Seorang wanita bernama Aulia, ia mencoba untuk melanjutkan sekolah di Surabaya dekat dengan pondok pesantren karena dengan begitu, ia bisa belajar agama. Namun diam diam, ia menyukai seseorang. Ya, orang itu adalah guru yang mengajar di sekolahnya. Aulia tak bisa mengungkapkan isi hatinya dan hanya bisa mencintainya dalam diam. Sedangkan di sisi lain, seorang ustad yang mengajar agama di pondok pesantren juga menyimpan rasa kepada Aulia.
Akankah ustad itu bisa menjadikan Aulia sebagai pendamping hidupnya atau Aulia bisa bersatu dengan guru yang ia cintai dalam diam. Aulia hanya bisa pasrah. Namun tanpa ia duga, kedua orang tua Aulia malah sudah menjodohkan dirinya dengan seseorang. Siapakah orang itu? Akankah Aulia menerima perjodohan itu mengingat hatinya kini sudah di miliki oleh orang lain.
Jika ia menerima, lalu bagaimana kehidupan pernikahannya? Apakah berjalan mulus atau penuh lika liku. Bagi kalian yang penasaran, yuk intip cerita kehidupan Aulia dan ambil sisi positifnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Tamala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keliling pondok pesantren
Sesampai di kosan, Aulia dan juga Sinta belajar bersama untuk mengerjakan tugas yang akan di kumpulkan besok. Setelah hampir satu jam. Akhirnya mereka pun selesai mengerjakan tugasnya.
"Li?" panggil Sinta yang sudah merasa bosan dengan tugasnya yang begitu numpuk.
"Iya, Sin. Ada apa?" tanya Aulia yang masih merapikan bukunya dan menaruhnya di dalam tas.
"Keluar lagi yuk." Ajak Sinta memelas agar sahabatnya itu mau di ajak untuk keluar.
"Emmm gimana ya. Kita kan tadi sudah keluar. Masak iya keluar lagi." Jawab Aulia sambil tersenyum.
"Itu kan tadi sebelum mengerjakan tugas. Lagian aku bisa garing kalau cuma di kosan terus." Ucap Sinta sambil cemberut karena udah gak betah lama lama berada di dalam kosan.
"Baiklah, ayo kita keluar." Akhirnya Aulia pun menyetujui keinginan Sinta dari pada ia harus melihat sahabatnya cemberut mulu mending dia mengabulkan keinginannya, toh ia juga sebenarnya merasa bosan berada dalam kosan. Apa salahnya jika keluar, toh setelah ini ia akan sibuk lagi dengan aktivitasnya yang supuer duper padat.
"Beneran?" tanya Sinta dengan penuh semangat.
"Iya."
"Iya sudah yuk, cepetan keluar. Jangan lupa pintunya di kunci nanti ada orang masuk." Ujar Sinta mengingatkan sahabatnya untuk tidak lupa mengunci pintu kosanya.
"Oke," Aulia segera mengunci pintu lalu merekapun pergi berkeliling di dekat pondok pesantren.
"Di sini enak ya Li suasanannya, tentram dan nyaman banget." Ucap Sinta melihat suasana di sekelilingnya yang beda dengan yang ada di rumahnya.
"Iya makannya aku suka tinggal di sini. Mungkin karena berdekatan dengan pondok pesantren jadi gak ada yang neka neko. Sungkan juga kan kalau mau bikin ulah."
"Iya juga sih......semua yang ada di sekitar sini penuh dengan etika, aku jadi pengen tinggal di sini deh. Aku bosen tinggal di rumahku yang bising dengan suara mobil dan kendaraan yang lewat depan rumah. Makhlum rumahku berdekatan dengan jalan raya. Jadi nya ya gitu deh. Apalagi mama dan papaku juga gak pernah ada di rumah, mereka selalu saja sibuk dengan aktivitas mereka. Aku sampek merasa seperti gak punya orang tua. Karena aku gak pernah merasakan kasih sayang dari mereka. Mereka sudah di butakan oleh harta sampai mereka lupa bahwa mereka punya anak yang juga butuh kasih sayang dan juga butuh perhatian dari mereka." Ucap Sinta dengan nada sedih.
