Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muak bukan Benci
Hari berganti minggu dan minggu, usai tinggalnya Anita di kediaman Reno bersama Arga. Bocah dengan kecerdasan otak di atas rata-rata itu pun, sudah menjalankan pekerjaan sesuai perjanjian, tanpa melupakan tentang pekerjaannya sendiri.
Anita pun sibuk dengan bidang yang ia geluti, memiliki sebuah toko kue, walau tak selalu didatangi setiap hari. Anita membangun itu agar tak hanya Arga yang bekerja, meski uang yang dipergunakan untuk modal adalah milik Arga, tapi Anita menyicilnya tanpa sepengetahuan sang anak.
Itu adalah hasil kerja keras Arga, meskipun telah diberikan utuh padanya. Anita tak ingin menggunakan uang dari keringat putranya begitu saja, ia menyimpan untuk kehidupan Arga di masa depan.
Hari-hari tinggal di kediaman Reno, lelaki itu tak berhenti menunjukkan sikap posesif yang dianggap oleh Anita melewati batas wajar. Siapa yang menghubungi, kemana pergi dan dengan siapa, tak lepas dari rentetan pertanyaan layaknya kereta.
Bahkan, Reno menugaskan pengawal khusus untuk membuntuti Anita kemana pun ia pergi, melaporkan segalanya tanpa ada yang disembunyikan atau diri sebagai taruhan. Tentu apa dilakukan, tak diketahui oleh perempuan yang enggan menggunakan fasilitas diberikan oleh Reno.
Sesekali datang ke rumahnya untuk membersihkan dan membiarkan sinar mentari mengisi rumah, Anita pun mengambil kendaraan pribadi yang dipergunakan bersama Arga tanpa ingin bergantung pada siapa pun—terutama lelaki yang hampir setiap hari membuat Arga muak akan kelakuannya.
Sama seperti hari ini, bocah itu dibuat muak tak terkendali dengan kelakuan dari lelaki/ berada satu ruangan kerja dengannya. Arga tak pernah ingin ke perusahaan dan mengerjakan semua di rumah, namun berbeda dengan hari ini karena ia harus memimpin meeting untuk terobosan baru game dikembangkan.
“Berikan laporan yang aku minta setelah makan siang!” tegas Reno, ke arah seseorang tengah berada di balik beberapa komputer yang menyala bersama.
Tak ada jawaban, karena Arga menggunakan earphone sekarang. Dia memainkan jari-jari di atas keyboard, menatap ke arah beberapa komputer di hadapannya bergantian.
Reno berdiri dan berjalan ke meja kerja yang sengaja dipersiapkan untuk Arga dalam ruangan sama. Melihat telinga dengan earphone warna putih, Reno pun menarik. Seketika tatapan diberikan oleh Arga, konsentrasinya buyar tanpa menunggu nanti.
“Kau tidak mendengarku?!” tegas Reno.
“Saya tidak pernah ingin mendengarkan, Anda!” sinis Arga melirik.
Reno menarik dalam napas, membuangnya kasar. Telapak tangan bertumpu pada meja, membungkuk dan menatap tajam. “Berikan laporan yang aku minta, setelah makan siang!” ucap Reno.
Jawaban tak diberikan oleh seseorang berkemeja hitam—warna favorit Arga. Tangan meraih sebuah map hitam berlogo perusahaan dengan warna emas menghiasi, meletakkannya tepat di antara tumpuan tangan Reno. “Tidak perlu menunggu!” tekan Arga.
Reno membuka map tersebut, itu adalah laporan yang ia minta pagi ini. Tapi, bagaimana laporan itu bisa cepat terselesaikan, padahal Arga sepertinya tidak mengerjakan sama sekali. Jangankan mengerjakan, dia bahkan seolah tak peduli akan perintahnya diberikan.
“Kau mengarang semua ini?! Kau pikir ... ini pelajaran bahasa di mana kau bisa mengarang bebas?!” melotot Reno, tak membaca dan hanya sekedar membolak-balik setiap lembar saja.
“Saya tidak pernah sekolah, dari mana saya tahu tentang pelajaran mengarang? Baca saja,” santai Arga.
“Kau tidak pernah sekolah?” tak percaya lelaki tetap berdiri di depan meja kerja.
“Saya tidak punya surat kelahiran, saya juga tidak diterima beberapa sekolah. Kenapa? Apa itu penting?” santai kembali bocah dengan tatapan ke arah komputer.
“Saya permisi, lanjutkan saja kencan kalian. Saya sudah cukup muak, dan akan melanjutkan ini di tempat lain!” susulnya.
