Sebelum membaca cerita ini, di harap kan sediakan tissu atau sejenis nya, karena novel mengandung bawang, sehinga membuat mata bisa berair.
Setelah kepergian ibu nya, Reina mengalami kepahitan dalam hidup nya, Ayah nya menikah lagi, dan ibu tirinya slalu menyiksa dirinya dengan begitu kejam, di tambah lagi Ayah nya tidak pernah membela Reina, padahal Reina adalah anak kandungnya sendiri, entah apa yang bisa membuat ayah Reina ikut membenci anak kandung nya sendiri.
karena tidak tahan dengan siksaan yang terus di lakukan oleh ibu tirinya, Reina memilih untuk kabur dari rumah, saat kabur dia malah hampir tertabrak mobil mewah.
Siapa kah yang ada di dalam mobil mewah itu?
Akankah kehidupan Reina bisa berubah menjadi kebahgian,setelah selama bertahun tahun dia hidup menderita.
Yuuk ikuti terus ceritanya, di jamin readers bakalan penasaran dengan cerita di novel ke dua saya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi f pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#06
Raka sudah menunggu Bagas di depan rumah sambil memanas kan mobil nya, tak lama Bagas keluar dan berjalan ke arah dimana mobil nya terparkir.
" selamat pagi bos" sapa Raka saat Bagas sudah berdiri di depan nya.
"Heeeeemm" sahut Bagas dengan deheman nya.
Raka langsung membuka pintu mobil bagian kursi belakang, setelah Bagas masuk Raka langsung menutup pintu nya dan kemudian Raka langsung masuk ke dalam mobil dan langsung melaku kan mobil nya menuju ke perusahaan Kesuma Corporation.
Saat di tengah jalan, Bagas menanyakan Reina pada Raka.
" Gimana keadaan gadis itu, apa dia sudah sadar?" tanya Bagas.
" Tadi saya sudah menghubungi Dana bos, tapi kata Dana gadis itu belum sadar sampai saat ini, tapi kondisi nya saat ini sudah stabil" sahut Raka menjelas kan.
Bagas yang mendengar penjelasan dari Raka hanya diam saja tidak membalas nya, Ia masih berfikir apa yang terjadi dengan gadis itu sebenar nya.
Sementara di rumah Pak Budi ayah Reina, Diana ibu tiri Reina begitu marah karena tidak melihat keberadaan Reina di rumah itu.
" Kata kan pada ku dimana anak pembawa sial itu" ucap Diana.
" Aku tidak tahu Diana, bahkan semalam kalian lha yang menyiksa nya kan" sahut pak Budi.
" Pasti kau kan yang mengeluar kan anak sialan itu dari rumah ini, jawab Budi" bentak Diana.
" Aku tidak senekat itu Diana, karna aku tidak mau putri ku kalian bunuh, aku masih ingat perjanjian mu itu" sahut pak Budi langsung meninggal kan Diana begitu saja.
" Aaaaaaahk keparat, aku harus menemukan mu dimana pun kamu berada Reina, karna kalau kamu pergi, sia sia usaha ku sekarang" ucap Diana penuh dengan emosi.
Diana langsung menelpon seseorang dengan begitu tergesa gesa.
" ......."
" Segera kalian cari Reina dimana pun dia berada sekarang, aku gak mau tau 2x24 jam paling lama dia harus sudah kembali" ucap Diana dengan amarah yang sudah memuncak.
" Gak akan aku biar kan kau bebas Reina, setelah aku selesai dengan urusan ku, aku akan segera melenyap kan mu, sama seperti ibu mu" ucap Diana lagi.
" Ma kenapa si mama malah nyari anak itu lagi, malah lebih bagus kali ma dia pergi dari rumah ini" ucap Siska yang sedari tadi melihat kemarahan mama nya.
" Kamu tidak tau apa apa Siska, mama gak mau usaha mama selama bertahun tahun ini sia sia hanya karena anak itu kabur dari rumah ini" sahut Diana kemudian mengambil rokok yang ada di atas meja.
Sedang kan Budi sedari tadi mendengar kan semua perkataan Diana dari balik tembok.
Ya Allah tolong lindungi putri ku dimana pun dia berada sekarang, jangan sampai anak buah Diana menemukan Reina, batin Budi.
Kemudian Budi langsung pergi dari tempat persembunyian nya dan turun ke bawah untuk pergi ke kantor.
