Berawal dari kisah seorang gadis bernama Khanza alesha yg berperan sebagai Kakak perempuan dari anak lelaki bernama Zizi Bilqis.
perjuangan sang kakak untuk memberikan kehidupan bagi sang adik dengan kegigihannya.
ikuti saja kisah mereka selanjutnya, dengan terus dukung karya author AiiWa selalu 🙏❤️
tentunya, like, komen, jadikan novel favorit kamu😁 stay tuned 👈
❤️ saranghae ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babakan Ciparay
🍁🍁🍁
Di kota Bandung terletak perdesaan Babakan Ciparay terdapat pula sebuah rumah sederhana dari papan yang berdiri dengan kokoh terlihat cukup sederhana namun berkesan elegant dan beberapa bunga sengaja di biarkan menggantung pada bagian atap teras rumah.
Sekumpulan keluarga dari pak Adam dan ibu Laila beserta anak perempuan yang mereka beri nama Khanza Alesha, sejak itu umur Khanza berkisar 10 tahun yang sebentar lagi akan menimang seorang adik dikarenakan sang ibu telah hamil 9 bulan lamanya.
Keluarga pak Adam pindahan dari kota Jakarta menetap di Bandung krna pekerjaan yang dia dapatkan lumayan cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka hanya berbahasa Indonesia saja belum cukup mengerti untuk berbahasa daerah di sekitar tempat tinggal mereka.
Khanza Alesha seorang gadis kecil terlihat seperti anak orang kaya padahal keluarga mereka biasa saja apalagi sang ayah hanya bekerja buruh tani dan ibunya pekerja rumah tangga. Orangtuanya memanggil dirinya dengan sebutan Alsha hingga panggilan itu di ketahui oleh banyak orang di sekitarnya bahkan teman-temannya juga memanggil dengan sebutan yg sama.
Alsha memiliki kulit putih bersinar, hidung mancung, tahi lalat di bawah mata, rambutnya yg sudah tebal sedari kecil, wajah membentuk oval. Waktu berumur 3 tahun Alsha sangatlah comel karena dirinya bulat seperti panda pada umumnya. Tetapi, setelah semakin bertambah usia Alsha tidak lagi comel di saat tubuhnya sudah terlihat sedikit lebih tinggi.
Setiap harinya Alsha membantu sang ibu di rumah layaknya anak gadis bisa melakukan segala hal mulai dari pulang sekolah dia berjalan kaki sungguh tidak ingin merepotkan kedua orangtuanya setelah pulang dari sekolah Alsha menyapu rumah, cuci piring, membantu ayahnya menanam padi yang berjarak tidak jauh dari rumahnya.
Begitu berbaktinya Alsha terhadap kedua orangtuanya bahkan di saat dirinya mendengar kabar akan memiliki adik dia bukan sedih atau marah karena tidak di sayangi lagi, dia tak berfikir sejauh itu walaupun ibunya sedang mengandung Alsha terus merawat sang ibu selagi ayahnya bekerja tampak begitu bahagianya ia yang akan segera mendapatkan seorang adik.
Pada malam hari di sebuah klinik.
"Ukh Alsha...." Teriak sang ibu dari dalam kamar.
Karena suara teriakan cukup keras terdengar sampai ke telinganya Alsha meninggalkan pekerjaan itu seketika dia biarkan sesaat setelah mendengar ada yang memanggilnya.
"Kenapa umi?" tanya Alsha sambil mengelus kening Laila tampak panik di wajahnya.
Alsha sudah terbiasa memanggil ibunya dengan sebutan umi dan ayahnya sebutan abi entah mengapa dia sangat menyukai sebutan itu bukan perintah dari kedua orangtuanya namun atas dasar kemauan Alsha sendiri.
"Nak, cepat panggil Abi mu sekarang dan pergi ke rumah pak kades umi sudah tidak tahan lagi nak perut umi sakit," pintanya pula terlihat menghembus nafas satu persatu sambil mengelus berulang kali perutnya.
"Baik umi tunggu sebentar," turutnya dengan terus menyeka keringat ibunya tampaklah kedua alis bertautan seolah dia bisa merasakan kesakitan itu.
Setelah menyeka keringat ibunya Alsha pun langsung bergerak ke luar dari kamar sambil berlari tidak lupa pula dirinya menutup kembali pintu rumah dengan rapat.
Rasa takut tidak ada lagi bagi Alsha walaupun jalan yg dia lalui di waktu malam sangatlah gelap di karenakan lampu untuk menerangi jalanan sudah sangat terbatas.
Balai desa.
Sampailah Alsha di sebuah rumah yang di sampingnya terdapat balai desa tempat perkumpulan orang-orang sedang duduk berbincang.
"Alsha kamu mau kemana?" tanya seorang bapak tua saat melihat Alsha berlari dengan cepat.
"Maaf kek Alsha buru-buru nanti Alsha ceritakan," menjawab dengan teriakan sambil berlari karena mengingat ibunya sudah sangat kesakitan di rumah.
Saat dirinya sedang fokus berlari tanpa sengaja Alsha menyenggol sebuah batu berukuran sedang membuat Alsha akhirnya terjatuh.
Bughh
"Sssshh," desis menahan rasa sakit akibat batu tersebut melukai bagian lututnya.
Namun tidak membuat Alsha berhenti dan merengek malah dia berdiri dengan lutut yang sudah berdarah karena baginya rasa sakit itu tidaklah penting melebihi rasa sakit yang di rasakan oleh ibunya.
Alsha terus berjalan tampak tertatih walau perlahan sambil memegangi lututnya sehingga sesekali dia menyeka darah itu memakai tangannya sendiri.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiwa 🍂^^^
hus² sana bubuk aja lu..🚶♀️