Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Melakukan kesalahan
"Mama...." lirih Zoey, nyaris tak terdengar.
Di layar besar itu, terpampang wajah Nancy dengan senyum mempesona. Ia mengenakan gaun mewah dan mempromosikan sebuah produk kecantikan ternama. Sebuah video iklan yang berputar berulang-ulang.
Zayn menggenggam erat tangan Zoey. Bocah lelaki itu juga terpaku menatap wajah ibunya di layar. Ada kerinduan yang mendalam di mata mereka.
Tiba-tiba, Zoey melepaskan genggaman tangan Zayn dan berlari mendekati layar besar yang ada di seberang jalan. Gadis kecil itu berusaha meraih wajah Nancy yang ada di sana.
"Mama... Zoey kangen Mama...!" teriaknya dengan suara pilu.
Zayn yang terkejut melihat adiknya berlari langsung meletakkan dagangannya, dan dengan sigap mengejar Zoey, berusaha meraih tangan mungil adiknya.
"Zoey! Jangan lari!" teriak Zayn.
Zoey tidak menghiraukan teriakan Zayn. Ia terus berlari mendekati layar besar itu, air mata membasahi pipinya.
Saat Zayn berhasil meraih Zoey dan ingin mengajaknya ke pinggir jalan. Namun, tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah persimpangan jalan.
Zayn berusaha mempercepat larinya, tetapi jaraknya terlalu jauh. Wajahnya pucat pasi. Matanya membulat sempurna saat melihat sepeda motor itu melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya membeku karena ketakutan. Instingnya sebagai seorang kakak berusaha melindungi adiknya dengan memeluknya erat seraya memejamkan mata.
Sementara itu, pengendara motor yang sepertinya tengah diburu waktu itu, sangat terkejut saat melihat dua anak kecil berlari ke tengah jalan. "Astaga, kenapa ada anak kecil di tengah jalan, sih?" kesalnya dalam hati.
Tak ingin terjadi sesuatu pada kedua bocah itu, si pengendara langsung menarik tuas rem sekuat tenaga, berusaha untuk mengendalikan motornya agar tidak menabrak kedua anak itu. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ciiiittt... Braaakkkk!!!
Suara decitan ban berdecit keras memekakkan telinga, meninggalkan jejak hitam di aspal. Pengendara motor itu berhasil mengerem mendadak, hanya beberapa senti meter dari tubuh Zoey dan Zayn. Jalanan pun langsung macet seketika akibat kejadian itu.
Kedua bocah itu merasa terkejut langsung terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk bersama di aspal, shock dan ketakutan. Mereka tidak merasakan sakit apa pun, tetapi Zoey langsung menangis dan memanggil-manggil ibunya. Zayn cepat bangkit dan memeluk adiknya.
Pengendara motor yang ternyata seorang gadis itu, turun dari motornya dengan wajah pucat. Ia menghampiri Zoey dan Zayn lalu berjongkok di depan mereka.
"Hai, Dik? Kalian tidak apa-apa, kan?" tanyanya dengan cemas
Zoey dan Zayn mendongak, menatap gadis itu dengan mata berair. Mereka menggeleng pelan.
"Maafkan, kakak, ya." Gadis itu lalu memeluk Zayn dan Zoey.
Beberapa orang yang melihat peristiwa itu langsung berlarian mendekat. Jantung mereka hampir copot melihat kejadian yang sangat menegangkan itu.
"Ya Tuhan! Kasihan sekali mereka," gumam seorang ibu.
"Alhamdulillah... masih dikasih keselamatan!" seru seorang wanita muda.
"Astagfirullah...! Untung saja pengemudi motornya sigap," timpal seorang pria.
Darrel yang melihat dari kejauhan orang ramai berkerumun di jalan, langsung berlari secepat kilat menghampiri. Dia teringat kedua anaknya.
"Jangan-jangan.... Tidak mungkin!" Dia berusaha mengenyahkan pikiran buruknya. Jantungnya serasa berhenti berdetak begitu berada di dekat kerumunan.
"Zoey...! Zayn...!" teriak Darrel dengan suara panik. Dia membelah kerumunan lalu mendekati kedua anaknya.
"Papa...?" seru Zoey dan Zayn bersamaan, melihat Darrel menghampiri mereka.
Darrel langsung berlutut dan memeluk kedua anaknya dengan erat, lalu memeriksa tubuh mereka, memastikan tidak ada luka serius.
"Kalian tidak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Darrel dengan nada khawatir.
"Zoey takut, Papa," rengek Zoey, memeluk Darrel erat-erat.
"Zayn juga takut," timpal Zayn, menyembunyikan wajahnya di dada Darrel.
Darrel menghela napas lega. Dia bersyukur kedua anaknya selamat. Kemudian matanya menatap gadis pengendara motor itu dan mengucapkan berterima kasih.
"Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya," kata Darrel dengan tulus.
Gadis itu lantas berdiri dan berkacak pinggang menatap Darrel dengan tatapan marah.
"Menyelamatkan!" bentaknya. "Justru gara-gara anak-anak Bapak, saya hampir celaka! Bagaimana kalau tadi saya tidak sempat mengerem? Apa yang akan terjadi dengan anak Bapak?"
Darrel terdiam membenarkan ucapan gadis itu. Ini semua salahnya, dia yang telah lalai menjaga anak-anaknya.
"Maafkan, saya," kata Darrel dengan penuh menyesal. "Saya memang salah. Saya lalai menjaga anak-anak saya."
"Bapak pikir dengan kata maaf saja cukup!" balas gadis itu dengan sengit seolah tidak takut sama sekali. "Bagaimana kalau motor saya sampai rusak? Siapa yang mau ganti rugi, coba?"
Darrel menghela napas dan mendengarkan apa yang diucapkan gadis itu.
"Saya akan mengganti semua kerugian Anda," kata Darrel. "Berapa pun biayanya, saya akan bayar."
Gadis itu menatap Darrel dengan tatapan sinis. "Saya tidak butuh uang Bapak," katanya. "Saya hanya ingin Bapak lebih memperhatikan anak-anak Bapak. Jangan sampai mereka berkeliaran di jalanan sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi!"
Setelah selesai berbicara, gadis itu berbalik dan menghampiri motornya. Ia menyalakan mesin motornya lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Darrel hanya bisa diam, menatap kepergian gadis itu dengan pandangan tak terbaca. Dia merasa bersalah, malu, dan menyesal. Hari ini dirinya telah melakukan kesalahan. Namun, selanjutnya dia berjanji akan menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk Zoey dan Zayn.
"Lain kali lebih berhati-hati menjaga mereka, Mas. Mereka masih anak-anak dan butuh perhatian khusus," ucap seorang ibu dengan nada prihatin.
"Iya, terima kasih atas perhatiannya," sahut Darrel sambil mengangguk pelan.
Darrel pun kembali ke tempat mangkalnya sambil menggendong Zoey dan Zayn. Namun, begitu sampai di sana dia dikejutkan oleh pemandangan yang membuatnya menghentikan langkah dan pikirannya dipenuhi tanda tanya.
.
Kira-kira apa yang terjadi, ya?