NovelToon NovelToon
Cegil Merajut Luka Hatinya

Cegil Merajut Luka Hatinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Balas Dendam
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."

Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.

Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.

Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06. Perubahan Besar Rian, (Revisi)

Ziva sedang bersandar di pilar parkiran motor saat Rian datang dengan napas memburu dan seragam yang kusut di bagian kerah.

Mata cewek itu langsung turun ke berkas-berkas di tangan Rian yang berdebu, ada bekas tapak sepatu di sana.

Ziva tidak bertanya. Dia cuma menaikkan satu alisnya, lalu mendengus. "Lo habis digulung Marvel?"

Rian tidak menjawab. Dia melempar berkas proposal mading itu ke dalam bagasi motornya dengan kasar, lalu membanting joknya hingga menimbulkan suara keras.

Dadanya masih kembang kempis. Emosinya masih di ubun-ubun.

"Gue bilang juga apa," Ziva melangkah mendekat, melipat tangan di dada. "Di rantai makanan sekolah ini, lo itu cuma plangton. Marvel itu hiu. Sekali caplok, lo hancur."

"Bisa diam gak?" Rian menoleh dengan tatapan tajam yang jarang dia tunjukkan. "Gue gak butuh pencerahan lo sekarang."

Ziva malah tersenyum tipis.

Alih-alih tersinggung, dia justru merasa Rian yang punya emosi seperti ini jauh lebih menarik daripada Rian yang hobi menunduk. "Bagus. Simpan muka marah lo itu. Pakai buat ikut gue sekarang."

"Ke mana? Gue harus balikin ini ke ruang OSIS—"

"Bolos," potong Ziva mutlak. Dia melemparkan sebuah helm cadangan yang entah dia dapat dari mana ke dada Rian. "Gue udah minta tolong anak sosiologi buat ijinin kita. Sekarang, lo supirin gue ke Mall Grand Galaxy. Gak pakai bantahan."

Rian sempat blank. Kabur dari sekolah di jam pelajaran pertama adalah hal terakhir yang ada di daftar hidupnya sebagai murid teladan. Tapi melihat tatapan Ziva yang tidak menerima penolakan, ditambah sisa amarah pada Marvel yang membuatnya malas kembali ke kelas, Rian akhirnya mengangguk. "Oke."

Satu jam kemudian, Rian menyadari bahwa membawa Ziva ke dalam hidupnya adalah keputusan paling impulsif sekaligus paling berbahaya yang pernah dia ambil.

Cewek itu menyeretnya masuk ke salah satu salon premium di dalam mall. Bukan salon biasa, tapi tempat dengan sekat-sekat kaca mewah yang sekali potong rambut bisa menghabiskan uang jajan Rian sebulan.

"Mbak, potong rambut dia. Buang gaya mangkoknya, bikin textured crop atau two-block yang rapi tapi kelihatan mahal. Jangan pendek-pendek banget," perintah Ziva pada hair stylist pria yang langsung mengangguk paham.

Rian panik. Dia menahan lengan Ziva sebelum cewek itu duduk di sofa tunggu. "Ziv, lo gila? Gue gak punya duit buat bayar salon ginian. Rambut gue biasa aja, tinggal pakai minyak rambut juga rapi!"

Ziva melepaskan tangan Rian dengan santai, menepuk bahu cowok itu dua kali. "Gue yang bayar. Ini bagian dari investasi proyek gue. Anggap aja modal awal biar lo gak bikin gue malu saat jalan bareng."

"Tapi—"

"Duduk, Rian. Atau gue panggil Marvel ke sini sekarang?"

Ancaman itu bekerja instan. Rian mendengus, akhirnya duduk di kursi eksekusi. Selama hampir empat puluh puluh menit, Rian hanya bisa pasrah melihat helai demi helai rambutnya jatuh ke lantai. Dia sengaja memejamkan mata, enggan melihat pantulan dirinya di cermin.

"Selesai, Kak. Gimana?" suara sang penata rambut membuat Rian membuka mata.

Rian tertegun. Dahinya yang selama ini tertutup poni tebal nan culun, kini terekspos sebagian dengan potongan rambut modern yang membingkai wajahnya dengan tegas.

Garis rahangnya yang sebenarnya kokoh—namun selama ini tersembunyi—kini terlihat jelas.

