Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Apartemen Mathias.
...~•Happy Reading•~...
Kulit Mathias yang sawo matang, jadi merah padam karena murka melihat yang dilakukan Angel.
"Oooh... Ini Makassarmu...?! Ini yang kau sebut kangen dengan orang tuamu...?!" Mathias melangkah masuk sambil memegang helm di tangan dengan erat.
Angel diam terpaku, tidak bisa berkata-kata. Karena Mathias berdiri kaku di ruang tamu, sambil melihatnya dengan mata membara.
"Bagas... Saya kasih waktu 2 menit untuk rekam semuanya. Jika ada yang berani bergerak dari tempatnya, saya akan injak dua jadi satu." Mathias berkata dengan amarah yang meluap. Dia berdiri seperti harimau yang siap menerkam. Angel yang sedang ketakutan makin ketakutan melihat wajah Mathias.
"Kau laki-laki yang tidak tahu diri. Melihat cincin di jarimu, semoga besok kau masih bisa melihat langit. Kau bersyukur, dia bukan istriku. Kalau dia istriku, jangankan melihat matahari. Bintang malam ini pun tidak akan kau lihat. Aku akan mengirimmu dan dia ke ICU. Jadi lekas menghilang dari hadapanku." Mathias berkata sambil menggerakan tangannya mengusir pria itu.
"Dan kau perempuan yang tidak taju diri. Aku membiarkan kau tinggal di apartemen ini, bukan untuk mempertontonkan auratmu. Kau bilang ingin tinggal di kota karena mau meniti karier. Ini kariermu...? Karier bermain ular tangga...?" Mathias sangat emosi dan marah.
"Aku kira kau gadis baik-baik, hingga membiarkanmu tinggal sendiri di apartemen ini. Aku yang punya apartemen saja, tidak pernah datang tidur di sini. Kau malah bawa lelaki lain ke tempatku."
"Aku sudah buta dengan semua polesan dan ucapan manismu." Mathias makin marah, mengingat apa yang dilakukan Angel padanya.
"Cepat angkat kaki dari sini. Jangan sampai tanganku melayang, dan muka munafikmu akan menempel di tembok." Mathias berusaha menahan marah dan sakit hatinya.
"Kau belum berdiri dan keluar juga?" Tanya Mathias, makin emosi dan geram melihat laki-laki itu masih di tempat. Hanya gemetar dan membungkuk menutup auratnya.
"Bagaass... Buka pintunya, saya akan membatu dia keluar dari sini." Mathias berteriak, sambil mengangkat kaki kanannya siap menendang lelaki tersebut keluar dari ruang tamu.
"Pak Mathiaaas... Berhentiii...! Biarkan dia keluar sendiri saja." Teriak Bagas memohon, sambil mengangkat kedua tangannya. Karena dia pernah melihat bossnya menendang orang, keluar dengan pintu.
Mathias menahan kakinya dengan menendang meja di dekatnya. Sehingga meja patah dan terbelah jadi dua. Wajah Angel langsung memutih, sebab belum pernah melihat Mathias semarah itu.
"Jangan berikan mereka berpakaian. Biarkan mereka berjalan keluar seperti itu. Karena saraf malunya sudah putus. Jadi biarkan orang melihat kema^luan mereka." Mathias berkata kepada Bagas.
"Bagas... Foto mereka dengan jelas, saya akan kirim untuk keluarga perempuan ini. Supaya mereka taju perbuatannya. Jangan sampai mereka datang mengganggu." Mathias mengingat keluarga Angel tahu dia berpacaran dengannya.
"Angkat muka kalian, kalau tidak mau helm ini mendarat di kepala kalian." Ucap Mathias saat melihat Angel dan lelakinya menunduk, menyembunyikan wajah mereka saat akan difoto oleh Bagas.
Angel memohon untuk bisa memakai bajunya, begitu juga dengan lelakinya. "Saya sudah katakan, lebih baik cepat keluarrr... Karna sekarang saya muak melihat dan jijik untuk menyentuh kalian."
"Jangan sampai aku melepaskan jacket ini dan menyeret kalian berdua dari apartemen sampai ke jalanan." Ucap Mathias kaku dan dingin. Angel dan lelakinya, berlari keluar sambil mengambil baju mereka sekenanya yang ada di lantai.
"Bagas, kunci pintu. Besok, panggil orang untuk membersihkan seluruh apartemen ini. Semua pakaian perempuan itu, kau masukan ke tempat sampah." Mathias berkata kepada Bagas, setelah Angel dan teman lelakinya keluar.
Mathias periksa isi apartemennya tanpa mau menyentuh sesuatu pun yang ada dalam ruang tamu apartemen. Dia merasa jijik mengingat yang baru dilihat.
"Baik, Pak. Dan bagaimana dengan ponsel, dompet dan tas mereka ini?" Tanya Bagas saat melihat ponsel, dompet dan tas yang ketinggalan.
"Ambil kantong di dapur dan kau masukan terpisah. Ponsel dan dompet dimasukan dalam satu kantong. Sedangkan tasnya dimasukan ke dalam kantong yang lain." Mathias menahan emosi dan mulai memperhatikan isi apartemennya dengan naluri pengacaranya.
"Ini, sudah Pak. Mau taruh di mana.?" Tanya Bagas. "Masukan dalam tas kerjaku." Ucap Mathias.