"Iya sudahlah jangan di bahas. Gimana jika kita pergi ke suatu tempat. Aku yakin kamu pasti senang deh." Ujar Aulia yang ingin membuat sahabatnya itu tersenyum dan lupa dengan kesedihannya.
"Kemana?" tanya Sinta
"Udah jangan banyak tanya. Kamu cukup ikut kemanapun aku pergi."
"Oke."
Merekapun pergi ke suatu tempat yang menurut Aulia, itu tempat sangat indah dan bikin siapa saja merasa betah ingin berlama lama di sana. Setelah hampir 10 menit, mereka jalan. Akhirnya mereka juga sampai di sebuah sungai yang pemandangannya sangat indah dan menarik.
"Gimana, kamu suka gak di sini?" tanya Aulia
"Iya aku suka banget. Aku gak nyangka loh ternyata ada tempat seindah di sini. Kamu tau dari mana?" tanya Sinta.
"Aku tau dari temanku yang tinggal di pondok. Pas dia izin pulang, dia membawaku kemari. Awalnya aku juga gak menyangka loh kalau ada tempat seindah ini." ucap Aulia.
"Emang mereka boleh pulang ya?" tanya Sinta tak mengerti.
"Boleh dong. Asal ada alasan yang kuat dan tepat. Yah selama alasan itu masuk akal makan pihak pengurus memperbolehkan untuk pulang maksimal 3 hari."
"Enak juga ya. Aku fikir kalau anak pondok itu gak boleh pulang." ujar Sinta yang kurang faham tentang masalah pondok pesantren.
"Yang aku tau, di pondok pesantren itu pulangnya satu tahun satu kali. Pas idul fitri doang. Itupun cuma di jatah 15 hari doang. Selain itu pihak pondok pesantren tidak meliburkan siapapun kecuali mereka sendiri yang meminta izin ke pihak pengurus."
"Oh gitu ya." Sinta hanya mengangguk anggukkan kepala mendengarkan ucapan Aulia.
"Makanya kamu mondok biar tau kayak gimana jadi santri." Ujar Aulia.
"Gak ah, aku belum siap. Kamu sendiri kenapa gak mondok?" tanya Sinta
"Aku sama seperti kamu, aku belum siap. Tapi paling tidak aku sering masuk ke area pesantren."
"Gimana kamu gak sering masuk ke area pesantren. Lah wong kamu itu ngaji di sana setiap sore."
"La ya itu kamu tau. Gimana kamu udah cukup puas belum menikmati pemandangan di sini. Kalau udah, kita jalan jalan yuk."
"Sebenarnya sih belum tapi ya sudahlah. Ayo kita jalan jalan lagi." Ucap Sinta, ia segera berdiri dan mengikuti langkah Aulia yang sudah jalan duluan.
"Li, aku boleh nanya gak?" ucap Sinta memecahkan keheningan setelah hampir 3 menit mereka cuma saling diam.
"Iya boleh, mau nanya apa?"
"Kamu kog bisa nyasar di sini sih. Kamu kan orang Jakarta kog bisa nyasar ke Surabaya. Dan kenapa kamu gak sekolah di kotanya aja, kog malah memilih di termpat terpencil sperti ini." tanya Sinta yang selalu penasaran kenapa Aulia memilih tempat seperti ini. Di saat yang lain sok soan memilih sekolah yang bagus, yang terkenal bahkan tervaforit tapi Aulia malah memilih tempat yang jauh dari kota.
