Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa Nguli
^^^'Aku pergi untuk bekerja.'^^^
Sepenggal kalimat yang ditulis oleh Abizar di secarik kertas sebelum dia pergi. Hari ini dia sudah janjian dengan lelaki yang dia temui di warteg kemaren. Abizar menemui orang yang kemaren dia jumpai di warteg itu agar dia diajak bekerja menjadi kuli panggul.
Tekad Abizar sudah bulat untuk mendapatkan pekerjaan. Walau pekerjaan yang dia dapatkan di luar ekspektasinya. Namun, Abizar mantap menjalani semua ini dengan ikhlas. Ya, Abizar yang dulu hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya kini sadar betapa susahnya mencari uang. Bahkan dengan ijazahnya yang tinggi belum menjamin orang itu diterima dengan mudah di sebuah pekerjaan. Abi tak mau putus asa. Putus asa hanya menjadikan dirinya lemah. Itu bukanlah sifatnya.
Sesampainya di pasar Abi mencari keberadaan lelaki yang kemaren dia temui. "Bang," panggil Abizar pada lelaki yang belum dia tahu namanya.
"Bagaimana? Apa kamu udah siap?" tanya lelaki bernama Anton itu.
"Siap, Bang," jawab Abizar.
"Tunggu, tunggu! Mana ada jadi kuli panggul tapi pakaiannya serapi ini? Ganti!" perintah Anton.
"Tapi saya nggak bawa, Bang," jawab Abizar.
"Ya sudah kali ini aku pinjami kaos sama celana. Nanti kembalikan kalau sudah selesai. Ayo ikut aku!" Laki-laki itu membawa Abizar ke rumahnya.
Abizar mencium bau tidak sedap karena tempat tinggal Anton begitu kumuh. Abizar jadi merasa bersyukur karena dirinya serba berkecukupan selama ini.
"Ini, aku rasa ukurannya pas." Anton memberikan satu stel pakaian yang terdiri dari celana jins dan kaos belel.
"Nanti pakaian kamu masukin aja ke kantong plastik," perintah Anton.
"Bang, ada topi nggak?" tanya Abizar. Dia tidak mau orang lain mengenali dirinya. Bukan orang tua atau teman-temannya tapi sang asisten rumah tangga. Dia takut kalau suatu saat asisten rumah tangganya tahu maka dia akan melapor kepada prang tuanya.
"Ya, ada." Anton mengambil topi miliknya lalu memberikan topi itu pada Abizar.
"Oh ya nama lho siapa?" tanya Anton.
"Panggil saja Abi, Bang," jawab laki-laki tampan itu.
"Aku Anton." Anton mengulurkan tangan disambut baik oleh Abizar.
Antin menepuk bahu Abizar. "Ya sudah ayo jalan! Jangan sampai orang lain mendahului kita." Abizar mengangguk paham.
Setelah itu mereka berjalan ke pasar. Anton mengarahkan Abizar agar membantu mengangkat barang-barang dagangan penjual-penjual di pasar itu. Mulai dari mengangkat sekarung cabai hingga mengangkat berasa pun dia lakukan.
Ini kali pertama kali Abizar melakukan pekerjaan berat. "Anjiiir ini karung beras apa batu ya. Berat amat," keluhnya.
"Bi, istirahat dulu!" seru Anton. Abi pun bernafas lega. Akhirnya dia bisa duduk juga. Badannya terasa pegal dan sakit-sakit. Abi memijat bagian belakang punggungnya.
"Capek banget ya?" tanya Anton. Abizar mengangguk.
"Ya namanya juga kerja jadi kuli kamu harus bertenaga. Aku saranin banyak makan telur biar badan kamu kuat seperti aku." Anton menunjukkan otot bisepnya yang tidak berkembang.
Abizar menahan tawa. "Iya, Bang," jawab Abizar. Tak lama kemudian perutnya berbunyi. Abizar jadi malu pada Anton.
"Lapar ya?" tanya Anton. Abizar mengangguk lemah.
"Ya sudah aku traktir makan," ajak Anton. Abizar pun seolah mendapatkan angin segar. Andai saja jam segini dia masih di rumah maka sudah pasti Annisa akan memasak untuknya.
Ah, Abizar merasa aneh ketika dia tiba-tiba merindukan Annisa. Sekelebat bayangan wajah Annisa yang teduh melintas di pikiran laki-laki yang berusia hampir kepala tiga itu.
