Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Akhirnya Saling Mengetahui.
"Kamu salah paham Aluna, Kakak tidak seperti itu dan Kakak tahu kamu menganggap kamu mengatakan hal seperti ini karena kamu marah pada Kakak, kamu marah aku dan Firman telah menikah, jika Kakak mengkhianati kamu. Maka Kakak tidak akan minta kamu untuk menjadi istri Firman!" tegas Jiya.
"Tetapi sayang sekali aku tidak menginginkan suami Kakak. Aku tidak suka bekas," sahut Aluna berterus terang.
"Aku tidak ingin membahas hal ini lagi dengan Kakak, sekarang keluarlah dari kamarku. Aku mau tidur!" tegas Aluna.
"Aluna Kakak belum selesai berbicara!" ucap Jiya. Aluna benar-benar tidak ingin berbicara lagi Jiya dan bahkan sampai mengusir Jiya dan bahkan menutup pintu kamar
"Aluna kenapa kamu seperti ini kepada Kakak. Aluna buka pintunya!"
"Aluna!"
"Aluna!"
Jiya mengetuk-ngetuk pintu kamar Aluna. Aluna benar-benar mengabaikan dengan mengatur nafas di balik pintu.
"Apa-apaan sih, kenapa terus menggangguku, segitunya dia ingin menjadikanku sebagai madu, memang ada wanita seperti itu," gumam Aluna terlihat begitu kesal.
"Apa-apaan sih Aluna, kenapa dia berpikiran sudah padahal aku hanya ingin dia bahagia bersama dengan Firman," gumam Jiya.
Jiya tampak frustasi dengan memejamkan matanya dan beberapa kali mengatur nafasnya ketika adiknya itu tidak menuruti permintaannya untuk menikah dengan suaminya. Aluna juga bukan manusia bodoh dan tidak mungkin melakukan hal itu.
****
Aluna sarapan bersama dengan keluarganya. Termasuk Jiya dan Firman sudah pasti ada di sana.
"Aluna, nanti kamu pulang kantor lebih dicepatkan lagi," ucap Umi.
"Memang kenapa?" tanya Aluna.
"Keluarga Bu Risma akan datang ke rumah ini untuk silaturahmi dan mereka akan membawa putra mereka," jawab Umi membuat Aluna sedikit kaget dengan kesulitan menelan ludah.
Sama dengan Jiya juga kaget mendengar pernyataan sang ibu.
"Abi tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, bagaimana kamu tidak menghargai keluarga mereka, di saat mereka datang untuk membicarakan pernikahan kalian dan kamu malah pergi dan sama halnya dengan pernikahan yang hampir saja kami lakukan!" tegas Abi.
Aluna menghela nafas, sudah pasti kesalahan di masa lalu akan terus di ungkit.
"Jika Aluna memang tidak menginginkan untuk pertemuan itu, kenapa harus dipaksakan. Bukankah Aluna akan kembali menjalin kedekatan dengan Firman," sahut Jiya dengan enteng berbicara.
Aluna tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya itu sampai membuatnya menyerngitkan dahi.
"Apa sih yang ada di kepalanya," batin Aluna benar-benar muak pada Jiya yang menginginkannya untuk menjadi madu.
"Abi kali ini memberi kesempatan kepada Aluna untuk memilih jalan hidupnya, Jadi semua keputusan ada ditangannya," sahut Abi.
"Pilihan yang Abi berikan justru sama-sama menjebak," sahut Aluna melanjutkan sarapannya.
*****
Kediaman Aluna.
Aluna berada di dalam kamar menyisir rambut, setelah pulang kerja Aluna menyempatkan diri untuk bersih-bersih, Aluna tadi melihat di jendela ada beberapa mobil terparkir di depan rumahnya dan sudah pasti itu tamu yang dikatakan tadi pagi padanya.
"Seharusnya aku biasa saja saat bertemu dengan mereka," gumam Aluna tampak begitu gelisah.
"Tetapi bagaimana caranya berbicara dengan dia. Apa dia tidak menemukan wanita lain selama pernikahan itu tidak jadi sampai dia masih menginginkan untuk tetap melanjutkan hubungan denganku. Ya Allah jantungku sejak tadi tidak berhenti berdebar kencang. Aku kembali dengan keluarganya," batin Aluna memegang dadanya dan terasa jantungnya berdebar sangat kencang.
"Aluna!" Aluna terpekik kaget medeni suara itu dan ternyata Wulan sudah membuka pintu dengan berdiri di depan pintu.
"Ayo cepat turun, Tante Risma bersama putranya sudah menunggu sejak tadi," ucap Wulan.
"Baik Umi," jawab Aluna dengan menganggukkan kepala.