Saat Budi melewati Diana dan Siska, Ia hanya melirik sekilis istri dan anak tiri nya, setelah itu dia langsung melanjut kan langkah keluar dari rumah dan menuju ke kantor.
Sementara di rumah sakit Kesuma Hospital, Reina masih belum sadar kan diri, Dana yang saat itu sedang memeriksa keadaan Reina, tiba tiba di kejut kan dengan tekanan darah Reina yang turun.
Dana langsung menyuntik kan obat melalui selang impus Reina agar bisa segera stabil kembali.
Setelah selesai memeriksa Reina, Dana langsung menhubungi Raka asisten Bagas untuk memberi tahukan kondisi Reina saat ini.
" Halo Dan ada apa?" ucap Raka saat Dana menghubungi nya.
" Kamu dimana sekarang, apa lagi sedang bersama Bagas?" tanya Dana.
" Tidak, aku saat ini lagi di ruangan ku, si Bos lagi di ruangan nya sekarang, ada apa emang nya kamu nelpon aku?" ucap Raka sekaligus bertanya kembali.
" Aku baru saja memeriksa gadis itu, tapi tiba tiba tekanan darah nya rendah sekali, apa kalian tidak menghubungi keluarga nya saja, aku takut dia mempunyai trauma sehingga dia sampai sekarang masih betah untuk tidak membuka mata nya" ucap Dana menjelas kan.
" Baik lha Dan, aku akan segera memberi tahu kepada Bos soal kabar ini" sahut Raka kemudian langsung mematikan sambungan telpon nya.
Sementara Dana yang masih mau bicara kembali, tapi sambungan telpon nya sudah di mati kan secara sepihak langsung mengupat Raka.
" Dasar panjul, main mati matiin aja, Bos sama asisten sama sama sableng" ucap Dana kemudian keluar dari ruangan Rawat Reina.
Tapi sebelum Ia membuka pintu, Ia masih sempat melihat Reina kembali, kemudian segera keluar dari ruangan Reina dan melanjut kan untuk memeriksa pasien lain.
Raka yang mendapat kabar dari Dana langsung melangkah kan kaki nya menuju ruangan Bos nya yang berada tepat di sebelah ruangan Bos nya.
Tok...tok..tok ( Raka mengetuk pintu)
" Masuk" saut Bagas dari dalam.
Raka pun langsung masuk ke dalam ruangan Bos nya, dan melihat Bos nya sedang sibuk memeriksa berkas untuk di tanda tangani.
" Maaf Bos, saya baru mendapat kabar dari rumah sakit tentang keadaan gadis yang kita tolong tadi malam" ucap Raka memulai percakapan nya.
" Ada apa?" tanya Bagas tanpa melihat wajah Raka.
" Tadi Dana memberi tahu kalau gadis itu tekanan darah nya tiba tiba menurun Bos, dan Dana menyampai kan kalau saat ini kita segera untuk menghubungi keluarga nya, karena Dana melihat kalau gadis itu mengalami trauma, sehingga dia sampai sekarang tidak mau membuka mata nya Bos" ucap Raka menjelas kan.
Bagas yang mendengar penjelasan Raka langsung menghela nafas nya dan langsung menyandar kan tubuh nya kesandaran kursi kebesaran nya.
Raka yang melihat Bos nya seperti orang yang sedang kebingungan merasa sedikit heran.
Aneh...ada apa dengan Si Bos, aku melihat seperti nya Si Bos tampak khawatir dengan gadis itu" gumam Raka.
" Bos" panggil Raka.
" Aku tidak akan memberi tahukan keberadaan gadis itu dengan keluarga nya, biar aku yang mengatasi gadis itu" ucap Bagas pada Raka.
" Tapi Bos..." Belum sempat Raka melanjut kan ucapan nya sudah di potong oleh Bagas.
" Kamu ikuti saja apa yang aku perintah kan" ucap Bagas lagi.
" Baik Bos" sahut Raka.
Bagas memang tidak memberi tahu pada Raka soal isi surat yang di baca Bagas tadi malam, Bagas merahasia kan ini semua, hanya orang tua nya saja lha yang di beri tahu pada Bagas, karena Bagas mempunyai rencana untuk Reina kalau nanti dia sudah membaik dan bisa pulang dari rumah sakit.
" Raka segara kosong kan jadwal saya hari ini, dan siap kan mobil, kita berangkat ke rumah sakit sekarang" ucap Bagas kemudian langsung menutup leptop nya dan merapikan berkas berkas yang ada di atas meja nya.
Tbc.