Lanjutan dari karya Perjodohan membawa bahagia. Disarankan mampir ke karya sebelumnya agar tidak menimbulkan kebingungan.
Karena sebuah wasiat dari orang tua kandung kakak angkatnya, ia dan sang kakak angkat dinikahkan. Pernikahan karena perjodohan itu menimbulkan banyak masalah, terutama masalah hati. Karena sesungguhnya, sang kakak angkat sudah memiliki wanita lain yang ia cintai dengan sepenuh hati dan hanya menganggap dia sebagai adik.
"Aku mencintai kamu sebagai kekasih, kakak." Yolanda Aditama.
"Maaf Yolan. Aku tidak bisa menerima cinta itu. Karena selamanya, kamu akan tetap berada dalam hatiku sebagai adik. Aku tidak bisa menggubah perasaan itu." Dewa Sujianda.
Akankah perasaan Dewa bisa berubah? Atau bahkan, akan tetap selamanya bertahan seperti itu? Mungkinkah pernikahan mereka akan bertahan? Atau bahkan, akan hancur karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Episode 7
Setelah berucap seperti itu, Yolanda langsung meninggalkan mama dan papanya. Ia berjalan cepat menuju kamar. Bukan untuk istirahat melainkan untuk mengakhiri kepura-puraan yang sejak tadi ia tunjukkan. Pura-pura bahagia, padahal sesungguhnya, tidak.
Kania yang tahu betul apa yang sedang anaknya rasakan, tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan tatapan sedih, ia tatap punggung Yola yang berjalan semakin menjauh meninggalkan ruang keluarga, sampai akhirnya hilang dari pandangan matanya.
"Satang." Brian menyentuh bahu Kania pelan untuk menyadarkan sang istri dari lamunan.
"Pa, sepertinya, kita harus segera kembali keluar negeri. Secepatnya."
"Maksud mama?" tanya Brian agak bingung.
"Kita harus pergi agar Yola dan Dewa punya banyak waktu berdua. Kita biarkan mereka terbiasa berdua saja."
"Kamu yakin untuk meninggalkan Yola di sini tanpa kita?"
"Kita tidak punya pilihan lain selain membiasakan mereka dengan situasi ini. Mereka harus terbiasa bersama tanpa ada kita.
Dengan begitu, aku berharap akan ada cinta yang tumbuh. Meskipun itu terdengar sedikit tidak mungkin."
"Kamu benar sayang. Aku percaya dengan apa yang kamu pikirkan. Karena sesungguhnya, tidak ada yang tidak mungkin di atas muka bumi ini. Pikirkan saja, musuh bisa berubah jadi cinta."
"Baiklah kalau begitu, kita akan pulang besok siang." Brian merangkul Kania dan mencolek hidung Kania seperti biasa.
Kania hanya tersenyum menerima perlakuan itu. Karena seperti biasa, Brian masih tetap suami yang hangat sama seperti mereka saat muda-muda dulu.
_______
Paginya, pintu kamar Yola di ketuk oleh pelayan saat Yola baru saja ingin memejamkan matanya setelah malam panjang yang ia lalui tanpa tidur sebentar pun. Dengan rasa kesal, ia bangun dari baringnya.
"Ya ampun .... " Yola menggerutu sambil berjalan mendekat ke arah pintu.
Pintu itu terus di ketuk. Membuat Yola semakin merasa kesal dengan bunyi ketukan itu.
"Iya-iya, tunggu sebentar!" ucapnya dengan nada kesal.
Saat pintu terbuka, Dewa sedang berdiri tegak di hadapannya dengan pakaian yang sudah rapi. "Kak ... kak Dewa." Yola berucap dengan nada canggung. Mau tidak mau, ia hanya bisa nyengir kuda dengan hati yang malu.
"Ada ... ada apa kak?"
"Mama minta aku panggil kamu. Mama sedang menunggu kamu di ruang keluarga."
"Mama panggil aku? Untuk apa?"
"Aku tidak tahu. Aku juga baru turun soalnya. Ya sudah, aku duluan ya," ucap Dewa sambil beranjak dari tempatnya.
Namun, langkah kaki Dewa tiba-tiba terhenti.
"Oh ya, anak perempuan tidak baik bangun kesiangan." Setelah berucap kata-kata itu, Dewa kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Yola.
Yola tidak bisa menjawab. Ia hanya memasang ekspresi tidak enak dengan senyum yang begitu kelihatan sekali terpaksa.
"Huh, anak perempuan tidak baik bangun kesiangan." Yola berucap sambil menutup pintu kamarnya.
"Apa dia tidak tahu kalau aku ini tidak tidur semalaman? Dasar laki-laki tidak peka. Bikin emosi saja," ucap Yola menggerutu kesal.
Lima menit kemudian. Yola turun dengan tampilan yang susah rapi. Tapi sayangnya, tentu saja dia belum mandi. Mana cukup waktu lima menit untuk Yola membersihkan diri dan menyiapkan tampilan rapinya itu.
Ia pun berjalan menuju ruang tamu. Yang di mana tidak ada siapa-siapa lagi di sana sekarang.
"Ke mana mereka?" tanya Yola dilanda kebingungan.
"Nona kecil." Bu Erni memanggil Yola dengan lembut.