Ziva berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi Rian sambil menatap cermin.

Cewek itu tersenyum puas. "Ternyata struktur muka lo gak jelek-jelek amat. Tinggal bajunya."

Target berikutnya adalah toko pakaian brand lokal yang sedang naik daun di kalangan anak muda aesthetic.

Ziva bergerak cepat, mengambil beberapa potong pakaian seperti kemeja oversized linen warna sage, celana loose-fit hitam, dan kaus putih polos berkualitas tinggi. Dia melemparkan semuanya ke dada Rian.

"Ganti. Jangan pakai seragam lo yang bau keringat itu lagi," titah Ziva.

Rian menurut tanpa protes lagi. Di dalam ruang ganti, saat dia menukar seragam sekolahnya dengan pakaian pilihan Ziva, Rian melihat dirinya di cermin besar.

Kombinasi baju yang pas di badan, potongan rambut baru, dan aura frustrasi yang tertinggal di matanya membuat Rian tampak seperti orang yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi Rian si 'alat pengisi waktu luang' Keysha.

Saat dia keluar, Ziva yang sedang memainkan ponselnya langsung mendongak.

Gerakan jarinya terhenti.

Selama beberapa detik, Ziva hanya menatap Rian dari bawah ke atas tanpa berkedip.

"Gimana? Aneh, ya?" Rian menggaruk tengkuknya, mendadak merasa salah tingkah karena ditatap begitu intens.

Ziva berdeham, langsung mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel dengan cepat untuk menyembunyikan keterkejutannya. "Nggak. Pas. Sekarang pakai sepatu ini." Ziva menendang sebuah kotak sepatu putih yang sudah dia bayar di kasir.

"Ziv, ini semua totalnya pasti mahal banget. Gue bakal cicil ke lo," kata Rian serius sambil memakai sepatu sneakers putih tersebut.

"Gak usah. Duit gue kebanyakan," jawab Ziva ketus, kembali ke mode aslinya yang dingin. "Tugas lo cuma satu besok: hancurin ego Marvel, dan bikin Keysha nyesel setengah mati karena udah hobi jadiin lo cadangan. Bisa?"

Rian mengikat tali sepatunya, lalu berdiri tegak. Dia menatap Ziva lurus-lurus.

Rasa hangat menjalar di dadanya—bukan cuma karena penampilan barunya, tapi karena untuk pertama kalinya, ada orang yang menaruh modal besar hanya untuk melihatnya berdiri tegak, bukan untuk menindasnya.

"Bisa," jawab Rian pendek, suaranya terdengar lebih berat dan penuh keyakinan.

**

Keesokan harinya, jam dinding di atas papan tulis kelas XII A menunjukkan pukul 06.50 WIB. Kelas sudah mulai ramai oleh murid-murid yang bergosip atau menyalin tugas matematika.

Keysha duduk di bangkunya, menopang dagu dengan malas.

Pikirannya kacau. Semalam dia mencoba mengirim pesan ke Rian, menanyakan kenapa cowok itu tidak membalas pesannya kemarin siang.

Namun, pesannya hanya berstatus centang satu. Rian mematikan ponselnya. Hal yang belum pernah terjadi selama dua tahun mereka berteman.

Di sudut lain, Marvel sedang tertawa bersama anak-anak basket, sesekali matanya melirik Keysha dengan tatapan posesif yang dominan.

Marvel merasa menang. Setelah ancamannya kemarin di koridor lab sosiologi, dia yakin Rian bakal langsung ciut dan kembali mengendap-endap di pojokan sekolah seperti kecoak.

Sret.

Pintu kelas digeser dari luar. Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap, seolah ada seseorang yang baru saja menekan tombol mute massal.

Seorang cowok melangkah masuk.

Dia memakai sepatu sneakers putih bersih yang kontras dengan lantai kelas yang kusam.

Celana seragam abu-abunya tidak lagi gombrang, melainkan dipotong rapi pas di mata kaki. Kemeja putihnya yang disetrika licin digulung rapi sampai ke siku, memperlihatkan lengan yang bersih.

Namun, yang paling membuat satu kelas menahan napas adalah potongan rambutnya.

Gaya two-block modern yang membingkai wajahnya dengan sempurna, memperlihatkan alis tebal yang selama ini bersembunyi di balik poni culun. Tatapan matanya lurus, tenang, dan tidak lagi menunduk menatap lantai.