"Kamu kenapa?" tanya Anton.
"Ingat istri, Bang. Tadi pas saya berangkat dia masih tidur," jawab Abizar dengan jujur.
"Aku kira kamu belum nikah," balas Anton.
"Sudah, Bang. Belum genap sebulan," jawab Abizar. Padahal usia pernikahannya dengan Annisa baru berjalan seminggu.
"Wah manten baru ya." Abizar tersenyum malu.
"Kamu yang sabar, kamu jadikan pekerjaan ini sebagai batu loncatan. Kamu bisa sambil menunggu panggilan lamaran dari perusahaan yang kamu masuki surat lamaran."
'Sebenarnya aku bisa saja minta bantuan papa. Tapi papa pasti akan meremehkan aku jika tidak mau berusaha sendiri.'
Setelah seharian bekerja, Abizar numpang mandi di tempat Anton. Dia kembali berganti pakaian dengan setelan hitam putih yang dia bawa dari rumah. "Bang, makasih buat hari ini." Abizar menepuk bahu Anton.
"Oh iya, ini uang tambahan buat kamu. Salam buat istrimu." Anton memberikan tambahan uang dua puluh ribu pada Abizar.
"Beneran ini, Bang?" tanya Abi. Anton mengangguk.
"Makasih banyak, Bang." Abi sangat senang. Untuk menghasilkan uang sebesar seratus dua puluh ribu saja dia harus jadi kuli panggul seharian. Padahal dulu mengabiskan uang sebesar sejuta dua ratus ribu hanya dia gunakan untuk sekali makan di restoran.
Abizar pulang ke rumahnya pada pukul empat sore. "Assalamualaikum." Laki-laki itu memberi salam agar istrinya keluar.
"Mas, baru pulang?" tanya Annisa yang baru saja keluar dari kamar.
"Iya," jawab Abizar singkat. Dia seperti handphone yang dayanya tinggal dua puluh persen.
"Mas ini minumnya." Annisa memberikan secangkir teh hangat pada suaminya.
"Terima kasih. Aku sangat lapar. Apa ada makanan?" tanya Abizar.
"Aku sudah siapkan makanan untukmu. Mas Abi ingin makan sekarang atau setelah mandi?" tanya Annisa.
"Sekarang saja," jawab Abizar. Sebenarnya dia sudah mandi jadi tidak masalah kalau pulang kerja makan dulu.
"Baiklah, sebentar aku ambilkan." Annisa pun berjalan ke dapur. Dia mengambil sepiring nasi lengkap dengan sayur mayur yang dia masak hari ini.
Annisa memberikan makanan itu pada suaminya. Abi yang terlalu lapar menyuapkan sesendok nasi tanpa membaca basmallah terlebih dulu. Annisa menemani suaminya makan sambil duduk di sampingnya. Tak lama kemudian Abi tersedak karena terburu-buru menelan makanannya.
"Nah kan? Makan kaya orang dikejar maling. Udah gitu nggak baca bismillah lagi," Omel Annisa.
"Habisnya perutku lapar sekali, Nisa."
Hati Annisa menghangat ketika pertama kalinya sang suami menyebut namanya. "Mau tambah nggak?" tanya Annisa. Abi menyodorkan piringnya walau masih ada nasi yang tersisa. Annisa tersenyum senang lalu dia berdiri.
Ketika Annisa beranjak ke dapur, Abi mengeluarkan sejumlah uang untuk istrinya. Dia berencana memberikan uang itu seusai menghabiskan makanannya.
"Kamu mau bunuh aku?" protes Abi.
"Mas jangan bicara ngawur deh," balas Annisa.
"Ini makanannya sebanyak ini aku mana bisa menghabiskan seorang diri," ucap Abi pura-pura marah. Annisa mengulas senyum tipis.
"Nanti kalau Mas Abi tidak bisa menghabiskan makanan itu berikan padaku," jawab Annisa.
"Kenapa tidak kita makan bersama saja?" goda Abi. Sumpah demi apa hati Annisa berbunga-bunga. Jarang-jarang dia mendengar suaminya berkata manis seperti itu.
'Apa ini tanda-tanda?' batin Annisa senang.
Wah wah wah tanda apa nih yang dimaksud Annisa?
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