hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Bukan Gadis Lemah yang Sama
SMA Pelita Bangsa bukan sekadar sekolah; itu adalah panggung peragaan busana dan kekuasaan bagi anak-anak konglomerat. Di koridor yang berlantaikan granit mengilat, Safira berjalan dengan langkah yang tak lagi ragu. Rambut short bob-nya yang berayun lembut serta poni wispy yang membingkai wajahnya memberikan kesan imut sekaligus misterius, sangat kontras dengan seragam elitnya yang melekat pas.
Ia tidak lagi mencoba mencari perhatian Raka atau Bima. Ia tidak lagi sengaja melewati kelas 12 hanya untuk mencuri pandang pada Nathan. Safira berjalan lurus menuju kelasnya di lantai dua, melewati deretan loker siswa yang kini dipenuhi bisikan.
Di lounge eksklusif lantai atas, tempat berkumpulnya para senior, suasana mendadak riuh. Bagas, Mufti, Valen, dan Nathan sedang duduk santai sambil menyesap kopi mahal mereka.
"Bim, itu beneran adik lo?" Bagas menunjuk ke arah bawah, ke dalam lapangan di mana Safira baru saja lewat. "Sumpah, dia cantik banget kalau nggak dandan kayak tante-tante gitu."
Bima terdiam, matanya terpaku pada sosok Safira yang terlihat sangat tenang—terlalu tenang. Sementara Nathan, yang biasanya hanya diam, kali ini meletakkan bukunya. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Wajah polos Safira mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama terkubur.
Flashback
Tiga tahun lalu, saat Safira baru saja menginjakkan kaki di SMP elit yang satu yayasan dengan SMA ini. Sebagai murid baru yang kikuk dan selalu menjadi sasaran bullying karena statusnya sebagai "anak yang tidak diinginkan", Safira pernah terjepit di belakang gedung olahraga.
Sekelompok siswi kelas 9 telah menyiramnya dengan air kotor dan menyembunyikan sepatunya. Safira menangis sesenggukan di tengah hujan yang mulai turun, merasa dunia benar-benar membencinya. Saat itulah, sebuah payung hitam menaungi kepalanya.
"Jangan nangis di sini. Nanti kamu sakit," suara itu rendah dan menenangkan.
Safira mendongak dan melihat Nathan—yang saat itu adalah ketua OSIS SMP—menatapnya dengan sorot mata kasihan. Nathan memberikan jaketnya yang hangat kepada Safira dan mengantarnya sampai ke gerbang, bahkan membelikannya minuman cokelat hangat.
Itulah awal mulanya. Bagi Safira yang kehausan kasih sayang, perlakuan kecil Nathan adalah oase. Sejak hari itu, ia terobsesi pada Nathan, memberikan segalanya, mengejar pria itu ke mana pun, hingga akhirnya Nathan merasa risih dan berubah menjadi dingin. Safira tidak sadar bahwa bagi Nathan, itu hanyalah tindakan kemanusiaan biasa, bukan cinta.
flashback off
Saat jam istirahat, Safira bermaksud pergi ke perpustakaan untuk memeriksa laporan dari Andi melalui laptopnya. Namun, di koridor terbuka yang menghadap ke lapangan basket, ia dihadang oleh Maya dan teman-temannya. Meskipun mereka satu angkatan, Maya selalu merasa lebih unggul karena ia berada di kelas unggulan, sementara Safira sengaja memilih kelas biasa agar tidak mencolok.
"Wah, liat siapa ini. Si pembawa sial sudah punya gaya baru?" Maya tertawa, suaranya melengking manja yang dibuat-buat. "Kenapa, Kak? Mau narik perhatian Kak Nathan lagi ya dengan sok-sok berubah jadi gitu?"
Safira berhenti, menatap Maya dengan pandangan kosong. "Maya, kamu seumuran denganku. Berhenti memanggilku 'Kak' seolah-olah kamu itu adik kecil yang polos. Itu menjijikkan."
Wajah Maya memerah. Di saat yang sama, rombongan Raka, Bima, Nathan, dan teman-temannya lewat. Melihat ada keributan, Bagas langsung memprovokasi.
"Wah, ada drama sisterhood nih! Fir, jangan galak-galak sama Maya dong, dia kan cuma nanya," seru Bagas sambil tertawa. Ia ingin mencoba menyentuh bahu Safira, sebuah kebiasaan kurang ajar yang sering ia lakukan untuk menggoda Safira yang dulu hanya bisa menunduk.