Dia tidak membawa tas punggung usang bermotif hitamnya lagi, melainkan sebuah tote bag kanvas hitam minimalis yang tersampir di bahu.

"Bentar... itu siapa?" bisik Febby, teman sebangku Keysha, dengan mata membelalak. "Anak baru pindahan?"

Keysha tidak menjawab. Matanya terpaku pada cowok itu. Jantungnya mendadak berhantam keras di dinding dadanya. Dia mengenali struktur wajah itu. Dia mengenali cara berjalan itu. Tapi otaknya menolak percaya.

"Rian...?" gumam Keysha lirih, nyaris tak terdengar.

Di sudut kelas, tawa Marvel terhenti seketika.

Gelas plastik air mineral yang sedang dipegangnya remuk dalam cengkeraman tangannya.

Rahangnya mengeras saat menyadari bahwa cowok aesthetic yang baru saja menjadi pusat perhatian seluruh kelas adalah orang yang sama yang kemarin dia pojokkan di loker besi.

Rian berjalan santai melewati deretan meja. Dia sama sekali tidak melirik ke arah Marvel, ataupun ke arah Keysha yang menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.

Rian terus berjalan lurus menuju bangku paling belakang, lalu duduk di sana dengan tenang, mengeluarkan sebuah buku tebal seolah tidak terjadi apa-apa.

Satu kelas masih hening, terpaku pada transformasi radikal si cowok yang selama ini dianggap kasat mata.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
udah ziva menjauh aja dari cowok yang GK bisa terima takdir , siapa juga yg mau nabrak orang ,,,egois sekali ,,jadi GK respect sama Rian ,
falea sezi
malah nyalahin Ziva🤣 oon bgt ini Riyan plin plan
falea sezi
🤣🤣 si plin plan mending pergi aja ziv laki! gk tau diri cocok sama sampah kayak. keysa
Luna
GK respect sama Rian ,,, ujung ujungnya nanti marahan lagi sama ziva,,,,apa GK ada cowok lain yg bantu Keysa ,atau emang sengaja citra pengen ngerusak hubungan orang,
Luna
makin bodoh yg seharusnya minta tolong om nya dong buat klarifikasi,,,😑
falea sezi
😒 gila ini keysa
Luna
kan itu sudah jadi pilihan kamu sya dari awal ,,, jangan menyesal,cowok idaman mu ternyata tak sempurna seperti halusinasi mu🤣🤣🤣🤣🤣 terima takdir,Marvel memang kaya tapi sifatnya kek psikopat dan kamu sendiri yg membangkitkan nya keysa🤣🤣🤣🤣🤣
Queen Aisyah
🥰🥰
falea sezi
🤣🤣 Riyan ttep. bego uda lah ziv g usa dket cowok plin plan kayak riyan🤭 gk tau diri
Luna
GK salah sih marven dapat cewek lain dia kaya duit banyak,,,kalo ada yg lebih baik dari kamu yh GK mungkin lah di lewat kan , sedangkan Rian dia udah capek banget di PHP in terus ada cewek yg ngasih dia perhatian yh GK mungkin dilewatkan Rian ,,, sekarang elu sendiri GK dapat dua duanya,
Luna
untung si Marvel atau marven sudah putus sama nih cewek,,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣 semoga ada cewek gila lain untuk mantan Keysa 🤣🤣🤣🤣🤣
falea sezi
awas aja lu rian oleng🤣 Ziva gue suruh pindah sekolah
falea sezi
jauhin aja ziv laki gk tau diri🤣 uda ma kesya aja cocok😒 sampah sama sampah
Luna
dalam mimpi sya,,,,,🤣🤣🤣
Luna
Marvel sebelas dua belas sama si Naya yh Thor🤣🤣🤣🤣🤣🤣,agak gila ,,,,gituloh
Rofiwan: Naya versi lanang
total 1 replies
Luna
Rian ,,,, kayaknya yg nolongin kamu bukan Keysa deh ,,,, orang kek dajal gitu nolongin orang kayaknya enggak deh,kaya tapi miskin etika🤣🤣🤣🤣
falea sezi
buat Riyan tegas donk🤣 jangan kayak. kerupuk. melempem
falea sezi
buang waktu aja 🤣 cowok ngemis kayak gini g ada harga dirinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!