Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban
Hari yang di nanti-nanti pun tiba.
Sekarang, Hayati kembali lagi bersama suami dan juga Bagas.
Di ruang tamu, yang terlihat jauh lebih rapi, Safira duduk ditemani oleh orang-orang terkasihnya. Termasuk si bungsu.
Setelah sedikit berbincang-bincang. Akhirnya, Hayati menanyakan menancapkan kesediaan dari Safira.
"Sebelumnya, bolehkah aku bertanya beberapa pertanyaan?"
"Silahkan nak! Tanyakan apapun yang ingin kamu tanyakan," balas Hayati.
"Jika kita menikah nanti, uang nafkah yang kamu beri, bisakah aku membaginya untuk orang tuaku?" tanya Safira, dengan sedikit terbata.
"Itu uang nafkah, hak mu, milik mu ... Dan kamu, bebas menggunakannya, ke manapun itu. Dan aku sebagai suami, tidak berhak ikut campur," sahut Bagas dengan tenang. "Tapi," Bagas menjeda ucapannya.
Safira, Malik dan Juliana menatap ke arah Bagas. "Aku akan memberikan dua juta perbulan untuk mereka," ucap Bagas, menatap mereka secara bergantian.
Hayati dan Yusuf mengangguk setuju. Mereka memang gak kesusahan dalam ekonomi. Karena selain jadi petani, Bagas juga memelihara lembu dan kambing. Jadi, untuk sekarang uangnya bisa di katakan banyak.
Sedangkan Yusuf dan Hayati, keduanya memang tak lagi ke sawah. Tapi, uang yang di kirimkan oleh ketiga menantunya lebih dari cukup untuk menopang hidup mereka. Bahkan bisa di katakan lebih.
"Nak, itu terlalu banyak," ujar Juliana, menolak secara halus.
Malik pun mengangguk setuju. Menerima uang begitu saja, dia merasa tak pantas. Toh, mertua bukan tanggungan menantu. Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.
"Kami ikhlas kok. Toh, aku juga mendapatkan hak yang sama. Baik dari ketiga menantuku yang lain, juga dari Bagas," papar Hayati tersenyum lembut.
"Tapi, itu terlalu banyak, bahkan lebih banyak dari upahku," lirih Juliana haru.
"Jadi, bisakah kamu jangan lagi bekerja?" tanya Bagas hati-hati.
"Jika memang benar, kamu memberikan ibuku uang, maka aku gak akan kerja. Seperti keinginan mu," sahut Safira lirih.
"Untuk tempat tinggal, kamu mau dimana?" tanya Bagas.
"Aku ikut, kemanapun suami ku, membawaku ..." sahut Safira mantap.
Hayati tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang tinggal beberapa lagi. Begitu halnya juga dengan Yusuf.
"Bisakah, ibu meminta Safira untuk tinggal sama ibu?" tanya Hayati lembut.
Bagas terkejut, dengan pertanyaan ibunya.
Bukan ini, keinginannya. Dia malah ingin Safira tetap tinggal di rumah ibunya sendiri. Sebab, dia gak mau jika nanti Nadia melihat mereka. Bagas, belum sanggup melihat Nadia kecewa.
"Tapi, bisakah aku menjenguk ibuku dan abangku?"
"Bisa, bahkan kapanpun kamu mau," sahut Hayati, meyakinkan Safira.
Tekad Hayati, dia tidak akan melepaskan, Safira lagi. Apapun yang terjadi, Safira harus menjadi menantunya.
"Kalo begitu, aku mau," lirih Safira. Bahkan, Yusuf ataupun Hayati, tak bisa mendengarkannya.
"Alhamdulillah!" seru Bagas, bersyukur.
"Alhamdulillah," Hayati, dan Yusuf juga ikut-ikutan.
Kemudian, karena Safira dan keluarganya setuju. Hayati, dan Yusuf mulai menyusun rentetan rencana. Mereka mengungkapkan, jika tak ada pertunangan, ataupun lainnya.
Masing-masing mereka sepakat, untuk langsung menikahkan keduanya. Bukan tanpa alasan. Mereka hanya gak mau Bagas, kembali berubah.
Akhirnya, kedua keluarga sepakat. Mereka akan mengadakan acara, pesta dua bulan kemudiaan.
