Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Pertemuan yang Tak Dijadwalkan
Pagi itu, rumah Naya terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada perubahan besar, melainkan karena keberadaan Adit yang masih terlelap di kamar.
Sudah lama Naya tidak melihat suaminya berada di rumah saat pagi hari kerja. Biasanya, Adit sudah pergi sebelum matahari benar-benar naik, meninggalkan rumah dalam keadaan sunyi.
Seperti biasa, Naya bangun lebih dulu. Ia melaksanakan salat subuh dengan khusyuk, lalu beranjak ke dapur. Tangannya bergerak cekatan menyiapkan sarapan sederhana. Tidak ada menu istimewa—hanya masakan rumahan yang biasa ia buat. Namun pagi ini terasa berbeda karena ia memasak bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Adit keluar dari kamar. Wajahnya masih terlihat mengantuk, rambutnya sedikit berantakan. Ia berhenti sejenak di ambang dapur, memperhatikan Naya yang sedang menata piring di meja makan.
“Masih pagi banget,” ujarnya sambil menguap.
Naya menoleh dan tersenyum kecil. “Mas biasanya sudah pergi jam segini.”
“Iya,” jawab Adit sambil duduk. “Tapi hari ini libur.”
Kalimat sederhana itu membuat Naya sedikit terdiam. Libur. Kata yang jarang terdengar dari Adit akhir-akhir ini. Ia hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Mereka sarapan bersama dalam suasana yang tenang. Tidak banyak percakapan, tetapi juga tidak canggung. Ada jeda-jeda sunyi yang justru terasa nyaman. Adit sesekali membantu mengambilkan gelas atau merapikan meja setelah makan—sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya selalu terburu-buru.
Setelah sarapan, Adit menyandarkan tubuh di kursi, menatap Naya yang sedang membereskan dapur. Pandangannya terlihat berbeda, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang lama terlewatkan.
“Nay,” panggilnya.
“Iya, Mas?”
“Kita sudah lama ya nggak pergi berdua.”
Naya berhenti sejenak, lalu menoleh. Ia tidak langsung menjawab. Dalam benaknya, ia menghitung sendiri sudah berapa lama mereka tidak benar-benar menghabiskan waktu bersama—tanpa urusan pekerjaan, tanpa jadwal padat, tanpa kelelahan.
“Kayaknya… iya,” jawabnya pelan.
Adit menghela napas. “Mas ngerasa belakangan ini cuma pulang, tidur, besok kerja lagi. Kamu juga sibuk ngurus kosan.”
Naya tersenyum tipis. Ia paham maksud Adit. Bukan menyalahkan, hanya menyadari.
“Mas mau ajak kamu jalan-jalan hari ini,” lanjut Adit. “Kalau kamu nggak capek.”
Naya sempat ragu. Pekerjaannya masih banyak—laporan kosan belum ia cek ulang, dan ada beberapa hal administratif yang ingin ia selesaikan.
Namun ia juga sadar, kesempatan seperti ini jarang datang.
“Jalan-jalan ke mana, Mas?” tanyanya akhirnya.
“Ke mall aja. Santai. Nonton, atau sekadar makan di luar.”
Naya berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah. Sekali ini.”
Wajah Adit terlihat sedikit lebih cerah. Ia tersenyum—senyum yang jarang Naya lihat akhir-akhir ini.
“Terima kasih,” kata Adit singkat.
Naya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati, ia tahu ajakan ini bukan sekadar soal jalan-jalan, melainkan upaya kecil untuk menjaga sesuatu yang hampir terlupakan di tengah kesibukan mereka berdua.
Setelah bersiap, Naya dan Adit berangkat bersama. Mereka memilih sebuah mall besar di pusat kota—tempat yang sudah lama tidak mereka datangi berdua. Perjalanan di dalam mobil berlangsung tenang. Tidak ada obrolan panjang, hanya sesekali komentar ringan tentang jalanan dan cuaca.
