Season 1 :
"Jika laki-laki yang menghamili mu adalah seorang Dokter, apakah papamu masih akan melakukan itu?"
Aurel tersentak, ia menatap Dokter itu dengan seksama.
"Apa maksud Dokter?"
"Aku akan menikahimu!"
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan seorang dokter yang mati-matian menengang teguh sumpah jabatannya, hingga kemudian ia merelakan hidupnya, kepentingannya, perasaannya.
Lalu apakah akan selesai di sini? Masalah kembali datang ketika pria yang menghamili gadis itu muncul, dan tentang siapa sebenarnya pria itu dan apa hubungannya dengan Jessen, membuat hidup Jessen menjadi sangat rumit.
Season 2 :
Kehidupan baru David - Alea dimulai. Kehilangan bertubi-tubi yang dialami David membuatnya hancur dan rapuh.
Yang ia miliki sekarang hanyalah janin yang ada dalam kandungan Alea. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Bagaimana kehidupan mereka?
Siapa Ayah David?
Bagaimana dengan Jessen - Aurel?
Simak terus di COMPLICATED (David - Alea Story) ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Karier? Atau Kamu?
Jessen merasa kepalanya pening, ia sudah pindah dinas ke rumah sakit ke 2. Rumah sakit swasta yang terletak di paling selatan kota kelahirannya itu tidak terlalu ramai. Maklum di sini tidak terima BPJS, berbeda dengan rumah sakit dinas pertama Jessen.
Ia duduk bersandar pada kursinya ketika kemudian seorang security masuk dan menyapanya.
"Maaf Dokter, ada yang cari!"
Jessen mengerutkan keningnya, siapa memangnya yang mencari dirinya? Security itu kemudian menggeser tubuhnya, lalu bergegas pamit. Dan tampaklah sosok itu yang begitu cantik dengan dress merahnya itu. Sial! Apa dia selalu berpenampilan seperti ini?
"Ternyata Dokter di sini ya?" sapanya lalu meletakkan tas bekal itu di atas meja.
"Iya, aku juga dinas di sini. Memang ada apa?" Jessen benar-benar tidak mengerti, kenapa ia harus kemari?
"Nggak apa-apa sih, cuma mau antar makanan buat Dokter aja." jawabnya sambil tersenyum tulus.
"Kamu selalu seperti ini?" tanya Jessen lalu membuka tas bekal itu.
"Seperti ini yang bagaimana?" Aurel tidak mengerti, apa maksud dokter itu?
"Bajumu. Selalu yang feminim gitu?" Jessen menatap Aurel dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, sial! Serius gadis ini benar-benar luar biasa. Lantas kenapa laki-laki berengsek itu meninggalkan gadis ini?
"Hanya semenjak tahu kalau saya positif, kalau pakai celana sudah begitu nampak, Dok." ujar Aurel lirih.
Jessen menghela nafas panjang. Harusnya gadis secantik dia tidak harus mengalami hal buruk seperti ini. Masa depannya panjang. Benar-benar laki-laki ba*ingan!
"Sudah bilang papamu?" Jessen mulai menyendok nasi dalam kotak bekal itu, kebetulan ia belum makan. Seharian pusing memikirkan bagaimana nasibnya nanti.
"Sudah, tapi saya belum bilang soal ini, Dok!" Aurel menunjuk perutnya.
Jessen hanya mengangguk sambil susah payah menelan nasi di mulutnya. Apa yang nanti akan dilakukan papa Aurel kepadanya kira-kira?
"Aku habis ini balik, aku sudah telpon apotek, suruh bikin pengumuman di papan apotek kalau aku libur praktek. Selepas dari sini aku izin pulang dulu, mandi dan persiapan."
"Mamanya Dokter ikut?"
"Belum, ini sekarang biar aku dulu yang menghadap sendiri ke papamu!" gila, dari mana keberanian itu muncul? Ini pertama kali nya dalam hidup Jessen ia akan melamar wanita, tapi kenapa malah Aurel yang ia lamar? Bukan gadis yang benar-benar ia cintai dan benar-benar akan dia ajak serius berumahtangga?
"Dokter sudah benar-benar yakin?" Aurel menatap Jessen yang tengah menikmati kotak bekalnya itu.
"Yakin, aku sudah bikin beberapa poin yang harus kita sepakati berdua. Nanti aku tunjukkan."
Aurel tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan tanda bahwa ia mengerti. Gadis itu tampak ragu, Jessen bisa melihat itu dari sorot matanya. Namun apa boleh buat, ia tidak mau gegabah melakukan tindakan itu, jadi ia rasa keputusan ini lebih aman.
"Oh ya, dari mana kau tahu kalau aku di sini?"
Aurel tersentak, "Tadi saya ke Rumah sakit yang kemarin, kata temen Dokter, Dokter ganti pindah praktek ke sini, jadi ya saya kesini."
"Kenapa tidak kirim pesan?"
"Sudah, tapi jangankan Dokter balas, Dokter buka saja tidak pesannya." Aurel memanyunkan bibirnya. Dan itu makin membuat Jessen gemas maksimal.
"Maaf, aku belum pegang handphone." jawab Jessen lirih. Ahh ... kenapa matanya selalu ingin menatap sosok itu?
"Apa yang perlu saya lakukan untuk membantu Dokter nanti?"