"Iya."
"Tuan Brian dan Nyonya Kania menunggu nona di meja makan."
"Oh, ternyata mereka berada di meja makan sekarang. Baiklah, aku ke sana sekarang. Terima kasih bi .... "
"Bi Erni, nona kecil."
"Oh, iya-iya. Bi Erni. Aku lupa. Maaf ya bi."
"Gak papa nona kecil."
Yola hanya tersenyum mendengar para pembantu memanggil namanya dengan sebutan nona kecil. Sejak pertama ia datang setelah sepuluh tahun pergi, para pekerja di rumah ini masih tetap memanggil dia dengan panggilan nona kecil. Padahal sekarang, ia bukan anak kecil lagi, umurnya sudah menginjak usia dua puluh tahun sekarang. Yah ... walaupun masih belum samai dua puluh tahun tepat. Karena masih ada beberapa bulan lagi untuk ia menyambut genap nya usia dua puluh tahun itu.
Sampai di meja makan, ia langsung di sambut senyum oleh mama dan papanya, juga Johan yang ternyata sudah ada di sana ikut menikmati sarapan pagi bersama.
"Mama, papa. Selamat pagi."
"Selamat pagi sayang." Kedua orang tuanya berucap serentak.
"Selamat pagi nona kecil," ucap Johan menyapa.
"Pagi om Johan. Kapan om datang?" tanya Yola sambil menarik kursi.
"Baru aja. Datang-datang, langsung diajak sarapan sama mama dan papa kamu. Beruntung banget, bukan?"
"Ya-ya-ya. Om memang beruntung, dan selalu saja beruntung walau sedang apes. Iyakan?"
"Kamu bisa aja nona kecil."
Brian dan Kania hanya bisa tersenyum mendengar obrolan Yola dan Johan. Karena sejak kecil, Yola memang sangat dekat dengan Johan. Johan bagaikan orang tua kedua bagi Yola.
"Oh ya om, bagaimana keadaan Hanas sekarang? Apa dia udah baikan?" tanya Yola sambil memainkan sendok di tangannya.
"Uhuk-uhuk." Bukan Johan yang tersedak melainkan Dewa. Ia yang sedari tadi fokus dengan makanan yang ia makan, kini tiba-tiba tersedak saat mendengar pertanyaan Yola tentang Hanas pada Johan.
"Kak Dewa." Yola kaget, ia segera bangun untuk memberikan air pada Dewa. Tapi, Dewa dengan cepat mengangkat tangan untuk mencegah niat Yola itu.
"Aku gak papa."
"Kamu yakin gak papa, Nak?" tanya Kania dengan tatapan cemas.
"Ya, Ma. Aku gak papa."
"Makan gitu aja bisa tersedak. Kak Dewa ini gimana sih?"
"Oh ya om Johan, om belum jawab pertanyaan ku. Bagaimana keadaan Hanas sekarang? Apa dia udah mendingan?"
"Dia baik-baik saja, nona kecil. Tidak perlu mencemaskan keadaannya. Anak itukan kuat," ucap Johan sambil memperlihatkan senyum manisnya.
"Memangnya, apa yang terjadi dengan Hanas?" tanya Dewa dengan rasa cemas.
Baru saja Johan ingin mengangkat bibir untuk bicara, tapi Yola malah angkat bicara duluan.
"Kak Dewa gak tahu, om Johan bilang, Hanas sakit. Tubuhnya panas tinggi. Makanya, saat pesta kemarin, dia dan tante Saras gak bisa hadir di tengah-tengah kita."
"Om Johan, benarkah?" tanya Dewa dengan perasaan yang semakin cemas.
"Iya tuan muda. Kemarin anakku panas tinggi. Tapi sekarang, ia sudah baik-baik saja. Sudah sembuh malahan."
Terdengar nada tidak enak di setiap kata yang Johan ucapkan. Karena sebenarnya, Johan sedang merasa tidak enak hati untuk menceritakan tentang anaknya, apalagi dihadapan Dewa.
"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Kania yang sedari tadi hanya diam saja.
"Oh ya, sebenarnya, ada yang ingin mama sama papa bicarakan padamu, Yola. Hmm ... apa kamu udah selesai ngobrol dengan om Johan?" tanya Kania lagi.
*saat novel mu yang konfliknya suami melakukan kesalahan pasti kau buat istri tidak mudah memaafkan, pasti kau buat suami dapat balasan, mengemis maaf dan berjuang keras, dan pasti kau hadirkan lelaki lain yang membuat istri membalas perlakuan suami
banding dengan novel yang konfliknya istri melakukan kesalahan semudah itu dimaafkan, karakter suami kau buat bodoh dan semudah itu memaafkan malah balik minta maaf kayak pengemis, dan kalian tidak berani hadirkan wanita lain (kayak kalian hadirkan lelaki lain)
karena ini lah pola pikir egois wanita ketika suaminya salah tidak semudah itu dimaafkan tapi ketika dia salah mau dimaafkan begitu saja dan sikap egois ini mereka bawa kedalam novel
adalah lagi pola pikir egois yang terkesan munafik wanita dalam berkarya yaitu mereka melaknat pelakor tapi memuja pebinor
miris