Sesampainya di mall, mereka berjalan berdampingan. Adit tampak lebih santai dibanding hari-hari biasanya. Tangannya sesekali menggenggam tangan Naya, seolah memastikan bahwa istrinya benar-benar ada di sampingnya hari itu.
Mereka masuk ke beberapa toko untuk membeli keperluan rumah. Naya memilih barang-barang dengan teliti, sementara Adit mengikuti dari belakang, sesekali mengangguk atau bertanya singkat. Aktivitas sederhana itu justru terasa menyenangkan bagi Naya. Ia baru menyadari, sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal-hal kecil seperti ini bersama.
Menjelang siang, Adit mengajak Naya makan di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Mereka duduk berhadapan, memesan makanan, lalu menikmati hidangan masing-masing.
Di sela-sela makan, Adit memandang Naya cukup lama. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi urung diucapkan. Naya menangkap tatapan itu.
“Ada apa, Mas?” tanyanya pelan.
“Enggak,” jawab Adit singkat. “Mas cuma… ngerasa waktu jalan cepat banget.”
Naya tersenyum kecil. Ia paham maksud Adit. Waktu memang tidak pernah menunggu siapa pun.
Mereka kembali fokus pada makanan. Sesaat, suasana terasa hangat dan normal—seperti pasangan pada umumnya. Tidak ada pembahasan soal pekerjaan, tidak juga soal masalah keluarga. Hanya dua orang yang sedang menikmati kebersamaan.
Namun ketenangan itu pecah ketika sebuah suara kecil terdengar dari arah belakang.
“Umm… eh, Tante Naya?”
Naya terdiam. Garpu di tangannya berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan ke arah suara itu.
“Aluna?” ucapnya terkejut.
Seorang anak perempuan berdiri beberapa langkah dari meja mereka. Wajahnya tampak ragu-ragu, tetapi matanya berbinar saat Naya menoleh.
“Iya, Tante,” jawab Aluna pelan. “Tante Naya, kan?”
“Iya,” Naya tersenyum. “Luna ke sini sama siapa?”
Aluna mendekat sedikit. “Sama Abi dan Oma, Tante. Kan Luna nggak punya ummi.”
Kalimat itu membuat dada Naya terasa sesak. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul, meski ia tahu itu bukan kesalahannya.
“Oh…” Naya mengangguk pelan. “Maafin Tante ya, Luna.”
“Gak apa-apa, Tante,” jawab Aluna cepat. Ia lalu melirik ke arah Adit yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
Tatapan itu tidak luput dari perhatian Naya. Ia langsung mengerti.
“Oh iya, Luna,” kata Naya lembut. “Kenalin, ini suami Tante. Namanya Om Adit.”
Aluna menatap Adit dengan penasaran. “Salam kenal, Om.”
Adit tersenyum dan mengangguk. “Salam kenal juga, Luna.”
Namun kemudian Adit menoleh ke arah Naya. Tatapannya seolah bertanya: siapa anak ini sebenarnya?
Naya hanya membalas dengan senyum kecil, memberi isyarat bahwa ia akan menjelaskan nanti.
Tak lama kemudian, seorang pria mendekat bersama seorang wanita paruh baya.
“Aluna,” panggil pria itu lembut.
Aluna menoleh cepat. “Abi!”
Pria itu berhenti di depan meja mereka. Pandangannya bergeser pada Naya, lalu pada Adit.
“Abi,” kata Aluna polos, “ini Tante Naya.”
Naya berdiri dan menangkupkan tangan.
“Selamat siang, Pak.”
“Selamat siang,” jawab pria itu sopan.
Aluna kembali menunjuk ke arah Adit. “Kalau ini… omnya.”
Adit ikut berdiri. “Selamat siang.”
Untuk sesaat, mata kedua pria itu bertemu.
Tidak ada senyum berlebihan.
Tidak ada ekspresi marah.
Hanya tatapan singkat—tenang, profesional, dan sulit ditebak.
Pria itu mengangguk kecil.
Adit membalas dengan sikap yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat sore readers selamat membaca...like komennya dong terimakasih..