Dan itu, waktu yang cukup, untuk mengurus segala keperluan, semacam membooking make-up, ataupun pelaminan, serta fotografer.
Sedangkan Bagas dan Safira hanya menerima. Keduanya menerima rentetan acara yang telah di susun oleh keluarganya.
...✨✨✨...
Kabar tentang, Bagas melamar seorang gadis mulai berhembus di desa.
Padahal, baik Yusuf dan Hayati, telah menyimpannya secara rapat.
Namun, di keluarga. Ada saja, seseorang yang tak bisa di percaya. Dia membicarakan hal tersebut, pada orang lain. Dan orang lain, juga membeberkan hal itu, pada orang lainnya.
Alhasil, kabar itu terdengar sampai di telinga Hesti dan juga Anwar.
Ada beberapa orang menyayangi keputusan Bagas. Padahal, Nadia sosok yang sepadan dengannya. Selain itu, Bagas juga sudah berkorban banyak untuk pacarnya itu.
Dan kubu satunya lagi, malah menyetujui keputusan Bagas. Mencari wanita lain yang mau menikah dengannya, merupakan cara balas dendam yang paling sempurna.
Karena secara gak langsung, mereka menunjukkan, jika Bagas masih ada yang mau, walaupun keluarga Nadia menolak.
Beruntung kabar tentang Bagas lamaran, hanya terdengar simpang siur. Ada yang mengatakan jika calon istri Bagas juga seorang bidan. Ada pula, yang mengatakan jika itu orang biasa. Namun, mereka semua, belum lah, tahu secara keseluruhannya.
Ketika di tanya. Tentu saja, jawaban mereka, lihat saja nanti.
...✨✨✨...
Anwar dan Hesti mulai gelisah. Keduanya sama-sama gak mau kalah saing dari Bagas.
Lalu, mereka sepakat, agar mencari jodoh untuk Nadia.
Tentu saja, tanpa menanyakan persetujuan Nadia terlebih dulu. Karena itu, tentulah, tidak penting.
Setidaknya, mereka menganggapnya begitu. Toh, Nadia anaknya. Dan Anwar sebagai wali, punya hak penuh, atas kehidupan anak perempuannya itu
Anwar mulai bertanya pada keponakannya yang mempunyai suami polisi. Dia berharap, barang kali, teman dari suami keponakannya ada yang lagi mencari jodoh.
Namun, usaha yang di nilai mudah. Tak semudah yang mereka kira.
Selama sebulan lebih, keduanya mencari calon untuk Nadia. Memang ada, tapi, jika di nilai, keuangan Bagas malah lebih di bandingkan mereka hanya hanya jadi pegawai honor.
Guru, di sekolah sd kampung mereka contohnya.
Pemuda yang berprofesi guru itu, datang dengan niat baik. Dia tahu, Anwar dan Hesti sedang mencari jodoh untuk anaknya. Dan menurut kabar yang dia dengar, syarat pertama ialah harus ada titel di belakang namanya.
Maka dari itu, dengan kepercayaan penuh, dia datang menyampaikan maksudnya. Namun, kedatangannya di tolak, mereka menilai gaji guru honor tak cukup untuk jajan anaknya selama seminggu.
Alhasil, pencarian jodoh untuk Nadia terus berlanjut. Sampai menemukan kriteria yang mereka impikan.
"Coba kamu tanyakan pada teman-teman kuliahmu lainnya. Apakah mereka ada kenalan dokter?" perintah Anwar suatu ketika.
"Jika buka dengan bang Bagas, maka jangan harap aku menikah," ujar Nadia, dengan sendu.
"Dia udah punya calon istri. Jadi, kubur lah, impianmu itu," hardik Hesti.
"Lelaki bisa menikah sampai empat kali bukan? Apa salahnya aku jadi yang kedua? Bahkan aku yakin, aku lah, satu-satunya perempuan yang hanya dicintanya," balas Nadia menatap nyalang ke orang tuanya.
Namun siapa sangka, jawaban yang diberikannya menyebabkan Anwar tersulut emosi.
Alhasil, sebuah tamparan, mendarat dengan cepat di pipinya.
Sakit? Tentu saja tidak. Karena hatinya jauh lebih sakit di bandingkan tamparan yang di rasakan.
kebiasaan ih