"Umi tunggu kamu di bawah," ucap Wulan kemudian langsung keluar dari kamar Aluna.
"Bismilah Aluna, Tante mengatakan dia sudah memaafkan, kamu harus bersikap biasa saja dan benar-benar merasa bersalah atas apa yang kamu aku kan waktu itu dan semoga saja semua berjalan dengan lancar," batin Aluna dengan kesulitan menelan ludah.
Aluna berdiri dari tempat duduknya. Aluna tampak begitu cantik dan anggun menggunakan dress panjang di atas mata kaki berwarna peach dengan rambut diikat di bagian tengah dan diberi pita panjang berwarna putih.
Dengan penuh keyakinan dan percaya diri akhirnya Aluna menuju ruang tamu dengan menuruni anak tangga, sudah terdengar bagaimana dua keluarga itu tampak berbicara dengan sedikit candaan dan tawa ringan.
Suara heels yang terdengar melangkah di anak tangga membuat mata tertuju pada Aluna. Tetapi Aluna begitu kaget sampai menghentikan langkahnya ketika melihat salah satu tamu di ruang tamu tersebut tak lain adalah Ravindra sang atasan.
Mata Aluna terbelalak kaget dengan melotot, lututnya tiba-tiba saja bergetar, tubuhnya seketika menjadi lemas dan rasanya ingin mundur. Sementara tatapan Ravindra tampak biasa saja melihat Aluna.
"Aluna! Kenapa hanya berdiri saja di sana. Ayo kemari!" ajak Wulan.
"I-iya," jawab Aluna gugup.
"Apa-apaan ini, kenapa pak Ravindra ada di rumahku dan apa hubungannya dengan Tante Risma, tidak mungkin," batin Aluna bertanya-tanya kebingungan dan bahkan sampai menarik kesimpulan sendiri karena memang tidak ada pria selain Ravindra di sana.
Tadinya Aluna saat dia duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya, kepanikannya mulai terlihat dengan kegelisahan dan rasa takut yang berlebihan.
"Bagaimana Ravindra?" tanya Risma tersenyum melihat ke arah putranya yang sejak tadi memperhatikan Aluna.
"Ini pertama kali kalian berdua bertemu, bagaimana pendapat kamu pada akhirnya bertemu dengan Aluna?" tanya Risma.
"Apa ini Aluna yang meninggalkan pernikahannya waktu itu." tanya Ravindra dengan satu alis terangkat.
Aluna tanpak gugup dan bahkan mengalihkan pandangannya agar tidak saling bertatapan dengan Ravindra.
"Ravindra, tidak ada gunanya membahas hal seperti itu, kamu setuju untuk datang ke rumah ini bersilaturahmi dan bisa bertemu secara langsung dengan Aluna," ucap Risma.
"Mungkin Ravindra sedikit gugup Karena bagaimanapun ini pertemuan pertama mereka," sahut Wulan.
"Bukan Tante, ini bukan pertemuan kami pertama kalinya, saya sudah sering bertemu dengan Aluna," sahut Ravindra.
"Benarkah," sahut Risma terpekik kaget
Sama dengan Jiya dan Firman yang juga ada di sana cukup kaget mendengar pengakuan Ravindra dan bahkan sejak tadi Jiya terus memperhatikan Ravindra yang tampak serius memperhatikan Aluna.
"Aluna merupakan karyawan saya di perusahaan," jawab Ravindra.
"Ya ampun, ini benar-benar suatu kebetulan, jadi sebenarnya kalian sudah pernah bertemu dan saling mengenal satu sama lain," sahut Wulan yang juga tidak menyangka jika putrinya sudah mengenal calon suaminya terlebih dahulu.
"Mungkin ini bisa saja yang dinamakan jodoh, meski mereka sempat berpisah dan siapa sangka mereka sebenarnya saling mengenal dan mengetahui satu sama lain," sahut Risma.
"Tetapi itu hanya sebatas karyawan dan atasan, Aluna juga baru bergabung di perusahaan dan saya juga tidak terlalu mengenalnya, tetapi tetap saja saya kaget dan tidak menyangka bahwa Aluna ternyata adalah wanita yang meninggalkan pernikahannya waktu itu," ucap Ravindra sejak tadi penuh dengan sindiran.
Aluna benar-benar diulti oleh Ravindra, seolah-olah Ravindra sedang memberinya pelajaran dan marah atau sikapnya tetapi tidak terlalu menunjukkan di depan keluarganya maupun keluarga Aluna.
Aluna hanya diam saja dan menerima konsekuensi atas apa yang telah dia lakukan 3 tahun lalu dan bahkan ini juga akan berkaitan dengan pekerjaannya karena atasannya itu adalah orang yang telah dia kecewakan.
Bersambung.....