"Ikuti aja nanti, biar aku yang banyak bicara. Kalau ditanya sudah berapa lama kita pacaran, bilang saja kita sudah satu tahun pacaran."
Aurel hanya mengangguk, tanpa berkata apapun.
"Papa mu kenal juga dengan siapa pacarmu itu namanya?"
"David? Tidak, kami backstreet, Dok!" jawabnya sambil menunduk.
"Bagus, intinya kalau kamu ditanya sudah berapa lama pacaran bilang satu tahun."
***
Jantung Jessen berdegup kencang ketika mobilnya sudah masuk ke halaman rumah besar itu. Bukan main, Aurel memang bukan berasal dari keluarga sembarangan! Untung ia punya tittle dokter, jadi beranilah ia datang kemari untuk melamar anak dari pemilik rumah. Meskipun hanya sebatas pernikahan settingan demi kepentingan masing-masing, tapi setidaknya ia cukup terbantu dengan gelarnya.
Jessen menghela nafas panjang, kemudian melangkah dengan mantab ke depan pintu besar dengan ukiran indah itu. Tangannya memencet bel, dan tak lama kemudian pintu itu terbuka.
Tampak Aurel muncul dengan dress tosca yang roknya mengembang itu, ah bahkan dress itu sepertinya sebentar lagi sudah tidak mampu menyembunyikan perut Aurel yang mulai membukit. Rambutnya ia gerai, dengan ujung rambut ia curly dengan begitu rapi. Alisnya ia bingkai sedikit, pipinya bersemu pink, dan bibir sensual itu tampak mengkilap menggoda. Astaga! Darah Jessen mendidih, ia belum pernah merasakan begitu tertarik dengan lawan jenis sampai seperti ini. Rasanya ia ingin ...,
"Dokter!" panggil Aurel sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Jessen.
"Ah ... maaf, aku terlalu gugup!" ujar Jessen mencoba menghilangkan semua pikiran kotornya. "Dan kamu mau memanggil ku dokter seperti itu didepan orangtuamu?" bisik Jessen protes, mana ada pacaran panggilnya dokter?
"Tentu tidak kalau di depan mama papa! Mereka sudah menunggu di ruang tengah, mari masuk!" bisik Aurel lalu menarik tangan Jessen.
Jessen benar-benar takjub dengan isi rumah itu, desain Eropa begitu kenal. Sebenarnya Anton Sutomo itu pengusaha apa sih? Tajir amat kayaknya?
Jessen tak henti-hentinya berdecak kagum, hingga kemudian sampailah ia pada ruang yang dimaksud Aurel. Ruang itu begitu lapang, dengan jendela kaca besar yang langsung tembus ke halaman belakang plus kolam renang. Dan itulah Anton Sutomo sudah duduk berdua dengan Frederika Sutomo, menanti mereka.
Sontak jantung Jessen rasanya seperti hendak meloncat, apa yang akan terjadi padanya kemudian?
"Ini yang kemarin Aurel bilang ingin ketemu Mama sama Papa!" Aurel melepaskan genggaman tangannya, lalu dengan sopan Jessen mengalami mereka. Plastik berisi kudapan terkenal itu ia letakkan di meja.
"Mari silahkan duduk, ah tidak perlu repot-repot sebenarnya, Nak ... ?"
"Jessen, nama saya Jessen Van Bergen, Om." Jessen tersenyum kaku, sungguh ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Rasanya lebih baik ia berjumpa dengan konsulen paling killer sepanjang sejarah koas nya daripada harus berada di posisi ini.
"Ada keturunan Belanda?" Frederika tampak antusias, tampak sekali di wajah itu bahwa ia penasaran dengan sosok Jessen.
"Iya, bapak saya, Tante." keringat dingin sudah mengucur deras di pelipis Jessen.
"Oh, pantas ada wajah bule-bule nya gitu, namanya juga ada van-nya kayak orang Belanda." Frederika tersenyum, dan sekarang Jessen tahu, darimana senyum indah itu Aurel dapatkan, dari sosok Frederika ini.
"Masih kuliah atau sudah kerja?" Anton tampak memandangi sosok Jessen dengan seksama, mungkin laki-laki itu sadar bahwa sebenarnya tak mungkin wajah-wajah macam Jessen ini masih kuliah.
"Kebetulan saya sudah lulus Om, sudah kerja."
"Oh begitu, dulu kuliah ambil fakultas apa?" Anton nampak sangat mendominasi sekarang, ah mungkin ketika ia punya anak perempuan kelak, ia akan sedetail Anton menanyai teman laki-laki anaknya.
"Saya dulu ambil fakultas kedokteran, Om."
"Oh, jadi Nak Jessen ini seorang dokter?" tampak perubahan wajah itu begitu drastis, Anton yang sudah mulai sangar tadi mulai melunak, tampak senyum itu mengembang di bibirnya.
"Iya, tapi ya baru dokter umum, Om." Jessen tersenyum kecut.
"Tidak apa-apa, kan semua ada prosesnya." Frederika ikut berkomentar, ahh seperti Frederika makin simpatik padanya.
"Iya Tante, semoga setelah ini bisa segera ambil spesialisasi."
"Jadi apa tujuan Nak Jessen kemari?"
Sontak jantung Jessen semakin kencang berdegup, ia melirik Aurel yang tampak memucat itu.
"Tujuan saya kemari untuk ...,"