"Itu, tas kerjanya ada di badan bapak." Bagas merasa lega melihat amarah bossnya sudah mulai surut. Namun tidak menyadari tas kerja ada padanya.
Mathias membuka kancing jacket. Bagas memasukan semua dalam tas kerja yang lagi diselempang pada badannya. "Kalau sudah, mari kita kembali ke kantor untuk ambil motormu. Jangan lupa email video tadi ke saya." Mathias berkata sambil keluar dan mengganti password pintu apartemen.
Sambil berjalan turun dari apartemen ke tempat parkir, Mathias berpikir. 'Apa yang salah dengan sikapnya selama ini, sampai dengan mudahnya dibohongi oleh wanita itu?'
Mathias teringat pembicaraannya tadi siang dengan Sari. 'Padahal tadi dia cuma bercanda dengan Sari, wanita itu sedang mencari angin. Ternyata bukan hanya mencari, tetapi sudah main angin. Aku akan melihat, angin akan menghempaskan dia kemana.' Mathias membatin dalam hatinya yang terluka.
'Katanya: Kalau sayang, jangan terlalu di jaga. Berikan kebebasan, mala kebablasan. wanita, wanitaaa. Disayang, mala lupa jalan.' Mathias membatin, dan kembali emosi dan geram.
Mathias yang sudah duduk di atas motor, langsung tancap gas, saat Bagas telah duduk di belakangnya. Apalagi jalanan mulai sepi, Bagas hanya diam dan memeluk bossnya erat-erat.
Setelah tiba di depan kantor, Bagas turun dari motor lalu duduk di lantai depan pintu kantornya, sambil memegang lututnya yang gemetar.
Melihat yang dilakukan Bagas, Mathias menarik nafas dan menghembuskan dengan kuat untuk menurunkan rasa marah dan sakit hati.
Dia membuka pintu kantor lalu masuk ke ruang tunggu. "Bagas, kau belum bisa berdiri?" Mathias melihat Bagas masih duduk sambil menepuk-nepuk lutut dan betisnya.
"Sedikit lagi Pak. Ini kakiku belum mau berhenti dansa." Bagas mencoba bercanda.
"Untung kakimu yang dansa, kalau jantungmu, saya harus memanggulmu." Mathias berkata sambil membuka jacket kulit dan melepas tas kerja.
"Lebih baik saya dipanggul bapak, daripada diajak ngebut. Jantungku bisa pindah tempat, Pak." Bagas sedikit tenang sebab melihat bossnya mulai tenang. Bagas berdiri dan berjalan pelan ke ruang tunggu mendekati bossnya.
"Kalau jantungmu pindah tempat, aku tidak membawamu ke kantor, tetapi ke Rumah Sakit." Mathias memukul lengan Bagas dengan jacket di tangannya.
"Bagas... Pesan makanan untuk kita makan malam di sini, sebelum kita pingsan. Nanti selesai makan baru kau pulang." Mathias meminta setelah Bagas duduk di kursi ruang tunggu.
"Baik, Pak. Bapak mau makan apa?" Tanya Bagas sambil mengeluarkan ponselnya.
"Apa saja, yang penting panas." Ucap Mathias. Bagas segera memesan soto ayam untuk mereka berdua, tidak lupa mengambil air mineral hangat untuk bossnya.
Setelah makan, Mathias naik ke ruang pribadinya untuk mandi. Dia ingin mendinginkan hati dan kepalanya. Peristiwa yang baru dialaminya membuat dia tidak kuat lagi untuk pulang ke rumah. Dia masuk ke 'Cabin' untuk mandi. (istilah untuk ruang pribadinya).
Selesai mandi dan berpakaian, Mathias masuk ke ruang kerjanya dan menggulung krei untuk melihat jalanan yang mulai sepi.
Sambil berdiri, Mathias memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Angel. Mereka sudah lebih dari dua tahun bersama. Mereka sudah membicarakan untuk jenjang yang lebih serius.
Mathias sudah pernah datang ke Makassar untuk bertemu dengan keluarga Angel. Jadi dia berpikir, hubungan mereka bukan hanya sekedar pacaran biasa. Tinggal selangkah lagi mereka akan bertunangan.
Sekarang, Mathias belum melamarnya karena sedang memantapkan kariernya terlebih dahulu. Angel juga sedang meniti karier sebagai model. Mereka telah membicarakan itu dan Mathias mengijinkan dia berkarier sebagai model. Karena Angel meyakinkannya bahwa itu adalah cita-citanya sejak kecil. Walaupun hanya sebentar menjadi model, itu membahagiakan dia.
Sehingga Mathias mensupportnya. Dia mengijinkan Angel tinggal di apartemen miliknya untuk lebih mudah beraktivitas. Ternyata kepercayaan yang dia berikan disalah gunakan.
Mathias memandang lalu lintas di jalan raya yang mulai sepi, seperti hatinya yang sepi dan sedih. Dia kembali memikirkan perjalanan hubungannya dengan Angel selama ini.
'Aku bisa menganalisa kasus dengan baik, tetapi tidak terhadap wanita yang satu ini. Dia benar-benar telah mengelabuiku.' Mathias membatin lalu menurunkan krei dan beranjak ke cabinnya.
...~●○♡○●~...