasnya dengan suara meninggi.
“Kak…” panggil Mirea lembut, suaranya dibuat bergetar.
“Mereka bilang aku cuma sosialita palsu,” ujarnya pelan, tampak menahan tangis.
Aren langsung menggenggam tangan Mirea, sorot matanya mengeras.
Di sudut ruangan, Kael tersenyum tipis, jelas menikmati drama itu.
“Katanya pesta pengakuan keluarga ini cuma buat godain cowok,” lanjut Mirea lirih.
Kalimat itu langsung membuat ketiga kakak menoleh tajam ke arah Rosse dan Adela.
“Keterlaluan banget!” teriak Noel marah.
"Minta maaf!!"