Reno terdiam, ia menatap ke arah anak laki-laki yang seketika berdiri usai melepaskan flashdisk. Terlalu malas untuk Arga berada dalam ruangan sama dengan lelaki yang terus bersama wanita.
Bukan wanita yang tak dikenal, Arga dan Anita telah berulang kali melihatnya. Bisa dibilang setiap hari, karena memang tiap pagi dan malam selalu saja wajah itu muncul di kediaman Reno.
Itu pula yang membuat Arga sangat muak dengannya, tingkah dewasa antar dua orang lawan jenis, semakin membuatnya sesak dan ingin memaki keras.
“Cari tahu sekolah mana saja yang sudah menolak Arga! sekarang!” perintah Reno pada wanita cantik berbalut pakaian kerja coklat nude.
Dia keluar menyusul Arga, tanpa menunggu jawaban atas perintah diberikan. Bertanya pada pegawai di mana bocah itu berada, Reno langsung menuju ke ruangan baru saja dimasuki oleh Arga.
Kejujuran atas diri yang tak pernah sekolah, tentang sebuah surat kelahiran, membuatnya tak nyaman sama sekali.
Membuka sebuah pintu kaca, langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk lebih dulu atau sekedar meminta izin. Arga yang sedang menyalakan sebuah komputer di balik meja kerja, menatap sekilas.
Itu adalah ruangan pegawai lain, pegawai yang langsung pergi begitu tahu jika atasannya masuk ke dalam. Reno tak pernah menggunakan kata saat ingin mengusir, tatapannya sudah cukup menjelaskan keinginannya.
“Kau membenciku?” tanya Reno tanpa basa-basi.
“Untuk apa? Mama selalu bilang, kalau kita tidak boleh membenci siapa pun, bahkan jika itu adalah orang paling jahat di dunia.” Arga menjawab dengan ketenangan. “Saya hanya muak, bukan benci.”
"Saya harap bisa keluar dari rumah, Anda. Silakan meletakkan pengawal di rumah untuk memantau, tapi saya tidak ingin tinggal di rumah Anda lagi. Saya tidak ingin mama terus disakiti," ucap Arga lagi, keseriusan terlihat dari ketenangan wajahnya.
Reno menundukkan pandangan, oksigen dihirupnya sangat banyak lalu membasahi bibir. "Aku tidak bisa membiarkan kalian pergi," jawab Reno seraya membuang napas panjang perlahan.
"Karena Anda mencintai mama saya, atau karena Anda ingin membalas apa yang terjadi sepuluh tahun lalu?" tanya bocah memang sudah banyak mengetahui apa sudah terjadi.
"Karena kamu anakku," batin Reno.
Hanya sanggup mengatakan dengan hati, Reno diam seribu bahasa. Apa yang akan ia jawab? mengakui Arga sebagai anak, atau memang dirinya ingin membalas rasa sakit hati atas diri Anita yang sudah meninggalkannya begitu saja?
Sebuah kertas kecil dengan helaian rambut yang tertempel di atas foto Anita, diberikan oleh Reno hari itu juga pada sekretarisnya. Kebenaran atas kecurigaan, harus segera dibuktikan tanpa menunggu waktu lagi.
Ya, benar jika Arga adalah putra kandungnya. Bocah sama yang sengaja meletakkan helaian rambutnya sendiri di atas foto sang mama. Kala itu, dia ditinggalkan dalam ruang kerja. Menyusuri ruang besar, lalu terhenti pada rak buku tersusun rapi tak jauh dari meja kerja Reno.
Kedua matanya terpusat pada sebuah buku hitam, di mana ujung foto keluar dari buku tersebut. Arga meraihnya, tak benar-benar terkejut ketika melihat paras cantik perempuan telah membesarkan dirinya.
Arga pernah mendengar tentang Reno, lelaki yang pernah singgah sesaat dalam hidup sang mama. Coba mencari tahu secara diam-diam, menggunakan keahliannya dalam bermain komputer. Ia mengantongi beberapa informasi, hingga pertanyaan tentang siapa ayahnya dilontarkan dan berharap kejujuran dalam penjelasan. Tapi, Nihil!
Helaian rambut sengaja diletakkan, menuliskan kalimat untuk menjalankan tes DNA jika sudah ada kecurigaan mengusik. Seketika lelaki kasar tengah diselimuti amarah itu, menghubungi Lisa—sekretaris yang sering keluar dari kamarnya setiap pagi hari.
Tidak perlu menunggu waktu lama untuk sebuah hasil, kekuasaan dicampurkan sanggup membuat apa pun berjalan lebih cepat dari pergerakan angin. Hasil yang di dapat tanpa menunggu hitungan hari itu, menjawab segala kecurigaan tak pernah salah.
ap ms ad seosean 2 ny