"Karena aku bosan sekolah di Jakarta melulu. Aku ingin mencari pengalaman yang baru. Memang sih berat jauh dari orang tua tapi apalah daya. Aku gak mau menjadi anak manja yang selalu mengandalkan orang tua. Aku ingin belajar mandiri dan mencari pengalaman selagi aku masih muda. Dan kenapa aku gak sekolah di kotanya aja. Aku rasa di sana kurang tepat karena aku tau betul bagaimana pergaulan di sana. Memang tidak semuanya tapi aku memilih untuk menghindar dari pada aku terjerumus karean bergaul sama mereka. Aku kurang berminat tinggal dan sekolah di kotanya. Aku lebih suka tinggal di sini. Toh ini masih kota Surabaya kan? cuman bedanya aku ada di tempat terpencil yang jauh dari keramaian. Aku ada di sebuah desa yang masih asri yang penuh dengan pepohonan, setiap pagi aku bisa menghirup udara segar. Apalagi tempat ini sangat sejuk selalu membuat hatiku tentram. Dan kenapa aku memilih sekolah khusus perempuan agar aku tidak seenaknya deket ma cowok. Aku kan harus jaga jaga aku gak mau mereka deketin aku dan merusak aku. Makanya aku milih sekolah itu. Setidaknya aku merasa senang karena setiap harinya aku cuman berbincang ama teman cewek karena semua temanku memang berjenis kelamin perempuan haha.................memang sih aku beberapa kali ngomong ma cowok tapi itu kan guruku dan gak mungkin seorang guru akan menjerumuskan muridnya sendiri keculi otak dia sudah kongslet. hehe.......makanya aku berani deket ma mereka dan ngobrol seakan akan dia adalah temanku. Tapi karena umur dia jauh di atasku maka aku tidak boleh ngomong ceplas ceplos, aku harus menghargai dan menghormatinya. Kamu sendiri kenapa memilih skolah yang khusus perempuan padhal aku yakin di dekat rumahmu pasti ada sekolah yang lebih bagus dari sekolah kita?" tanya Aulia.
"Karena aku pengen tau aja gimana rasanya sekolah khusus perempuan. Di dekat rumahku ada sih sekolah tapi itu campuran. Cowok ma cweknya di campur jadi satu kelas. Kadang aku merasa risih soalnya dulu pas aku sekolah di sana banyak cowok yang jail, sering bikin ulah. Tau ah pokoknya gak enak deh satu kelas ma cowok. Tiap hari selalu aja ada yang bikin aku kesel." Ungkap Sinta.
"Hemmm ya begitulah gak enaknya kumpul ma cowok hehe." Aulia tersenyum mengingat dulu sebelum sekolah di sini ia juga pernah satu kelas dengan cowok dan itu rasanya sangat sangat gak enak karena ada aja yang bikin hari harinya menjadi tidak menyenangkan.
Saat ia jalan jalan ia melewati para ibu ibu yang lagi ngobrol. Aulia dan Sintapun hanya menundukkan kepala sambil tersenyum.
"Mereka terlihat bahagia ya. Seakan akan gak ada beban." Ucap Sinta setelah melewati para ibu ibu yang lagi duduk santai samibl mengobrol.
"Iya itulah hidup. Selama kita terus bersyukur maka seberat apapun beban yang kita pikul akan terasa ringan. Hidup di dunia kan cuma sebentar jadi nikmati dan jangan lupa untuk bersyukur maka kita akan merasa menjadi orang yang paling bahagia. Dan jika kita duduk ngobrol bareng ibu ibu misalnya. Kita gk boleh membahas keburukan orang lain karna kita sendiri pun punya keburukan dan orang lain punya mulut. Mereka bisa saja membicarakan keburukan kita di belakang kita. Jadi walaupun kita nanti nya kumpul bareng ibu ibu makan berbicaralah yang sekiranya memberikan manfaat bukan malah menambah dosa." Ucap Aulia menjelaskan panjang lebar.
"Kamu kayak ustadzah ya lama lama." ujar Sinta lalu ia tertawa sedangkan Aulia hanya diam tak berucap.
Setelah hampir 10 menit mereka bercakap cakap dan mengelilingi pondok pesantren. Tibalah mereka di jalan yang menuju kosan Aulia.
"Kita langsung pulang aja ya. Aku capek." Ucap Aulia yang merasa kakinya sangat sakit karena dari tadi jalan terus.
"Oke."
meskipun hidup pas²an jika saling berbagi gak ada salah nya rezeki jodoh sudah ada disurat an takdir jika kamu ditipu karena uang itu adalah ujian yang harus dihadapi yaitu ikhlas sabar, semoga bisa digantikan jauh lebih baik ☺️
.nga ap2 insya ALLAH aku ikhlas😃
Walau Imamku sudah dipanggil Illahi (02092021), namun aku bisa ambil hilmahya, kelak bisa menjadi bekal anak2ku di kemudian hari.
Semoga bisa dipraktekan di kehidupan nyata.
Aamiin.