Namun, sebelum tangan Bagas menyentuh kain seragamnya, tangan Safira bergerak secepat kilat.
PLAK!
Safira menangkis tangan Bagas dengan keras, lalu dengan gerakan memutar yang sangat presisi, ia menangkap pergelangan tangan pria kelas 12 itu dan menekuknya ke belakang.
"ARRGGHH! SAKIT! LEPASIN, FIR!" Bagas berteriak, tubuhnya terpaksa membungkuk mengikuti arah tekukan tangan Safira.
"Aku katakan sekali lagi, jangan sentuh aku tanpa izin," desis Safira. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.
Bima dan Raka terperanjat. "Safira! Lepasin Bagas! Apa-apaan kamu pakai bela diri segala?!" bentak Bima panik.
"Sejak kapan kamu bisa begini, Fira?" Nathan maju, matanya menatap tajam ke arah tangan Safira yang mengunci Bagas dengan teknik kuncian profesional.
Safira melepaskan tangan Bagas dengan kasar hingga pria itu terjerembap ke lantai marmer. Ia merapikan rok seragamnya dan menatap Nathan tepat di mata. "Sejak aku sadar bahwa perlindungan yang Kak Nathan berikan tiga tahun lalu itu fana. Aku belajar untuk melindungi diriku sendiri karena Abang-Abangku terlalu sibuk melindungi orang yang salah."
Ia melirik Maya yang kini gemetar ketakutan di balik punggung Raka.
"Krav Maga? Atau Brazilian Jiu-Jitsu?" tanya Valen, si pendiam yang ahli dalam analisis. Matanya berkilat kagum. "Gerakanmu sangat efisien, Safira. Itu bukan gerakan amatir."
"Bukan urusanmu, Kak Valen," jawab Safira pendek.
Maya, melihat perhatian semua orang beralih pada kehebatan Safira, langsung berakting. "Pa-papa pasti marah kalau tahu Kak Fira pakai kekerasan di sekolah... aku takut..." ia mulai terisak palsu.
Safira hanya tersenyum miring—sebuah senyuman yang terlihat sangat imut namun membuat siapa pun yang melihatnya merasa merinding. "Lapor saja, Maya. Aku tidak sabar melihat wajah Papamu itu tahu anak kesayangannya ini pengecut yang hanya bisa mengadu."
Safira berbalik dan berjalan pergi. Nathan hanya bisa terdiam, tangannya mengepal di saku celana. Rasa bersalah dan rasa ingin tahu bercampur menjadi satu. Safira yang sekarang bukan lagi gadis yang mengejarnya dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Safira yang sekarang adalah orang asing yang sangat memikat, namun mustahil untuk digapai.
Sore Hari
Safira tidak langsung pulang. Ia memesan taksi online menuju pusat kota, ke sebuah restoran mewah bernama SK restoran.Orang-orang hanya tahu bahwa SK restoran adalah restoran paling eksklusif di kota J dengan pemilik misterius yang tidak pernah muncul di publik.
Andi sudah menunggu di ruang kantor lantai atas yang kedap suara.
"Fira, ini laporan bulan ini. Restoran SK restoran dan beberapa Kafe milikmu mengalami kenaikan profit yang signifikan," Andi menyodorkan tablet. "Tapi ada kabar buruk. Raka, kakak pertamamu, baru saja memesan tempat untuk jamuan bisnis ayahnya di sini besok malam."
Safira menyesap jus jeruknya, matanya menatap tajam ke arah laporan keuangan. "Oh ya? Bagus kalau begitu. Biarkan mereka datang sebagai pelanggan. Pastikan pelayanan terbaik, tapi jangan biarkan mereka masuk ke area pribadiku."
"Apa kamu tidak takut mereka akan curiga?" tanya Andi ragu.
Safira tersenyum, menyentuh ujung rambut bob-nya. "Biarkan saja. Aku ingin mereka merasa nyaman di tempat yang mereka pikir milik orang lain, padahal mereka sedang menginjakkan kaki di tanah kekuasaanku. Biarkan mereka mengeluarkan uang di restoran ini.
Di ruangan itu, Safira bukan lagi anak SMA kelas 11 yang ditindas. Ia adalah pemilik tunggal bisnis yang nilainya bahkan hampir menyaingi perusahaan Maheswara yang sedang goyah. Kesempatan kedua ini benar-benar ia gunakan untuk membangun benteng yang tak bisa ditembus oleh siapapun, termasuk oleh rasa rindu yang sesekali masih mengetuk hatinya.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas